Translate

Sabtu, 18 Juli 2026

Lahir Kembali

 

 

 

 

Yohanes

 

3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

 

Inilah jawaban Tuhan kita Yesus Kristus atas pertanyaan dari Nikodemus. Singkat, padat. Lalu penjelasan berikutnya sungguh bisa membingungkan.

 

Yohanes

 

3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

 

Tentang bagaimana agar kita dapat selamat Tuhan telah menjawabnya, kita harus lahir kembali dalam roh. Untuk hal ini mungkin kita sudah tahu ketika kita membaca Alkitab sampai pada Yohanes 3 ini. Namun pernahkan saudara berfikir, kapan dilahirkan secara roh ini terjadi? Apa tandanya kita sudah dilahirkan secara roh?

 

Kalau kelahiran kita secara daging jelas, bukankah kita setiap tahun juga merayakannya dengan apa yang dinamakan “Ulang Tahun”? Kumpul bareng-bareng dengan teman, tepuk tangan, nyanyi-nyanyi lalu potong kue sambil makan bareng. Tetapi tentang kelahiran kita yang kedua yaitu kelahiran secara roh ini kapan? Jangankan kita sendiri, orang tua kitapun tidak tahu kapan itu terjadi kalau ditanya.

 

Celakanya, Tuhan Yesus malah bilang kalau kita tidak dilahirkan kembali dalam roh, maka kita tidak dapat datang ke Kerajaan Allah. Buset dah! Seperti teka teki silang nih. Masalahnya ini tidak sesederhana teka teki silang karena ini berkaitan langsung dengan keselamatan kita.

 

Bagi saya pribadi karena ini berkaitan dengan keselamatan maka hal ini menjadi sangat penting untuk diketahui dengan pasti, sebab kalau ternyata kita belum lahir kembali secara roh, bukankah sudah seharusnya kita usahakan agar kelahiran ini dapat terjadi? Bagi saya ini sangat serius untuk disikapi, tidak tahu kalau saudara.

 

Dari perbincangan Nikodemus dengan Yesus saat itu, ada satu bagian yang cukup menarik yang mungkin juga akan kita tanyakan kalau kita berada pada posisi Nikodemus.

 

Yohanes

 

3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

 

Ha..ha… Jangan tertawa saudara, ini adalah pertanyaan yang dilontarkan karena bukan untuk mengejek, tetapi murni karena kebingungan bagi Nikodemus. Kalau ada orang mengatakan “Kamu harus dilahirkan kembali” sambil dalam mode senyum-senyum mungkin Nikodemus akan mengangapnya sebagai humor, tetapi kalau pernyataan itu dilontarkan dalam mode serius, maka tidaklah aneh apabila Nikodemus meresponnya dalam kebingungan yang serius juga seperti yang kita temui pada ayat di atas.

 

Ini serius saudara, dan Nikodemuspun meresponnya dengan serius, lalu bagaimana kita tidak meresponnya dengan serius pula?

 

Lalu sekarang bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui bahwa kita sudah dilahirkan kembali secara roh sehingga dapat memberikan ketenangan bagi batin kita?

 

Sebagian orang ada yang bilang bahwa kita harus lahir baru, tetapi saat ditanya apa buktinya kita sudah lahir baru mereka juga bingung. Mungkin ada yang berusaha menjawab itu terlihat dari kehidupan kita selanjutnya. Intinya kita akan tampil berbeda dari sebelumnya. Kalau dulu cuek mungkin tiba-tiba full senyum, kalau dulu sangat hemat mungkin tiba-tiba jadi royal. Kalau dulu malas baca Alkitab mungkin tiba-tiba Alkitab selalu muncul dalam tas tangannya.

 

Apa benar itulah tanda-tandanya saudara? Bagaimana kalau dalam waktu setahun kemudian semuanya kembali normal lagi? Yang full senyum kembali cuek, yang royal kembali hemat? Apakah ini artinya dia sudah mati kembali secara roh?

 

Saudara terkasih, kelahiran kembali secara roh memang harus dan wajib kita alami jikalau kita mau masuk dalam Kerajaan Allah. Tanpa kelahiran kembali ini mustahil bagi kita untuk ke sana. Dan tentang kelahiran kembali ini jelas sudah tertulis di Yohanes 3:6 yang membuat kita dilahirkan secara roh adalah Roh, bukan ibu dunia kita lagi.

