Translate

Tampilkan postingan dengan label book 03. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book 03. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2012

Tanda Pada Tangan Kanan


Belakangan ini Saudara, kita dapat merasakan bagaimana kerasnya kesulitan hidup kita di negara ini. Untuk membeli dan bukan meminta minyak tanah saja kita mesti mengantri hingga berjam-jam, bahkan mungkin ada yang sampai berhari-hari. Belum lagi kesulitan kita untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya.

Memang hidup di jaman yang serba maju ini tidak selalu enak. Kehidupan di kota metro politan misalnya, tidak sedikit rakyat yang hidupnya sampai di bawah garis kemiskinan. Mereka harus rela untuk tinggal di rumah-rumah kardus bahkan juga di kolong jembatan. Semuanya itu memang kontras sekali dengan pemandangan di sekeliling mereka yang di penuhi dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi.

Tetapi saya rasa, gambaran kehidupan seperti ini tidak cuma ada pada negara kita saja. Hampir dapat dipastikan gambaran serupa juga terjadi pada setiap negara di dunia ini. Dimanapun kehidupan itu ada, selalu saja ada yang terpinggirkan atau yang biasanya di sebut dengan panggilan yang “lebih terhormat” kaum marjinal!

Mungkin kalau kita kilas balik dengan melihat keadaan di masa beberapa ratus tahun yang lalu, masa-masa di mana kerajaan-kerajaan masih berjaya.  Saya merasa kehidupan mereka, terutama dari sudut perekonomiannya, sepertinya lebih mandiri dibandingkan sekarang.

Pada masa itu, bilapun terjadi resesi pada perekonomian negara-negara lain, terutama negara-negara yang dianggap maju pada masanya, mereka tidak akan merasakan dampak apapun. Saya yakin dan percaya walaupun pada masa itu terjadi perang yang hebat pada kekaisaran romawi maupun kekaisaran di china, kehidupan rakyat pada kerajaan-kerajaan di nusantara tetap adem ayem saja.

Tapi coba Saudara bayangkan sekarang, bagaimana efeknya bila harga minyak dunia naik sampai lebih dari US $100 per barrel, ataupun bila bank sentral Amerika menaikkan sedikit saja suku bunganya? Walaupun kenaikan itu terjadi di luar negeri, yang negeri itu sendiri mungkin saja tidak pernah kita kunjungi sampai kita mati, pengaruhnya amat sangat terasa dalam kehidupan kita sekarang ini.

Mengapa ini semua bisa terjadi? Mengapa kehidupan kita di negeri yang milik kita sendiri, harus ditentukan oleh keputusan orang lain, bangsa lain, dan juga negara lain yang berada jauh dari kita? Di alam kemerdekaan kita ini, ternyata kita masih hidup dalam pengaruh orang lain. Kecewakah Saudara, karena kehidupan kita sekarang ini ternyata tidak lebih baik dari pada kehidupan jaman baheula dulu? Bisa jadi!

Tetapi sekarang tidak ada jalan lain kecuali kita harus memahami bahwa ini semua, semata-mata karena efek dari globalisasi perekonomian dunia. Memang sekarang belum seratus persen globalisasi perekonomian dunia terwujud. Masih ada kelompok-kelompok perekonomian regional. Namun ada saatnya nanti, dimana semua perekonomian ini akan benar-benar menyatu menjadi satu. Mungkin sekali…, mata uangnyapun akan satu. Sama seperti yang sekarang ini sedang dirintis oleh negara-negara di benua Eropa.

Memang, ini semua tidak mudah. Namun bila suatu saat muncul satu kekuatan ekonomi yang sangat dominan di dunia ini, apa hal ini masih dianggap mustahil untuk terlaksana? China adalah satu contoh real untuk saat ini, dan di masa datang, mungkin saja ada negara atau gabungan dari beberapa negara yang lebih dari China dalam hal kebangkitan ekonominya.

Saudara, ini semua saya ceritakan tidak lain hanya untuk menggambarkan bahwa, ada masanya nanti, perekonomian semua negara di dunia ini akan menjadi satu kesatuan dalam arti yang sesungguhnya. Walaupun mungkin system maupun mata uang setiap negara tidak menjadi tunggal, namun pengaruh antar satu negara dengan negara lain dalam hal perekonomian akan sangat kuat sekali, sehingga tidak ada satu negarapun yang tidak bergantung kepada pemimpin ekonomi dunia tersebut.

Dan kalau ini sudah tercapai, tahap selanjutnya apa yang akan terjadi?
Sekarang mari kita masuk ke dalam inti dari sharing kita ini.

Dahulu sekali sebelum uang ditemukan, manusia di dalam melakukan transaksi jual beli di kenal dengan istilah barter. Yaitu manusia yang satu akan membawa barang yang dimilikinya untuk di tukarkan dengan barang yang diperlukannya dari manusia yang lain. Memang ini sangat merepotkan karena kemana-mana mesti membawa-bawa barang miliknya. Banyak keterbatasan memang, coba bayangkan bagaimana bila kita hanya memerlukan satu kilo daging sapi saja, apa kita harus “membarter” satu ekor sapi?

Karena semua keterbatasannya inilah maka manusia tempo dulu – kalau tidak mau disebut purbakala – ­mencoba mencari solusi lain yang paling efisien dan efektif untuk ber”bisnis” sehingga orang yang memerlukan satu kilo daging tidak perlu harus membarter satu ekor sapi.

Sejak ditemukannya uang sebagai nilai tukar beberapa abad yang lalu hingga sekarang, praktis tidak ada perubahan yang cukup berarti dalam hal kegunaannya. Hingga saat inipun kita masih menggunakan uang sebagai nilai tukar dan sarana jual beli, baik barang maupun jasa.

Walaupun pada beberapa kota besar di berbagai negara sudah banyak juga yang mulai menggeser peranan uang ini di dalam suatu transaksi – karena di dukung oleh perbankan yang ada – namun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka masih tetap mempergunakan uang dalam kehidupan keseharian warganya.

Tetapi Saudara, kecendrungan untuk mengakhiri peranan uang ini sebenarnya sudah terlihat sejak pihak perbankan memperkenalkan produk yang namanya credit card atau kartu kredit. Dengan kartu kredit seseorang yang memiliki rekening di bank yang bersangkutan dapat berbelanja di supermarket-supermarket tanpa harus membawa uang tunai. Dan kalau suatu negara sudah sangat maju, bisa jadi untuk belanja di pasar tradisional juga tidak diperlukan lagi uang tunai. Menggunakan kartu kredit memang sangat praktis dan aman karena kita tidak perlu lagi was-was kalau-kalau dirampok dan lain sebagainya. Untuk membeli barang-barang yang bernilai mahalpun kita tidak perlu lagi membawa-bawa satu tas penuh berisi uang.

Kemanapun kita pergi baik keluar negeri sekalipun, kartu kredit tetap dapat diterima di sana. Jadi tidak perlu lagi kita menukar satu tas penuh uang kita dengan dollar dan membawa-bawa dollar itu kemanapun kita pergi. Cukup selembar kartu saja. Itu sudah cukup. Praktis bukan?

Di sini saya tidak bermaksud untuk mempromosikan kartu kredit kepada Saudara, tetapi justru saya ingin menggambarkan bahwa era kartu kreditpun…, sebentar lagi akan digantikan oleh teknologi yang terbaru.

Memang, sekarang ini belum dipakai dan baru pada tahap uji coba saja. Namun dapat dipastikan setelah segala sesuatunya sempurna, maka bisa jadi setiap kita akan diwajibkan untuk menggunakannya.

Mengapa teknologi ini harus lahir? Ini tidak lain karena sebagian orang telah dapat melihat kelemahan-kelemahan yang ada pada kartu kredit. Bagi kita yang melihat kartu kredit ini sebagai cara yang paling praktis ternyata sudah tidak sepraktis dan seaman yang kita bayangkan.

Banyak kasus-kasus yang terjadi dimana orang yang memegang kartu kredit menerima tagihan yang bukan menjadi kewajibannya. Banyak pembobolan-pembobolan yang terjadi pada kartu kredit seseorang. Belum lagi bila kartu kredit seseorang itu hilang atau tercuri, hal ini berpotensi sekali orang yang bersangkutan akan kehilangan dana yang dimilikinya. Memang semuanya itu dapat dicegah dengan cara memblokir kartu tersebut, tetapi inipun kalau sempat diblokir dan cepat disadari oleh yang berhak.

Bisa Saudara bayangkan seandainya Saudara cuma mengandalkan satu kartu kredit saja dan Saudara sedang berada di luar negeri seorang diri, tiba-tiba Saudara sadari kalau kartu kredit Saudara telah hilang?

Karena itu, teknologi yang terbaru ini dirasakan penting sebab banyak “manfaatnya” bagi Saudara sendiri dan juga negara Saudara. Teknologi seperti apa itu?

Akhir-akhir ini telah ditemukan sebuah bio-chip yang ukurannya sangat kecil sekali, yaitu hanya sebesar butiran beras. Bio-chip ini terus dikembangkan dan diproduksi oleh Mxxxxxx atas pesanan dari Mxxxxx Sxxxxxxx, sebuah perusahaan yang 51% dari sahamnya telah dibeli oleh MC. Sebagaimana kita ketahui bahwa MC adalah perusahaan yang bergerak dalam
bidang keuangan yang telah bersaing ketat dengan VC dalam hal kartu kredit.

