Translate

Rabu, 31 Oktober 2012

Doa Pengampunan Dosa


Suatu ketika,   saya berbincang-bincang dengan seorang “teman”. Awal mula pembicaraan sih biasa saja. Kita bercerita tentang berbagai hal sampai pada akhirnya pembicaraan itu   mengarah pada hal berdoa untuk meminta pengampunan dosa. Doa seperti ini saudara, memang yang selalu kita dengar dalam ibadah-ibadah kebaktian. Biasanya di awal-awal ibadah, pemimpin ibadah ataupun pendeta akan menyeruhkan agar sekalian jemaat berdoa mohon pengampunan dosa supaya kembali di “sucikan” agar ibadahnya mungkin..... diterima di sisi Tuhan.

Mirip doa pemakaman non kristen yah? Tapi memang itulah yang biasanya kita dengar dan lakukan. Hal yang saya tanyakan pada “teman” saya tadi adalah, “apakah memang perlu,.... kita berdoa seperti doa pengampunan dosa itu?”

Tentu saja saudara dapat menebak jawaban dari “teman” saya tersebut. "Jelas perlu! bukankah kita memang selalu berbuat dosa? Bukankah selama seminggu hidup kita setelah pulang dari gereja pasti berbuat dosa lagi?" Nah, selama kita berbuat dosa, maka sudah selayaknya kita minta maaf dosa lagi. Kurang lebih demikian.....

Masuk akal juga penjelasannya.... yaitu kita akan melakukan perbuatan dosa lagi setelah “doa pengampunan dosa” ini kita panjatkan.... bahkan kalau menurut saya.... bukan hanya setelah pulang dari gereja..... bisa jadi begitu selesai doa itu dipanjatkan.... satu menit kemudian kita sudah melakukan dosa lagi.... (bisa saja begitu membuka mata karena selesai berdoa, kita langsung melihat paha putih, mulus, montok dari gadis cantik yang kebetulan duduk disebelah kita, seketika pikiran jadi melayang dech.... he..he.. )

Jadi saudara, bahwa kita walaupun sudah menjadi seorang kristen, pada dasarnya kita hanyalah manusia biasa, karena itu sangat wajar sekali kita tidak pernah lepas dari perbuatan dosa.... baik disengaja ataupun tidak disengaja.... karena itu.... menurut “teman” saya ini, kita wajib selalu berdoa meminta pengampunan dosa.... minimal.......ini minimal.... seminggu sekali di gereja.....

Apa saudara setuju dengan ini.......?

Saya yakin banyak dari kita yang setuju dengan pendapat tersebut.

Saat itu, saya juga menanyakan lebih lanjut.... “Lalu bagaimana kalau seandainya seseorang itu... katakan sajalah si A ini, setelah pulang dari gereja dan menjalani kehidupannya selama hampir satu minggu kedepan... bisa jadi hari sabtu misalkan...... terjadi kecelakaan pada dirinya yang sampai merenggut nyawanya.......?”

Bagaimana dengan semua dosa-dosa yang telah dia lakukan mulai dari pulang gereja minggu lalu sampai pada hari dimana dia mengalami kecelakaan itu? Dia tidak sempat berdoa untuk minta ampun atas dosanya..... dia mati seketika itu juga..... dia tidak sempat melakukan apapun.... hal yang sama bisa saja terjadi pada orang yang tiba-tiba mendapat serangan jantung kan?

Bagaimana jadinya dengan dosa-dosa dia ini....? jangan katakan dia masuk neraka yah?.... karena dia juga orang percaya! Dan dosa yang kita bicarakan ini tentulah bukan dosa-dosa yang dia lakukan dengan sengaja (seperti murtad). Dosa-dosa yang kita bicarakan disini adalah dosa-dosa yang terjadi di luar kesadaran kita atau karena kelemahan daging kita.

Syukurlah teman saya ini tidak menjawab dengan instan.... "ke neraka!" he..he..... gawat kan kalau itu yang dijawab.... dia menjawab dengan baik.... ayat yang diambilnya adalah ini :

Roma

8:26. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; karena kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucap kan .

Ayat di atas ini,... dipakai teman ini buat menjelaskan bahwa...... pada saat si A tadi akan menghembuskan nafas terakhirnya..... maka, walaupun dia tidak dapat lagi berkata-kata dan seandainyapun dia juga tidak lagi memiliki kesadarannya..... Roh, yang ada pada dirinyalah yang akan mendoakan dia agar mendapatkan pengampunan dosa itu.... yaitu dosa yang telah terjadi sejak terakhir kali dia meminta pengampunan dosa....

Saya Yohanes

1:9 Jika kita mengakui dosa kita , maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Ayat ini juga biasanya dipakai buat referensi....