 

Jadi pertanyaan Nikodemus tentang bagaimana mungkin kita masuk kembali ke dalam rahim ibu kita adalah pertanyaan yang sangat manusiawi sekali. Otak kita langsung otomatis kepikiran bahwa karena kita dilahirkan oleh ibu kita, maka kalau bicara kita harus lahir kembali berarti ibu kitalah yang akan mengulangi kelahiran kita itu. Kasihan ibu kita…..

 

Pada dasarnya Alkitab telah memberikan kita jawabannya sebagai berikut:

 

Titus

 

3:5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan kerena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

 

Dapat saudara lihat? Kelahiran kita kembali secara roh itu dilakukan oleh Roh Kudus sendiri, bukan oleh ibu kita, bukan oleh pendeta, bukan oleh siapapun di dunia ini tetapi oleh Roh Kudus itu sendiri. Kapan itu terjadi? Mengapa kita tidak merasakannya?

 

Pertama-tama, saudara harus tahu bahwa untuk dapat dilahirkan kembali, kita juga harus mengalami kematian lebih dahulu. Bukankah Yesus yang “lahir” kembali dalam tubuh kemuliaan-Nya juga harus mengalami kematian lebih dahulu di kayu salib? Dikatakan Dia yang sulung, Dialah contoh bagi kita.

 

Roma

 

8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

 

 

1 Korintus

 

15:20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

 

Saudara, tidak tahukah saudara bahwa saat kita dibaptis dalam nama Yesus (yang saya maksud baptisan yang dilakukan oleh Roh Kudus ya), kita telah dipersatukan dengan kematian Kristus, sebagaimana Yesus telah mati di kayu salib? Karena Yesus 2000 tahun yang lalu benar-benar mati di atas kayu salib, maka kita pun pada dasarnya ikut mati bersama Dia di dalam kematian-Nya itu, meskipun kita masih hidup secara jasmani.

 

Tanpa Tuhan Yesus, kita tidak akan bisa mengalami “kematian” ini, sehingga memungkinkan kita untuk terlahir kembali secara roh.

 

Roma

 

6:3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?

6:4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

 

Kelahiran baru adalah karya Roh Kudus, dan dalam kelahiran baru itu Roh Kudus menyatukan kita dengan Kristus. Kapan baptisan Roh ini terjadi? Kita tidak dapat memastikan waktunya dengan tepat. Karena itu karya Roh Kudus di dalam hati kita.

 

Kisah Para Rasul

 

10:44 Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.

10:47 “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?”

 

Baptisan Roh terjadi oleh Roh Kudus sendiri baru kemudian Rasul Petrus membaptis mereka dengan air sebagai pernyataan iman.

 

Lalu bagaimana kita tahu bahwa Roh Kudus juga turun atas kita sementara kita tidak melihat tanda-tanda yang wah seperti yang terjadi pada Kornelius? Ini penting karena dengan inilah kita bisa yakin bahwa baptisan Roh yang memungkinkan kita terlahir kembali secara roh itu telah terjadi pada kita.

 

Ayat berikut menjawabnya:

 

1 Korintus

 

12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.

 

Jadi kalau saudara dapat mengaku dengan mulut saudara bahwa Yesus adalah Tuhan bagi saudara, dan dengan hati saudara percaya bahwa Dia telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh Allah, maka pengakuan itu menjadi tanda bahwa Roh Kudus ada di dalam hati saudara dan sedang bekerja di dalam diri saudara.

 

Sementara kita sekarang masih hidup secara jasmani, pada dasarnya kita telah mengalami kematian bersama Kristus, sebagaimana Kristus telah mati di kayu salib. Inilah kelahiran baru kita, yaitu kelahiran secara roh karena telah menerima Roh Kudus di dalam hati kita.

 

Dengan kehadiran Roh Kudus di dalam hati kita, berarti kita telah dipersatukan dengan kematian Yesus, namun kita sekarang masih hidup, dan hidup kita inilah yang dinamakan hidup baru dalam Yesus.