Bio-chip ini Saudara, rencananya akan digunakan pada manusia sebagai identitas pribadi dari setiap orang yang memakainya. Tidak akan pernah hilang dan tidak mungkin akan tertinggal karena kita lupa membawanya seperti pada kartu kredit. Tidak pula dapat dirampok dan disalah gunakan oleh orang lain… sebabnya mengapa? Tidak lain dan tidak bukan karena bio-chip ini dipakai pada tangan kanan manusia. Bio-chip ini akan ditanamkan disana! Di bawah kulit dan akan menjadi bagian dari diri manusia itu.

Seandainyapun karena satu dan lain hal tidak mungkin ditanamkan di tangan, kan masih ada kepala? Bisa saja chip ini ditanamkan di dahi manusia sebagai pengganti seandainya manusia itu hidup tanpa tangan karena sesuatu sebab. Tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa kepala bukan?

Bisa jadi seandainya masa ini tiba, tidak akan kita temui lagi uang yang beredar dalam bentuknya yang konvensional seperti sekarang ini. Segala sesuatunya cukup dengan mengunakan alat deteksi chip. Setiap orang akan diwajibkan untuk memiliki rekening di bank tertentu dan setiap transaksi yang dilakukan mereka akan berpengaruh pada rekening bank mereka masing-masing.

Petani yang memanen hasil tanamannya, sewaktu menjualnya kepada pedagang tidak lagi melakukannya secara tradisional, tapi cukup menyepakati harga komoditinya dan discan saja tangan pembelinya untuk mengisi dana rekening petani tersebut di bank. Orang tua yang memberi anak-anaknya uang saku begitu juga, cukup menscan tangannya untuk memenuhi rekening masing-masing anak di bank mereka. Bisa jadi untuk ini semua maka diwajibkan bagi rumah sakit bersalin agar menanamkan bio-chip tersebut sewaktu bayi dilahirkan.

Orang yang bekerja tidak lagi menerima gaji dalam bentuk uang tunai, tetapi mereka akan menemukan rekening bank mereka akan bertambah sejumlah gaji mereka tiap bulannya. Dan pada saat ingin memenuhi kebutuhan hidup mereka, cukup dengan ke pasar atau supermarket terdekat, mengambil keperluan mereka dan menscan bio-chip yang ada pada tangan mereka saja untuk membayarnya.

Mungkin sekali setiap bangunan, setiap pintu dan apapun yang mungkin untuk dipasangi sensor bio-chip, akan dilakukan agar pergerakan tiap orang dapat terpantau. Betapa nyamannya bukan, bila suami isteri yang bekerja dapat tetap memantau pergerakan anggota keluarganya setiap saat?

Sangat mungkin sekali program ini akan mendapatkan dukungan dari pemerintahan tiap negara. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari teknologi ini. Bagi pemerintah, alat seperti ini akan sangat berguna sekali dalam memantau mobilitas setiap warganya. Apapun kegiatan warganya, dari yang baik-baik sampai kepada kegiatan yang dapat mengarah kebentuk separatis, akan dapat dipantau.

Dapat menekan tindak kejahatan. Tidak ada lagi penculikan karena keberadaan korbannya akan dapat di pantau dari satelit, bahkan keberadaan si penculik sendiri juga terdeteksi. Semua termonitor, sekecil apapun pergerakkan kita tidak luput dari perhatian lembaga yang berwenang untuk mengawasinya.

Kejahatan perpajakan juga tidak mungkin terjadi lagi. Semua arus kas tiap orang akan terdeteksi dari bank mereka masing-masing. Karena tidak ada satupun transaksi yang melalui uang tunai, maka semuanya itu akan tercatat dalam data base perbankan. Jadi kejahatan dalam bidang keuanganpun tidak akan mendapat tempat lagi. Termasuk juga korupsi.

Pendek kata, apapun akan berjalan dengan aman dan tertib. Mungkin memang seperti inilah gambaran yang ideal pada sebagian besar umat manusia tentang kehidupan di masa depan.

Adakah yang akan menentang ini semua seandainya semua gambaran yang baik di atas – bahkan lebih – dipaparkan? Apakah akan ada yang tetap beranggapan negara kita jangan ikut-ikutan, biarlah mereka saja yang menerapkan semuanya itu, kita tetap dengan cara yang lama. Apa ini mungkin sementara seluruh negara di dunia ini telah menghapuskan semua uang tunai mereka?

Seandainya ada sebagian orang yang menentang pemakaian bio-chip ini, apa mungkin mereka dapat hidup normal sebagaimana penduduk yang lain? Coba Saudara bayangkan, bila mereka bekerja pada seseorang, bagaimana upah mereka akan dibayar oleh majikan mereka kalau mereka tidak memiliki rekening bank? Mau dibayar dengan uang tunai? Uang tunai yang mana? Semua uang tunai sudah tidak berlaku lagi dan tidak beredar lagi. Dibayar dengan emaspun tidak akan berguna karena bagaimana emas itu akan mereka tukarkan dengan makanan? Semua perdagangan sudah dilakukan secara perbankan. Bahkan dengan kehidupan yang demikian teratur, bukan mustahil setiap omset penjualan dari pedagang besar sampai pedagang eceranpun terpantau dengan jelas. Bagaimana pedagang eceran itu menjelaskan kalau barang dagangannya telah di barter dengan emas? Jangan-jangan mereka akan dituntut dengan tuduhan pengelapan pajak.

Lebih parah lagi bila pemerintahan suatu negara sudah memberikan label sebagai pemberontak kepada orang-orang yang menentang pemakaian bio-chip tersebut dengan alasan menghindari pemantauan yang dilakukan oleh negara. Apalagi bila ditinjau dari sudut keamanan maupun ekonomi, hampir tidak ada alasan apapun untuk menolak teknologi bio-chip ini.

Jadi Saudara, bagaimana sebaiknya kita orang-orang percaya? Ikut memakainya juga? Bukankah tidak ada sesuatu yang membahayakan jika kita memakainya? Ini merupakan suatu bentuk kemajuan teknologi, jadi apa salahnya? Bukankah memang lebih baik memakainya karena banyak “keuntungan” yang akan kita peroleh dari pada menolaknya? Kalau kita tidak mau memakainya justru celaka. Bagaimana kita dapat berdagang ataupun bekerja? Uang tunai sudah tidak ada lagi. Belum lagi kalau pemerintah serius dengan tuduhannya  terhadap orang-orang yang menolak memakai bio-chip tersebut sebagai para pemberontak.

Cari aman…., pakai saja……?

Ini berbahaya… sangat berbahaya Saudaraku.
Tidak tahukah Saudara akan firman Tuhan

Wahyu  13

13:16 Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya,
13:17 dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.
13:18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

Saudara, Alkitab sudah jauh-jauh hari menubuatkan semuanya ini. Bio-chip itu, merupakan salah satu alat yang akan dipergunakan iblis di akhir jaman. Dan sekarang semuanya ini sudah mulai tergenapi satu persatu.

Perusahaan Mxxxxx ini Saudara, telah merencanakan untuk memproduksi bio-chip ini sebanyak satu miliar unit pertahunnya. Saat ini masih ada beberapa kendala yang menghambat pengunaan bio-chip ini, antara lain masalah battery yang digunakan. Battery lithium yang sekarang digunakan menurut informasinya akan dapat menyebabkan suatu bisul yang ganas jika mengalami kebocoran pada kulit.

Perusahaan Mxxxxx sendiri pada dasarnya merupakan pengertian dari Money on your hand. Yaitu dari dua suku kata :
            Mxx   =  Monetary
            Dxx    =  Dexter   =  Right-hand side (Tangan sebelah kanan.)

Sesuai dengan wahyu Tuhan di atas, perusahaan ini akan menanamkan bio-chip tersebut pada tangan kanan atau pada dahi pemakainya. Tidak ada pengecualian, tua muda, besar kecil semuanya akan menggunakan “tanda” bio-chip ini.

Dan bagi mereka semua yang memakai bio-chip ini, pada dasarnya mereka semua telah menjadi pengikut iblis. Anti kristus memang akan menguasai dunia Saudara, dan salah satunya dengan menggunakan teknologi bio-chip ini sebagai tanda perhambaan kepada mereka.

Wahyu 14

14:9 Dan seorang malaikat lain, malaikat ketiga, menyusul mereka, dan berkata dengan suara nyaring: "Jikalau seorang menyembah binatang dan patungnya itu, dan menerima tanda pada dahinya atau pada tangannya,
14:10 maka ia akan minum dari anggur murka Allah, yang disediakan tanpa campuran dalam cawan murka-Nya; dan ia akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba.
14:11 Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya."

Tidak ada pengampunan bagi kita umat Allah yang telah mau memakai tanda tersebut. Jadi kalau kita tidak memakainya, bagaimana konsekwensi dari kehidupan kita di dunia ini?

Memang berat! Tapi itulah harga yang harus dibayar bagi keselamatan kita. Tuhan Yesus rela mati di kayu salib untuk menebus dosa kita agar kita hidup. Namun bila kita, karena dunia ini menghilangkan sendiri keselamatan yang ada pada kita, itu adalah resiko kita sendiri.

Wahyu  13

13:10 Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus.

