Translate

Selasa, 08 September 2026

Amsal 7:18-19 Apakah Porno?

 

Pernah melihat di Youtube, seseorang mempermasalahkan kitab Amsal pada seseorang yang mengakunya Kristen katakanlah si A, tetapi ternyata kurang memahami apa dasar imannya itu. Pelaku sengaja mengarahkan si A membaca Amsal 7 ayat 18-19… Woow, si A sampai malu sendiri dan yah…. Tentu saja kesempatan ini tidak dilewatkan si pelaku untuk memojokkan dan menyesatkan si A dengan melabeli kitab yang dia imani sebagai kitab porno. Tidak diketahui apakah si A tercuci otaknya atau tidak…..

 

Bro, gimana kalau si A ini adalah anak kita? Apa yang akan kita jelaskan pada si A seandainya kita sendiri sebagai orang tua tidak pernah dewasa secara iman? Atau jangan-jangan malah kita juga terpengaruh? He..he….

 

Apa sih isi kitab Amsal pasal 7 ayat 18-19 itu? Inilah isinya:

 

Amsal

 

7:18 Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara.

7:19 Karena suamiku tidak di rumah, ia sedang dalam perjalanan jauh,

 

Nah gimana bro? malukah anda? risihkah anda membacanya?

 

Jangan cepat-cepat merah muka bro, anda tidak salah. Ini memang isi dari kitab itu… lalu gimana menjelaskannya? Benarkah ini isinya pornografi?

 

Saudara, Jika ayat tersebut dipotong dari konteksnya, orang dapat dengan mudah salah memahami seolah-olah teks itu merupakan ajakan seksual, saya ambil contoh. Seorang dokter kandungan bila mau menolong persalinan seorang ibu muda mungkin dia akan berkata:

 

“Selamat pagi, Bu. Saya dokternya. Tenang ya, Ibu dan bayi akan kami bantu. Sekarang saya periksa dulu kondisi Ibu dan bayinya. Kalau kontraksinya datang, tarik napas dalam dan ikuti arahan saya. Jangan mengejan dulu sebelum saya minta, ya.”

 

“Celananya silakan dibuka dulu, Bu. Setelah itu silakan berbaring dengan nyaman. Kedua kakinya dibuka sedikit, ya, Bu.”

 

“Ibu sudah merasa ingin mengejan? Bagus. Nanti kalau kontraksi datang, tarik napas, tahan, lalu dorong ke bawah seperti sedang BAB. Ikuti aba-aba saya. Ibu tidak sendirian, kami akan bantu sampai bayinya lahir.”

 

“Bagus sekali, Bu. Tarik napas lagi… dorong… terus… sedikit lagi… bagus. Kepala bayinya sudah terlihat. Jangan panik, ikuti arahan saya. Bayinya sebentar lagi lahir.”

 

Ini mungkin terdengar biasa dan tidak ada yang salah… tapi coba penggal percakapan itu cuma di bagian

“Celananya silakan dibuka dulu, Bu. Setelah itu silakan berbaring dengan nyaman. Kedua kakinya dibuka sedikit, ya, Bu.”

BAH! Apa yang anda tangkap, saudara?

Membaca kitab Amsal 7 itu bro, bila kita ikuti konteksnya dari awal maka akan lengkap apa yang ingin disampaikan si penulis.

 

Amsal

 

7:1 Hai anakku,  berpeganglah pada perkataanku , dan simpanlah perintahku dalam hatimu.

7:2 Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup;  simpanlah ajaranku seperti biji matamu.

7:3 Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu. 

7:4 Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku" dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu,

7:5 supaya engkau dilindunginya terhadap perempuan jalang, terhadap perempuan asing, yang licin perkataannya.