Jadi dalam hal ini, menurutnya....., kita harus mengakui dosa kita dan meminta pengampunanNya setiap minggu.... atau kapan saja bila dirasa perlu... (artinya bisa setiap detik nih?....) karena apa? Karena Tuhan itu setia dan adil.... jadi kalau kita minta pengampunan dosa ini... maka Tuhan yang setia dan adil ini pasti akan mengampuni dosa kita... dan sebaliknya..... menurut dia, jika kita tidak mau mengakui dosa-dosa kita ini... maka dosa kita tersebut tetap ada dan tidak diampuni...

Itulah kurang lebihnya pemahaman yang diberikan kepada kita……

Apakah sekarang saudara dapat menerima semua penjelasan ini?

Jika memang dapat saudara terima........ baiklah kita mulai membahasnya diawali dengan satu pertanyaan dari saya....

Begini, misalkan memang pada detik-detik kematian dari si A ini,.... dimana dia sendiri sudah tidak dapat lagi berdoa sendiri untuk meminta pengampunan dosanya.... sehingga Rohlah yang membantu mendoakannya demikian sehingga memungkinkan dosa-dosanya diampuni...... lalu boleh tidak kalau kita berdoa untuk pengampunan dosa ini tidak setiap minggu... tetapi setiap bulan sekali misalkan...?

Toh, kalaupun kita tidak sempat berdoa dan mau mati kan kita juga pasti diselamatkan karena semua dosa-dosa kita akan diampuni karena didoakan oleh Roh Kudus dalam diri kita.....?! Bukankah dikatakan demikian pada penjelasan di atas? Dan kalau sekali sebulan ini dapat diterima...... bolehkah tidak diperpanjang lagi menjadi setahun sekali....? boleh juga?! Yah, kepalangan...... tunggu aja sampai kita mau mati nanti..... karena kalaupun kita tidak sempat berdoa demikian, bukankah Roh Kudus dalam diri kita yang akan mendoakannya.... jadi, kita tidak perlu khawatir.....

Jadi untuk apa berdoa pengampunan dosa seminggu sekali itu?......

Saudara yang terkasih........berhati-hatilah dalam menanggapi suatu ajaran.... jika itu kebenaran... maka saat diuji akan tetap bersinar.....

Saya pada dasarnya kurang sependapat dengan penjelasan di atas....mengapa demikian? Ayat berikut menjelaskan....

Ibrani

9:22 Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan .

Ayat ini mengatakan dengan jelas bahwa, tanpa penumpahan darah.... tidak akan ada pengampunan.... itulah mengapa di jaman perjanjian lama... segala sesuatunya berhubungan dengan mengorbanan binatang untuk mensucikan segala sesuatunya. Bahkan imam besarpun, sebelum masuk ke ruangan Maha Kudus.... dia juga harus menyucikan dirinya dengan sebuah pengorbanan....

Kejadian

15:9 Firman TUHAN kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati."

Imamat

16:3 Beginilah caranya Harun masuk ke dalam tempat kudus itu, yakni dengan membawa seekor lembu muda untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran.

16:6 Kemudian Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan dengan demikian mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya.

Jadi saudara, tidak akan ada pengampunan dosa.... kalau tidak ada pernumpahan darah.... lalu bagaimana mungkin saudara beranggapan dengan berdoa setiap minggu untuk pengampunan dosa saudara, maka dosa saudara dapat diampuni? Bagaimana mungkin saudara bahkan menempatkan diri saudara yang lebih tinggi dari umat Israel...? dari umat pilihan Tuhan...?

Apa buktinya kalau saudara telah meninggikan diri lebih dari umat pilihan Tuhan? Buktinya umat Israel masih memerlukan penumpahan darah untuk pengampunan dosa-dosa mereka.... dan sekarang saudara tidak memerlukan itu.... wah..... apa ini bukannya saudara telah menempatkan diri saudara di atas mereka?

Oo..... tidak! Saudara ingin katakan bahwa saudara sekarang hidup di jaman perjanjian baru... jaman anugerah sehingga tidak perlu lagi korban penumpahan darah untuk pengampunan dosa....? Apakah begitu yang ingin saudara katakan...? Jika benar ini dasar saudara, baiklah kita kupas lebih lanjut....

Kita memang hidup dalam jaman kasih karunia alias anugerah dari Tuhan.... kenapa dikatakan demikian? Karena kita memang hidup di jaman perjanjian baru yang Tuhan buat untuk kita.... Alkitab mengatakan bahwa kita, bagaimanapun berusaha untuk menjalankan hukum Taurat.... tetap saja akan berakhir di neraka! Mengapa? Karena memang tidak seorangpun yang dapat menggenapi hukum ini kecuali Tuhan sendiri.... seperti ayat berikut ini :

Galatia

2:16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun dapat dibenarkan karena melakukan hukum Taurat,..........