Jangan menganggap enteng untuk menolak tanda itu. Penyiksaan akan datang silih berganti pada kita orang-orang percaya yang mampu menolak tanda tersebut. Dapatkah Saudara membayangkan, karena menghindari bayi-bayi kita dipasang tanda tersebut pada saat lahirnya, maka isteri-isteri kita harus bersalin sendiri dirumahnya masing-masing tanpa alat-alat medis? Tanpa bantuan medis? Itupun kalau kita masih memiliki rumah!

Untuk sekedar mengisi perutpun mungkin kita harus mengemis kesana kemari. Kalau Saudara beruntung, mungkin Saudara masih dapat menanam sesuatu untuk dikonsumsi sendiri. Inipun mungkin. Sebab seandainya Saudara sampai dianggap sebagai pembangkang dan pemberontak oleh negara, apa lagi yang dapat Saudara lakukan selain melarikan diri ke hutan-hutan dan hidup di sana seperti jaman nenek moyang kita dulu? Itupun…, sekali lagi, kalau masih ada hutan!

Saudara, ini semua hanyalah…. sebagian kecil dari gambaran masa depan kita orang-orang percaya. Tidak ada seorangpun dari orang-orang percaya yang lolos dari penyiksaan dan penindasan anti kristus di masa mendatang. Akan banyak yang murtad dari antara orang-orang percaya akibat tekanan yang luar biasa dari anti kristus.

Penyiksaan fisik yang satu sampai pada penyiksaan fisik yang lain tidak dapat terkatakan lagi. Alkitab mengatakan penyiksaan yang akan dihadapi itu adalah jenis penyiksaan yang belum pernah ada dan yang tidak akan pernah ada lagi di dunia ini. Artinya penyiksaan itu adalah penyiksaan yang luar biasa sekali. Itulah kenapa Tuhan kita Yesus Kristus amat sedih mengatakan hal ini dalam firman-Nya.

Lukas  18

18:8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Yesus akan datang di akhir jaman, pada masa-masa anti kristus berkuasa. Dan pada saat datangnya nanti, semoga saja masih ada orang-orang yang dapat mempersembahkan imannya kepada Tuhan, walaupun mereka semua menghadapi penyiksaan luar biasa yang akan terjadi. Harapan kita cuma satu, semoga Tuhan kita senantiasa menguatkan kita selalu di dalam iman. Halleluyah…..

Semoga sharing ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Amin.


Perlukah Berterima Kasih Kepada Yudas Iskariot?


Yudas Iskariot adalah salah satu murid yang juga menyertai Tuhan kita Yesus Kristus di dalam pelayanan-Nya selama di dunia ini. Dia bertindak sebagai bendahara di antara kesebelas murid yang lain.
Dalam peristiwa penyaliban Tuhan Yesus, peranan Yudas Iskariot sangat dominan dan antagonis sekali. Sebagaimana kita ketahui, karena penghianatannyalah maka Tuhan Yesus dapat ditangkap dan kemudian setelah “diadili”, Tuhan kita Yesus Kristus mengalami penyaliban-Nya hingga mati. (dibawa akan kita bahas kalau ini tidak sepenuhnya benar jika bukan karena seijin Tuhan)

Sekarang Saudara, kita sebagai orang percaya telah diselamatkan karena penebusan dosa kita telah dilakukan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib-Nya. Kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga itulah yang telah menjadi jaminan keselamatan kita. Karena tanpa adanya kematian yang telah Tuhan kita jalani di atas kayu salib-Nya sebagai penebusan atas dosa-dosa kita, maka sampai saat ini tidak akan ada penebusan bagi dosa-dosa kita.

Berbahagialah kita sekarang yang hidup di dalam anugerah keselamatan Tuhan kita Yesus Kristus, karena Dialah Tuhan dan Juru Selamat kita. Tanpa-Nya, tidak ada seorangpun yang dapat hidup kekal di sorga. Seorangpun tidak…, karena tidak seorangpun yang dapat menjalani hukum Taurat.

Mengingat efek dari hasil penghianatan yang telah dilakukan oleh Yudas Iskariot, yang adalah keselamatan bagi kita semua orang percaya, timbul satu pertanyaan aneh, “Apa perlu kita mengucapkan terima kasih pada Yudas Iskariot? Bukankah seharusnya dia masuk sorga karena telah membantu pekerjaan Yesus untuk keselamatan manusia?”

Saudara, ini aneh bukan? Salah seorang yang non kristenpun pernah menanyakan hal serupa kepada Hamran Amri, seorang kristen yang baru mengenal Kristus di usianya yang di atas 40 tahun.

“Andaikata keselamatan orang kristen karena adanya penebusan dosa oleh Tuhan Yesus di kayu salib, bukankah orang yang paling berjasa atas peristiwa itu adalah Yudas Iskariot? Sebab tanpa peranan Yudas Iskariot, belum tentu ada peristiwa penyaliban itu. Dan kalau peristiwa penyaliban itu tidak ada, maka tidak ada juga penebusan dosa oleh Tuhan Yesus.” Itu kurang lebih dasar pemikiran mereka yang mempertanyakan masalah di atas.

Baiklah sekarang kita mulai membahas, apa sesungguhnya peranan Yudas Iskariot itu dan bagaimana seharusnya kita bersikap.

Pertama-tama yang perlu kita ketahui, Yudas Iskariot bukanlah murid dengan kepribadian yang baik. Walaupun dia telah bersama-sama dengan Yesus dan terhitung sebagai bagian dari antara ke dua belas murid Yesus, pada dasarnya dia bukanlah orang yang jujur. Hal ini dapat kita lihat di ayat berikut ini :

Yohanes 12

12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
12:4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:
12:5 "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
12:6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.

Yudas Iskariot dipercayakan sebagai bendahara. Dialah yang memegang uang kas mereka semua. Namun dia tidak jujur. Sepertinya sesuatu yang berkaitan dengan uang godaannya cukup besar ya? Di sini Saudara, sebenarnya kita sudah dapat menilai orang seperti apa Yudas Iskariot itu sesungguhnya. Dia sudah melakukan sesuatu yang jahat jauh sebelum penghianatannya.

Yudas Iskariot mungkin mempunyai alasannya sendiri atas keputusannya untuk menghianati Tuhan kita Yesus Kristus, tetapi terlepas dari itu semua, tindakannya itu bukanlah tindakan yang patut mendapatkan simpati. Akhir-akhir ini sepertinya ada sebagian orang yang mulai menaruh simpati yang berlebihan atas diri Yudas Iskariot ini, sehingga ada sebagian orang yang coba meninjau peristiwa penyaliban Yesus itu dari sudut pandang Yudas Iskariot. Mereka mencoba memaklumi tindakan Yudas Iskariot ini secara lebih manusiawi. Yah….silahkan saja, masing-masing kita kan diberikan kebebasan.

Tetapi sebagai orang percaya, kita patut berhati-hati. Sudut pandang yang mulai menempatkan Yudas Iskariot pada posisi yang patut mendapatkan simpati saya rasa, adalah hal yang dapat membahayakan iman kita sendiri sebagai orang percaya. Mengapa?...

Saudara, bila rasa simpati itu terlanjur ada pada diri kita, lambat laun tidak mustahil rasa ini akan berkembang menjadi rasa untuk dapat memaklumi atas tindakan seseorang tersebut. Dan bila hal inipun berkembang sedemikian rupa, maka dapat saja rasa memaklumi tersebut berubah ketingkatannya yang lebih lagi yaitu pembelaan.

Bukankah kita dapat saja membela seseorang hanya karena kita dapat memaklumi tindakannya?

Sebagai ilustrasi saya gambarkan demikian :

Bila ada seseorang memarkir kendaraannya di suatu tempat, tetapi karena satu dan lain hal, dia sampai lupa mencabut kunci kendaraannya.
Pada saat dia kembali, kendaraannya tersebut sudah tidak ada lagi, alias dicuri seseorang.
Karena orang ini sibuk mencari kendaraannya, maka hal ini akhirnya diketahui oleh masyarakat sekitar.
Kira-kira, mungkin tidak, ada masyarakat yang berkomentar begini : “salah sendiri, mengapa parkir tidak hati-hati, masa kunci ditinggalkan di motor, wajar saja kalau motornya sampai dicuri orang.”

Saudara, komentar begini sangat mungkin sekali!
Yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa pada akhirnya masyarakat itu dapat membela si pencuri dan malahan menyalahkan orang yang memiliki kendaraan itu?
Ini tidak lain karena masyarakat sudah dapat memaklumi tindakan si pencuri tadi, bahwa dia akan mencuri kalau mereka diberi kesempatan. Walaupun tindakan mencuri itu pada dasarnya adalah salah, namun dalam hal ini yang dipersalahkan adalah orang yang memiliki kendaraan. Aneh bukan?

Kembali ke topik semula, kita tidak dapat bersimpati dan memaklumi tindakan Yudas Iskariot di tinjau dari sudut manapun. Tindakan Yudas Iskariot yang telah menyerahkan Yesus kepada para iman Yahudi bukanlah tindakan yang patut mendapatkan simpati. Apapun motivasinya. Keselamatan yang kita peroleh dari penebusan Yesus di kayu salibpun bukanlah karena tindakan Yudas Iskariot.