 

Galatia

 

2:19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;

2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

 

Sekarang saudara sendiri bisa tahu apakah saudara telah dilahirkan kembali secara roh atau belum. Tanyakan pada hati saudara sendiri, jangan bertanya kepada ibu saudara apalagi kepada pendeta saudara, mereka tidak bakalan tahu.

 

Saudara, jagalah keselamatan kita. Keselamatan kita ini diperoleh dengan darah Yesus yang tercurah, itu tidak murah, itu tidak ternilai harganya. Jangan sampai Roh Kudus akhirnya meninggalkan saudara karena lebih memilih murtad oleh dunia ini.

 

Akhir kata semoga sharing kali ini bisa memberkati kita semua. Silahkan saudara ambil yang dirasa perlu, abaikan yang menurut saudara tidak perlu.

 

Segala kemuliaan hanya bagi Yesus Kristus Tuhan dan Juru Selamat saya.

 

Ayat terakhir bagi kita:

 

1 Petrus

 

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

 

Amin. 

 

GBU

Kamis, 16 Juli 2026

Domba Liar vs Domba Kristus


Menjangkau domba liar tidak mudah. Tidak sedikit dari kita yang awal mulanya begitu menggebu-gebu lalu pada akhirnya mulai letih lesu bahkan ada yang “mati suri” dalam pelayanannya dikemudian hari. Memang tidak mudah saudara, karena untuk terpanggil dalam pelayanan pribadi dalam menjangkau domba liar ini sungguh diperlukan komitmen yang tidak kecil.

 

Pelayanan keluar begini tidak selalu akan berbuah manis, bahkan siapapun yang sudah berkomitmen demikian pada dasarnya juga sudah berkomitmen untuk tertolak, terhina, teraniaya bahkan terhilang dari bumi ini. Bukankah para Rasul sendiri telah membuktikan hal demikian?

 

Coba saudara renungkan, adakah diantara para Rasul yang matinya “normal” kecuali Rasul Yohanes? Bahkan Rasul Yohanespun sebelum dibuang ke pulau Patmos pernah akan dibunuh dengan cara dilempar ke minyak mendidih. Hanya karena keajaiban Tuhan saja yang membuat upaya itu pada akhirnya gagal.

 

Jadi saudara, jika saudara telah terpilih oleh Tuhan dalam pelayanan seperti ini, bersuka citalah. Karena segala derai air matamu tidak akan sia-sia. Saya pribadi angkat topi dengan para misionaris, sungguh! Saya sangat menghargai pelayanan kalian yang sangat luar biasa itu. Tuhan Yesus memberkati.

 

Sekarang kita masuk ke topik pokok yang ingin saya bahas di sini. Pelayanan dalam menjangkau domba liar sungguh adalah pelayanan yang mulia, namun ada juga pelayanan yang tidak kalah mulianya dengan itu yaitu pelayanan menjaga domba Kristus.

 

Bro, kita boleh sibuk dengan segala daya upaya dalam usaha menjangkau domba liar, tetapi tolong jangan lupakan domba Kristus yang sudah kita menangkan, baik domba itu dari hasil konversi ataupun dari kelahiran dalam keluarga kristen.

 

Jangan anggap sepeleh saudara, kesalahan yang sering pendeta lakukan tanpa sadar adalah menganggap semua anak-anak kristen otomatis sudah mengenal siapa Yesus karena orang tuanya sendiri adalah orang kristen. Apalagi anak kristen ini cukup aktif dalam sekolah minggu sejak kecil. Jadi orang-orang seperti inilah yang sering terabaikan dalam pendewasaan iman mereka.

 

Anggapan karena si A terlahir sebagai kristen otomatis dia sudah mengenal siapa Yesus, sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan si A sendiri. Lalu bagaimana tanggapan kita? Kalau reaksi kita malah terkaget-kaget saat mengetahui hal ini, itu justru akan menjadi kontra produktif bagi yang lain. Mereka justru akan menutup diri karena takut ikut terhakimi dengan sikap kita. Ini berbahaya bro.

 

Tidak sedikit anak kristen yang setelah dewasanya masih tidak mengerti bahkan untuk hal-hal yang paling dasar dalam kekristenan seperti ajaran rupa-rupa pembaptisan misalnya. Mereka hanya melakukan rutinitas seperti apa yang dicontohkan oleh orang tuanya selama ini. Tidak lebih. Makanya jangan heran kalau suatu saat mereka akan terhilang murtad pindah agama semata-mata karena pernikahan.