Lalu jikalau demikian, untuk apa ada hukum Taurat? Bukankah tidak ada gunanya sama sekali karena tidak dapat digunakan untuk menyelamatkan manusia? Bukankah memberikan hukum yang sama sekali tidak dapat dilaksanakan adalah sia-sia saja? Ini sepertinya hanya memberikan harapan-harapan kosong saja bukan? Kalau begitu sekali lagi.... apa sebenarnya kegunaan dari hukum ini kalau tidak untuk menyelamatkan?

Galatia

3:23 Sebelum iman itu datang, kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
3:24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang , supaya kita dibenarkan karena iman.
3:25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.

Bukankah penjelasan ayat ini cukup mudah untuk dipahami? Inilah maksudnya hukum Taurat itu, dimana hukum ini diturunkan agar manusia berada dalam penuntunan Tuhan melalui hukumNya ini, hingga kedatangan Kristus yang akan membenarkan kita karena iman...... iman apa ini?

Galatia

3:26 Alasan kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.

Nah saudara, jika sekarang kita memang hidup di bahwa kasih karunia Yesus.... lalu masihkah kita perlu meminta pengampunan dosa-dosa kita lagi sebagaimana layaknya yang di praktikkan oleh orang-orang Israel yang hidup di bawa hukum Taurat (penuntun) ini?

Kalau saudara menjawab perlu tetapi tidak juga harus mencontoh tata cara bangsa Israel yang hidup di bahwa hukum Taurat (harus ada penumpahan darah) karena kita sudah hidup dalam kasih karunia Yesus...... bukankah ini suatu hal yang rancuh...? kenapa saya berkata demikian? Karena hal ini seperti kita meletakkan kaki di dua perahu......

Orang Israel melakukan apa yang diatur di Imamat karena memang mereka tidak hidup dalam jaman kasih karunia Yesus.... sekarang pada saat kita telah mendapatkan kasih karunia itu.... masihkah lagi kita mau membawa hidup kita dalam atmosfir kehidupan yang belum mengenal kasih karunia itu?

Atau.... mungkin saudara ingin mengatakan bahwa apa yang telah Tuhan Yesus lakukan untuk menebus dosa saudara ini ternyata kurang?..... alias tidak cukup? Sehingga saudara merasa perlu untuk menambahnya dengan doa-doa pengampunan dosa saudara selama ini? Apa saudara pikir kalau saudara tidak berdoa untuk pengampulan dosa ini.... sekiranya saudara mati maka dosa saudara itu tidak terampuni? Masuk neraka donk...?

Dari mana datangnya pemahaman yang demikian itu saudara? Mungkinkah anugerah dari Tuhan itu tidak sempurna? Kalau sesuatu yang datangnya dari Tuhan itu tidak sempurna..... dari siapa lagi yang bisa dikatakan sempurna...? dari penambahan yang saudara lakukan dengan doa-doa pengampunan dosa itu...? jadi ceritanya saudara memperbaiki dan menyempurnakan hasil pekerjaan Tuhan.... yaitu menyempurnakan anugerah yang Tuhan berikan pada kita...?

Wah...... saudara lebih besar donk dari Tuhan semesta alam.... karena saudara tahu bagaimana sempurna yang dibutuhkan oleh manusia sementara Tuhan tidak! Sehingga apa yang Tuhan kira sempurna untuk manusia (anugerah keselamatan ini) ternyata sama sekali tidak sempurna bagi manusia..... yaitu bagi saudara!

Hati-hati saudara.... imanmu dipertaruhkan di sini....

Yakobus

1:17 Setiap anugerah yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang ; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Ayat di atas mengatakan dengan sangat jelas sekali....... bahwa apa yang berasal dari Tuhan itu sempurna.
Bagaimana mungkin Anda berani menambahkan sesuatu yang telah sempurna yang Tuhan berikan pada kita? Bukankah hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa apa yang telah Tuhan berikan itu menjadi tidak sempurna bagi kita?

Siapakah kita ini sehingga berani mengkoreksi hasil pekerjaan Tuhan bagi kita? Untuk memutihkan dan menghitamkan sehelai rambut kita saja kita tidak mampu... (bukan di cat lo bro....) bagaimana mungkin kita dapat melihat ketidaksempurnaan dari karya penyelamatan Tuhan atas kita....

Tuhan Yesus..... sudah pasti melakukan segala sesuatunya dengan sempurna..... itulah mengapa pada detik-detik kematianNya di kayu salib.... Dia mengatakan.....

Yohanes
19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Apa pengertian kata-kata Yesus ini bagi saudara...? Apakah Yesus cuma mau mengatakan bahwa dia sudah selesai di siksa? Ataukah ingin mengatakan sudah menyelesaikan kehidupanNya di dunia ini saja? Ataukah mungkin.... sudah cukup tubuhnya menanggung sakit sehingga ingin segera mati saja...? mungkin yang terakhir ini lebih masuk akal yah? Karena setelah itu Yesus memang mati.