Saya katakan demikian karena memang keselamatan yang kita terima dari penebusan Yesus di kayu salib ini memang sudah dirancang oleh Tuhan kita jauh sebelum semuanya itu terjadi. Tidak ada seorangpun yang dapat menangkap Yesus kalau tidak atas seijin-Nya.

Yohanes  8

8:20 Kata-kata itu dikatakan Yesus dekat perbendaharaan, waktu Ia mengajar di dalam Bait Allah. Dan tidak seorangpun yang menangkap Dia, karena saat-Nya belum tiba.

Jadi penyaliban Tuhan kita Yesus Kristus itu terjadi memang karena sudah kehendak Allah dan memang karena sudah waktunya.
Tetapi bukankah itu semua terjadi karena ada sarananya? Yaitu penghianatan Yudas Iskariot?

Saya jelaskan sekali lagi bahwa Yudas Iskariot tidaklah layak mendapatkan simpati. Rencana Tuhan atas penebusan Yesus di kayu salib itu tidaklah di ketahui oleh siapapun di dunia ini, – walaupun rencana ini sudah tersirat di kitabnya orang Yahudi – karena itu, sewaktu Yudas Iskariot menghianati Yesus, bukan berarti dia berusaha untuk menggenapi rencana Tuhan atas keinginannya sendiri, bukan!

Dia dimanfaatkan iblis untuk menghianati Yesus dengan maksud agar berita keselamatan tentang Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus dapat dibungkam. Iblis tidak menginginkan berita keselamatan yang diberitakan Yesus ini dapat menyelamatkan umat manusia.

Namun…, dibalik tindakan iblis untuk membungkam berita keselamatan yang diberitakan oleh Tuhan Yesus ini, justru rencana keselamatan yang sudah dirancang oleh Bapa terlaksana. Allah Bapa sanggup mengubah keadaan dari yang “celaka” menjadi berkat.

Jadi dalam hal ini, Yudas Iskariot bukan bermaksud mengikuti rancangan keselamatan yang dari Allah Bapa, tetapi dia justru dimanfaatkan iblis untuk menghancurkan berita keselamatan yang diberitakan Yesus, namun karena ketidak-tahuan iblis atas rencana Allah Bapa, keadaan justru berbalik menjadi kemenangan bagi Kristus.

Patutkah kita berterima kasih kepada Yudas Iskariot?

Matius  26

26:24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan."

Bagaimana mungkin kita dapat berterima kasih kepada orang yang celaka menurut Injil? Tuhan Yesus sendiri telah menyatakannya dengan tegas siapa sebenarnya salah seorang dari kedua belas orang murid-Nya itu.

Yohanes 6

6:70 Jawab Yesus kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis."
6:71 Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu.

Hati-hati Saudara, imanmu jangan sampai disesatkan!

Saya setuju dengan ilustrasi yang diberikan oleh Hamran Ambrie berikut ini :

Sebagai bangsa Indonesia, kita tentu tidak pernah lupa dengan masa-masa sulit bangsa kita pada saat sedang dijajah oleh bangsa asing.
Karena penderitaan hidup di jaman penjajahanlah maka banyak di antara putra putri bangsa yang rela berjuang untuk melawan penjajahan itu. Ini tarohannya nyawa Saudara!

Sekarang, pada saat para pejuang itu gugur di medan perang untuk membebaskan kita dari penjajahan, apakah kita harus berterima kasih kepada para penjajah termasuk para penghianat bangsa yang menyebabkan lahirnya para pahlawan (pejuang yang tewas di medan perang) buat bangsa kita ini? Sebab kalau tidak ada penjajahan kan tidak akan lahir para pahlawan kemerdekaan yang memerdekakan kita dari penjajahan?

Kalau para pahlawan yang membebaskan kita itu diibaratkan Yesus, dan para penjajah serta penghianat bangsa itu adalah Yudas Iskariot, kepada siapa kita harus mengucapkan terima kasih?

Jadi dengan demikian, tidak ada bagiannya di dalam sorga untuk Yudas Iskariot seperti pertanyaan di atas. Hal ini semata-mata bukan hanya karena penghianatannya kepada Tuhan Yesus, tetapi lebih dikarenakan dia tidak mau bertobat.

Yudas Iskariot, di dalam penyesalannya yang mendalam, memilih untuk mati dengan cara gantung diri. Inilah yang membuatnya tidak mendapatkan bagian di dalam sorga.

Rasul Petrus juga pernah menyangkal Yesus, namun penyelesaian akhir dari kedua orang murid ini amat sangat jauh berbeda. Penyangkalan Petrus atas Tuhan Yesus pada dasarnya sama saja dengan penghianatan Yudas Iskariot. Namun dengan hati yang hancur, rasul Petrus kembali kepada Tuhan Yesus dan mendapatkan pengampunan-Nya.

Saudara, jika sekarang Saudara berada di dalam penyangkalan Saudara akan Tuhan kita Yesus Kristus, kembalilah kepada-Nya selagi Saudara masih sempat. Hari ini juga atau Saudara akan menyesalinya nanti.

Akhir dari sharing ini semoga kita semua dapat bertumbuh dalam iman.

Amin.

Katakan “Tidak!” Dalam Pergaulan


Saudara tidak merokok, pada saat Saudara berkumpul dengan teman-teman Saudara dan ditawari rokok sanggupkah Saudara mengatakan “tidak!” ?

Saudara tidak pernah dan tidak suka ke night club, apalagi melakukan perbuatan yang tidak benar. Pada saat tender proyek, sanggupkah Saudara menampik ajakan seorang perempuan yang dipesan khusus untuk “melayani” Saudara oleh kolega Saudara itu?

Teman terdekat Saudara dengan memelas memohon kepada Saudara agar mau sedikit berbohong demi menghindarkan dirinya dari penagih-penagih hutang yang sedang mencarinya. Sekali lagi…, sanggupkah Saudara mengatakan “Tidak! Saya tidak mau berbohong.”? (baca “kumpulan sharing buku II” pada judul Apa itu bohong putih?)

Kita diperhadapkan dalam masalah yang lumayan sulit memang. Di satu sisi jika kita menolak itu semua, belum tentu teman-teman dapat mengerti. Tapi di sisi lain jika kita ikut terlibat di dalamnya, bisa jadi malahan kita yang ikut tersesat.
Mungkin sepintas kita melihat hal-hal seperti di atas bukanlah hal yang cukup serius, akan tetapi segala sesuatu yang seriuspun terkadang dimulai dari hal-hal yang sepele.

Pergaulan memang penting. Walaupun kita telah menjadi orang percaya, bukan berarti kita harus menarik diri dari pergaulan dengan orang-orang disekitar kita (bisa masyarakat se RT, atau teman-teman sekolah, dsb). Namun begitu, di dalam pergaulan itu kita juga harus dapat bertindak secara bijaksana. Adalah suatu keharusan bagi kita orang-orang percaya agar tetap dapat menjaga kemurnian iman kita di dalam pergaulan kita. Jadi janganlah sampai terjadi, hanya karena takut dikucilkan di dalam pergaulan, kita sampai menggadaikan iman kristiani kita sendiri.

Memutuskan diri untuk tidak bergaulpun bukanlah pikiran yang bijak. Rasul Paulus di dalam usahanya mengabarkan Injilpun memilih untuk bergaul dulu dengan lingkungannya.

I Korintus 9

9:20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Jadi Saudara, rasul Paulus melakukan ini semua semata-mata hanya karena Injil. Inilah motivasi sesungguhnya di dalam pergaulannya. Di sini Saudara, kita dapat melihat kunci pergaulan kita sebagai orang percaya yang sesungguhnya. Apapun yang dilakukan oleh teman-teman kita, akan ada filter pada diri kita bila kita selalu mengingat apa motivasi kita yang sesungguhnya. Usahakanlah agar kita yang dapat mempengaruhi mereka ke arah yang positif di dalam pergaulan itu, bukan malah sebaliknya kita yang terpengaruh.

Jangan takut untuk tidak populer di dalam lingkungan kita. Mungkin dengan konsistensi kita di dalam menjaga iman, akan ada cemooh dan ejekan-ejekan dari sebagian teman-teman kita, bisa juga penolakan dari mereka Tidak apa-apa, semuanya itu memang harus terjadi. Namun dengan sikap kita itu setidaknya kitapun telah menginjili mereka secara tidak langsung.

Saudara, dalam hal ini kita memang tidak dapat berharap banyak bahwa mereka semua pada akhirnya akan mengenal Kristus dengan cara-cara kita itu. Tetapi bila ada satu orang saja yang pada akhirnya terselamatkan karena sikap kita tersebut, ini sudah lebih dari cukup. Satu jiwapun sangat berharga di mata Tuhan.

Pengaruh pergaulan memang sangat besar pada sebagian orang. Tidak semua orang percaya mampu mengatasi pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan oleh pergaulan yang tidak sehat. Terutama pada sebagian anak muda, mereka gampang sekali terjerumus oleh ajakan teman-teman sepergaulannya.

Walaupun dalam sharing ini saya menitik beratkan pada pikiran bijak untuk tetap bergaul bagi kita orang-orang percaya, ada saatnya juga kita menarik diri dari pergaulan yang sudah tidak sehat lagi bagi kita. Tidak semua lingkungan pergaulan dapat kita masuki. Ingat, karakter seseorang tidak selamanya cocok pada lingkungan pergaulan yang berbeda.

