Translate

Kamis, 16 Juli 2026

Domba Liar vs Domba Kristus


Menjangkau domba liar tidak mudah. Tidak sedikit dari kita yang awal mulanya begitu menggebu-gebu lalu pada akhirnya mulai letih lesu bahkan ada yang “mati suri” dalam pelayanannya dikemudian hari. Memang tidak mudah saudara, karena untuk terpanggil dalam pelayanan pribadi dalam menjangkau domba liar ini sungguh diperlukan komitmen yang tidak kecil.

 

Pelayanan keluar begini tidak selalu akan berbuah manis, bahkan siapapun yang sudah berkomitmen demikian pada dasarnya juga sudah berkomitmen untuk tertolak, terhina, teraniaya bahkan terhilang dari bumi ini. Bukankah para Rasul sendiri telah membuktikan hal demikian?

 

Coba saudara renungkan, adakah diantara para Rasul yang matinya “normal” kecuali Rasul Yohanes? Bahkan Rasul Yohanespun sebelum dibuang ke pulau Patmos pernah akan dibunuh dengan cara dilempar ke minyak mendidih. Hanya karena keajaiban Tuhan saja yang membuat upaya itu pada akhirnya gagal.

 

Jadi saudara, jika saudara telah terpilih oleh Tuhan dalam pelayanan seperti ini, bersuka citalah. Karena segala derai air matamu tidak akan sia-sia. Saya pribadi angkat topi dengan para misionaris, sungguh! Saya sangat menghargai pelayanan kalian yang sangat luar biasa itu. Tuhan Yesus memberkati.

 

Sekarang kita masuk ke topik pokok yang ingin saya bahas di sini. Pelayanan dalam menjangkau domba liar sungguh adalah pelayanan yang mulia, namun ada juga pelayanan yang tidak kalah mulianya dengan itu yaitu pelayanan menjaga domba Kristus.

 

Bro, kita boleh sibuk dengan segala daya upaya dalam usaha menjangkau domba liar, tetapi tolong jangan lupakan domba Kristus yang sudah kita menangkan, baik domba itu dari hasil konversi ataupun dari kelahiran dalam keluarga kristen.

 

Jangan anggap sepeleh saudara, kesalahan yang sering pendeta lakukan tanpa sadar adalah menganggap semua anak-anak kristen otomatis sudah mengenal siapa Yesus karena orang tuanya sendiri adalah orang kristen. Apalagi anak kristen ini cukup aktif dalam sekolah minggu sejak kecil. Jadi orang-orang seperti inilah yang sering terabaikan dalam pendewasaan iman mereka.

 

Anggapan karena si A terlahir sebagai kristen otomatis dia sudah mengenal siapa Yesus, sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan si A sendiri. Lalu bagaimana tanggapan kita? Kalau reaksi kita malah terkaget-kaget saat mengetahui hal ini, itu justru akan menjadi kontra produktif bagi yang lain. Mereka justru akan menutup diri karena takut ikut terhakimi dengan sikap kita. Ini berbahaya bro.

 

Tidak sedikit anak kristen yang setelah dewasanya masih tidak mengerti bahkan untuk hal-hal yang paling dasar dalam kekristenan seperti ajaran rupa-rupa pembaptisan misalnya. Mereka hanya melakukan rutinitas seperti apa yang dicontohkan oleh orang tuanya selama ini. Tidak lebih. Makanya jangan heran kalau suatu saat mereka akan terhilang murtad pindah agama semata-mata karena pernikahan.

 

Kita terlalu sibuk dengan domba-domba liar tetapi lupa kalau domba sendiri sudah “lompat kandang” alias murtad. Di daerah-daerah masih banyak jemaat Kristus yang berfikiran semua agama sama saja, sama-sama mencari Tuhan…. Woow…lihat tuh gembala! Domba yang dititipkan kepadamu loh itu.

 

Contoh sudah banyak, bahkan diperkotaan ada contoh nyata yang dapat kita tonton setiap hari dari publik figur yang tadinya mengaku pengikut Yesus sekarang telah meninggalkan-Nya dengan berbagai alasan, silahkan saudara browsing sendiri, internet telah memberikan jawabannya.