Saudara..... Yesus berseru demikian karena Dia telah menyelesaikan misi yang Bapa berikan padaNya.... yaitu telah menjadi penebus dosa kita semua...... misi ini telah digenapi.... bukan diganjili.... oleh Yesus...... jadi Tuhan Yesus telah menggenapi misiNya.... yaitu untuk menjadi Juru Selamat bagi kita semua.....

Dia telah rela menanggung semua siksa yang harus kita terima..... Dia yang tidak berdosa.... menjadi satu-satunya yang layak untuk menebus semua dosa kita..... kesempurnaan penebusan Yesus bagi kita..... sangat jauh dibandingkan dengan penebusan dosa melalui darah domba di imamat.... ketidaksempurnaan penebusan melalui darah domba di imamat itulah yang membuat imam Harun dan segenap bangsa Israel dulu harus mengulanginya setiap tahun.

Ibrani

10:1. Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Oleh karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.
10:2 jika Sebab hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, karena mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk s elama-lamanya.

10:10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya dengan mempersembahkan tubuh Yesus Kristus.
10:14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah disempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan

Ibrani

9:26 jika Sebab Demikian Ia harus berulang-ulang disajikan sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.
9:27 Dan sama seperti manusia yang ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudahnya dihakimi,
9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan dirinya untuk menanggung dosa banyak orang . Sesudah itu Ia akan menyatakan dirinya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk meng anugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

Alkitab mengatakan bahwa Yesus, hanya satu kali saja mengorbankan dirinya untuk menanggung   dosa banyak orang..... menanggung dosa banyak orang.... bukan satu orang atau beberapa orang, tetapi banyak orang...... kita semua...... hanya satu kali saja dan tidak diulang-ulang setiap tahun, apalagi setiap minggu! Artinya apa ini saudara? Artinya korban ini sempurna.... satu kali untuk selamanya...... yah,..... kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya.... tidak di ulang-ulang lagi...... ingat! Di kuduskan artinya di sucikan... dari apa? Dari semua dosa kita...... kalau kita masih mengandung dosa walaupun satu titik kecil..... artinya kita tidak kudus...... tetapi Alkitab mengatakan kita telah di KUDUS kan.......

Pada saat kita percaya kepadaNya..... maka semua dosa kita telah ditanggungNya.... semua dosa kita saudara....

Dihadapan Tuhan, kehidupan kita tidak terbatas oleh ruang dan waktu..... seperti yang kita alami sekarang ini..... Dihadapan Tuhan, bahkan apa yang belum kita perbuat sekarang ini Tuhan sudah tahu...... jadi seperti apa nantinya hidup kita ini sepuluh tahun kedepan....... bahkan bagaimana nantinya kita matipun sudah diketahui oleh Tuhan..... sudah tentu, Tuhan tahu buah-buah dosa apa saja yang akan....sekali lagi yang “akan” kita perbuat..... semua itu Tuhan tahu.... dan itulah yang dimaksud dengan “semua dosa” kita.....

Markus

3:28 Aku berkata kepadamu: sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan.

1 Yohanes

1:7Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan dengan seorang yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

2:2 Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan dirinya, supaya Ia menghapus segala dosa , dan di dalam Dia tidak ada dosa.

Kisah para rasul

13:39 Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa , yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.

I Petrus

3:18. Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita,...


Semuanya ini telah ditebus oleh Yesus dengan sempurna..... andaikata tidak... sudah tentu penebusan ini tidak dapat dikatakan sempurna..... tetapi tidak.... seperti kata nas di atas, Yakobus 1:17, bahwa segala sesuatu yang berasal dari Bapa.... adalah sempurna..... juga nas berikut ini :

Ibrani
7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Saudara..... sudah seharusnya kita bersikap kristis atas segala pengajaran yang kita terima.... Dalam kekristenan,.... tidak ada yang tidak boleh dikritisi..... semua terbuka bebas untuk di kritisi..... sebab apa? sebab iman kita bukanlah iman yang buta.... tetapi iman yang dengan sungguh-sungguh dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.....

Pada saat saudara mendapatkan pengajaran dari pendeta sekalipun..... Tanyakanlah itu semua dengan imanmu..... benarkah ini menurut Alkitab? Jangan sampai nanti.... apa yang saudara lakukan ini ternyata malah jahat dihadapan Tuhan..... meskipun maksud saudara bukan begitu.....