Jangan kita memaksakan diri untuk tetap berada pada lingkungan pergaulan yang tidak cocok dengan karakter kita, walaupun motivasi kita baik. Mungkin saja ada rekan seiman lain yang lebih cocok karakternya untuk masuk dalam lingkungan semacam itu. Biarlah kita mengambil bagian kita masing-masing.

Syallom.

Jangan Menghambat Pertobatan Seseorang !


Saya mempunyai cerita menarik. Begini, suatu ketika saya dengan seorang teman dan seorang pendeta sedang terlibat dalam suatu sharing yang tidak direncanakan sebelumnya. Sharing dadakan ini cukup menarik karena materi yang saat itu terbahas dengan tidak sengaja ini, menyangkut tentang pertobatan seseorang. Bukan kejadian nyata memang, tetapi seandainya.

Ada pendapat yang mengatakan pada saat seseorang akan bertobat menjadi kristen, seandainya dia telah memiliki isteri lebih dari satu, maka yang bersangkutan harus terlebih dahulu menceraikan seluruh isterinya kecuali isterinya yang pertama.
Apa artinya ini? Artinya akan ada janda-janda dari petobat baru. Terus terang, saya cukup kaget juga mendengar penuturan dan pendapat yang demikian.

Dan kekagetan saya terlebih lagi setelah mengetahui alasan mengapa pendapat demikian sampai ada. Alasannya sederhana, kalau isterinya banyak, siapa yang nanti akan mendampingi si petobat baru tadi pada saat pengukuhan pernikahannya? Apa satu suami didampingi ramai-ramai oleh isterinya? Kurang lebih begitu alasan yang saya dengar.

Saudara, mungkin sekali pada beberapa denominasi gereja tertentu, mereka memang ada yang melakukan pengukuhan pernikahan bagi para petobat baru yang telah menikah sebelum yang bersangkutan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamatnya. Pengukuhan ini mungkin saja dimaksudkan agar selain pernikahan itu sah secara denominasi, juga agar yang bersangkutan untuk kedepannya tidak lagi mengalami kesulitan administrasi bila berurusan dengan pemerintahan karena agama dan surat nikahnya tidak sejalan.

Tidak dapat dipungkiri memang, bahwa masih ada beberapa pandangan yang tidak dapat menerima seseorang atau orang lain untuk berpindah agama sesuai dengan keyakinannya sendiri. Hak asasi sepertinya cuma ada di atas kertas. Prakteknya masih jauh dari ideal.

Tapi yang ingin saya sampaikan di sini Saudara, apakah praktek seperti ini, yaitu mewajibkan seorang petobat baru untuk menceraikan semua isteri mudanya terlebih dahulu, baru yang bersangkutan dapat di baptis sebagai orang kristen itu sudah tepat? Apa ajaran ini memang pernah diajarkan oleh para rasul atau bahkan Tuhan Yesus sendiri? Apa pandangan seperti ini Alkitabiah?

Kalau seandainya pandangan dan ajaran seperti ini sama sekali tidak Alkitabiah, bukankah sudah seharusnya kita sebagai umat Tuhan wajib menolaknya? Meskipun itu telah diajarkan oleh seorang Profesor, doktor theologia sekalipun! Bahkan oleh pimpinan tertinggi dalam organisasi gereja kita sekalipun. Tolaklah karena telah menyimpang dari ajaran Alkitab!

Mengapa kita harus menolak keras dalam hal ini Saudara? Sebab jangan-jangan kita telah bertindak sama seperti para ahli Taurat di jaman Tuhan kita Yesus Kristus.

Lukas  11

11:52 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi."

Janganlah kita mau menjadi ahli-ahli Taurat seperti gambaran di atas, mereka menjadi penghalang bagi orang-orang yang mau bertobat, karena mereka sendiri tidak mendapatkan bagian dalam kerajaan sorga.

Saudara jangan berfikir, para ahli Taurat itu tahu dengan sadar bahwa mereka tidak mendapat bagian dalam kerajaan sorga, tidak! Mereka justru merasa telah melakukan apa yang telah menjadi perintah Tuhan. Namun apa kata Yesus? Mereka tidak mendapat bagian dalam kerajaan sorga. Jadi di sini mereka tidak sadar kalau mereka telah menolak Tuhan dengan perbuatan yang mereka sangka sudah baik sesuai dengan kehendak Tuhan.

Mungkin saja kita menyangka dengan mewajibkan semua petobat baru untuk hanya beristerikan satu orang saja, berarti sesuai dengan kehendak Tuhan dan gambaran hidup orang-orang kristen yang ideal, meskipun untuk itu harus terjadi perceraian. Tapi coba selidiki dulu Alkitab! Apa benar demikian kehendak Tuhan? Jangan menerima apa yang telah diajarkan kepada kita, tanpa terlebih dahulu kita menyelidiki kebenarannya. Bukankah sumber kebenaran sejati hanya pada Alkitab? Bukan pada ajaran-ajaran pendeta atau siapapun yang menggunakan hikmat pribadinya.

Saudara, Tuhan Yesus tidak pernah meminta syarat apapun pada kita untuk menjadi orang yang percaya. Dia menginginkan setiap orang dapat diselamatkan dan untuk keselamatan itu sendiri gratis, tanpa syarat!

Roma  10

10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

Jadi untuk dapat menjadi orang kristen, cukup dengan cara ini. Tidak ada syarat apapun yang membebani kita untuk dapat diselamatkan. Janganlah kita menjadi seperti ahli-ahli Taurat jaman dulu, dimana mereka suka meletakkan kuk yang berat pada orang lain, sementara mereka sendiri enggan menyentuhnya. Kehidupan mereka memang terlihat sepertinya rohani sekali. Namun sebenarnya mereka lebih peduli pada aturan yang dibuat oleh manusia.

Tidak seharusnya kita mensyaratkan kepada petobat baru untuk menceraikan semua isteri mudanya hanya karena aturan yang dibuat oleh manusia, sementara Tuhan sendiri tidak pernah mensyaratkan demikian. Justru ada ayat di Alkitab yang membebaskan kita dari syarat-syarat yang tidak benar seperti itu.

I Korintus 7

7:17. Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.

7:24 Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.

Kalau Saudara dipanggil Tuhan sebagai pengikut-Nya pada saat Saudara telah beristeri lebih dari satu, biarlah tetap demikian kondisinya (kecuali isterinya tidak menjadi kristen dan menginginkan perceraian). Jangan mengikuti syarat macam-macam yang justru dapat menghalangi pertobatan Saudara. Begitu juga pada para pendeta, janganlah memberikan syarat yang justru dapat membuat seseorang yang tadinya akan bertobat jadi terhalang.

Pendeta yang lebih mementingkan aturan-aturan denominasi yang pada dasarnya hanyalah aturan yang dibuat oleh manusia, adalah pendeta-pendeta yang telah berlaku sebagai ahli-ahli Taurat pada masa Tuhan kita Yesus Kristus hidup sebagai manusia di dunia ini. Pendeta demikian tidak layak sebagai gembala yang baik. Mereka lebih takut kepada sanksi dari organisasi denominasinya dari pada patuh kepada Tuhan. Mereka lebih menjunjung tinggi aturan denominasinya dari pada Alkitab.

Mulut memuji dan memuliakan Tuhan tetapi tindakkan mereka justru menghalangi pekerjaan Tuhan. Mereka menghalangi pertobatan seseorang yang untuk orang itu juga Tuhan kita Yesus Kristus mati di kayu salib. Pengukuhan perkawinan hanyalah aturan yang dibuat oleh manusia. Pernahkan Saudara temui ayatnya dalam Alkitab bahwa orang yang telah menjadi kristen harus melalui pengukuhan perkawinan terlebih dahulu baru sah perkawinan ataupun kekristenannya? Jika tidak ada Saudara, berarti itu bukan syarat yang diminta oleh Tuhan. Itu cuma aturan denominasi. Buatan manusia.

Tidakkah Saudara berpikir, bahwa pada saat para rasul memberitakan Injil banyak di antara orang yang saat itu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya adalah orang-orang yang telah berkeluarga? mereka yang telah berkeluarga dan menerima Yesus, apakah mereka juga mengikuti pengukuhan perkawinan? Sekiranya pengukuhan perkawinan itu begitu pentingnya sebagai syarat untuk menjadi kristen, mengapa tidak terdapat satu ayatpun yang membahas masalah itu?

Bahkan dari beberapa ayat berikut, tersirat bahwa pada masa para rasul bekerja, ada juga orang-orang kristen yang memiliki lebih dari satu isteri. Ini bukan berarti orang yang telah menjadi kristen boleh kawin lagi untuk menambah isterinya, tetapi pada saat mereka menjadi kristen, mereka  sudah memiliki isteri lebih dari satu. Dan mereka dapat datang kepada Tuhan Yesus Kristus sama seperti keadaan pada saat mereka terpanggil, yaitu telah memiliki isteri lebih dari satu. Tidak harus menceraikan semua isteri mudanya.

I Timotius  3

3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,

3:12 Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. 