 

Pertanyaannya, mengapa domba-domba ini bisa “lompat kandang”? Mereka tidak dipaksa dengan pilihan murtad atau mati loh saudara. Mereka “melompat” dengan kesadaran dan kerelaan mereka sendiri…. dan ini sudah sering terjadi disekitar kita. Jika banyak jemaat yang telah lama berada dalam lingkungan gereja tetapi masih belum memahami dasar iman Kristen dan mudah meninggalkan Kristus, maka gereja perlu mengevaluasi kembali kualitas pemuridan dan pendewasaan iman yang dilakukan.

 

Sebagai ilustrasi, bila ada banjir besar menerjang dan si A diberi pilihan untuk meraih pelampung atau emas 50 kg, apakah si A akan meraih emas 50 kg sementara dia mengerti gunanya pelampung? Sudah tentu tidak. Tetapi bila si A tidak mengerti gunanya pelampung jangan ditanya lagi, otomatis dia akan meraih emas 10 kg itu.

 

Begitu juga kita, tanpa pengenalan akan Yesus, kita akan sangat mudah meninggalkan-Nya demi hal-hal duniawi.

 

 

Matius

 

28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

 

Yang saya bold di atas, sering terlupakan dalam pelayanan pendeta. Yah, inilah yang sering terlupakan oleh gembala gereja karena mereka terlanjur beranggapan jika dari kecil sudah kristen, maka otomatis mengerti siapa Yesus…..

 

Woy bro, bangunlah. Seorang anak yang terlahir dalam keluarga kristen tidak otomatis dia mengerti siapa Yesus, bahkan ayah dan ibunya sendiri jangan-jangan juga belum mengerti siapa Yesus. Mereka butuh dilayani untuk mendewasakan iman mereka. Mereka butuh dilayani agar mereka dapat mengenal siapa Yesus sesungguhnya.

 

Kita jangan berharap mereka akan datang menemui pendeta lalu bertanya siapa Yesus. Tidak, mereka tidak akan melakukan itu karena mereka sendiri pada dasarnya tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya belum mengenal siapa Yesus.

 

Dapat anda bayangkan bro? orang yang tidak merasa mereka sakit apakah mereka akan pergi ke dokter lalu berkata “dokter, saya ingin berobat”?

 

Jadi dalam hal ini pendetalah yang harus proaktif, tanyakan pada mereka prinsip-prinsip dasar kekristenan itu apa, dari jawaban merekalah pendeta akan mengetahui sejauh mana pengenalan mereka akan Yesus.

 

Tuhan Yesus sendiri sudah memberikan amanat yang jelas seperti di atas, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka”. Maka sudah menjadi tugas para pendetalah yang harus menjadi pendidik-pendidik bagi Anak Allah ini. Jangan selalu sibuk dengan segala seremonial kegiatan gereja yang tidak ada hubungannya dengan pendewasaan iman jemaat dalam pelayananmu bro….

 

Mari kita fokus dalam memelihara domba Kristus sama seperti kita sibuk menjangkau domba liar. Mereka butuh pendewasaan iman dan ini sudah menjadi tugas pengembala. Jangan terlena dengan jumlah jemaat yang wah, gedung gereja yang wah, tetapi ternyata yang sungguh-sungguh mengenal Yesus malah cuma kita sendiri, semoga hal ini tidak terjadi ya bro? kalau ini terjadi, sebenarnya ini merupakan cermin dari kegagalan kita dalam pelayanan.

 

Sudah saatnya denominasi-denominasi yang ada untuk mengingatkan pendeta dibawah naungannya agar serius memperhatikan pendewasaan iman bagi jemaat yang dalam pengembalaan mereka. Berikan jemaat-jemaat itu makanan yang keras berlandaskan Alkitab, jangan selalu susu. Jemaat yang bertumbuh dewasa akan mengerti sendiri bahwa domba yang berada di dalam kandang akan aman.

 

Akhir kata, semoga kita sadar bahwa lahir dalam keluarga kristen tidak menjamin kita sudah mengenal Yesus Kristus dengan benar, tanyakanlah pada diri kita sendiri siapa itu Yesus bagi kita? Seberapa yakin kita selamat dalam Kristus? Kalau malam ini kita mati, apa kita benar-benar yakin akan ke sorga?

 

Tuhan Yesus memberkati.