Secara lahiriah....seseorang yang setiap minggu berdoa minta agar dosa-dosanya selama minggu lalu diampuni Tuhan itu baik (ini dalam konteks bahwa tanpa doa pengampunan dosa ini dia merasa penebusan Tuhan Yesus itu tidak cukup untuk membawanya ke sorga ya saudara).... secara lahiriah memang terlihat baik..... tetapi apakah memang demikian di hadapan Tuhan? Jangan-jangan apa yang kita anggap baik itu justru sebuah kekejian dihadapan Tuhan kita......

Bagaimana kita bisa yakin bahwa apa yang diajarkan oleh pendeta itu bukan bersumber dari hikmat pribadinya sendiri? Yang   justru tanpa dia sadari ternyata berlawanan dengan kehendak Tuhan? Dan kita yang hanya mengikuti tanpa sekalipun untuk melihat kebenarannya menurut Alkitab.... bukankan kita yang seperti ini sangat naif? Mengimani sesuatu yang tidak dapat kita tanggung jawabkan sendiri....

Melihat sejauh ini pembahasan kita, mungkin sebagian dari kita akan berkata “Apakah dengan demikian orang kristen jadi lupa daratan dan bebas berbuat dosa karena merasa sudah ditebus semua dosanya?” Tentu saja tidak! Sekalipun mereka sudah menebus semua dosanya...., bukan berarti mereka bebas berbuat dosa lagi.

Roma
6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa , karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.
6:15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa , karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!
6:16 Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?

Ibrani

10:26 Sebab jika kita sengaja melakukan dosa, setelah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu .
10:27Tetapi yang ada adalah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.

Jadi sebagai orang kristen, kita tetap tidak bebas melakukan dosa, meskipun masalah dosa ini sendiri sudah diselesaikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Karena kalau kita hamba Yesus, maka sudah selayaknyalah kita mengikuti apa yang diperintahkan Yesus. Dan perintah Yesus dengan jelas, janganlah berbuat dosa lagi!

Lalu bagaimana hubungannya dengan doa Bapa kami? Bukankah dalam doa Bapa kami ada ayat yang berbunyi

Matius

6:9. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan -Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami ;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi mengecewakanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kekuasaan dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Bukankah pasal 6:12 ini mengajarkan agar kita selalu meminta ampun pada Tuhan atas semua kesalahan (dosa) kita?

Saudara yang terkasih.... jika saudara memperhatikan lagi ayat tersebut di atas dengan saksama, maka saudara tentu akan mendapatkan pengertian yang sedikit berbeda dari pengertian untuk meminta pengampunan dosa. Untuk dapat mengerti akan ayat di atas, bukankah Tuhan kita Yesus Kristus sendiri telah memberikan perumpamaannya? Perumpamaannya ada pada ayat berikut... :

Matius

18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon padanya: Sabarlah dulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani kamu?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Tolong saudara perhatikan apa yang saya baut di atas. Saya garis bawahi demikian.... si A yang telah mendapatkan pengampunan dari raja.... berjumpa dengan si B temannya sendiri yang kebetulan berhutang padanya. Si A memaksa si B untuk membayar hutangnya dan pada saat si B tidak dapat membayarnya saat itu..... maka si A memasukkan si B ke dalam penjara.....

Pertanyaannya..... pada saat si A memasukkan si B ke dalam penjara..... si A telah mendapatkan pengampunan dari raja apa yang belum?
Jawabannya pasti.... sudah! Karena memang si A telah mendapatkan maaf dari raja terlebih dahulu.....   tetapi maaf dari raja itu,.... tidak dapat membuat si A jadi pemaaf yang sama pada temannya si B, yaitu mengampuni si B juga seperti dia sendiri telah diampuni...... dimata Tuhan, hal ini jahat.

Jadi dalam doa Bapa kami itu, hal demikian tidak di inginkan oleh Tuhan.... kita harus juga mengampuni orang yang bersalah kepada kita.... karena kita sendiri telah lebih dulu diampuni oleh Tuhan atas segala kesalahan kita. Jika..... sekali lagi jika..... ternyata kita melakukan hal yang sama seperti apa yang telah di perbuat oleh si A...... maka semua kesalahan kita yang telah diampuni Tuhan oleh karena penebusan Yesus bagi kita...... bisa saja dilimpahkan kembali atas kita.... untuk kita tanggung seperti semula....

Si A telah lebih dulu mendapatkan pengampunan dari raja.... sebelum dia melakukan hal yang jahat pada si B. Begitu juga dengan kita..... kita sudah terlebih dulu diampuni oleh Tuhan atas semua kesalahan (dosa) kita..... yang Tuhan inginkan dari kita cuma berbuat hal yang sama pada sesamamu.... yaitu mengampuni mereka seperti kamu telah diampuni.... dosa kita telah dibayar lunas oleh Yesus.....tidak bersisa sedikitpun..... jadi tidak ada maksud lagi bagi kita untuk setiap saat memohon-mohon Bapa supaya dosa kita diampuni lagi..... dosa yang mana lagi?