Saudara, seandainya pada masa itu tidak ada orang kristen yang memiliki isteri lebih dari satu, mungkinkah rasul Paulus sampai perlu mengatakan demikian? Bukankah perkataan itu sama sekali tidak ada artinya? Rasul Paulus sampai perlu mensyaratkan untuk menjadi penilik jemaat atau diaken seseorang haruslah suami dari satu isteri, ini karena pada saat itu ada orang-orang kristen yang memiliki isteri lebih dari satu, dan mungkin saja bisa menjadi penilik jemaat atau diaken kalau tidak ditegaskan demikian. Untuk mencegah hal ini sampai terjadilah, maka rasul Paulus sampai perlu menyatakan hal demikian di suratnya.

Tidak mungkin Saudara dapat mengatakan jangan makan makanan haram itu kalau seandainya memang tidak pernah ada makanan yang diharamkan. Bagaimana mungkin seorang buta bisa mengatakan awas jangan menginjak kotoran itu kalau dia sendiri tidak dapat melihat kotoran tersebut.

Jadi logikanya, kalau sampai rasul Paulus berpesan demikian di dalam suratnya, pasti rasul Paulus juga mengetahui bahwa pada saat itu, ada orang-orang kristen yang memiliki isteri lebih dari satu dan bisa saja mereka yang terpilih menjadi penilik jemaat atau diaken. Alasan mengapa rasul Paulus melarang orang yang memiliki isteri lebih dari satu untuk menjadi penilik jemaat atau diaken, saya rasa dapat kita bahas di lain kesempatan. Tetapi inti yang ingin saya sampaikan di sini adalah, bahwa pada jaman para rasulpun sebenarnya ada orang kristen yang memiliki isteri lebih dari satu.

Apakah sekarang, setelah kita menjadi kristen boleh menikah lebih dari satu isteri?

I Tesalonika 4

4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,

Ulangan  17

17:17 Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak.

Tuhan kita tidak pernah menginginkan kita memiliki isteri lebih dari satu. Kita hanya boleh memiliki satu isteri saja, itu sebabnya Tuhan hanya menciptakan seorang wanita saja bagi Adam.

Seandainya Saudara bertanya mengapa tokoh-tokoh dalam perjanjian lama di Alkitab juga memiliki banyak isteri? Jawabannya pertama, hal ini bukan berarti diperintahkan ataupun diijinkan demikian oleh Tuhan kita. Allah Bapa tidak pernah mengijinkan untuk berbuat demikian. Jadi hal ini bukanlah perintah dari Tuhan kita. Jikalau ada beberapa orang yang terpikat untuk beristeri lebih dari satu, itu tidak lain karena pilihannya sendiri, sudah tentu dengan segala resiko dan konsekwensinya seperti yang telah dialami oleh raja Salomo di masa tuanya.

Yakobus  1

1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Kedua, kita sekarang hidup dalam jaman Perjanjian Baru, dimana Tuhan Yesus telah datang sebagai anugerah keselamatan bagi kita. Kita tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat namun sudah dalam kasih Kristus. Dan sebagai hamba Kristus yang telah mendapatkan anugerah keselamatan itu, sudah selayaknya kita mengikuti firman-Nya. Tuhan Yesus telah menegaskan demikian dalam Injil Matius :

Matius 19

19:7 Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"
19:8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
19:9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Di ayat ke 9 ini Saudara, Tuhan Yesus telah menegaskan jika menceraikan isteri dan kawin lagi dengan perempuan lain, berarti sudah berbuat zinah, apalagi jika tanpa menceraikan isteri dan kawin lagi. Jadi sebagai orang kristen kita memang tidak boleh memiliki isteri lebih dari satu.

Untuk gampang dimengerti mungkin dapat kita umpamakan demikian, jika Saudara telah menerima suatu benda A bagi Saudara dan beberapa waktu kemudian Saudara membuang benda A tersebut dengan maksud untuk memiliki benda B saja sudah dapat dikatakan Saudara adalah orang yang serakah, terlebih lagi kalau Saudara ingin memiliki kedua-duanya.

Sebagai orang percaya sudah selayaknya kita harus menuruti firman Tuhan, bukan sebaliknya, untuk melanggar firman-Nya. Seseorang akan dikatakan hamba tuannya jikalau dia menuruti perkataan tuannya. Demikian juga kalau kita menuruti firman-Nya kita adalah hamba-Nya.

Jadi kesimpulan dari ini semua, janganlah menghalangi seorang petobat baru hanya dikarenakan aturan-aturan yang disyaratkan oleh manusia. Siapapun Saudara, pendeta ataupun jemaat biasa, bila Saudara telah menghalangi satu jiwa yang akan bertobat, berarti Saudara telah menjadi alat iblis.

Akhir kata bila Saudara tidak sependapat dengan sharing ini, Saudara bebas untuk menolaknya.

Syallom….

Haruskah Membuang Keluarga Untuk Menjadi Pengikut Yesus?


Lukas 14

14:26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, Saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

………???

Apa yang dapat Saudara tangkap dari ayat ini? Adakah Tuhan kita Yesus Kristus mengajarkan kebencian kepada kita?

Rasanya agama manapun tidak ada yang mengajarkan kebencian yang seperti ini bukan? Terlebih lagi kebencian itu malahan ditujukan kepada bapak kita sendiri, ibu kita sendiri,… dan ini semua bukanlah tentang bapak dan ibu tiri lo, Saudara… mereka semua adalah orang tua kandung dan juga Saudara-saudara kandung kita!

Jadi… apa memang harus begini untuk menjadi orang kristen?
Coba baca ayat berikut ini :

Lukas  12

12:53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

Matius  10

10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,

Bagaimana Saudara…? Apa Saudara semakin bingung? Kalau begitu kita tambahi lagi biar kepalang stress ya?

Lukas  6

6:27. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;

Nah, ini baru bisa dikatakan bingung…
Pada ayat-ayat di atas mungkin Saudara dapat menangkapnya begini, Tuhan ingin kita membenci orang tua dan Saudara-saudara kandung kita, tapi Tuhan juga ingin kita mengasihi orang yang memusuhi kita…. Terbalik mungkin ya? Biasanya kan membenci musuh kita dan mengasihi keluarga kita?

Baiklah Saudara, sebaiknya kita kupas segera satu persatu supaya jangan lagi kita berlarut-larut dalam kebingungan yang kita ciptakan sendiri.

Begini, sebelum kita membahas tentang Lukas 14:26, saya ingin kita membahas dulu ayat Lukas 12:53 dan Matius 10:35. Pada ayat ini Saudara, sepertinya kesan yang kita tangkap memang sebagai orang kristen, sekali lagi ini cuma kesan, kita menjadikan orang-orang yang berada dalam rumah kita sendiri sebagai musuh kita? Padahal mereka adalah keluarga kita sendiri? Bagaimana ini? Apa benar demikian?

Bila ini pengertian Saudara, saya tidak mengatakan sepenuhnya salah pada pengertian Saudara ini. Memang, setiap orang yang telah memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus, orang tersebut dapat saja menjadi musuh orang-orang serumahnya. Namun Saudara…..ini yang paling penting Saudara pahami, saya katakan di atas menjadi musuh dan bukan menjadikan musuh. Hal ini dapat memberikan pengertian yang sangat berbeda Saudara.

Sebagai orang kristen, kita tidak boleh memusuhi mereka. Tetapi untuk dapat menjadi kristen, sering kali orang tersebut menjadi musuh bagi orang serumahnya. Mengapa? Karena untuk dapat menjadi orang kristen, seseorang sering kali mendapatkan pertentangan yang datangnya pertama kali justru dari orang-orang serumahnya.

Kalau Saudara setelah menjadi orang percaya hanya mendapatkan makian dan pengusiran sampai pada pemutusan hubungan keluarga saja, saya rasa Saudara masih termasuk orang yang beruntung.

Berapa banyak bapak-bapak yang tega menyiksa anaknya sendiri bahkan sampai tega memutuskan untuk menyerahkan anaknya kepada masyarakat di lingkungannya untuk di rajam sampai mati? Hanya….karena sang anak telah memutuskan untuk menjadi orang percaya? Mungkin merajam sampai mati atas orang yang dianggap “murtad” bagi mereka adalah hal yang baik.

Berapa banyak ibu-ibu yang telah mengandung dan membesarkan sang anak tadi, juga merestui semua perbuatan itu? Dan berapa banyak juga Saudara-saudara orang yang bertobat tadi melakukan hal yang serupa? Bahkan terlibat langsung di dalam semua penyiksaan tersebut? Mereka semua ini Saudara, adalah orang-orang yang tadinya sangat dekat dan bagian dari keluarga si petobat itu.

Jadi Saudara, ayat pada Lukas 12:53 dan Matius 10:35 itu bukanlah perintah untuk memusuhi orang-orang dalam keluarga kita. Justru ayat itu sebagai pengingat bagi kita, bahwa Tuhan telah memberikan gambaran pada kita kalau untuk dapat menjadi orang percaya itu, kita juga harus bersiap-siap untuk dapat menerima semuanya itu. Yaitu untuk dijadikan musuh oleh keluarga kita sendiri. Bukan kita yang menjadikan mereka musuh.

Apa Saudara cukup jelas sampai di sini?
Kita tidak pernah diajarkan Tuhan untuk memusuhi siapapun. Sebab musuh kita yang sesungguhnya bukanlah darah dan daging (yaitu manusia) tetapi musuh kita adalah roh-roh jahat yang saat ini sedang berkuasa di dunia ini. Itulah yang harus kita perangi di dalam iman. Bukan dengan senjata yang ada pada dunia ini, tetapi dengan perlengkapan senjata Allah yang sudah tersedia bagi kita. (baca “kumpulan sharing buku I” pada judul Mengusir setan? kamu pasti bisa!)