7:6 Karena ketika suatu waktu aku melihat-lihat, dari kisi-kisiku, dari jendela rumahku,

7:7 kulihat di antara yang tak berpengalaman, kudapati di antara anak-anak muda seorang teruna yang tidak berakal budi,

 

7:10 Maka datanglah menyongsong dia seorang perempuan, berpakaian sundal dengan hati licik

7:13 Lalu dipegangnyalah orang teruna  itu dan diciumnya, dengan muka tanpa malu berkatalah ia kepadanya

7:16 Telah kubentangkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir. 7:17 Pembaringanku telah kutaburi dengan mur, gaharu dan kayu manis.

7:18 Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara.

7:19 Karena suamiku tidak di rumah, ia sedang dalam perjalanan jauh,

 

7:24 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, perhatikanlah perkataan mulutku.

7:25 Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalan perempuan itu, dan janganlah menyesatkan dirimu di jalan-jalannya.

 

Apakah saudara bisa melihatnya dengan jelas sekarang? Saya pisahkan Amsal 7 dari ayat 1 sampai 25 ini dalam tiga bagian terpisah. Bagian pertama adalah peringatan kepada anak-anak muda untuk berhati-hati, jadikan hikmat untuk melindungi dirimu. Ini adalah nasehat dari senior kepada junior untuk waspada.

 

Waspada terhadap apa? Jawabannya ada di alenia ke dua dimana dijelaskan bahwa ada banyak perempuan yang berpakaian sundal dan berhati licik yang akan menjerumuskan mereka anak-anak muda kedalam perzinahan, maka di ayat selanjutnya digambarkanlah perzinahan itu seperti apa….

 

Sebagai manusia anda risih membaca ayat ini? Silakan risih dan malu, bro. Tapi jangan salahkan Amsalnya. Sebab yang sedang diperlihatkan Amsal adalah perbuatan manusia, itu bukan yang diajarkannya, melainkan sesuatu yang memang bisa manusia lakukan. Amsal sedang bertindak sebagai cermin yang memantulkan perbuatan dosa manusia, bukan mengundang manusia untuk berdosa. Jadi kalau isi pesannya terasa kotor, jangan buru-buru mengatakan pembawa pesannya yang kotor. Bisa jadi kita sedang tidak nyaman karena untuk pertama kalinya dosa manusia ditampilkan apa adanya di depan mata kita.

 

Sederhananya bro, kalau kita bersundal lalu perbuatan itu direkam oleh kamera wartawan dan kemudian ditayangkan di depan kita, kok malah kita menuduh si perekam yang berbuat porno? Kamera hanya merekam apa yang terjadi. Kamera tidak menciptakan perzinahan itu.

 

Begitu juga dengan Amsal 7. Amsal tidak menciptakan perzinahan, tidak mengajarkannya, dan tidak mengundang kita untuk melakukannya. Amsal sedang membongkar dan memperingatkan kita tentang dosa yang memang dilakukan manusia. Kitab ini sedang menjelaskan dosa perzinahan dan perbuatan perzinahan yang kita manusia bisa perbuat, lalu mengapa kitabnya yang dicap kitab porno? Ha…ha…. Sebenarnya yang porno itu siapa, bro? Kitab yang menggambarkan perzinahan sebagai contoh buruk, atau otak si pembaca kitab itu?

 

Kata-kata di Amsal yang kita sangka vulgar seperti di ayat 7:18 itu tidak salah, memang vulgar kok! Tapi sebenarnya itulah kata-kata kita sebagai manusia yang disajikan dalam teksnya, itu kata-kata yang sanggup kita katakan bro, bukan yang diajarkan Amsal.

 

Anda sehat sekarang bro?

 

Dewasalah dalam imanmu bro, sehingga saat serangan datang meskipun menggunakan kitab anda sendiri, anda tidak terbawa dalam penyesatan mereka.

 

Perlu saya jelaskan di akhir artikel ini, Amsal 7 pertama-tama sedang memberikan peringatan nyata tentang godaan seksual, perzinahan, ketidaksetiaan, dan jalan menuju kehancuran. Tema tentang perzinahan dan persundalan ini kemudian memiliki resonansi yang lebih luas dalam kitab-kitab para nabi, ketika ketidaksetiaan Israel kepada TUHAN juga digambarkan sebagai persundalan.