Jadi sekarang sebaiknya bagaimana? Doa apa yang lebih masuk akal kita sampaikan pada Tuhan kalau seandainya semua dosa kita telah ditebus oleh Yesus di kayu salibNya?

Menurut saya.... dari pada kita berdoa minta pengampunan dosa lagi...(Seolah-olah karya penebusan Yesus belum sempurna, bahayanya seperti yang saya ulas di atas) adalah lebih baik bila kita berdoa kepada Tuhan untuk mengucapkan terima kasih kita atas segala penebusan yang telah Tuhan Yesus lakukan bagi kita...... kita mengucapkan terima kasih kita bahwa kita telah diselamatkan meskipun dosa kita merah seperti kirmizi.

Kita doakan juga agar Tuhan menguatkan kita supaya kita tidak lagi jatuh dalam perbuatan dosa..... (bukan doa minta dosa kita diampuni lagi dan lagi.... sebab masalah ini sudah diselesaikan Tuhan Yesus) tetapi berdoalah agar Tuhan memberikan kita kekuatan untuk tidak melakukan dosa lagi..... Hal ini menurut saya lebih baik.

Kalau saudara merasa telah melakukan perbuat dosa dan menyesal, meminta ampunan pada Tuhan, ini tidak masalah saudara, ini lebih kepenyesalan dan mohon ampunan karena penyesalan tersebut. Berbeda dengan konsep bahasan kita di atas, dimana merasa bakalan ke neraka karena merasa tidak bisa hidup kudus setelah menerima Tuhan Yesus, sehingga merasa perlu ditopang doa minta ampun atau minta dikuduskan lagi tiap minggu supaya kudus dan layak lagi bagi Tuhan.

Seorang teman bertanya pada saya..... “Bagaimana kalau dalam tata ibadah di gereja tempat kita berjemaat ternyata mereka masih menyisipkan doa pengampunan dosa ini dalam ibadahnya? Bagaimana seharusnya kita bersikap?”

Wah.... memang tidak sedikit gereja yang masih melakukan doa pengampunan dosa seperti ini. Biasanya memang dilakukan di awal awal ibadah, dengan tujuan semoga dengan diampuninya dosa-dosa kita maka ibadah kita dapat diterima oleh Tuhan. Menurut hemat saya, kita bisa saja berdoa mengucapkan terima kasih, bersyukur untuk semua dosa kita yang sudah ditebus Tuhan Yesus pada sesi dimana mereka berdoa minta pengampunan dosa. Atau setidaknya berdoalah agar kita dikuatkan Tuhan untuk tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan dosa itu.

Aturan tata ibadah itu semata-mata hanyalah buatan manusia, andaikan kita merasa ada yang kurang tepat di sana.... lakukanlah apa yang dirasa lebih tepat dengan bimbingan Roh Kudus. karena yang harus kita ingat.... bahwa setiap orang kristen yang pergi beribadah ke gereja, bukanlah dalam rangka mencari pahala buat masuk sorga.... tetapi semata-mata hanya untuk mengucapkan rasa terima kasih kita karena sudah diselamatkan dan untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman.

Demikianlah akhir dari sharing kita kali ini..... semoga bermanfaat bagi saudara seiman..... anda bebas untuk melakukan apa yang anda yakini benar.....

Syallom....

------------

NB : Baca juga
bagaimana dosa kita ditebus (rahasia baptisan)

Selasa, 30 Oktober 2012

Inikah “Hamba Tuhan”?


Dalam beribadah setiap minggu di gereja, sudah tentu kita akan berusaha untuk mengikuti semua tata cara yang ada dalam gereja dimana kita berjemaat. Dari mulai cara ibadah diawali, sampai dengan cara ibadah itu diakhiri. Semua ada tata caranya dan kita juga maklum bahwa semua tata cara itu telah di atur oleh denominasi dimana kita berjemaat.

Namun demikian, terkadang tata cara dalam beribadah ini tidak jarang mengalami penambahan di sana sini oleh pendeta ataupun majelis dalam gereja yang bersangkutan. Artinya, aturan tata cara yang telah ditetapkan oleh denominasi, ternyata masih mengalami tambal sulam oleh pihak-pihak dalam gereja lokal, baik itu inisiatif dari pendetanya ataupun oleh majelisnya.

Sebenarnya mereka tidak bermaksud jelek, mungkin saja tambal sulam tersebut dimaksudkan agar jalannya ibadah dapat lebih hikmat lagi, ataupun lebih teratur, lebih manis dan lain sebagainya. Intinya, mereka berusaha sebisa mungkin memberikan nilai yang lebih hikmat bagi jemaatnya.