Tuhan Yesus amat mengasihi kita, tidak hanya pada kita saja orang-orang percaya, Dia juga sangat mengasihi setiap orang berdosa. Karena kasih-Nya jugalah maka Dia rela disalibkan demi menebus dosa-dosa kita. Karena itu tepatlah seperti apa yang difirmankannya pada Lukas 6:27. Kasih-Nya telah mengajarkan kita bagaimana untuk dapat mengasihi orang-orang yang telah memusuhi kita, demikianlah hendaknya kita mengasihi mereka sama seperti Tuhan Yesus telah mengasihi kita.

Jadi Saudara, jika Saudara telah berkomitmen untuk menjadi orang percaya, maka janganlah Saudara lebih mengasihi keluarga Saudara di bandingkan dengan Tuhan kita Yesus Kristus. Ini, lagi-lagi bukanlah ajaran untuk membenci keluarga kita. Sama sekali bukan! Tetapi janganlah lagi kita menuruti kemauan orang tua kita hanya semata-mata karena kita mengasihi mereka walaupun kemauan orang tua kita itu bertentangan dengan iman kristiani kita.

Banyak contoh yang dapat diberikan, antara lain

Janganlah kita mau menuruti keinginan orang tua kita lagi untuk mengikuti tradisi-tradisi keluarga seperti sembahyang, menjaga hari-hari tertentu kekuburan dan lain sebagainya.
Bahkan sekiranya kita menikah dan tidak memiliki seorang anakpun, kita tidak boleh menceraikan isteri kita ataupun menikah lagi, walaupun ini atas permintaan orang tua kita dan bahkan permintaan isteri kita sekalipun!
Jangan takut kepada siapa harta duniawimu akan diwariskan, ataupun keturunanmu terputus karenanya. Semuanya itu tidaklah berguna di mata Tuhan.
Janganlah juga, karena semua keluarga kita mengancam akan meninggalkan kita, maka kita mau meninggalkan Yesus. Jangan sampai terjadi. Seandainya kita telah menjadi tua dan jompo, kita mengikuti keinginan anak-anak kita (mungkin karena pengaruh menantu-menantu kita) untuk melepaskan Tuhan Yesus semata-mata agar mereka mau merawat kita.

Ini semua tidak boleh terjadi. Karena bila sampai terjadi, berarti Saudara sudah tidak layak untuk mengikut Yesus seperti yang tertulis pada Lukas 14:26

Dalam terjemahan bahasa Indonesia sehari-harinya sebagai berikut :

14:26 "Kalau orang datang kepada-Ku, tetapi lebih mengasihi ibunya, bapaknya, isterinya, anak-anaknya, Saudara-saudaranya, malah dirinya sendiri, ia tidak bisa menjadi pengikut-Ku.

Saudara, seperti penjelasan saya tadi, Tuhan kita tidak pernah mengajarkan kita untuk membenci siapapun. Namun hal ini bukan berarti kita harus mengikuti keinginan semua orang yang kita cintai lebih dari pada mengikuti keinginan Tuhan kita sendiri Yesus Kristus.

Sebab adalah lebih baik bagi kita bila karena Yesus kita dibenci, dihina, dimusuhi dan bahkan dianiaya oleh orang-orang terdekat dengan kita sekalipun, dari pada kita lebih mengasihi mereka dengan mengikuti semua keinginan mereka yang bertentangan dengan iman kristen kita. Inilah pengertian ayat di atas, agar kita layak menjadi murid Kristus.

I Timotius  5

5:8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Saudara, kita justru diperintahkan oleh Tuhan untuk mengasih semua anggota keluarga kita. Jadi bukan sebaliknya. Tetapi bila semua anggota keluarga kita sendiri yang memusuhi kita karena kekristenan kita, itu bukan salah kita! Sekali lagi, kita tidak boleh menjadikan keluarga kita sebagai musuh. Namun kalau keluarga kita yang menjadikan kita sebagai musuh mereka, apa boleh buat. Kita cuma dapat mendoakan mereka saja…., semoga mereka juga dapat melihat kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.

Amin.

Hari Kematian


Sebenarnya, setiap orang dari kita pasti pernah menyaksikan apa yang dinamakan kematian. Entah itu cuma kematian binatang peliharaan kita, ataupun kematian dari orang-orang yang berada di sekitar kita, sampai pada kematian teman maupun anggota keluarga yang kita cintai. Sebagai manusia yang normal, memang sudah seharusnya kita bersedih hati atas semua kematian itu. Terlebih kalau orang yang telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya itu adalah orang-orang yang pernah dekat dengan kita.

Tidak mudah memang bagi seseorang untuk dapat menerima kematian dari orang-orang yang dicintainya. Sebagian orang ada yang berubah menjadi pemurung, sedih berkepanjangan dan merasa tidak lagi memiliki hari depan. Bahkan ada juga yang sampai menyalahkan Tuhan atas semua yang menimpanya. Merasa Tuhan mengabaikan dan tidak menolongnya, dan kemudian merasa kecewa dengan Tuhan.

Pada beberapa kasus yang biasanya menimpa anak-anak muda, karena merasa tidak lagi memiliki hari depan bersama si dia sang kekasih, ada sebagian orang yang sampai memilih untuk “menyusul” kekasihnya yang telah meninggal tersebut. Kelihatannya, dari sudut pandang duniawi sih sepertinya romantis sekali ya?... seperti pasangan sehidup semati gitu lo…. (cerita Romeo dan Juliet). Namun apa betul…, mereka sehidup semati? Tempat asal keberangkatannya sih memang sama, tapi apa tujuannya juga sama? Jangan-jangan yang pergi lebih dulu ke sorga sedangkan yang nyusul (bunuh diri) dapat dipastikan ke neraka.

Kematian memang tidak dapat di duga. Kedatangannya bisa kapan saja. Itulah sebabnya Alkitab memperingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga senantiasa. Janganlah kita terlalu asik dengan kehidupan kita yang penuh dosa, dengan harapan nanti sebelum mati baru bertobat.

Jangan sesat Saudara! Ini adalah tipuan iblis untuk menjerat Saudara hingga akhirnya pintu pertobatan itu tertutup buat Saudara. Pertobatan yang diatur-atur begitu pada dasarnya bukanlah pertobatan. Pertobatan demikian tidak tulus, karena hanya dilandasi oleh keinginan untuk menyelamatkan diri saja. Bukan pertobatan dengan hati yang hancur. Ini licik!

Dulu, sayapun pernah mempunyai pandangan yang serupa. “Boleh saja seseorang bertobat menjelang kematiannya, tapi resikonya seandainya tidak sempat, ditanggung sendiri.” Tetapi sekarang pandangan itu sudah saya buang jauh-jauh. Seseorang yang memang berkeinginan untuk bertobat, seharusnya bertobat saat itu juga.

Menunda-nunda pertobatan menjelang kematiannya bukan saja takut tidak sempat, tetapi yang lebih penting takut tidak tulus dan hanya seperti orang yang bersandiwara saja. Air mata mungkin boleh keluar tetapi yang sesungguhnya di dalam hati orang tersebut, Tuhan tahu apa motif di balik pertobatannya. Pertobatan yang sungguh-sungguh berasal dari hati, bukan dari mulut! Hatilah yang dapat membuat mulut berkata jujur. Begitu juga sebaliknya, apa yang dikatakan oleh mulut, hati dapat menyangkalnya.

Bagi orang percaya, ada banyak ayat di Alkitab yang mengatakan bahwa kematian itu bukanlah suatu hal yang menakutkan, malahan suatu suka cita bagi kita. Tuhan Yesus sendiripun pernah mengalami kematian di dunia ini.

Namun tidak sedikit orang percaya saat ini yang masih sangat takut pada kematian. Entah apa yang membuat mereka tidak siap. Mungkin saja memikirkan nasib keluarga yang akan di tinggalkan, ataupun meragukan akan keselamatan dirinya sendiri. Tetapi apapun itu semua, pada dasarnya inilah cerminan bahwa mereka tidak bergantung sepenuh hati kepada Tuhan Yesus. Mereka tidak merasa yakin Tuhan Yesus sanggup memelihara keluarga yang ditinggalkan dan juga menjamin keselamatan tiap orang percaya. Atau bisa jadi karena mereka lebih merasa mencintai dunia ini.

Pertimbangan-pertimbangan begini Saudara, seharusnya tidak boleh ada pada diri orang kristen, kematian sebenarnya adalah suatu suka cita bagi kita. Alkitab mengatakan :

Filipi  1

1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Wahyu  14

14:13. Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."

Sebagai orang kristen, kita sudah dijamin oleh kebangkitan Yesus bahwa kita semuapun akan dibangkitkan. Tidak ada kematian di dunia ini yang patut kita takutkan. Begitu juga kita tidak perlu takut ditinggal mati oleh orang-orang yang kita kasihi. Biarlah mereka beristirahat seperti firman di atas. Tugas kita yang ditinggalkan, bangkitlah untuk hidup seperti apa yang diinginkan Tuhan. Jangan takut untuk menatap masa depan karena Tuhan mampu untuk memelihara kita.

Memang saat inipun bila kita membaca warta jemaat yang ada pada gereja-gereja, masih juga di tulis “Berita duka cita” untuk mengabarkan kematian seorang kristen. Cara ini, menurut saya kurang tepat. Mengapa? Alkitab tidak pernah mengatakan berduka citalah orang-orang yang mati dalam Tuhan, tetapi berbahagialah! Artinya kita berbeda dari orang-orang dunia ini.

Sebagian orang memang ada yang berpendapat “yang bahagia kan orang yang meninggal, orang yang ditinggalkan tentunya sedih. Jadi kata-kata berita duka cita itu semata-mata untuk mengungkapkan rasa simpati kita kepada keluarga yang di tinggalkan.”

Secara pribadi, saya masih kurang setuju dengan pendapat yang seperti ini. Kalau ada keluarga yang berduka karena kematian orang kristen, seharusnyalah kita menghiburnya dengan mengatakan kemana sesungguhnya orang yang telah meninggal itu. Dan kalau keluarga yang di tinggalkan menyayangi orang yang telah meninggal tersebut, sudah seharusnya keluarga yang di tinggalkan itu dapat bersyukur dan bersuka cita karena ada salah seorang dari yang mereka kasihi, telah kembali ke rumah Bapa di sorga dan memperoleh kehidupan yang jauh lebih baik dari pada bila dia tetap hidup di dunia ini.

Sebagai ilustrasi, bagaimana reaksi keluarga bila salah seorang anggota keluarganya memperoleh hadiah undian Rp. 5 miliar ? Bersedihkah atau bersuka citakah? Orang yang waras sudah pasti akan menjawab “ bersuka cita “. Itu baru harta duniawi senilai Rp. 5 miliar, apalagi ini Sorga yang Tuhan berikan. Bukankah seharusnya terlebih lagi rasa suka cita yang dirasakan oleh keluarganya?

Pengertian begini harus kita berikan kepada mereka yang ditinggalkan, dan bukannya mengatakan “Turut berduka cita”, seolah-olah yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan mengalami nasib yang buruk, sehingga perlu berduka. Orang yang mendapat berkat ataupun keuntungan tidak pernah ada yang berduka termasuk juga keluarganya. Justru orang yang mendapatkan kemalanganlah yang berduka.

Roma  12

12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Mereka yang tidak percaya memang patut untuk berduka cita atas kematian dirinya ataupun kematian dari orang-orang yang dicintainya. Tetapi kita berbeda, janganlah menjadi serupa dengan orang-orang dunia ini! Pada kita orang percaya, ada janji Tuhan yang pasti akan keselamatan kita. Karena itu tidak sepantasnyalah kita berduka cita baik oleh kematian kita sendiri, ataupun kematian dari orang yang kita cintai.

Saya tidak mengatakan bahwa sebagai orang kristen kita tidak boleh menangisi orang yang meninggal, bukan itu! Silahkan Saudara tangisi karena memang Saudara tidak akan dapat berjumpa lagi di dunia ini dengan orang yang telah meninggal tersebut. Tetapi berduka cita dalam arti sesungguhnya, itu yang tidak perlu.

Karena kita tahu kematian bagi orang percaya bukanlah suatu duka cita, maka seandainya kita ingin memberitakan kematian dari seorang kristen kepada jemaat, bukankah lebih baik bila kita sampaikan bahwa, “Telah berpulang ke rumah Bapa di sorga Saudara kita si A pada hari…..dst” bukankah kata-kata ini jauh lebih baik dari pada “Berita duka cita….dst”?

Saudara, sesuai dengan ulasan kita di atas ini, yang ingin saya sampaikan di sini adalah, janganlah kita sebagai orang percaya memandang suatu kematian sebagai sesuatu yang sangat menakutkan sehingga…., sekiranya ada obat untuk hidup kekal di dunia ini kita sampai berlomba-lomba untuk memperolehnya.

Sudah seharusnya kita dapat memandang kematian sama seperti rasul Paulus memandangnya seperti dalam surat Filipi 1:21. Kematian adalah pintu bagi kita untuk dapat masuk ke dalam masa peristirahatan dari jerih lelah kita selama kita hidup. Tidak ada kebangkitan dari kematian yang tidak diawali oleh kematian itu sendiri!

Sebagai orang percaya, Tuhan kita yang tidak dapat berbohong telah menjamin kita akan kehidupan yang jauh lebih baik setelah kematian kita. Akankah kita meragukan-Nya? Semuanya itu pasti kita dapatkan selama kita hidup di dalam iman.

Pengkhotbah  7

7:1. Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.

Ini berarti, seharusnya bagi kita orang kristen merayakan hari kematian jauh lebih berharga dari pada merayakan hari kelahiran.

Akhir kata semoga dengan adanya sharing ini, kematian bukan lagi sebagai hal yang menakutkan bagi kita. Tetapi dibalik peristiwa yang memang menyedihkan bagi keluarga yang ditinggalkan ini, kita dapat melihat peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Yaitu suatu peristiwa suka cita atas kembalinya seorang anak dari rantau (dunia ini) ke rumah Bapa di sorga yang sedang berlangsung di hadapan kita.

Syallom buat semua, semoga kita makin dewasa di dalam iman.

Amin.

Dosa Adam Dan Karunia Tuhan


Roma 5

5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

Ayat ini menjelaskan bahwa dosa, telah masuk ke dalam dunia ini karena Adam yang membukakan pintu. Adam yang adalah manusia pertama yang telah diciptakan Tuhan, telah melakukan suatu pelanggaran serius, yaitu melawan perintah Tuhan hingga melahirkan suatu dosa. Pada saat dia diusir dari taman Eden, dosa itu tetap mengikutinya.

Sekarang, karena dosa yang satu itu, yaitu dosa perbuatan Adam, kita juga turut menanggung akibatnya walaupun kita tidak berbuat dosa yang sama. Hal ini jelas masih kita rasakan sampai sekarang, di mana setiap kita pasti akan mati. Dosa Adam itu telah melahirkan maut, dan maut itu sampai sekarang masih menguasai kita semua keturunan Adam.

Roma 5

5:14 Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.

Adakah seseorang yang menenun sehelai kain dari benang yang berwarna hitam akan menghasilkan sehelai kain yang berwarna putih? Andai kata Adam yang telah jatuh ke dalam dosa dan dosa itu hitam, maka hitam pulalah segala yang terlahir dari Adam.

Dari sini Saudara, dapat Saudara lihat bahwa hanya karena kesalahan satu orang saja, maut telah berkuasa atas kita semua manusia.

Sekarang bila kita bandingkan antara dosa dan karunia dari Tuhan, mana yang lebih mulia? Antara perbuat yang salah dan perbuatan yang benar, mana yang lebih mulia? Kalau karena perbuat dosa yang sama sekali tidak mulia dapat menyebabkan semua orang di dunia ini berada dalam kekuasaan maut, terlebih lagi karena sesuatu yang mulia dari Tuhan, yaitu kasih karunia-Nya yang menebus kita dari maut? bukankah lebih dapat dipercaya kalau kasih karunia-Nya ini akan mampu menebus kita semua manusia dari maut?

Pelanggaran Adam tidak sebanding dengan kebenaran Yesus. Bagaimana mungkin dapat kita bandingkan antara bumi dan langit, antara yang hina dan yang mulia? Kalau karena yang hina saja kita menjadi kotor, terlebih lagi kita akan menjadi sangat….sangat bersih karena yang mulia.

Roma 5

5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
5:16 Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.
5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

Kita semua, lahir secara jasmani dari keturunan Adam, dan karena itu maka secara jasmani juga kita harus mati karena maut telah menguasainya.
Dengan proses yang sama, kitapun harus lahir kembali dalam Yesus Kristus, supaya kita hidup seperti Yesus hidup.
Kita telah lahir dan mati dalam dosa karena Adam, maka kitapun harus lahir dan hidup karena Yesus.

Orang yang tidak mau lahir kembali dalam Yesus, orang itu bukan “keturunan” Kristus. Orang tersebut hanyalah keturunan Adam secara jasmani, dan karena Adam mati oleh sebab maut maka diapun harus mati karena kuasa maut. Sebab bila benang untuk menenun hitam, maka hitam jugalah kain yang dihasilkannya.

Saudara, di sini seharusnya dapat kita pahami bahwa untuk dapat hidup, tidak ada cara lain bagi kita kecuali harus lahir kembali di dalam Yesus. Hanya Tuhan Yesuslah yang dapat menyelamatkan kita dari kuasa maut. Kematian kita secara jasmani sudah pasti! Sama pastinya dengan kematian Adam karena kuasa maut. Sekarang bila kita mengalami kematian jasmani yang pasti karena Adam, maka kitapun akan mengalami hidup yang pasti karena Yesus, sama seperti pastinya Tuhan kita Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati.

Roma  6

6:5 Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.

I Korintus  15
15:21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.

Kisah Para Rasul  1

1:3 Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Tuhan sendiri telah membuktikan bahwa Dia hidup. Karena itu kitapun orang-orang percaya akan hidup karena Kristus. Berbahagialah Saudara, bila karena iman Saudara telah menjadi orang percaya.

Adalah suatu anugerah yang tidak terhingga, bila sekarang kita telah mendapatkan kesempatan untuk hidup karena Tuhan Yesus.


Amin.