 

Jadi sekarang jelas bagi kita, Kalau CCTV merekam seseorang sedang berzina, kita tidak menyebut CCTV sebagai pelaku perzinahan hanya karena CCTV merekam peristiwa tersebut. Demikian pula, teks yang menggambarkan perzinahan tidak otomatis menjadi teks yang menganjurkan atau mempraktikkan pornografi.

 

Sama seperti dokter kandungan tidak mungkin menjelaskan anatomi atau kesehatan reproduksi manusia dengan menggunakan gambar kerang Abalone sebagai gambaran anatomi manusia. Dokter kandungan memang harus berbicara tentang organ intim secara terus terang karena itulah objek yang sedang ia jelaskan. Bahasa yang digunakan mungkin seksual secara biologis, tetapi tujuannya adalah medis, bukan pornografis.

 

Ambil hikmah dari setiap kritik maupun serangan, tetapi dewasalah dan tetap dalam imanmu adalah kunci jawabannya.

 

Syallom.

 

GBU

Jumat, 28 Agustus 2026

Ekspektasi terhadap mukjizat

 

Semasa di SLTA dulu, dalam kumpul-kumpul bersama teman, saya pernah mendengar sebuah cerita yang disampaikan sebagai lelucon antarteman. Ceritanya ringan, tetapi cukup menyentil.

 

Alkisah ada seorang nenek yang tinggal di desa dataran rendah. Suatu ketika, terjadi banjir yang cukup besar, bahkan mungkin yang terbesar dalam sepuluh tahun terakhir. Curah hujan yang tinggi, ditambah banjir kiriman dari daerah yang lebih tinggi, membuat ketinggian air dengan cepat bertambah.

 

Ketika air sudah mencapai pinggang orang dewasa, sejumlah penduduk desa mulai berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dengan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Saat melewati rumah si nenek, beberapa orang berusaha mengajaknya untuk ikut mengungsi. Namun si nenek menjawab, “Kalian mengungsi saja lebih dahulu. Saya percaya Tuhan pasti akan menolong saya.” Akhirnya rombongan penduduk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan si nenek.

 

Air terus naik, Ketika ketinggian air sudah mencapai sekitar dua meter, si nenek naik ke loteng rumah. Saat itu ada penduduk yang memiliki perahu menghampiri rumah si nenek dan berseru agar si nenek ikut bersama mereka naik perahu untuk mengungsi, tetapi sama seperti yang pertama, si nenek kembali menyilahkan mereka mengungsi lebih dahulu karena dia percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dia, Tuhan pasti akan menolongnya.

 

Sekarang air kembali naik dan mencapai loteng. Nenek akhirnya dengan bantuan tangga naik ke atap rumah dan duduk di bumbungan. Disana dia terus berdoa dan berharap Tuhan pasti akan menolongnya. Setelah menunggu setengah jam akhirnya team SAR dari pemerintah sampai juga ke desa tersebut dan segera membantu evakuasi warga desa untuk mengungsi, dengan perahu karet akhirnya ada satu anggota team SAR yang sampai ke rumah si nenek dan berseru agar nenek ikut mereka untuk diantar sampai ke posko keselamatan. Tetapi lagi-lagi si nenek berseru agar team SAR menolong penduduk yang lain lebih dahulu sebab dia yakin dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan pertolonganNya nanti. Akhirnya dengan berat hati team SAR itu harus bergerak ke rumah penduduk lain untuk segera mengevakuasi sisa-sisa penduduk yang masih bertahan di rumah mereka.

 

Singkat cerita, banjir akhirnya menenggelamkan seluruh desa, tidak ada satupun rumah yang masih terlihat. Semua rumah telah terendam banjir termasuk rumah si nenek. Lalu gimana nasib si nenek? Jelas….. dia telah meninggal tertelan banjir tersebut.