Namun demikian, terkadang ada hal-hal yang dirasa tidak perlu ikut pula ditambahkan dalam tata cara tersebut, sehingga kesan yang ditimbulkan bukan lagi hikmat, malahan dapat memberikan kesan jelek bagi pendeta yang bersangkutan dari jemaatnya sendiri.

Ada satu gereja lokal yang saya ketahui memulai ibadahnya sama seperti seorang hakim memulai persidangan di ruang pengadilan. Dimana saat pendetanya memasuki ruangan gereja, maka semua jemaatnya diminta untuk berdiri menyambutnya. Wah... pendeta ini cuma kurang toga saja saya rasa.

Ibadah di gereja ini dimulai dengan jemaat duduk ditempatnya, dan sesaat sebelum pendeta masuk, semua jemaat di minta untuk berdiri, saat itulah pendeta masuk diikuti oleh beberapa majelisnya. Pendeta berjalan dimuka dan kemudian naik ke mimbar. Majelis kemudian duduk dibagian muka.

Ada yang jelek? Sepintas selalu tidak!

Lalu mengapa dipermasalahkan?

Nah, disinilah letak pembahasan kita saudara. Saya tidak mengetahui secara pasti apa motivasi dari tata cara itu diadakan, tetapi yang dirasakan oleh sebagian dari jemaat adalah.... apakah pendeta kita ini gila hormat? Sehingga dia merasa perlu mendapatkan penghormatan seperti itu?

Saat jemaat diminta untuk berdiri.... maka mau tidak mau, kesan yang didapat dalam jemaat adalah, jemaat diminta untuk menghormati pendeta sewaktu pendeta tersebut memasuki ruangan. Adakah alasan lain selain ini? Jelas tidak! Sebab kesan ini sudah terpeta dengan jelas dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik itu dalam ruang pengadilan, maupun dalam acara-acara kenegaraan tertentu dimana pejabat penting selalu disambut dengan mengundang hadirin untuk berdiri sebagai penghormatan.

Jadi saat jemaat diminta untuk berdiri dalam gereja saat pendeta memasuki ruangan, mau tidak mau, gambaran penghormatan untuk seorang penguasa dengan jelas tergambar dalam tata cara ini. Pendeta jadi seolah-olah seperti seorang yang sangat dihormati sekali. Tiba-tiba saja gambaran seorang pendeta yang adalah bagaikan gembala bagi jemaatnya berubah seketika itu juga. Pendeta jadi seperti menuntut rasa hormat dari jemaatnya.

Saudara terkasih, mungkin saja ada diantara pendeta yang demikian bertanya, salahkah jika mereka menuntut untuk dihormati?

Menurut saya,... jelas ini pertanyaan yang aneh luar biasa. Mengapa demikian? Penghormatan tidak datang dari cara demikian. Setiap kita juga menghormati orang tua kita dan tidak dengan cara demikian kita menghormati mereka.

Pendeta bukanlah penguasa. Pendeta adalah gembala bagi jemaatnya. Pengembalaan yang adalah tugas pendeta ini, baru bisa berjalan dengan baik kalau dilakukan dengan kasih, bukan dengan rasa segan ataupun hormat seperti menghormati seorang penguasa.

Bagaimana mungkin seorang jemaat yang memiliki rasa hormat berlebihan terhadap gembalanya dapat dengan enjoy membawa permasalahan pribadinya untuk disharingkan dengan pendetanya itu? Yang ada justru rasa segan dalam diri jemaat tersebut untuk membicarakannya. Dan hubungan yang demikian bukanlah hubungan yang sehat antara seorang pendeta dengan jemaatnya.

Satu hal yang seharusnya para pendeta sadari adalah,.... siapakah selama ini yang selalu menuntut untuk dipanggil dengan sebutan “Hamba Tuhan” ?

Bukankah predikat Hamba Tuhan ini selalu digembar gemborkan oleh para pendeta ini untuk menggelarkan diri mereka sendiri?

Saya pernah bertanya tentang hal ini, kalau pendeta adalah Hamba Tuhan, lalu siapakah jemaat itu? Hamba siapakah jemaat itu? Bukankah hanya ada dua perhambaan saja di dunia ini? Kalau bukan hamba Tuhan, yah otomatis hamba setan donk?....  Saudara tahu apa jawabannya?

Ternyata saudara,... jemaat mendapat gelarnya sendiri yang luar biasa sekali. Tahu apa gelarnya itu? Gelar yang disematkan pada jemaat adalah “Anak Allah”.

Jadi sebagian pendeta memberikan pengertian bahwa jemaat itu, adalah Anak Allah. Dan mereka para pendeta itu adalah Hamba Tuhan. Wah, klop donk.... jemaat adalah Anak-anak Allah dan pendeta sebagai Hamba Tuhan.

Senangkah jemaat mendapatkan gelarnya yang sedemikian hebat itu? Jelas donk, mana ada jemaat yang menolak gelar sebagai Anak Allah. Sebab gelar ini memang sangat Alkitabiah sekali. Bukankah memang demikian yang kita dapatkan dalam Alkitab?