GBU

Rabu, 17 Juni 2026

Haruskah Ke Gereja?

 

Dijaman modern sekarang ini, waktu sungguh terasa begitu cepat berlalu. Baru hari minggu kemaren dilewati, tidak terasa besok sudah hari minggu lagi. Hal ini hampir dirasakan oleh sebagian besar masyarakat yang tinggal diperkotaan, yang kesehariannya disibukkan dengan bekerja, bekerja, dan bekerja….

 

Mungkin bagi yang masih tinggal di pedesaan atau bahkan di pegunungan kurang begitu terasa. Mereka dapat sedikit merasakan santainya kehidupan ini dan menikmati karunia alam ciptaan Tuhan. Tetapi tidak begitu yang dirasakan oleh masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan besar, sungguh, melewati keseharian sungguh melelahkan. Dari kejar-kejaran waktu, sampai waktu juga yang mengejar mereka dengan istilah deadline, deadline, deadline…..

 

Saudara yang terkasih, sebagai umat kristen kita juga mengalami apa yang dinamakan kejenuhan. Baik dalam keseharian hidup yang berupa jasmani maupun rutinitas keseharian rohani. Ke gereja setiap minggu bukan berarti pulangnya akan mendapatkan power extra seolah-olah EV yang baru dicas. Malahan tidak sedikit yang dibawa pulang adalah kepenatan dan beban berat yang justru bertambah (bisa saja tiba-tiba dibacakan warta jemaat yang menuntut partisipasi dana jemaat buat ini dan itu di gereja). Sebagian mungkin akan pulang dengan suka cita, namun tidak sedikit yang masih dikejar dengan beban hidup dan himpitan ekonomi yang belum terselesaikan.

 

Sebenarnya dengan ke gereja setiap minggu apa yang anda cari bro? ketenangan batin? Benarkah anda temukan ketenangan batin disana? Lalu kalau memang bisa anda temukan ketenangan batin disana mengapa sewaktu pulang ke rumah “ketenangan batin” ini anda tinggalkan lagi di gereja?

 

Coba saudara renungkan kembali baik-baik, jangan emosi dan duduklah dengan tenang. Apa sebenarnya yang anda cari dengan pergi ke gereja? Apa? Kalau tentang keselamatan bukankah anda semua pengikut Yesus Kristus sudah pasti selamat? (Baca Judul Artikel Bagaimana Dosa Kita Ditebus? - Rahasia Baptisan).

 

Banyak ayat yang menjamin keselamatan kita di dalam Kristus. Bahkan Tuhan sendiri memberikan Roh-Nya sebagai materai dan jaminan bagi kita. Lalu apa sebenarnya tujuan kita ke gereja kalau begitu? Pernahkah ini saudara tanyakan dalam hati saudara sendiri? Tidak pernah bro? Jadi selama ini ke gereja hanya karena rutinitas dan tradisi keluarga saja?

 

Jangan kaget bro, meski saya tidak melakukan riset secara pribadi, tetapi bila anda bertanya kepada orang-orang yang beribadah di hari minggu itu, bisa jadi lebih dari 90% dari mereka akan menjawab untuk ibadah. Titik. Jadi cuma itu? Kita ke gereja semata-mata cuma untuk ibadah? Untuk apa coba ibadah itu? Untuk ke Sorga dan kalau tidak ke gereja bisa ke Neraka?

 

Coba anda perhatikan lagi, berapa banyak diantara mereka yang begitu bubar ibadah langsung menghilang bak ditelan bumi? Waktu ibadah di dalam gedung ada 100 – 200 orang, saat bubar tidak sampai 15 menit sudah senyap.

 

Saudara yang terkasih, yang mesti kita ingat adalah umat kristen ke gereja beribadah bukan dalam rangka mencari tiket untuk masuk sorga, bukan. Jaminan keselamatan kita sudah pasti. (Baca Judul Artikel Bagaimana Dosa Kita Ditebus? - Rahasia Baptisan).

 

Ibrani

 

9:26 Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.

9:27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,

9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan dirinya untuk menanggung dosa banyak orang . Sesudah itu Ia akan menyatakan dirinya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk meng anugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

 

Filipi

 

3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

 

Apa anda tahu arti kewargaan kita ada di sorga bro? Sudah pasti tahu kan? Karena itu jagalah keselamatan yang sudah Tuhan Yesus berikan kepada kita saat ini. Jaga baik-baik dan jangan sampai anda hilangkan saudara.