 

Kita terlalu sibuk dengan domba-domba liar tetapi lupa kalau domba sendiri sudah “lompat kandang” alias murtad. Di daerah-daerah masih banyak jemaat Kristus yang berfikiran semua agama sama saja, sama-sama mencari Tuhan…. Woow…lihat tuh gembala! Domba yang dititipkan kepadamu loh itu.

 

Contoh sudah banyak, bahkan diperkotaan ada contoh nyata yang dapat kita tonton setiap hari dari publik figur yang tadinya mengaku pengikut Yesus sekarang telah meninggalkan-Nya dengan berbagai alasan, silahkan saudara browsing sendiri, internet telah memberikan jawabannya.

 

Pertanyaannya, mengapa domba-domba ini bisa “lompat kandang”? Mereka tidak dipaksa dengan pilihan murtad atau mati loh saudara. Mereka “melompat” dengan kesadaran dan kerelaan mereka sendiri…. dan ini sudah sering terjadi disekitar kita. Jika banyak jemaat yang telah lama berada dalam lingkungan gereja tetapi masih belum memahami dasar iman Kristen dan mudah meninggalkan Kristus, maka gereja perlu mengevaluasi kembali kualitas pemuridan dan pendewasaan iman yang dilakukan.

 

Sebagai ilustrasi, bila ada banjir besar menerjang dan si A diberi pilihan untuk meraih pelampung atau emas 50 kg, apakah si A akan meraih emas 50 kg sementara dia mengerti gunanya pelampung? Sudah tentu tidak. Tetapi bila si A tidak mengerti gunanya pelampung jangan ditanya lagi, otomatis dia akan meraih emas 10 kg itu.

 

Begitu juga kita, tanpa pengenalan akan Yesus, kita akan sangat mudah meninggalkan-Nya demi hal-hal duniawi.

 

 

Matius

 

28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

 

Yang saya bold di atas, sering terlupakan dalam pelayanan pendeta. Yah, inilah yang sering terlupakan oleh gembala gereja karena mereka terlanjur beranggapan jika dari kecil sudah kristen, maka otomatis mengerti siapa Yesus…..

 

Woy bro, bangunlah. Seorang anak yang terlahir dalam keluarga kristen tidak otomatis dia mengerti siapa Yesus, bahkan ayah dan ibunya sendiri jangan-jangan juga belum mengerti siapa Yesus. Mereka butuh dilayani untuk mendewasakan iman mereka. Mereka butuh dilayani agar mereka dapat mengenal siapa Yesus sesungguhnya.

 

Kita jangan berharap mereka akan datang menemui pendeta lalu bertanya siapa Yesus. Tidak, mereka tidak akan melakukan itu karena mereka sendiri pada dasarnya tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya belum mengenal siapa Yesus.

 

Dapat anda bayangkan bro? orang yang tidak merasa mereka sakit apakah mereka akan pergi ke dokter lalu berkata “dokter, saya ingin berobat”?

 

Jadi dalam hal ini pendetalah yang harus proaktif, tanyakan pada mereka prinsip-prinsip dasar kekristenan itu apa, dari jawaban merekalah pendeta akan mengetahui sejauh mana pengenalan mereka akan Yesus.

 

Tuhan Yesus sendiri sudah memberikan amanat yang jelas seperti di atas, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka”. Maka sudah menjadi tugas para pendetalah yang harus menjadi pendidik-pendidik bagi Anak Allah ini. Jangan selalu sibuk dengan segala seremonial kegiatan gereja yang tidak ada hubungannya dengan pendewasaan iman jemaat dalam pelayananmu bro….

 

Mari kita fokus dalam memelihara domba Kristus sama seperti kita sibuk menjangkau domba liar. Mereka butuh pendewasaan iman dan ini sudah menjadi tugas pengembala. Jangan terlena dengan jumlah jemaat yang wah, gedung gereja yang wah, tetapi ternyata yang sungguh-sungguh mengenal Yesus malah cuma kita sendiri, semoga hal ini tidak terjadi ya bro? kalau ini terjadi, sebenarnya ini merupakan cermin dari kegagalan kita dalam pelayanan.

 

Sudah saatnya denominasi-denominasi yang ada untuk mengingatkan pendeta dibawah naungannya agar serius memperhatikan pendewasaan iman bagi jemaat yang dalam pengembalaan mereka. Berikan jemaat-jemaat itu makanan yang keras berlandaskan Alkitab, jangan selalu susu. Jemaat yang bertumbuh dewasa akan mengerti sendiri bahwa domba yang berada di dalam kandang akan aman.

 

Akhir kata, semoga kita sadar bahwa lahir dalam keluarga kristen tidak menjamin kita sudah mengenal Yesus Kristus dengan benar, tanyakanlah pada diri kita sendiri siapa itu Yesus bagi kita? Seberapa yakin kita selamat dalam Kristus? Kalau malam ini kita mati, apa kita benar-benar yakin akan ke sorga?

 

Tuhan Yesus memberkati.

GBU

Rabu, 17 Juni 2026

Haruskah Ke Gereja?

 

Dijaman modern sekarang ini, waktu sungguh terasa begitu cepat berlalu. Baru hari minggu kemaren dilewati, tidak terasa besok sudah hari minggu lagi. Hal ini hampir dirasakan oleh sebagian besar masyarakat yang tinggal diperkotaan, yang kesehariannya disibukkan dengan bekerja, bekerja, dan bekerja….

 

Mungkin bagi yang masih tinggal di pedesaan atau bahkan di pegunungan kurang begitu terasa. Mereka dapat sedikit merasakan santainya kehidupan ini dan menikmati karunia alam ciptaan Tuhan. Tetapi tidak begitu yang dirasakan oleh masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan besar, sungguh, melewati keseharian sungguh melelahkan. Dari kejar-kejaran waktu, sampai waktu juga yang mengejar mereka dengan istilah deadline, deadline, deadline…..

 

Saudara yang terkasih, sebagai umat kristen kita juga mengalami apa yang dinamakan kejenuhan. Baik dalam keseharian hidup yang berupa jasmani maupun rutinitas keseharian rohani. Ke gereja setiap minggu bukan berarti pulangnya akan mendapatkan power extra seolah-olah EV yang baru dicas. Malahan tidak sedikit yang dibawa pulang adalah kepenatan dan beban berat yang justru bertambah (bisa saja tiba-tiba dibacakan warta jemaat yang menuntut partisipasi dana jemaat buat ini dan itu di gereja). Sebagian mungkin akan pulang dengan suka cita, namun tidak sedikit yang masih dikejar dengan beban hidup dan himpitan ekonomi yang belum terselesaikan.

 

Sebenarnya dengan ke gereja setiap minggu apa yang anda cari bro? ketenangan batin? Benarkah anda temukan ketenangan batin disana? Lalu kalau memang bisa anda temukan ketenangan batin disana mengapa sewaktu pulang ke rumah “ketenangan batin” ini anda tinggalkan lagi di gereja?

 

Coba saudara renungkan kembali baik-baik, jangan emosi dan duduklah dengan tenang. Apa sebenarnya yang anda cari dengan pergi ke gereja? Apa? Kalau tentang keselamatan bukankah anda semua pengikut Yesus Kristus sudah pasti selamat? (Baca Judul Artikel Bagaimana Dosa Kita Ditebus? - Rahasia Baptisan).

 

Banyak ayat yang menjamin keselamatan kita di dalam Kristus. Bahkan Tuhan sendiri memberikan Roh-Nya sebagai materai dan jaminan bagi kita. Lalu apa sebenarnya tujuan kita ke gereja kalau begitu? Pernahkah ini saudara tanyakan dalam hati saudara sendiri? Tidak pernah bro? Jadi selama ini ke gereja hanya karena rutinitas dan tradisi keluarga saja?

 

Jangan kaget bro, meski saya tidak melakukan riset secara pribadi, tetapi bila anda bertanya kepada orang-orang yang beribadah di hari minggu itu, bisa jadi lebih dari 90% dari mereka akan menjawab untuk ibadah. Titik. Jadi cuma itu? Kita ke gereja semata-mata cuma untuk ibadah? Untuk apa coba ibadah itu? Untuk ke Sorga dan kalau tidak ke gereja bisa ke Neraka?