 

Cerita kemudian berlanjut di alam sana, si nenek akhirnya bertemu dengan Tuhan dan mengajukan komplain. Nenek bertanya mengapa Tuhan tidak juga memberikan pertolongan pada dia, padahal dia sudah dengan sungguh-sungguh dalam iman berdoa dan percaya Tuhan akan menolongnya. Lalu mengapa dia malah dibiarkan tanpa pertolongan hingga maut menjemputnya.

 

Tahu apa jawaban Tuhan? Tuhan menjawab bahwa Dia telah berusaha menolong si nenek sampai tiga kali berturut-turut, tapi si nenek sendiri yang menolaknya. Pertama Tuhan kirimkan serombongan penduduk untuk membantu evakuasi si nenek tetapi ditolak, kedua Tuhan juga kirimkan penduduk dengan perahu dan ditolak lagi, terakhir saat air sudah mencapai atap rumah, Tuhan sekali lagi mengirimkan team SAR untuk menolong si nenek dan lagi-lagi ditolak. Jadi siapa yang salah?

 

Bro, ini memang hanya sekedar cerita isapan jempol. Tetapi ada pesan yang bisa kita ambil dari cerita ini, yaitu jangan pernah mendikte Tuhan bagaimana cara Dia merespon doa kita dan bagaimana cara Dia akan mengulurkan tanganNya dalam memberikan pertolongan kepada kita.

 

Sering kali tanpa kita sadari, kita sudah berlaku sama seperti si nenek di dalam cerita. Tanpa sadar kita sering berharap bahwa Tuhan akan memberikan pertolonganNya kepada kita dengan cara-caraNya yang WAH dan AJAIB seperti dalam Matius 14:29. Tanpa sadar, kita sering berharap asalkan kita percaya saja, maka Tuhan pasti akan menyelesaikan segala perkara kita. Dan celakanya, kita sendiri yang sering berekspektasi terlalu tinggi bagaimana caranya Dia akan menyelamatkan kita dengan cara-cara yang ajaib.

 

Kita sering membatasi sendiri bagaimana cara Tuhan bekerja, dengan hanya bermodalkan apa yang dikatakan sebagai “iman”, kita tanpa sadar sudah merasa menjadi “orang penting” yang bila berdoa, maka dalam bayangan kita Tuhan akan memberikan pertolonganNya secara supranatural, seperti tiba-tiba besoknya sembuh sendiri, dst, dst.

 

Kita lupa bahwa Tuhan tidak anti cara-cara duniawi, Dia juga sering menggunakan cara-cara duniawi untuk menjangkau kita.

 

Kisah Para Rasul

 

9:17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”

 

Bukankah ini menarik?

 

Tuhan memang menjumpai Saulus dengan cara yang luar biasa di perjalanan menuju Damsyik. Tetapi ketika tiba waktunya Saulus menerima kembali penglihatannya, Tuhan menggunakan seorang manusia bernama Ananias. Tuhan bisa saja melakukan semuanya secara langsung. Tetapi Tuhan memilih memakai tangan Ananias.

 

Bila ini terjadi pada si nenek dalam cerita apa kira-kira yang akan dikatakannya?

 

Saudara terkasih, apakah kita juga tidak akan bersikap sama seperti si nenek?

 

Mungkin saja kita pernah mengalami sakit, katakanlah batuk misalkan, lalu ada tetangga yang mengetahui dan menawarkan obat batuk kepada kita. Tetapi karena kita merasa “beriman”, maka kita tolak bantuan itu sambil berkata dalam hati, asal saya berdoa saja dengan iman, maka batuk saya pasti akan sembuh.

 

Bro, berdoa seperti itu tidak salah, tetapi akan menjadi lain jika anda sudah mendikte cara datangnya pertolongan Tuhan.  

 

Dari mana saudara tahu bahwa tawaran obat dari tetangga itu bukan cara Tuhan untuk menolong saudara? Karena pertolongan itu bukan dari saudara seiman? Tidak tahukah saudara cerita tentang si Rahab orang Kanaan di Yeriko yang menyelamatkan orang Israel?

 

Kita tidak bisa dan tidak mungkin membatasi bagaimana cara Tuhan menjangkau kita. Dengan iman kita meletakkan pengharapan kita pada pertolongan Tuhan, tetapi saat pertolongan itu tiba, janganlah kita menolaknya hanya semata-mata pertolongan itu datangnya tidak dengan cara-cara yang ajaib. Beberapa kejadian memang bisa melibatkan supranatural seperti yang terjadi pada tiga orang sahabat Daniel.

 

Daniel

 

3:28 Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.

 

Namun Tuhan juga tidak menolak menggunakan cara-cara manusiawi untuk menyelamatkan kita seperti pada Kisah Para Rasul di atas dan tidak hanya itu, masih banyak ayat-ayat lain di Roma, Filipi maupun Ibrani yang menceritakan hal senada.

 

Saudara terkasih, jangan pernah mendikte Tuhan tentang bagaimana Dia harus menolong kita.

Kita boleh berdoa dengan iman. Kita boleh berharap akan pertolongan Tuhan. Kita bahkan boleh memohon agar Tuhan melakukan mukjizat. Tetapi jangan sampai iman membuat kita menutup mata terhadap pertolongan yang Tuhan hadirkan melalui cara-cara yang sederhana dan manusiawi.

 

Tuhan dapat menolong melalui sesuatu yang supranatural, tetapi Tuhan juga dapat menolong melalui tangan manusia, melalui seorang dokter, melalui obat, melalui keluarga, melalui sahabat, melalui pekerjaan, bahkan melalui orang yang sama sekali tidak kita duga.

 

Karena itu, ketika kita berdoa, jangan hanya meminta Tuhan menolong kita. Mintalah juga kepada-Nya hati yang peka untuk mengenali pertolongan ketika pertolongan itu datang.

 

Jangan sampai kita seperti si nenek dalam cerita tadi: menunggu Tuhan datang dengan cara yang spektakuler, sementara pertolongan-Nya sudah datang tiga kali dan semuanya kita tolak karena tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

 

Iman bukanlah kemampuan untuk memaksa Tuhan bekerja sesuai dengan keinginan kita. Iman adalah mempercayakan diri kepada Tuhan, sambil tetap membuka mata terhadap cara apa pun yang Dia pakai untuk menolong kita.

 

Jika kita sakit, berdoalah. Tetapi jangan takut berobat. Jika kita mengalami kesulitan, berdoalah. Tetapi jangan menolak bantuan orang lain. Jika Tuhan menyediakan jalan keluar melalui manusia, jangan merasa bahwa pertolongan itu menjadi kurang ilahi hanya karena datang melalui tangan manusia.

 

Kita tidak pernah tahu melalui jalan mana Tuhan akan bekerja. Tugas kita bukan menentukan caranya. Tugas kita adalah percaya, berdoa, peka, dan bersedia menerima pertolongan yang Tuhan sediakan. Jangan membatasi Tuhan hanya pada cara yang menurut kita “ajaib”. Sebab terkadang, mukjizat Tuhan justru datang dengan wajah yang sangat biasa.

 

Ada satu ayat yang harus kita perhatikan disini.

 

2 Korintus

 

12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.

12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.

12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

 

Jadi saudara, jika apa yang kita doakan ternyata dijawab lain oleh Tuhan, jangan berkecil hati. Ada rencana Tuhan yang tidak terselami oleh kita disana.

 

Akhir kata, silahkan saudara renungkan dan ambil yang dirasa perlu, satu hal yang pasti, jangan pernah membatasi cara Tuhan bekerja. Kita hanya bisa berdoa dan beriman saja, selebihnya serahkan pada Tuhan. Apapun pertolongan yang datang pada kita, selama itu bukan berasal dari kuasa gelap seperti perdukunan dan sejenisnya, terimalah dalam iman.

 

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus. Mohon ampunan Bapa untuk cerita ilustrasi di atas.

 

GBU.