 

Tujuan kita beribadah bukan lagi untuk mencari keselamatan yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Tujuan kita beribadah selain mengucapkan syukur kita kepada Tuhan karena telah menyelamatkan kita, adalah untuk persekutuan antara sesama anak Allah, supaya apa? Tidak lain dan tidak bukan supaya ada kasih yang nyata dari dalam diri kita.

 

Yohanes

 

13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

 

1 Korintus

 

12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.

 

1 Tesalonika

 

5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

 

1 Yohanes

 

3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.

 

Ini semua harusnya ditambahkan menjadi tujuan kita setiap minggu ke gereja. Kita memang tidak lagi ke gereja untuk mencari keselamatan, kita ke gereja untuk mengucapkan syukur karena sudah diselamatkan, tetapi persekutuan juga harus menjadi fokus kita. Untuk apa? Untuk saling mengasihi sesama anak Allah, saling menguatkan dan saling berbagi beban.

 

Persekutuan dengan saudara seiman tidak boleh terabaikan, karena dengan bersekutulah kita jadi bisa saling mendoakan, membantu dan bertumbuh bersama dalam iman. Jika saudara mampu, tidak ada salahnya untuk membantu saudara seiman yang sedang mengalami kesulitan, dan alangkah baiknya jika bantuan tidak selalu berupa harta (ikan) tetapi bisa juga memberikan kesempatan, keterampilan atau kemampuan (kail) yang justru lebih berguna bagi saudara kita.

 

Jika kita berbagi hanya selalu dimaknai sebagai pemberian materi tanpa arah pertumbuhan, ada risiko ketergantungan yang tidak sehat. Karena itu, berbagi dalam kasih tidak berhenti pada ‘ikan’, tetapi juga mencakup ‘kail’—membantu orang memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri.

 

2 Tesalonika

 

3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberikan peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

 

Rasul Paulus menekankan bahwa ada tanggung jawab dalam kehidupan, sehingga bantuan dalam komunitas sebaiknya juga mendorong pertumbuhan dan kemandirian. Jangan sampai malah membuat orang jadi malas bekerja karena bantuan tersebut.

 

Kembali ke topik, Ke gereja bukan cuma untuk ibadah saja, ibadah umat kristen adalah dalam rangka mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dan itu dapat kita lakukan dimana saja. Kita ke gereja jangan cuma ditujukan untuk itu, tetapi harus jauh lebih dalam lagi. Kita ke gereja harus membangun persekutuan yang sehat bersama saudara seiman.  

 

Motivasi kita ke gereja yang selama ini hanya untuk ibadah sudah seharusnya ditinjau ulang. Ke gereja bukan semata-mata untuk beribadah (mengucapkan terima kasih kepada Tuhan), Kita juga harus bisa bertumbuh bersama dalam iman, bisa bersekutu dengan saudara seiman, saling mendoakan, saling berbagi peduli, saling membantu. Bukan cuma datang, duduk 2 jam, pulang tanpa saling mengenal bahkan yang tadi duduknya disebelah kita.

 

Ibrani

 

10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

 

Saudara yang terkasih, kalau selama ini kita ke gereja cuma karena rutinitas, datang, duduk 2 jam, selesai doa berkat lalu menghilang dengan segera…. Ubahlah! Karena sesungguhnya bukan itu tujuan ibadah kita. Kita datang ke gereja agar ada persekutuan dengan sesama saudara seiman, karena dengan ke gerejalah kita semua dapat bertemu dan berkumpul bersama.

 

Bila saudara merasa ekonomi saudara “sangat baik” jangan lalu merasa tinggi hati, merasa lebih penting dari yang lain sehingga merasa yang lain tidak layak bergaul dengan saudara. Disadari atau tidak, mungkin saja hal ini pernah hinggap di hati kita. Buanglah semua itu! Bukan itu yang Tuhan mau dari kita. Pendeta, majelis maupun jemaat semua sama di mata Tuhan, kaya miskin tidak ada bedanya dimata Tuhan. Semua sama-sama dikasihi Tuhan. Mereka semua memanggi Tuhan dengan sebutan Bapa. Mereka semua milik Tuhan, dan kalo mereka bukan milikmu… awas hati-hati, punya hak apa saudara berani merendahkan yang milik Tuhan?

 

Gunakanlah juga kesempat ke gereja untuk bersekutu dengan saudara seiman, yang harus saudara lakukan adalah berdiam sesaat selesai ibadah, cobalah untuk meluangkan sedikit waktu agar ada interaksi dengan saudara seiman dalam komunitas gereja saudara. Cobalah untuk saling mengenal, karena adalah hal yang mustahil untuk saling menasehati, saling memperhatikan dan saling membangun jikalau namanya saja bahkan tidak kita kenal.

 

Sekedar saudara ketahui, tidak sedikit jemaat-jemaat yang berada di gereja-gereja besar diperkotaan yang pada dasarnya merasa sangat kesepian, mereka merasa bagai orang asing ditengah-tengah manusia yang mengaku sebagai saudara seiman. Ini harusnya mendapatkan perhatian dari pendeta dan majelis, karena terutama bagi jemaat yang baru bergabung, adalah hal yang sulit bagi mereka untuk tiba-tiba membaur dengan jemaat yang sudah lama ada disana.

 

Ada banyak gereja yang kurang memperhatikan hal-hal ini. Mereka cuma sibuk dengan orang-orang lama yang sudah saling mengenal saja, saat ada jemaat baru muncul paling banter cuma disuruh berdiri, mengenalkan diri, lalu berlalu seperti orang asing kembali. Bahkan mungkin, kalo pagi ketemu di gereja dan sorenya berpapasan di jalan, mereka tidak lagi saling mengenal.

 

Kalau pengurus gereja bisa sampai begini, maka jangan heran kalau jemaat yang ada didalamnyapun berbuat hal yang sama. Akan banyak terbentuk komunitas kecil yang cuma mau bergaul dengan sesamanya sendiri, ada kelompok kaya, kelompok suku, kelompok miskin, dan kelompok-kelompok lainnya, hey saudara, jika di gereja tempat anda berjamaat sudah terbentuk kelompok-kelompok seperti ini, cobalah untuk menyadarkan mereka, dan kalau ternyata apa yang anda usahakan sudah tidak lagi dapat diperjuangkan, maka carilah komunitas gereja lain biar imanmu tidak tergerus.

 

Jangan takut bertumbuh di komunitas gereja lain yang membawakan kebersamaan dan pertumbuhan iman. Denominasi bukanlah yang harus dipertahankan, tetapi kehangatan imanmulah yang harus diselamatkan agar jangan menjadi dingin.

 

Semoga para pengurus gereja, pendeta dan majelis yang masih mau mendengar nasehat dapat bersikap bijak. Ingat, setiap domba yang dititipkan Bapa padamu, itu adalah tanggung jawabmu.

 

Mohon maaf jikalau ada yang tersinggung, silahkan saudara ambil yang berguna dan abaikan yang menurut saudara tidak benar.

 

Akhir kata, untuk yang berfikir sebaiknya jangan ke gereja lagi, ada satu ilustrasi yang bagus.

 

Bila ada setumpuk api unggun, jangan tarik satu kayunya sebab ia akan cepat padam.

 

 

Kemuliaan bagi Yesus Kristus. Amin.

 

GBU

 

Rabu, 09 Oktober 2019

Hari Sabat


Saya pernah mendengar pendeta mengatakan begini dalam kotbahnya dihari Minggu, “Hendaklah kita semua tidak lagi membuka toko ataupun usaha kita dihari Minggu, yaitu hari dimana kita beribadah. Ini adalah hari Sabat dan sebaiknya kita memuliakannya.” Kurang lebih begitulah intinya.

Dan ternyata, tidak sedikit juga jemaat yang setuju sekali dengan kata-kata ini. Mereka ikut beranggapan benar, kita sebaiknya memuliakan hari ibadah, yaitu hari Sabat Tuhan. Jangan mementingkan usaha atau toko kita lagi. Cukuplah untuk mencari uang selama 6 hari, jadi hari Minggu sebaiknya hari buat Tuhan.

Beberapa orang bersaksi bahwa setelah mereka menutup tokonya pada hari Minggu ternyata rezekinya malah bertambah-tambah. Beberapa orang lain yang mendengarkan kesaksian-kesaksian seperti ini mulai ikut-ikutan menutup toko mereka juga. Salahkah ini? Jelas tidak!

Kalau ada pemilik toko yang memutuskan untuk menutup tokonya dihari Minggu supaya bisa beristirahat bersama keluarga, ataupun berfikiran mencari uang itu tidak perlu “ngoyo”, itu tidak masalah. Tidak ada yang salah untuk memutuskan hal itu. Malahan mungkin lebih baik biar ada kebersamaan dalam keluarga mereka.

Tetapi yang akan saya bahas saat ini bukanlah tentang mengapa pemilik usaha atau toko menutup tokonya atau tidak. Yang akan saya bahas dalam hal ini adalah latar belakang mereka sampai memutuskan untuk mengikuti ajuran pendeta ataupun pemimpin jemaat di gereja mereka.

Ingat, yang kita bahas bukanlah hal-hal yang bersifat jasmani. Itu saya tidak perduli. Tetapi hal-hal yang bersifat rohanilah yang harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Supaya jangan sampai pekerjaan yang baik justru malah kita mulai dengan sesuatu yang tidak baik.

Saudara yang terkasih, ternyata tidak sedikit jumlah orang kristen yang percaya bahwa hari Minggu adalah hari Sabat. Apa benar demikian? Di gereja, saya juga sering mendengar pendeta-pendeta mengatakan hari ibadah kita yang hari Minggu itu adalah hari Sabat. Apa yang terjadi pada kita orang kristen sekarang ini? Apakah kita benar-benar tidak tahu lagi yang mana hari Sabat yang tertulis dalam Alkitab?

Sabat itu adalah hari Sabtu bung! Sejak kapan bergeser jadi hari Minggu?

Hati-hati saudara, Sabat adalah hari Sabtu, andaikata anda kurang puas juga, silahkan berkunjung ke Israel sana dan tanyakan pada rabi-rabi Yahudi.

Sabat adalah bagian dari hukum Taurat. Dan apa kata Alkitab tentang hukum Taurat?

Matius 5:18
Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Disini jelas dikatakan bahwa hukum Taurat, tetap akan ada seperti pada saat ia diturunkan. Sama persis tanpa perubahan apapun. Kita manusia tidak pernah boleh merubah apapun dari hukum yang telah Tuhan turunkan ini. Apapun!

Berusaha untuk merubah salah satu dari hukum Taurat ini sungguh suatu kejahatan yang amat serius dimata Tuhan. Bahkan untuk hal ini Tuhan sampai menuliskan peringatannya kepada kita dalam Alkitab. Jadi ini bukan hal yang bisa dianggap sepeleh saudara.

Matius 5:19
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; ...

Jangan pernah kita mengubah-ubah hukum Taurat ini, apapun motivasi kita. Sebab ada konsekuensi serius yang menyertainya.

Tentang pembahasan kita di atas, yang ingin saya garis bawahi adalah, kita tidak bisa mengatakan bahwa hari Minggu adalah hari Sabat. Dalam hukum Taurat, hari Sabat adalah hari Sabtu dan itu tetap berlaku sampai akhir jaman. Kalau kita beranggapan bahwa hari Sabat adalah hari Minggu, artinya sama saja kita telah mengubah salah satu isi dari hukum Taurat yaitu tentang hari Sabat yang telah ditentukan Tuhan adalah hari Sabtu. kita tidak boleh mengubahnya menjadi hari Minggu.

Hey.... siapakah kita ini? Dengan tanpa pengetahuan alangkah beraninya kita mengubah hukum Taurat. Tidakkah kita sadar dengan resiko yang akan kita tanggung? Memahami demikian untuk diri sendiri saja sudah salah apalagi kalau kita sampai mengajarkannya kepada orang lain.

Sebaiknya mulai saat ini, jangan ada lagi diantara kita yang mengatakan dan beranggapan bahwa hari Sabat adalah hari Minggu. Sebab hari Sabat tetap di hari Sabtu dan tidak akan pernah berubah sampai akhir jaman. Hal itu jelas tertulis di Matius 5:18.

Lalu pertanyaannya, mengapa kita beribadah pada hari Minggu dan bukan Sabtu yang adalah hari Sabat? Bukankah orang-orang Yahudi sampai saat ini masih memelihara hari Sabat? Dan karena itu mereka tetap beribadah pada hari Sabtu.

Mengapa kita beribadahnya malah hari Minggu?

Saudara yang terkasih, kita umat kristen memang beribadah pada hari Minggu, karena dihari itulah Tuhan Yesus bangkit setelah kematian-Nya. Umat kristen memperingati hari kebangkitan Yesus dihari Minggu dalam ibadahnya, dan itupun dalam rangka mengucapkan syukur karena kita telah diselamatkan, bukan dalam rangka mencari tiket ke sorga.

Ibadah kita bukan dalam rangka mengikuti hukum Taurat seperti apa yang dilakukan oleh orang Yahudi. Mereka memang masih memelihara hari Sabat karena mereka memang mengikuti hukum Taurat. Mereka berbeda dengan kita. Mereka tidak hidup di dalam Yesus, tetapi mereka hidup di bawah hukum Taurat.

Roma 6:14
Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Kita orang percaya, tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, ibadah kita jelas berbeda dengan ibadahnya orang Yahudi, karena itu bagaimana mungkin cara dan hari ibadahnya harus sama? Mereka lebih memilih menolak Yesus dan lebih senang hidup di bawah hukum Taurat. Silahkan saja, sebab itu pilihan mereka. Tetapi yang jelas bagi kita adalah, tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Tuhan karena dia menjalankan hukum Taurat.

Galatia 3:11
Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas,

Hal ini juga sebagai peringatan bagi kita, yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, jangan pernah lagi berharap untuk memperoleh kebenaran dengan cara menjalani hukum Taurat. Sebab tidak seorangpun bisa dibenarkan karena melakukan hukum Taurat. Yang ada justru sebaliknya.

Salah satu ajaran yang paling umum dan sering kita dengar adalah ajaran untuk memelihara hari Sabat. Hati-hati saudara, ajaran yang mengharuskan kita memelihara hari Sabat dan kalau tidak, maka kita akan berdosa dan akan ke neraka adalah tidak benar. Ajaran ini justru akan membawa kita lepas dari kasih karunia Yesus.

Galatia 5:4
Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

Ayat ini jelas memperingatkan kita, jangan pernah kita mengharapkan kebenaran dengan cara menjalani hukum Taurat. Kita akan lepas dari Kristus, dan kalau kita sudah lepas dari Kasih Kristus, berusahalah saudara dengan usaha saudara sendiri dalam menjalani hukum Taurat sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi saat ini. Itu pilihan mereka. Dan Galatia 3:11 sudah menunggu saudara.

Memang kita sebagai orang percaya tidak lagi menjalani hukum Taurat secara harfiah. Tetapi apakah saudara tahu bahwa kita juga telah menjalankan secara keseluruhan dari hukum Taurat itu?

Roma 13:10
Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Dan Allah adalah kasih itu sendiri.

1 Yohanes 4:8
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Sekarang kalau kita sebagai orang percaya tetapi ingin memelihara hari Sabat bagaimana? Silahkan saja, sepanjang itu dilakukan karena kerinduan saudara demi memuliakan Tuhan, tidak masalah. Bukan karena pemahaman bahwa seandainya saudara sampai tidak dapat memelihara hari Sabat, maka saudara akan berdosa dan bisa masuk neraka. Ini yang tidak boleh! Sebab kalau sudah begitu, maka Yesus Kristus bukan lagi sebagai penyelamat saudara, tetapi menjalani hukum Tauratlah yang menentukan keselamatan saudara. Kita akan kembali ke Galatia 3:11 dan Galatia 5:4. Apa saudara sanggup?

Demikianlah sharing kita, semoga untuk seterusnya kita tidak lagi mengatakan bahwa hari Minggu adalah hari Sabat, sebab itu berarti kita telah merubah hukum Taurat. Dan tentang ibadah kita yang bukan di hari Sabat, itu juga karena kita tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat. Namun demikian, walaupun kita tidak hidup di bawah hukum Taurat, kita telah menjalani hukum itu sesuai dengan Roma 13:10.

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus, semoga apa yang saya pahami saat ini, adalah apa yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita semua.

Tuhan Yesus memberkati
Salam.