 

Coba anda perhatikan lagi, berapa banyak diantara mereka yang begitu bubar ibadah langsung menghilang bak ditelan bumi? Waktu ibadah di dalam gedung ada 100 – 200 orang, saat bubar tidak sampai 15 menit sudah senyap.

 

Saudara yang terkasih, yang mesti kita ingat adalah umat kristen ke gereja beribadah bukan dalam rangka mencari tiket untuk masuk sorga, bukan. Jaminan keselamatan kita sudah pasti. (Baca Judul Artikel Bagaimana Dosa Kita Ditebus? - Rahasia Baptisan).

 

Ibrani

 

9:26 Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.

9:27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,

9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan dirinya untuk menanggung dosa banyak orang . Sesudah itu Ia akan menyatakan dirinya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk meng anugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

 

Filipi

 

3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

 

Apa anda tahu arti kewargaan kita ada di sorga bro? Sudah pasti tahu kan? Karena itu jagalah keselamatan yang sudah Tuhan Yesus berikan kepada kita saat ini. Jaga baik-baik dan jangan sampai anda hilangkan saudara.

 

Tujuan kita beribadah bukan lagi untuk mencari keselamatan yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Tujuan kita beribadah selain mengucapkan syukur kita kepada Tuhan karena telah menyelamatkan kita, adalah untuk persekutuan antara sesama anak Allah, supaya apa? Tidak lain dan tidak bukan supaya ada kasih yang nyata dari dalam diri kita.

 

Yohanes

 

13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

 

1 Korintus

 

12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.

 

1 Tesalonika

 

5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

 

1 Yohanes

 

3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.

 

Ini semua harusnya ditambahkan menjadi tujuan kita setiap minggu ke gereja. Kita memang tidak lagi ke gereja untuk mencari keselamatan, kita ke gereja untuk mengucapkan syukur karena sudah diselamatkan, tetapi persekutuan juga harus menjadi fokus kita. Untuk apa? Untuk saling mengasihi sesama anak Allah, saling menguatkan dan saling berbagi beban.

 

Persekutuan dengan saudara seiman tidak boleh terabaikan, karena dengan bersekutulah kita jadi bisa saling mendoakan, membantu dan bertumbuh bersama dalam iman. Jika saudara mampu, tidak ada salahnya untuk membantu saudara seiman yang sedang mengalami kesulitan, dan alangkah baiknya jika bantuan tidak selalu berupa harta (ikan) tetapi bisa juga memberikan kesempatan, keterampilan atau kemampuan (kail) yang justru lebih berguna bagi saudara kita.

 

Jika kita berbagi hanya selalu dimaknai sebagai pemberian materi tanpa arah pertumbuhan, ada risiko ketergantungan yang tidak sehat. Karena itu, berbagi dalam kasih tidak berhenti pada ‘ikan’, tetapi juga mencakup ‘kail’—membantu orang memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri.

 

2 Tesalonika

 

3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberikan peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

 

Rasul Paulus menekankan bahwa ada tanggung jawab dalam kehidupan, sehingga bantuan dalam komunitas sebaiknya juga mendorong pertumbuhan dan kemandirian. Jangan sampai malah membuat orang jadi malas bekerja karena bantuan tersebut.

 

Kembali ke topik, Ke gereja bukan cuma untuk ibadah saja, ibadah umat kristen adalah dalam rangka mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dan itu dapat kita lakukan dimana saja. Kita ke gereja jangan cuma ditujukan untuk itu, tetapi harus jauh lebih dalam lagi. Kita ke gereja harus membangun persekutuan yang sehat bersama saudara seiman.  

 

Motivasi kita ke gereja yang selama ini hanya untuk ibadah sudah seharusnya ditinjau ulang. Ke gereja bukan semata-mata untuk beribadah (mengucapkan terima kasih kepada Tuhan), Kita juga harus bisa bertumbuh bersama dalam iman, bisa bersekutu dengan saudara seiman, saling mendoakan, saling berbagi peduli, saling membantu. Bukan cuma datang, duduk 2 jam, pulang tanpa saling mengenal bahkan yang tadi duduknya disebelah kita.

 

Ibrani

 

10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

 

Saudara yang terkasih, kalau selama ini kita ke gereja cuma karena rutinitas, datang, duduk 2 jam, selesai doa berkat lalu menghilang dengan segera…. Ubahlah! Karena sesungguhnya bukan itu tujuan ibadah kita. Kita datang ke gereja agar ada persekutuan dengan sesama saudara seiman, karena dengan ke gerejalah kita semua dapat bertemu dan berkumpul bersama.

 

Bila saudara merasa ekonomi saudara “sangat baik” jangan lalu merasa tinggi hati, merasa lebih penting dari yang lain sehingga merasa yang lain tidak layak bergaul dengan saudara. Disadari atau tidak, mungkin saja hal ini pernah hinggap di hati kita. Buanglah semua itu! Bukan itu yang Tuhan mau dari kita. Pendeta, majelis maupun jemaat semua sama di mata Tuhan, kaya miskin tidak ada bedanya dimata Tuhan. Semua sama-sama dikasihi Tuhan. Mereka semua memanggi Tuhan dengan sebutan Bapa. Mereka semua milik Tuhan, dan kalo mereka bukan milikmu… awas hati-hati, punya hak apa saudara berani merendahkan yang milik Tuhan?

 

Gunakanlah juga kesempat ke gereja untuk bersekutu dengan saudara seiman, yang harus saudara lakukan adalah berdiam sesaat selesai ibadah, cobalah untuk meluangkan sedikit waktu agar ada interaksi dengan saudara seiman dalam komunitas gereja saudara. Cobalah untuk saling mengenal, karena adalah hal yang mustahil untuk saling menasehati, saling memperhatikan dan saling membangun jikalau namanya saja bahkan tidak kita kenal.

 

Sekedar saudara ketahui, tidak sedikit jemaat-jemaat yang berada di gereja-gereja besar diperkotaan yang pada dasarnya merasa sangat kesepian, mereka merasa bagai orang asing ditengah-tengah manusia yang mengaku sebagai saudara seiman. Ini harusnya mendapatkan perhatian dari pendeta dan majelis, karena terutama bagi jemaat yang baru bergabung, adalah hal yang sulit bagi mereka untuk tiba-tiba membaur dengan jemaat yang sudah lama ada disana.

 

Ada banyak gereja yang kurang memperhatikan hal-hal ini. Mereka cuma sibuk dengan orang-orang lama yang sudah saling mengenal saja, saat ada jemaat baru muncul paling banter cuma disuruh berdiri, mengenalkan diri, lalu berlalu seperti orang asing kembali. Bahkan mungkin, kalo pagi ketemu di gereja dan sorenya berpapasan di jalan, mereka tidak lagi saling mengenal.

 

Kalau pengurus gereja bisa sampai begini, maka jangan heran kalau jemaat yang ada didalamnyapun berbuat hal yang sama. Akan banyak terbentuk komunitas kecil yang cuma mau bergaul dengan sesamanya sendiri, ada kelompok kaya, kelompok suku, kelompok miskin, dan kelompok-kelompok lainnya, hey saudara, jika di gereja tempat anda berjamaat sudah terbentuk kelompok-kelompok seperti ini, cobalah untuk menyadarkan mereka, dan kalau ternyata apa yang anda usahakan sudah tidak lagi dapat diperjuangkan, maka carilah komunitas gereja lain biar imanmu tidak tergerus.

 

Jangan takut bertumbuh di komunitas gereja lain yang membawakan kebersamaan dan pertumbuhan iman. Denominasi bukanlah yang harus dipertahankan, tetapi kehangatan imanmulah yang harus diselamatkan agar jangan menjadi dingin.

 

Semoga para pengurus gereja, pendeta dan majelis yang masih mau mendengar nasehat dapat bersikap bijak. Ingat, setiap domba yang dititipkan Bapa padamu, itu adalah tanggung jawabmu.

 

Mohon maaf jikalau ada yang tersinggung, silahkan saudara ambil yang berguna dan abaikan yang menurut saudara tidak benar.

 

Akhir kata, untuk yang berfikir sebaiknya jangan ke gereja lagi, ada satu ilustrasi yang bagus.

 

Bila ada setumpuk api unggun, jangan tarik satu kayunya sebab ia akan cepat padam.

 

 

Kemuliaan bagi Yesus Kristus. Amin.

 

GBU