Roma 

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Sekarang saudara, kalau benar penilaian dari para pendeta itu bahwa kita adalah Anak-anak Allah dan mereka adalah Hamba Tuhan, lalu mengapa mereka masih juga menuntut agar jemaat - yang adalah anak-anak Allah - menghormati mereka yang cuma seorang hamba? Bahkan menuntut penghormatan dengan cara berdiri menyambut mereka dalam gereja?

Seorang anak, sudah tentu lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan seorang hamba. Bagaimana mungkin seorang hamba menuntut anak dari majikannya untuk menghormati mereka seperti menghormati seorang penguasa?

Apa tidak terbalik saudara? Bukankah seorang hambalah yang harus menghormati seorang anak majikannya?

Siapakah yang ngotot mengelarkan diri mereka sebagai Hamba Tuhan selama ini? Bukankah para pendeta? Tahukah saudara bahwa hamba itu adalah pelayan? Seorang hamba sama artinya dengan seorang pelayan.

Tahukah saudara tugas seorang pendeta, yang adalah hamba Tuhan, yang adalah pelayan Tuhan di dunia ini? Bukankah tugasnya melayani anak-anak Allah? Melayani secara jasmani? Sudah tentu bukan!... tetapi jelas melayani secara rohani dari anak-anak Allah. Tetapi apapun itu, tugas seorang pendeta adalah melayani. Titik.

Sekarang, setelah mengetahui tugas dan peranan masing-masing, masihkah seorang pendeta menuntut penghormatan dari jemaatnya secara berlebihan?

Saudara, tidak selayaknya seorang pendeta menuntut penghormatan dari jemaatnya. Sebab dengan melakukan itu, dia tidak lagi berperan sebagai Hamba Tuhan. Tanpa menuntut penghormatanpun, pada dasarnya semua jemaat juga telah menghormati dan mencintai pendetanya. Karena itu janganlah ditambah-tambahkan dengan tata cara yang justru, dapat menjadi batu sandungan bagi jemaatnya sendiri.

Mungkin saja nanti ada yang bilang jemaat di minta untuk berdiri saat itu bukan dalam rangka penghormatan pada pendeta, tetapi kepada Tuhan.

Oklah, kalau itu alasannya,....

Tetapi apakah kehadiran Tuhan hanya ada dalam ibadah mingguan itu saja? Bukankah kehadiran Tuhan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Lalu mengapa hanya pada ibadah mingguan itu saja kehadiran Tuhan harus kita hormati dengan berdiri? Apakah kehadiran Tuhan disanapun sama seperti kehadiran pendetanya? Jadi ceritanya saat pendeta masuk maka Tuhan baru masuk juga? Dari mana pendetanya tahu akan hal itu? Pendetanya bisa lihat Tuhan gitu? Wah...wah....

Saudara, janganlah kita mencari-cari alasan yang nantinya malah memberikan efek domino. Jelas-jelas alasan-alasan demikian sama sekali tidak masuk di akal. Justru dengan memberikan penghormatan dengan cara berdiri sewaktu pendeta masuk, disadari ataupun tidak, malah lebih memberikan penghormatan itu kepada pendetanya dan bukan kepada Tuhan.

Tuhan itu kasih, dan Dia lebih suka kita mengasihiNya. Tuhan tidak butuh penghormatan ala pejabat. Tuhan ingin kita anak-anakNya dapat mengasihNya dengan segenap hati kita. Bukan dengan segenap rasa segan kita.

Jangan pernah pendeta melakukan itu semua karena mencontoh seorang hakim yang memasuki ruang sidang. Seorang hakim memasuki ruang sidang dalam rangka menegakkan wibawa hukum. Seorang pendeta memasuki ruang gereja dalam rangka melayani. Jelas missi kedua profesi ini berbeda sekali. Jadi jangan diperlakukan sama!

Seorang pelayan yang baik, tidak pernah menuntut penghormatan dari siapapun. Dan apa kata Tuhan Yesus tentang siapa yang terbesar dalam kerajaan sorga?

Lukas

22:26 Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.

Demikianlah saudara, terutama mereka yang bertugas melayani, janganlah saudara menuntut hormat dan penghormatan. Biarlah lakukan apa yang menjadi tugas dan kewajiban saudara, maka segala hormat dan penghormatan akan saudara dapatkan dengan sendirinya.

Semoga sharing ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. Saudara dapat menolak apa yang saudara anggap tidak benar.

Tuhan Yesus memberkati.
Amin.


NB : Klarifikasi telah didapat dan telah ada perubahan. Tulisan ini tetap di buat sebagai pengingat bagi kita untuk mawas diri dari hal-hal yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya.