Translate

Tampilkan postingan dengan label book 01. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book 01. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2012

Siapakah Bileam Sesungguhnya ?


Bilangan  22

22:1. Kemudian berangkatlah orang Israel, dan berkemah di dataran Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho.
22:2 Balak bin Zipor melihat segala yang dilakukan Israel kepada orang Amori.
22:3 Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel.
22:4 Lalu berkatalah orang Moab kepada para tua-tua Midian: "Tentu saja laskar besar itu akan membabat habis segala sesuatu yang di sekeliling kita, seperti lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang." Adapun pada waktu itu Balak bin Zipor menjadi raja Moab.
22:5 Raja ini mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, ke Petor yang di tepi sungai Efrat, ke negeri teman-teman sebangsanya, untuk memanggil dia, dengan pesan: "Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku.
22:6 Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku; mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk."

Ayat-ayat di atas menjelaskan bagaimana raja Balak begitu takut untuk berhadapan langsung dengan bangsa Israel dimedan pertempuran karena pernyertaan Allah pada bangsa Israel. Dia telah menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang Amori yang kuat dapat dikalahkan oleh orang-orang Israel.

Karena itulah raja Balak merasa perlu meminta pertolongan dari Bileam yang dipercaya oleh orang-orang pada saat itu sebagai seorang “nabi Tuhan”.

Pada ayat selanjutnya Bileam memang memberikan gambaran yang seolah-olah dia adalah nabi Tuhan seperti pada ayat berikut ini :

Bilangan 22

24:10. Lalu bangkitlah amarah Balak terhadap Bileam dan dengan meremas-remas jarinya berkatalah ia kepada Bileam: "Untuk menyerapah musuhku aku memanggil engkau, tetapi sebaliknya sampai tiga kali engkau memberkati mereka.


Begitu juga dengan beberapa ayat lainnya yang dapat kita temukan di sana, hampir sebagian besar menceritakan tentang kepatuhan Bileam dalam menuruti firman Tuhan.

Dari cerita yang ada, gambaran yang kita dapat memang seolah-olah Bileam adalah gambaran orang yang tadinya berada dijalan yang sesat tetapi pada akhirnya bertobat setelah mengalami perjumpaan dengan Malaikat Tuhan seperti yang kita temui dalam ayat ini :

Bilangan 22

22:31 Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud.

Sebagian orang yang membaca sampai pada ayat ini mendapatkan pandangan yang baik tentang Bileam, bahkan dapat dijadikan contoh iman yang benar dimana dia lebih memilih melawan seorang raja Balak dan rela kehilangan semua harta benda yang dijanjikan raja yang sudah pasti tidak sedikit.

Namun apa benar demikian kenyataannya, bahwa Bileam rela kehilangan semua harta benda yang dijanjikan raja Balak tersebut???

Sebelum kita membahas masalah ini ada baiknya kita baca ayat berikut :

Yosua 6

6:20 Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.
6:21 Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai.

Yosua  13

13:22 Juga Bileam bin Beor, juru tenung itu, telah dibunuh oleh orang Israel dengan pedang, beserta orang-orang yang telah mati tertikam oleh mereka.

Ada apa ini? Mengapa Bileam juga turut mereka bunuh? Apakah mereka tidak dapat membedakan antara musuh dan nabi Tuhan? Apakah Tuhan yang sama tidak memberitahukan kepada Yosua untuk melindungi “nabi-Nya”, sementara seorang perempuan sundal (Rahab) yang telah menyelamatkan pengintai-pengintai Israel Yosua tidak lupa?

Yosua 6

6:22 Tetapi kepada kedua orang pengintai negeri itu Yosua berkata: "Masuklah ke dalam rumah perempuan sundal itu dan bawalah ke luar perempuan itu dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, seperti yang telah kamu janjikan dengan bersumpah kepadanya."

Sebenarnya bukan hal yang aneh mengapa orang Israel justru membunuh Bileam dan bukan melindunginya. Ini semua karena Bileam memang bukan nabi Tuhan yang benar. Dia banyak melakukan hal yang jahat untuk mendapatkan bayaran. Kesukaannya adalah harta benda. Seperti yang Alkitab katakan pada :

II Petrus  2

2:15 Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.

Upah untuk perbuatannya yang jahatlah yang disukai oleh Bileam. Karena upah dari raja Balak jugalah maka Bileam telah berusaha menghancurkan orang Israel dengan memberikan “jalan belakang”  kepada Balak. Apakah jalan belakangnya itu ?

Wahyu  2

2:14 Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.

Inilah yang telah dilakukan Bileam, yaitu memberikan jalan lain untuk menghancurkan orang Israel yang tidak mampu dia kutuk karena Tuhan menyertai orang Israel.

Bileam menyadari betul bahwa dia tidak akan mungkin melawan Tuhan orang Israel. Dan dia tidak mau mengambil resiko untuk berkonfrontasi dengan Tuhannya orang Israel. Karena itu dia mengajarkan raja Balak bagaimana supaya orang Israel dapat dihancurkan tanpa harus berhadapan dengan Tuhannya orang Israel. Yaitu dengan cara membuat orang Israel mengundang sendiri murka Tuhannya.

Inilah yang diajarkan Bileam kepada raja Balak demi upah yang dijanjikan kepadanya. Lalu cara licik yang disarankan Bileam ini apakah berhasil…? Kita lihat pada ayat berikut :

Bilangan 25

25:1. Sementara bangsa Israel tinggal di Lembah Sitim, orang-orang lelaki mereka mulai berzinah dengan wanita-wanita Moab yang ada di situ.
25:2 Wanita-wanita itu mengajak mereka ke pesta-pesta kurban untuk menghormati ilah mereka. Orang Israel juga ikut makan kurban itu dan menyembah ilah orang Moab.
25:3 Karena orang Israel menyembah Baal di Peor, TUHAN marah kepada mereka dan berkata kepada Musa,
25:4 "Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan bunuhlah mereka di depan umum sebagai pelaksanaan perintah-Ku, supaya Aku tidak marah lagi kepada bangsa itu."

Bileam berhasil mendatangkan murka TUHAN atas orang Israel. Itulah sebabnya orang Israel membunuh dia pada waktu Yosua berhasil merebut kota Yerikho.

Kalau Bileam diilustrasikan sebagai seorang penjahat, dia akan sangat terlihat baik bila seorang polisi sedang berada di daerah operasinya, namun begitu polisi tersebut pergi…maka dengan ganasnya dia melakukan kejahatannya.

Bileam menuruti firman Tuhan lebih dikarenakan takut untuk berkonfrontasi, bukan karena hatinya telah bertobat, hatinya tetap hitam sebagaimana hati seorang penjahat. Karena itulah dia menyarankan “jalan belakang”  tersebut kepada raja Balak.

Demikianlah seharusnya kita memandang Bileam.

Semoga sharing ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Amin.

K K R


Lukas 17

17:11. Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.
17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh
17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"
17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"
17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

Ayat di atas mengawali pembahasan kita kali ini tentang KKR (kebaktian kebangunan rohani). Saudara terkasih, KKR ini sangat baik untuk kita ikuti sebagai orang percaya. Karena dengan meluangkan waktu beberapa jam yang ada pada kita, kerohanian kita dapat disegarkan kembali.

Tidak sedikit di antara kita yang mengalami kelesuan rohani karena rutinitas kita. Baik itu dalam pekerjaan, keseharian kita, maupun kehidupan kerohanian kita yang mungkin  disebabkan karena kebaktian yang kita ikuti digereja cendrung bersifat monoton. Hal ini kalau telah dijalani oleh kita selama bertahun-tahun, disadari ataupun tidak akan dapat menimbulkan tingkat kejenuhan karena kemonotonannya itu. Ini bukan salah kekristenan, saya lebih cendrung melihatnya sebagai keterbatasan dari tata cara kebaktian yang dikemas oleh denominasi yang bersangkutan karena aturan organisasinya. Tidak gampang untuk merobahnya memang! Karena itulah saya katakan di sini sebagai “keterbatasan”.

Sebagian jemaat mungkin malahan sampai pada tingkatan dimana dia merasa perlu untuk pindah ke gereja lain yang juga berdenominasi lain hanya untuk mendapatkan kesegaran rohani. Ini tidak salah. Malah dapat saya katakan hal yang cukup positif selama gereja dan denominasi yang dituju itu adalah gereja Tuhan juga. (dibandingkan bila yang bersangkutan memutuskan untuk tidak berjemaat digereja manapun),

Keputusan seperti di atas ini bahkan tidak hanya terjadi pada anak-anak muda saja, tapi juga tidak sedikit orang dewasa yang turut merasakannya, dan merasa perlu untuk mengambil tindakan serupa. Yang menjadi permasalahannya adalah, seandainya gereja yang menarik minat mereka itu bukanlah gereja Tuhan, apa yang akan terjadi? Harus kita sadari bahwa penyesat-penyesat itu memang bekerja di antara kita. Bahkan sudah dimulai jauh sejak jaman para rasul.

Jadi memang sudah seharusnya kita memikirkan tindakan apa saja yang harus kita perbuat agar jemaat yang ada pada kita dapat terpenuhi kerinduannya akan firman Tuhan, kerohaniannya dapat disegarkan dan terutama keimanannya dapat tumbuh dewasa. Ini yang penting!

Pada sebagian orang melihat, bahwa jalan ini dapat ditempuh dengan mengadakan KKR ataupun seminar kerohanian. Hal ini dipandang baik karena dapat melakukan model kebaktian yang berbeda dari biasanya namun tanpa merubah tata cara kebaktian yang ada pada gereja yang bersangkutan. Ok ok saja pandangan seperti itu. Apalagi bila KKR diadakan biasanya akan terbuka untuk umum. Jadi jemaat dari segala denominasi dapat hadir dan beribadat bersama di sana. Bahkan tidak sedikit juga orang yang belum percaya dapat dipertobatkan di sana.

Sekarang mari kita kupas apa saja yang kasat mata terlihat pada KKR. Kebaktian kebangunan rohani atau yang lebih dikenal dengan KKR adalah kegiatan yang sangat positif bagi membangun kerohanian jemaat. Karena kerinduan jemaatlah maka pada setiap KKR yang diadakan hampir selalu penuh sesak oleh pesertanya. Bahkan sebagian pesertanya malahan datang dari luar kota. Wow!, suatu cerminan kerinduan yang luar biasa rupanya. Siapapun yang melihat tingkat kehadiran pada KKR yang diadakan seperti ini akan dapat berkomentar “KKR yang sukses”. Apa benar demikian?

Yang patut kita cermati di sini adalah, apakah tingkat kehadiran yang membludak itu dapat dijadikan patokkan sebagai tingkat keberhasilan dari KKR yang diadakan? Belum tentu saudara… Adakah mereka yang hadir itu betul-betul rindu akan firman Tuhan? Rindu akan kesegaran rohaninya? Atau cuma rindu akan kesembuhan dari penyakit yang mereka derita saja? Bukan rahasia lagikan, kalau setiap diadakan KKR hampir selalu dibungkus dengan “mujizat kesembuhan” yang selalu diklaim dari Tuhan? Lebih celaka lagi bila yang hadir pada KKR tersebut cuma rindu pada artis yang turut disertakan entah sebagai apa di dalam KKR tersebut.

Jadi dengan mengikuti KKR seperti itu apa tujuan dari KKR yang sebenarnya telah tercapai? Yaitu kebangunan rohani. Saudara terkasih, kalau pemahaman akan firman Tuhan yang seharusnya menjadi bintang dari suatu KKR tidak tercapai, dan justru sebaliknya jemaat yang berbondong-bondong itu datang hanya karena rindu pada kesembuhan penyakitnya saja, maka KKR itu telah gagal.

Karena kalau kesembuhan yang menjadi tujuan jemaat untuk datang pada KKR yang diadakan, ini akan menjadi sangat berbahaya sekali jikalau kesembuhan yang mereka dambakan itu tidak mereka peroleh. Tidak sedikit kekecewaan yang mereka dapatkan akan berbuah pada keraguan akan firman Tuhan. Dan lebih celaka lagi kalau setelah “gagal” dengan kesembuhan dari KKR yang mereka ikuti ini, karena pengaruh seseorang, mereka justru mendapatkan ”kesembuhan” dari dukun atau tokoh “agama dunia” ini.

KKR haruslah diadakan tanpa janji-janji apapun. Baik itu kesembuhan ataupun pelayanan dari artis-artis terkenal. Adalah lebih baik bila melibatkan pelayan-pelayan Allah yang memang diurapi untuk itu. Penyampaian firman Tuhan harus menjadi focus utama dari KKR tersebut dan kesembuhan ilahi haruslah menjadi buah dari iman, bukan sebaliknya menjadi fokus yang dicari jemaat.

Tuhan kita mampu menyembuhkan semua penyakit yang ada di dunia ini. Bahkan itu terlalu kecil bagi-Nya. Namun yang harus jemaat ketahui adalah tidak semua penyakit yang kita derita harus disembuhkan Tuhan, ada kalanya penyakit itu memang lebih baik ada pada diri kita. Karena apapun yang terjadi pada diri kita orang percaya, semua atas seijin Tuhan. Seperti apa yang dialami rasul Paulus dalam ayat berikut :

II Korintus 12

12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.

Dalam terjemahan bahasa sehari-harinya sbb:

12:7 Tetapi supaya saya jangan terlalu sombong karena penglihatan-penglihatan yang luar biasa itu, saya diberikan semacam penyakit pada tubuh saya yang merupakan alat Iblis. Penyakit itu diberikan untuk memukul saya supaya saya tidak menjadi sombong.

Saudara yang terkasih, haruslah kita sadari bahwa KKR bukanlah sarana untuk mendemonstrasikan kesembuhan yang berasal dari Tuhan. Tuhan kita Yesus Kristus tidak pernah mendemonstrasikan mujizat-Nya. Karena itu sudah selayaknyalah di dalam menghadiri KKR, bukanlah kesembuhan dari penyakit kita yang kita cari. Tetapi carilah pertumbuhan iman, dan buah dari iman itulah yang akan menyembuhkan kita. Sekali lagi, jangan selalu diartikan dalam kesembuhan fisik!

Rasul kita Paulus, di dalam kesadarannya akan kehendak Tuhan telah mengalami kesembuhannya sendiri. Bukan fisik! Tetapi rohaninyalah yang terutama disembuhkan. Demikianlah juga seharusnya pada diri kita, sembuhkanlah rohani kita dan janganlah segala sesuatu dinilai dari yang terlihat, fisik! Hal ini dapat kita temui di ayat berikut :

II Korintus 12

12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Jadi saudara, saya tidak mengatakan KKR yang di dalamnya turut menjanjikan kesembuhan itu jelek, tetapi alangkah baiknya kalau jemaat yang menghadiri KKR tersebut lebih difokuskan pada pemberitaan firman Tuhan, sehingga mereka lebih mengenal Tuhannya dan apa kehendak-kehendak-Nya.

Sedikit informasi, ada juga orang yang telah mengikuti KKR yang menitik beratkan pada penyembuhan fisik, mengalami kekecewaan karena ternyata setelah didoakan berkali-kali, mereka tetap tidak sembuh juga. Bahkan mungkin ada yang telah meragukan tentang kesembuhan dengan cara seperti ini dan menganggap sebagian orang yang telah disembuhkan di dalam KKR seperti ini pada dasarnya hanya mengalami sugesti saja. Artinya apa ini? Artinya orang tersebut sudah tidak percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan seseorang dengan cara demikian (melalui penumpangan tangan pada KKR)

Dan bila ada suara sumbang yang mengatakan “kesembuhan yang didapat pada KKR itu tergantung pada tingkat keimanan yang bersangkutan pada Tuhan”, ini lebih celaka lagi. Karena mungkin saja sebagian jemaat dapat bersikap munafik dengan seolah-olah merasa sembuh, agar dapat dipandang sebagai orang yang memiliki tingkat keimanan yang baik.

Selain itu, sebagian orang yang benar-benar sembuhpun – terutama orang yang baru mau mengenal Kristus – tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya setelah masa KKR berakhir. Hal ini karena biasanya semua orang yang mengikuti KKR tersebut tidak didata apapun, sehingga tidak ada identitas apapun yang dapat digunakan untuk menghubungi yang bersangkutan dalam rangka memberikan bimbingan rohani lebih lanjut. Sehingga wajar saja kalau mereka kembali kepada rutinitas kehidupan mereka semula. Karena begitu KKR selesai, maka selesailah segala sesuatunya. Keberhasilan hanya diukur berapa banyak yang hadir tanpa melihat berapa banyak yang telah memahami firman Tuhan, dan bagaimana tindak lanjutnya kepada petobat-petobat baru.

Jadi sama seperti ayat pembuka di atas, bahwa orang yang telah disembuhkan tidak semuanya kembali kepada Tuhan Yesus Kristus. Hanya satu orang saja dari sepuluh orang yang telah mendapatkan kesembuhan fisik yang kembali kepada Tuhan Yesus Kristus, demikianlah juga yang banyak terjadi pada KKR-KKR yang hanya menitik beratkan pada kuasa mujizat kesembuhan saja. Karena itu Saudara, carilah kesembuhan rohani. Karena hanya kesembuhan rohanilah yang dapat membuat kita semua kembali kepada Tuhan Yesus, bukan kesembuhan fisik!

Alangkah baiknya mulai sekarang, apabila jemaat hanya mencari kesembuhan rohani pada KKR dan jangan lagi hanya terpaku pada kesembuhan fisik. Juga konsep KKR sudah seharusnya diluruskan kembali kepada arti dari konsep itu sendiri yaitu Kebaktian Kebangunan Rohani. Dengan demikian, akan ada masanya dimana semua peserta dari suatu KKR akan dengan suka cita mengatakan “saya sembuh atau tidak sembuh dari penyakit saya, Yesus adalah tetap Tuhan saya!”

Halleluyah…..

Yakobus  1

1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

Pelaku firman, artinya kita bertindak dinamis. Jangan statis! Sehingga dengan demikian kita tidak akan mengalami kelesuhan rohani lagi serta hanya menggantungkan kesegaran rohani kita pada KKR saja.

KKR itu baik, tetapi akan lebih baik lagi bila kita menjadi pelaku firman karena dengan begitu akan ada air hidup yang mengalir dalam diri kita dan akan selalu membuat rohani kita segar.

Yohanes 4

4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."

Salam dalam kasih Yesus.
Semoga sharing ini bermanfaat bagi kita semua.

Amin.

Transfer Energi….Bolehkah?

Transfer energi sering dianggap sebagian orang sebagai "tenaga Ilahi", apakah benar demikian? baiklah kita kupas baik-baik supaya jangan lagi ada anak-anak Tuhan yang beranggapan demikian.

Sebagian orang Kristen mungkin masih tidak mempersalahkannya.
Apa yang melatar belakanginya? Mungkin saja karena kemampuan yang didapat dari ajaran ini adalah untuk penyembuhan. Toh menyembuhkan berbagai penyakit merupakan suatu pekerjaan baik bukan?

Jawabannya   May….maybe yes, maybe no! (he..he… ngutip dari suatu iklan)

Begini, … sebagai orang Kristen yang baik sudah seharusnya kita memandang segala sesuatu berdasarkan iman Kristen kita. Jangan sekali-kali kita memandang semua itu dengan kaca mata dunia, yang walaupun kelihatannya baik, tapi tanpa kita sadari ternyata telah menipu kita.

Mungkin saja ada orang Kristen yang akan bilang begini… bukankah ada ayat yang mengatakan segala sesuatu itu dilihat dari buah yang dihasilkannya…? Lantas kalau menyembuhkan diri sendiri atau orang lain dari sakitnya itu kan buah yang baik?

O…oh.…hati-hati! Ayat itu tidak salah, yang salah adalah kalau semua yang baik itu hanya dilihat dengan cara duniawi, atau hal-hal yang kelihatan baik tapi ternyata kebaikan yang semu.

Saya ambil contoh begini, seorang dukun “hebat” juga dapat melakukan penyembuhan (walaupun cuma tipuan – untuk mengetahui lebih jauh saudara dapat mempelajari buku-buku rohani yang mengupas tentang bahaya okultisme) tetapi lantas apakah dukun yang “hebat” tersebut dapat dikatakan orang baik yang hidup dalam Tuhan…? Kalau tidak, mungkin sekali dia hidup di dalam setan! Tapi dia melakukan hal yang “baik” bukan? Yaitu menyembuhkan seseorang? Setidaknya itu pandangan orang-orang kan?

Nah, kemampuan untuk menyembuhkan yang sejati di dalam dunia memang hanya ada satu sumber, yaitu dari Tuhan. Tetapi setanpun dapat menipu kita seolah-olah sembuh, jadi tidak ada salahnya kalau kita sebagai orang Kristen harus selektif dan peka terhadap semua masalah dilingkungan kita, agar anak-anak kita dan bahkan kita sendiri tidak menceburkan diri pada jalan yang justru menjerumuskan kita.

Baiklah, sekarang kita bahas bagaimana “Transfer Energi”, yang tidak jarang juga diklaim sebagian orang sebagai tenaga “ilahi” ini dapat kita kelompokkan.

Untuk mendapatkan kemampuan penyembuhan melalui “Transfer Energi” ini kita harus mendaftarkan diri dulu pada penyelenggara  latihan ini dengan membayar sejumlah uang sebagai uang pendaftaran, uang masuk, uang bergabung, uang iuran atau uang apalah namanya yang tidak perlu kita bahas….. yang penting  “ u a n g “ dan bukan kertas koran. Setuju sampai di sini…?

Selanjutnya, siapapun yang mendaftar baik orang Islam, Katolik, Budha, Kong hu cu, Hindu, Kristen, atau….seorang yang ateis dan bahkan penjahat, penipu, pembunuh, penzinah sekalipun dapat menjadi anggotanya. Yang penting piti / alias uang itu tadi disetor….pas!, tidak boleh kurang kalo lebih, dianjurkan….sampai di sini kita masih setuju kan…?

Lebih lanjut terjadilah proses belajar mengajar seperti yang diajarkan oleh pengajarnya, maka dalam waktu yang telah ditentukan oleh pengajar, apabila dilakukan secara benar menurut ajaran pengajarnya, maka murid-murid yang terdiri dari berbagai latar belakang seperti yang diuraikan di atas tadi akan memperoleh kemampuan penyembuhan tersebut melalui apa yang disebut “Transfer Energi”. Apa benar keterangan ini..? mohon maaf kalau ada yang meleset.

Jadi kalau kita uraikan secara singkat sebagai berikut :

Uang + Agama apapun + Ikuti perintah pengajar = Lulus.


Coba kita renungkan lagi, apa mungkin sesuatu yang berasal dari Tuhan (transfer energi tersebut) dapat dimiliki oleh semua orang dengan latar belakang seperti di atas? Apabila Tuhan yang benar itu milik orang Islam, sudah barang tentu kalangan mereka saja yang dapat memilikinya. Begitu juga sebaliknya dengan orang Budha, Hindu, dan seterusnya.

Dan kalau Tuhan yang benar itu adalah Tuhannya orang Kristen, apa mungkin orang non Kristen dapat menjadi perantara bagi jalannya mujizat penyembuhan Tuhan yang maha kudus tersebut? Belum lagi kalau kita kaitkan dengan seorang pembunuh, penipu, pezinah dan sebagainya yang sudah barang tentu dapat juga memiliki tenaga penyembuhan “Transfer Energi” tersebut?

Kisah Para Rasul 19

19:13. Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu, mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: "Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus."
19:14 Mereka yang melakukan hal itu ialah tujuh orang anak dari seorang imam kepala Yahudi yang bernama Skewa.
19:15 Tetapi roh jahat itu menjawab: "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?"
19:16 Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka.


Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang yang tidak percaya kepada Tuhan yang benar tidak mungkin dapat dipakai Tuhan sebagai perantaranya. Jadi kalau dia dapat melakukan sesuatu yang sepertinya berasal dari Tuhan, sesungguhnya itu bukan dari Tuhan.

Fakta lainnya adalah nabi Musa, yang walaupun begitu diurapi oleh Tuhan, dia tidak dapat melalukan mujizat sesuka hatinya kapan mujizat itu akan dia nyatakan dihadapan orang….no, tidak! Nabi Musa tetap menunggu perintah dari Tuhan sebagai pemilik mujizat tersebut.

Bagi anggota perkumpulan “Transfer Energi” begitu gampangnya mereka kalau mau melakukan suatu proses penyembuhan yang mereka inginkan, seolah-olah begitu patuhnya penyakit itu pada mereka? Kapan saja mereka mau melakukannya dapat mereka lakukan. Mereka dapat bebas menentukan kapan waktu dan tempat untuk melakukan demonstrasi penyembuhan.

Sementara tidak demikian pada nabi Musa. Padahal melalui nabi Musalah hukum Taurat diturunkan Tuhan, jadi apakah nabi Musa masih kurang layak jika dibandingkan dengan semua anggota perkumpulan “Transfer Energi” yang sudah memiliki kemampuan penyembuhan, transfer energi, transfer penyakit dan lain-lainnya itu?

Lantas koq banyak juga di antara mereka yang meninggal karena penyakit yang tidak dapat disembuhkan, kalau mereka memang dapat melakukan penyembuhan melalui kekuatan mereka sendiri di dalam mentransfer energi?

Hati-hati kita sebagai umat Kristen, Alkitab mengatakan :

Yeremia 17

17:5. Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

Pada dasarnya kita ini lemah, bahkan untuk berdoa saja kita tidak mampu.

Roma 8

8:26. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Untuk mendapatkan kemampuan “Transfer Energi” seseorang harus membayar sejumlah uang, namun apa kata Alkitab agar kita dapat memiliki anugrah Allah ?

Kisah Para Rasul 8

8:17 Lalu Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka ke atas orang-orang Samaria itu; maka mereka menerima Roh Allah.
8:18 Simon melihat bahwa karena tangan rasul-rasul diletakkan ke atas orang-orang itu, Roh Allah diberi kepada mereka. Karena itu Simon membawa uang kepada Petrus dan Yohanes,
8:19 lalu berkata, "Berilah kepada saya kuasa itu juga supaya kalau tangan saya diletakkan pada siapa saja, orang itu akan menerima Roh Allah."
8:20 Tetapi Petrus menjawab, "Celakalah kau dan uangmu! Kaukira pemberian Allah dapat dibeli dengan uang?

Sakit penyakit kita sudah ditanggung oleh Kristus,

Matius 8

8:17 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."

Maka dari itu Saudara, tidak sepantasnya kita datang pada perkumpulan yang mempelajari “Transfer Energi” ini semata-mata hanya karena kita ingin mendapatkan kemampuan penyembuhan dengan cara transfer energi, hati-hati dengan imanmu !

Transfer energi bukan ajaran Kristen. Ajaran ini sesat di dalam iman Kristen. Jika jemaat ingin tahu lebih banyak tentang transfer energi atau sejenisnya seperti ilmu tenaga dalam menurut iman Kristen, jemaat dapat menghubungi Pendeta kita atau kesaksian-kesaksian dari Ev. Daud Tony atau mungkin petobat lain yang memiliki latar belakang okultisme.

Semoga Tuhan menberkati kita semua.

Amin.

Ilalang Di Ladang Gandum


Matius

13:24. Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.
13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.
13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?
13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?
13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.
13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."


Saudara yang terkasih, di dalam perumpamaan ini jelas tuan pemilik ladang tidak menginginkan agar para hambanya mencabut lalang yang turut tumbuh diladang gandum. Sebabnya cuma satu, jangan-jangan batang gandum itu sendiri yang akan ikut tercabut.

Perumpamaan ini adalah perumpamaan tentang kerajaan Sorga, maka jelaslah tuan pemilik ladang itu adalah gambaran dari Tuhan sendiri dan para hambanya tidak lain adalah para malaikat Tuhan, lalu gandum adalah umat Allah dan lalang adalah orang-orang dunia ini.

Nah, sampai di sini timbul satu pertanyaan, apakah memang Tuhan kita dan para malaikat-Nya sampai tidak tahu membedakan antara umat-Nya dengan orang-orang dunia ini, sehingga Tuhan kita sampai melarang malaikat-Nya yang ingin mencabuti “lalang” tersebut? Mengapa Tuhan kita harus menunggu sampai tiba waktu menuai? Bukankah Tuhan kita maha tahu? Bukankah Tuhan dan para malaikatnya berbeda dengan seorang tuan tanah dan para pembantunya, yang adalah manusia biasa? Yang didalam keterbatasannya sebagai manusia mungkin saja tidak dapat membedakan mana batang gandum dan mana batang ilalang dengan baik.

Saudara yang terkasih, pertanyaan di atas dapat saja muncul atau mungkin ditanyakan oleh sebagian orang. Dan sebagai orang percaya sudah selayaknya kita harus dapat menjelaskan hal-hal demikian kepada orang tersebut, terlepas apa motivasi atas pertanyaannya tersebut apakah untuk kebaikan atau untuk menjatuhkan iman orang percaya.

Sebagaimana yang kita baca di atas bahwa perumpamaan ini diberikan sendiri oleh Tuhan Yesus, sudah tentu ada penjelasan logisnya yang dapat kita mengerti. Di sini akan coba kita jabarkan penjelasannya, terlepas apakah Saudara mempunyai pengertian Saudara sendiri.

Benih gandum dan lalang yang tumbuh memang sangat mirip, bagi kita manusia sangat mungkin sekali sulit membedakannya satu sama lain. Namun tidak demikian halnya bagi Tuhan kita, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kita untuk membedakan keduanya.

Jadi bila demikian apa yang melandasi Tuhan kita untuk menunggu sampai pada hari menuai tiba baru akan mencabut lalang-lalang tersebut dan membakarnya? Penafsiran kami sederhana dan semoga ini benar, yaitu bahwa sebagian dari “lalang-lalang” tersebut akan berobah menjadi tanaman gandum, atau dengan kata lain, sebagian dari “lalang-lalang” tersebut pada dasarnya adalah gandum yang sekarang “terlihat” atau yang sekarang dalam kondisinya sebagai ilalang.

Apapula pengertian dari penjelasan ini?

Begini Saudara, “lalang-lalang” yang disebut dalam ayat di atas tidak lain adalah orang-orang yang belum percaya dan pada saat ini masih menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Merekalah ilalang yang dimaksudkan.

Namun sebagaimana yang kita ketahui bahwa untuk dapat diselamatkan, manusia diberi kehendak bebas untuk memilih. Artinya tidak ada paksaan bagi manusia untuk memilih jalan mana yang akan ditempuhnya, apakah jalan yang menuju kebinasaan ataukah jalan yang menuju kepada kehidupan kekal, hanya manusia yang bersangkutan sendiri yang memutuskannya, bukan orang tuanya, bukan pula anak istrinya, dan bukan juga Tuhan, akan tetapi dirinya sendirilah yang menentukan itu, menerima jamahan Roh Kudus atau menolaknya.

Kalau sekarang orang yang diluar Kristus hidup dengan segala konsekwensi pilihannya ada di dunia ini, maka dialah yang sekarang ini sedang hidup sebagai “ilalang” dalam ladang gandum Tuhan. Orang yang demikian ini akan tetap tumbuh sebagai “ilalang” dan akan tetap begitu sampai akhir hayatnya jikalau dia tetap tidak bertobat hingga ajal menjemput. Jadi boleh dikatakan bahwa dialah “lalang-lalang” yang dimaksud.

Apakah orang-orang seperti ini yang diusulkan oleh “hamba-hamba tuan pemilik ladang pada perumpamaan di atas” untuk dicabut dari ladang? Iya, benar sekali!

Tetapi masalahnya tidak sesederhana itu. Ilalang yang sekarang ini sedang tumbuh memang amat mengganggu, bahkan bukan tidak mungkin ilalang tersebut banyak menyebabkan benih-benih gandum disekitarnya mati terhimpit. Mungkin kita akan berpikiran sama seperti hamba-hamba tuan ladang tadi bahwa kalo itu memang gulma, parasit dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan gandum tumbuh kerdil, tidak subur dan bahkan mati, maka sebaiknya dibasmi saja karena hanya akan merugikan.

Tetapi kembali pada alenia di atas bahwa untuk dapat diselamatkan, manusia diberi kehendak bebas. Saudara yang terkasih, saat ini mungkin memang mereka hidup sebagai ilalang yang hanya menyebabkan gandum terhimpit. Akan tetapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Banyak di antara “lalang-lalang” tersebut yang telah berubah menjadi gandum yang bermutu baik – karena mungkin – pada dasarnya mereka memang benih gandum yang baik, hanya sekarang mereka masih terlihat hidup sebagai ilalang.

Banyak contohnya disekitar kita, seperti Yusuf Roni, Akmal Sani, Bambang Nurseno, Muhammad Filemon dan masih banyak yang lainnya, bahkan mungkin diri kita sendiri! Mereka semua dulunya hidup sebagai “lalang-lalang” di ladang gandum seperti di atas. Tetapi justru sekarang merekalah yang menjadi batang gandum yang gemuk, dan berbuah baik. Tuhan kita tahu yang terbaik. Dia tahu persis kapan harus mencabut ilalang yang benar-benar “ilalang”.

Hal ini amat sejalan dengan firman Tuhan berikut ini :

Yehezkiel

33:11 Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

Akhir kata, semoga sharing kita ini dapat berguna bagi menambah pengetahuan kita akan firman Tuhan sebagai sesama rekan seiman.

Syalom

GBU.

Dapatkah Alkitab Dipahami Sepenuhnya?


Pertanyaan ini, mungkin akan dijawab oleh sebagian orang dengan kata “Sulit”. Jawaban ini, bila dijawab oleh orang-orang yang belum mengenal Kristus, bisa jadi dapat dimaklumi. Namun ternyata bukan begitu. Justru malah banyak orang-orang yang mengaku dirinya Kristenlah yang memberikan jawaban seperti itu. Ada apa ini? Apakah memang Tuhan kita menurunkan firman yang memang tidak dapat kita pahami?

Padahal Alkitab kita juga sudah diterjemahkan kedalam bahasa kita sendiri. Walaupun untuk itu (Alkitab diterjemahkan kedalam berbagai bahasa) menimbulkan kasus lain bagi sebagian orang yang meragukan Alkitab kita sebagai firman Tuhan. Sehingga mungkin saja mereka menganggap kalau kitab suci yang lebih berwibawa adalah kitab suci yang tetap menggunakan bahasa aslinya. Boleh-boleh saja beranggapan demikian. Namun Alkitab diterjemahkan bukan tanpa maksud.

Baiklah, pertama-tama kita tangkap dulu konsep kata Bapa di dalam Alkitab kita. Di dalam Alkitab, bahkan Tuhan Yesus sendiri sering menggambarkan Allah Bapa disorga sebagai gambaran seorang “bapak pada anaknya”. Bagaimana kasih seorang bapak pada anaknya, dan seterusnya, dan seterusnya.

II Korintus  6

6:18 Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.

Pendek kata, gambaran Bapa di sorga adalah gambara seorang bapak kepada anak-anaknya. Jadi kalau seorang bapak yang ada di dunia ini tahu berbuat yang terbaik bagi anak-anaknya, apalagi Bapa kita yang ada di sorga.

Matius  7

7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.

Saudara yang terkasih, sekarang apa yang dapat kita pahami dari ayat-ayat tersebut di atas? Apakah ini semua relevan dengan judul yang sedang kita bahas?
Baiklah sekarang kita mulai masuk pada penjelasan yang lebih mengarah.
Mengapa Alkitab kita boleh diterjemahkan kedalam berbagai bahasa yang ada di dunia ini?

Jawabannya cuma satu, agar semua umat Kristen dapat memahami Alkitabnya sendiri dengan baik. Bagaimana mungkin dapat kita memahami dengan baik Alkitab kita sendiri bila Alkitab kita ditulis dengan bahasa yang tidak dapat kita mengerti dengan baik? Kita sebagai orang Indonesia sendiri terkadang masih sulit untuk memahami bahasa Indonesia yang baku dengan baik. Itulah kenapa bahasa Indonesia diajarkan mulai dari bangku SD, mungkin TK sampai dengan perguruan tinggi, itupun masih banyak orang yang mendapat nilai jelek! Alias tidak dapat menguasai bahasanya sendiri dengan baik.

Dapat dibayangkan kalau kita harus mempelajari Alkitab dengan bahasa asalnya untuk dapat memahami isinya yang adalah firman Tuhan yang harus diketahui oleh manusia.

Dengan diterjemahkannya Alkitab kedalam bahasa yang dapat kita mengerti justru telah membuktikan bahwa firman Tuhan ini siap untuk diuji. Karena tidak ada sesuatu yang dapat disembunyikan lagi dari setiap kita yang mau mempelajarinya. (tidak ditutupi dalam kemasan bahasa yang tidak dapat kita pahami).

Artinya di sini Saudara, bila ada ayat-ayat Alkitab yang justru menjerumuskan atau menjebak kita untuk masuk ke neraka, maka sudah jauh-jauh hari kita akan menolak ajaran ini. Mengapa? Karena semua ayat yang ada di dalam Alkitab ini dapat kita pahami, dengan bahasa kita sendiri, bahasa ibu kita, jadi dapat kita mengerti karena tidak ada yang tersembunyi.

Dengan demikian, kebenaran dari ajaran yang ada pada Alkitab adalah kebenaran yang terbuka dengan jelas, tanpa ada satu titikpun yang dapat disembunyikan dari para pengikutnya. Semua terpampang sangat jelas dan semua dapat memahaminya dengan baik.

Sebagai ilustrasi kita gambarkan sebagai berikut, mungkin saudara pernah mengikat suatu perjanjian kerja sama, kontrak, atau lain sebagainya. Jika di dalam perjanjian tersebut terdapat pasal-pasal yang mungkin akan merugikan kita, biasanya hal tersebut akan ditulis sekecil mungkin di dalam kontrak, atau berusaha disembunyikan dengan cara meletakkan pasal-pasal, atau kalimat-kalimat tersebut di tempat-tempat yang tidak menyolok dan menarik perhatian. Mungkin juga dikemas dalam bahasa asing. Hal ini diharapkan supaya pihak yang akan menderita kerugian tersebut luput memperhatikan pasal-pasal bermasalah ini.

Jadi dalam hal ini, jika kita dapat memahami isi Alkitab dengan bahasa kita sendiri, bukankah kita terhindar dari “membeli kucing dalam karung?”. Dan memang untuk keselamatan kita setelah kematian, kita tidak boleh berspekulasi. Harus ada jaminan yang pasti untuk selamat.

Sekarang konsekwensi apa yang kita hadapi selanjutnya? Sudah jelas bahwa Alkitab kita dapat kita baca dan pahami dengan bahasa kita. Tetapi masih juga – walaupun telah ditulis dengan bahasa kita – ada bagian-bagian yang belum dapat kita mengerti dari firman Tuhan yang ada di dalamnya. Jadi kalau ini terjadi, apakah memang firman Tuhan ini tidak dapat kita pahami sepenuhnya?

Saudara terkasih, yang mau saya katakan di sini adalah bahwa Alkitab, adalah firman Tuhan yang sepenuhnya dapat kita pahami. Alkitab terbuka bebas, apapun yang kita rasakan perlu untuk dipertanyakan, maka tanyakanlah itu. Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang tidak boleh dipertanyakan, selama kita belum dapat memahaminya, maka tanyakanlah itu.

Konsep apa yang melatar-belakangi pemikiran demikian? Seperti ayat yang tersebut di atas pada Matius 7:11, kalau kita yang jahat saja tahu memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita, apalagi Bapa kita di sorga.

Alkitab menurut hemat saya diberikan oleh Bapa untuk manusia, bukan untuk malaikat. Karena itu Alkitab dalam bahasa aslinyapun ditulis dalam bahasa manusia. Saya akan memberikan ilustrasi sedikit untuk ini :

Jika saya sebagai ayah yang baik bagi anak saya, maka saya harus tahu apa kebutuhan anak-anak saya. Dan jika sekarang ini anak saya masih duduk di bangku TK karena sesuai dengan usianya, maka sudah barang tentu sayapun akan memberikan buku-buku pelajaran untuk anak usia TK dan bukannya memberikan buku-buku kimia tingkat SMA ataupun perguruan tinggi. Itu kalau saya bertindak sebagai ayah yang baik bagi anak saya.

Walaupun buku anak TK yang saya berikan pada anak saya, bukan berarti anak saya akan dapat memahaminya sendiri dengan baik. Dia tetap perlu bimbingan dari saya, atau guru TK-nya. Nah, dalam hal ini saya telah bertindak benar.

Jadi jika saya yang manusia dunia ini saja tahu apa yang baik bagi anak saya, apalagi Bapa di sorga. Bapa jauh lebih memahami kemampuan dan kebutuhan umat manusia. Karena itu jikalau Alkitab diberikan Tuhan untuk manusia, maka sudah pasti manusia manapun, akan dapat memahami apa yang mau disampaikan Tuhan melalui firmannya di Alkitab.

Yang jadi masalah, jikalaupun ketika kita membacanya dan kita tidak mendapatkan pemahaman yang benar bahkan sampai saat ini, maka janganlah kita sampai melupakan ayat yang justru harus menjadi acuan kita di dalam usaha untuk memahami Alkitab, yaitu:

I Yohanes  2

2:27 Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.


Yohanes  14

14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Dengan demikian, Saudara terkasih, jika kita mengalami benturan untuk memahami firman Tuhan di dalam Alkitab, bertanyalah kita pada “di ilustrasi saya di atas – pada guru kita” yaitu Roh Kudus yang ada pada setiap orang percaya. Karena sesuai dengan I Yohanes 2:27 dan Yohanes 14:26 di atas, bahwa segala sesuatunya akan diajarkan oleh Roh Kudus pada kita.

Jangan pasif! Aktiflah dengan giat mempelajari firman Tuhan di Alkitab dan tanyakanlah pada Roh Kudus. Percayalah pada Roh Kudus, karena hanya Dialah yang dapat mengajarkan kita dengan kebenaran yang sejati.

Roh Kudus akan menjawab kita dengan berbagai cara, bisa dengan mendengarnya langsung – seperti pada nabi Samuel, bisa dengan mendapatkan pemahaman atas apa yang tidak kita mengerti di dalam hati, bisa juga melalui bacaan, kesaksian, penjelasan gembala bahkan teman kita sendiri, dan lainnya. Kepekaan kita untuk mendengar suara Roh Kudus  tergantung pada kedekatan dan kerinduan kita pada Roh Kudus itu sendiri.

Kita tidak akan dapat mengenali suara orang-orang yang terdekat dengan kita sekalipun di telepon, bila kita tidak pernah menerima telepon dari mereka. Namun bila kita sering menerima telepon dari mereka, walaupun mereka tidak memperkenalkan dirinya, kita sudah tahu dengan siapa kita berbicara. Demikian juga halnya hubungan kita dengan Roh Kudus, kita harus rajin-rajin berkomunikasi dengan Roh Kudus melalui doa, apabila kita ingin memiliki kepekaan yang baik untuk mendengar suara Roh Kudus.

Jadi untuk memahami Alkitab, tidak ada seorangpun dari kita yang dapat memahami kebenarannya jikalau hanya mengandalkan hikmat kita sendiri. Seperti ada tertulis :

I Korintus  1

1:21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, ………dst.

Dalam Alkitab bahasa sehari-hari

1:21 Karena bagaimanapun pandainya manusia, ia tidak dapat mengenal Allah melalui kepandaiannya sendiri……..dst.

jelas hikmat dunia tidak akan dapat mengenal Allah. Tuhan Yesus turun ke dunia agar kita dapat mengenal Bapa melalui Injilnya. Hanya itu satu-satunya jalan untuk dapat mengenal Bapa, tapi untuk itu kita membutuhkan hikmat yang bukan berasal dari dunia ini. Dan untuk mendapatkan hikmat yang bukan berasal dari dunia ini kita cuma dapat memintanya pada Bapa.

Yakobus  1

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

I Korintus  2

2:13 Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.

Sekarang dapatlah kita simpulkan bahwa Alkitab, akan dapat kita pahami sepenuhnya karena Alkitab telah diberikan Bapa kepada kita umat manusia dan bukannya kepada para malaikat, sehingga apapun yang ada tertulis pada Alkitab pasti dapat kita pahami.

Namun untuk dapat memahaminya, kita harus dapat memiliki hikmat yang bukan berasal dari dunia ini. Mintalah hikmat itu pada Bapa seperti firman-Nya di Yakobus 1:5 dan tanyakanlah segala sesuatu yang tidak dapat kita mengerti pada Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran yang akan mengajarkan kita segala sesuatunya.

Diakhir sharing ini saya ingin menyampaikan satu ayat yang menguatkan

II Korintus 1

1:13 Sebab kami hanya menuliskan kepada kamu apa yang dapat kamu baca dan pahamkan. Dan aku harap, mudah-mudahan kamu akan memahaminya sepenuhnya,

Akhir kata semoga sharing kita ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Apabila ada pemahaman yang lebih baik dari sharing kita ini, silahkan Saudara terkasih mengimaninya.

GBU.

Haruskah Setia Pada Gereja Lokal ?


Ada kasus menarik yang pernah terjadi, dimana kasus seperti ini mungkin saja banyak terjadi di antara kita, bahkan mungkin juga pada diri kita sendiri.

Suatu saat misalkan ada seorang kristen dari denominasi tertentu yang karena satu dan lain hal, membuatnya harus berpindah daerah kediaman. Sebenarnya ini bukanlah hal yang salah karena selama kita masih hidup dan mencari nafkah di dunia ini, apapun dapat saja terjadi termasuk harus meninggalkan kampung halaman kita.

Konsekwensi dari berpindahnya daerah kediaman sudah barang tentu juga kita harus menghadapi lingkung yang juga baru, teman-teman baru, dan juga tempat berjemaat di gereja yang juga baru bagi kita. Sangat mungkin sekali denominasi gereja yang adapun berbeda dengan denominasi dari tempat gereja kita yang dahulu.

Nah, seorang kristen ini, karena memang tidak dapat menemukan gereja dengan denominasi yang sama seperti pada daerah asalnya, telah memutuskan untuk tidak berjemaat pada gereja manapun yang ada pada daerahnya yang baru tersebut…. Mungkin, inilah bentuk kesetiaan yang dapat dia tunjukkan pada denominasi gereja yang pernah dia ikuti….. Good…very nice…! But is that true ?

Baiklah mari kita ulas apakah ini sebagai contoh yang patut ditiru oleh kita orang-orang yang percaya, sebagai bentuk kesetiaan jemaat pada “gerejanya”. Hati-hati Saudara, karena tidak sedikit “para gembala” pada gereja-gereja tertentu yang telah mengajarkan orang percaya yang berjemaat ditempat mereka untuk tetap setia hanya pada gereja lokal atau denominasi yang bersangkutan saja!

Saya memberikan tanda kutip pada para gembala di atas karena terus terang, status yang bersangkutan sebagai gembala yang benar amat sangat diragukan, jikalau masih memberikan pemahaman yang menyesatkan pada orang-orang percaya, terlepas apa motivasi yang ada dibalik itu.

Pertama-tama kita kupas terlebih dahulu apa yang dinamakan dengan gereja menurut Alkitab. Dalam Alkitab versi King James yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam bahasa sehari-hari kata “gereja” terdapat hanya dalam 1 ayat saja, yaitu pada :

Matius  16 (bahasa sehari-hari)

16:18 Sebab itu ketahuilah, engkau adalah Petrus, batu yang kuat. Dan di atas alas batu inilah Aku akan membangun gereja-Ku, yang tidak dapat dikalahkan; sekalipun oleh maut!

Pada terjemahan resminya sbb:

16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Dalam hal ini jelas yang dimaksud gereja-Ku adalah jemaat-Ku. Artinya gereja adalah jemaat! Bukan gedung gereja, apalagi denominasi!

Dalam versi inggrisnya sbb:

16:18 And I say also unto thee, That thou art Peter, and upon this rock I will build my church; and the gates of hell shall not prevail against it.

Jadi church di sini bukanlah gedung gereja. Mungkin hal ini dapat kita perjelas lagi dengan ayat yang lain, yaitu pada :

Kolose  4

4:15 Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara di Laodikia; juga kepada Nimfa dan jemaat yang ada di rumahnya.

Versi inggrisnya

4:15 Salute the brethren which are in Laodicea, and Nymphas, and the church which is in his house.

Mungkinkah ini gedung gereja?
Ok, jika kita telah sepakat pada hal ini, bahwa gereja yang sesungguhnya adalah jemaat dan bukan gedung, bangunan ataupun denominasi gereja yang ada disekitar kita, mari kita melangkah ketahap selanjutnya. Yaitu tentang kesetiaan!

Kesetiaan memang hal yang dituntut oleh Tuhan kepada kita orang-orang percaya. Tetapi yang perlu kita cermati adalah kesetiaan kepada siapa yang Tuhan tuntut dari kita. Adakah kesetiaan itu untuk jemaat, gedung gereja atau denominasi?

Kisah Para Rasul  11

11:23 Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan,

Hanya pada Tuhan Yesus saja kita harus setia. Alkitab telah menjawabnya dengan sangat jelas. Hanya kepada Tuhan Yesus kita perlu setia sampai mati!

Dasar iman kita semestinya jelas. Sebagai orang percaya, kita hanya beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Dan bukan kepada gedung gereja atau denominasi gereja  manapun, apalagi kepada seorang pendeta! Kalau kita beriman kepada Tuhan Yesus, maka seyogyanya dimanapun Tuhan Yesus diagungkan, kita layak berjemaat di sana. Mau denominasi A ataupun denominasi B.

Memang ada sebagian “aliran kristen” yang sebenarnya bukan kristen, bukan umat Kristus, yang justru menyesatkan disekitar kita. Hal ini tidak dapat disangkal karena Alkitabpun telah memperingatkan kita.

Kisah Para Rasul  20

20:30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.

Namun demikian, janganlah lantas kita terlalu curiga dalam segala hal. Bukankah di dalam diri kita orang percaya ada berdiam Roh Kudus? Rohlah yang akan mengajarkan kita segala sesuatunya. Saya tidak mengatakan bahwa apa yang telah diajarkan para gembala kita salah, namun segala sesuatunya haruslah kita sandarkan hanya kepada Tuhan Yesus saja. Semua pengajaran yang tidak Alkitabiah atau tidak sesuai dengan Alkitab, sudah seharusnya kita tolak! Walaupun itu diajarkan oleh seorang gembala sekalipun.

Saya tertarik dengan suatu cerita yang pernah saya baca.

Kisah ini menceritakan tentang seorang petobat baru. Suatu ketika petobat baru ini kedapatan sedang begitu asiknya membaca dan mempelajari Alkitab seorang diri. Hal ini tidak luput dari perhatian seorang “gembala” (pendeta) gereja tempat dia berjemaat. Gembala tersebut mendekati petobat baru itu dan menegurnya bahwa tidaklah baik bagi dia untuk mempelajari sendiri isi Alkitab tersebut seorang diri, karena akan banyak hal-hal yang membingungkan yang akan dia temui di dalam Alkitab tersebut. Dan kalau ini terjadi dikhawatirkan petobat baru tersebut akan tersesat.

Jadi, - saran sang gembala - adalah lebih baik bila Alkitab itu biarlah para gembala saja yang mempelajarinya sedangkan jemaat, termasuk petobat baru ini, cukup bertanya dan mendengarkan pengajaran dari para gembala ditempat dia berjemaat. Hal ini untuk mencegah penafsiran yang keliru, kurang lebih begitu saran sang gembala.

Wow!, suatu saran yang cukup baik, bila kita tidak cukup peka menerimanya. Tetapi apa jawaban petobat baru tersebut.

Petobat baru tersebut menjelaskan bahwa dia adalah seorang peternak sapi perah yang baru mengenal Tuhan Yesus. Suatu ketika, mungkin sebelum pertobatannya, dia pernah jatuh sakit dan sama sekali tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Untuk itu dia telah mengupah seseorang untuk memerah susu sapi miliknya seperti yang selama ini dilakukannya.

“Tetapi apa yang telah saya dapatkan?” tanyanya pada gembala tersebut. Ternyata susu sapi yang telah diserahkan padanya oleh orang upahan tersebut adalah susu sapi yang telah dicampur dengan air. Tidak murni lagi!

Karena itu petobat tersebut bertekad, jika dia menginginkan pemahaman Alkitab yang murni, maka dia harus mengambilnya sendiri dari sumbernya. Yaitu Alkitab itu sendiri. Bukan dari para gembala, yang siapa tahu, apa yang diberikannya itu telah dicampur dengan “air”, yaitu dogma-dogma dari denominasi tertentu, disadari ataupun tanpa disadari oleh gembala yang bersangkutan.

Saudara terkasih, kalau kita mengaitkan cerita di atas dengan topik pembahasan kita tentang berjemaat pada denominasi atau gereja yang berbeda, maka mungkin sekali kita pernah mendengar kotbah sebagian dari “gembala” yang menekankan supaya jemaatnya jangan berpindah gereja. Pengajaran seperti ini Saudara, sama sekali tidak terdapat pada Alkitab. Pengajaran seperti itu sama sekali tidak Alkitabiah. Inilah susu yang telah dicampur air tersebut.

Mungkin saja ada di antara kita yang pernah berusaha mempelajari sendiri firman Tuhan dari sumbernya, Alkitab! Namun mungkin benar apa kata “gembala” tadi bahwa banyak hal-hal yang sulit untuk dimengerti yang ditemui di dalamnya. Lalu apakah ini berarti saran gembala tersebut benar?... Sudah tentu tidak!

Memang tidak salah bila kita memerlukan bimbingan untuk dapat memahami firman Tuhan, namun kita juga bebas untuk mencari dari sumbernya sendiri yaitu Alkitab. Dan apabila bimbingan yang kita dapatkan dari gembala terasa tidak lagi Alkitabiah, kita harus dapat menolaknya.

Pemahaman Alkitab yang murni tidak berasal dari para gembala, tetapi justru berasal dari Roh Kudus. Karena Rohlah yang akan mengajarkan kita segala sesuatunya, asalkan kita benar-benar rindu akan pengajaran-Nya. Para gembala yang sejatipun hanya dipakai oleh Tuhan sebagai salah satu sarana-Nya untuk memberikan pengertian yang benar tentang firman-Nya, namun para gembalapun mendapatkan pengertian akan firman Tuhan itu dari Roh Kudus juga. Jadi dapat disimpulkan Roh Kuduslah yang mengajarkan segala sesuatunya kepada kita orang-orang percaya. Dan Roh Kudus dapat bekerja pada siapapun tidak hanya pada para gembala saja. Seperti ayat berikut ini :

I Yohanes  2

2:27 Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu--dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta--dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.

Yohanes  14

14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Jadi sebagai orang percaya sudah seharusnyalah kita menyandarkan segala pengajaran yang ada, pada Alkitab. Jangan takut tidak dapat memahami firman Tuhan (mohon Saudara baca “kumpulan sharing buku I” pada judul Dapatkah Alkitab Dipahami Sepenuhnya?). Sekarang seharusnya kita dapat memahami bahwa berpindah gereja ataupun denominasi bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan.

Hal ini semata-mata hanyalah masalah kepribadian kita saja. Sebagian orang mungkin cocok berjemaat di gereja yang beraliran hikmat, namun sebagian orang lagi mungkin lebih bertumbuh imannya bila dia berada di lingkungan jemaat yang beraliran kharismatik. Boleh-boleh saja, selama gereja yang dituju adalah gereja Tuhan kita, Yesus Kristus! Dan tanda yang khas pada gereja Tuhan adalah...., Tuhan Yesus diagungkan di sana.


Semoga Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Amin.

“Doa Kutukan” Manusia.


Pernah ada seorang teman menanyakan kira-kira begini, “Bagaimana bila ada seorang yang non Kristen menyumpahi atau mengutuki orang lain atau anaknya sendiri yang dirasanya telah durhaka daaaan...............  kutukan itu terjadi!, apakah hal ini tidak dapat dijadikan bukti kalau tuhan mereka benar?”. Alasannya, tentu saja karena “doa” orang tersebut terkabul.

Wah,… satu pertanyaan yang sempat mengelitik saya juga, Saudara. Ini cukup menarik. Kenapa saya katakan demikian? Karena ternyata memang banyak hal demikian yang terjadi di sekitar kita. Benar-benar dalam kehidupan nyata dan bukan cuma dalam cerita yang ada di sinetron.

Pertama saya mau menjelaskan mengapa saya menggunakan istilah “doa kutukan” dan bukannya “kutukan” saja. Hal ini tidak lain dikarenakan mereka yang telah mengutuk tersebut merasa bahwa mereka telah memintanya kepada tuhan yang mereka sembah, bukan kepada setan. Bukankah meminta segala sesuatu kepada Tuhan harus melalui doa? Terlepas tuhannya itu benar-benar Tuhan atau bukan.

Sebagian orang yang telah mengutuk itu malahan merasa bahwa “doa” mereka telah didengar tuhannya. Dan hal ini dapat semakin memperburuk keadaan orang yang bersangkutan, dimana dia dapat lebih menyakini ajaran yang telah dianutnya. Memang ini adalah hak asasi masing-masing orang, namun bila keadaan ini turut juga mempengaruhi orang-orang percaya akan sangat berbahaya.

Sekarang sebagai orang percaya, bagaimana kita menyikapi semuanya ini? Apakah dengan terkabulnya “doa kutukan” mereka itu, dapat berarti tuhan mereka bisa mendengarkan “doa” umatnya? Mengabulkan “doa” umatnya? Dan yang lebih penting lagi apakah ini berarti tuhan mereka benar? Kalau tidak benar, lalu mengapa “doa” umatnya yang teraniaya atau lebih tepatnya yang merasa teraniaya itu dapat terkabul? Bukankah ini dapat berarti tuhan mereka mampu membela umatnya?

Saudara terkasih, berhati-hatilah kita dalam menilai segala sesuatu. Tidak semua yang terlihat “baik” menurut kulitnya, berarti adalah kebenaran. Alkitab mengatakan, segala sesuatu akan dikenal dari buahnya. Bukankah kebenaran yang sejati terkadang malah terasa pahit dan menyakitkan? Untuk mengenal kebenaran tidak jarang pula kita harus di hajar.

Yeremia  31

31:18. Telah Kudengar sungguh-sungguh Efraim meratap: Engkau telah menghajar aku, dan aku telah menerima hajaran, seperti anak lembu yang tidak terlatih. Bawalah aku kembali, supaya aku berbalik, sebab Engkaulah TUHAN, Allahku.

Untuk membahas perkara “doa kutukan” di atas, pertama-tama kita kupas terlebih dahulu apa yang melatar belakangi “doa kutukan” tersebut sampai dipanjatkan, “didoakan”, dilontarkan atau apalah istilahnya......
Sebagian besar dari beberapa kasus yang ada, hal ini biasanya dipicu karena adanya seseorang yang merasa sakit hati karena suatu sebab, baik karena dia merasa sebagai orang yang telah diperlakukan dengan tidak adil, merasa dihianati, teraniaya, ataupun karena merasa iri hati atas keberhasilan orang lain yang sama sekali tidak mereka sukai.

Jadi di sini Saudara, faktor-faktor “doa kutukan” ini dilepas memang tidak selalu karena yang melepaskan “doa” ini berada pada posisi yang benar, teraniaya dan lemah, bahkan dimata hukum duniawi sekalipun. Tidak jarang “doa kutukan” ini dipanjatkan hanya dikarenakan masalah iri, dengki, bahkan kemarahan yang bisa jadi orang yang bersangkutan itu sendiri yang bersalah. Namun karena untuk memanjatkan “doa kutukan” ini memang tidak ada ketentuan siapa yang berhak, maka setiap orang dapat saja melemparkan kutukannya. Setiap orang!, baik orang yang merasa dirinya benar, ataupun lawannya yang merasa dirinya…juga benar! Karena itu tidak jarang kita melihat orang-orang yang berada disekitar kita, kalau sedang terlibat suatu pertengkaran….mereka saling mengutuki satu sama lain.

Timbullah suatu pertanyaan, apakah kutukan orang yang tidak benar dapat juga terkabul? Ataukah hanya orang yang “benar” saja yang kutukannya terkabul? Sama halnya bila ada dua orang yang bersumpah, maka pihak yang selamat dari sumpah tersebut dapat dianggap sebagai orang yang tidak bersalah? Jadi dalam hal ini dapatkah dianggap, orang yang  kutukannya sukses menimpa lawan tandingnya dapat diperlakukan sebagai orang yang benar? Wah, runyam banget ya?

Masalah kutukan siapa yang paling sukses ataupun berhasil, sama sekali bukan dasar bagi kita untuk menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Sama sekali bukan! Baik si A maupun si B yang terkena kutukan lawannya sama saja. Yang jelas dan sangat jelas di sini, ada seorang manusia lagi yang hidupnya telah dihancurkan oleh suatu kuasa, yang bekerja dengan tidak berlandaskan kasih!

Alkitab mengatakan, semua manusia berdosa. Tidak ada yang benar, seorangpun tidak ada. Tidak saya dan tidak juga Saudara atau seorangpun di dunia ini.

Roma  3

3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.

Jadi dalam hal ini dapat kita simpulkan bahwa kutukan siapapun yang terjadi, baik orang yang mengutuk maupun yang dikutuk adalah sama tidak benarnya. Di mata Tuhan tidak ada yang benar baik yang mengutuk maupun yang dikutuk. Semua sama berdosanya, semua sama salahnya dan sekali lagi, semua sama layaknya untuk dikutuk dan untuk masuk neraka!

Dan kalau itu sandarannya, atas dasar apakah “tuhan” yang telah mengabulkan kutukan itu dapat dikatakan Tuhan yang benar? Bukankah semua orang itu sudah berdosa dan tidak ada yang benar di mata Tuhan? Dan bukankah Tuhan itu adil?

Wahyu  16

16:7 Dan aku mendengar mezbah itu berkata: "Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu."

Dan karena Tuhan itu adil, maka tidak ada seorangpun yang dapat luput dari penghakimannya. Dan karena keadilannya itu juga maka Dia dapat menghukum kita semua tanpa terkecuali.

Kalau dikaitkan dengan ulasan kita di atas, kepada orang yang memberi kutukan ataupun yang di kutuk, semua layak terkena kutukan itu jika benar kutukan itu dari Tuhan yang benar. Bahkan bukan cuma mereka, kitapun termasuk didalamnya. Mengapa demikian? Karena baik yang mengutuk maupun yang dikutuk, semuanya adalah orang yang tidak benar di hadapan Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan yang benar dapat mengabulkan ”doa” yang jahat seperti ini sementara orang yang ber”doa”nyapun adalah orang yang jahat, penuh dengan kebencian? Apa memang demikian kehendak Tuhan?

I Tesalonika  2

2:12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

I Petrus 2

2:15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.
2:16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
2:17 Hormatilah semua orang, kasihilah Saudara-Saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Saudara, mengingat tidak ada “Kasih” di dalam diri manusia yang melakukan kutuk mengutuk, apakah mungkin bila kutukan itu terjadi, dapat dikatakan kutukan itu berasal dari Tuhan? Saudara dapat menilainya sendiri.

Jadi perbuatan siapakah sebenarnya bila ada kutuk yang menimpa seseorang karena telah dikutuki orang lain? Dalam buku kesaksian dari Sdr. Mukendi, seorang mantan tukang sihir dari benua Afrika yang telah bertobat, seratus persen dari kutuk-kutuk yang pernah terlontar dari seseorang kepada orang lain dilaksanakan dengan suka cita oleh kuasa-kuasa kegelapan, yaitu kaki tangannya iblis.

Yohanes  8

8:44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Dan rancangan Tuhan kita justru rancangan yang penuh suka cita, damai sejahtera dan ini amat bertentangan sekali dengan kutuk mengutuk. Adakah seseorang mengutuki orang lain dengan mengatakan “semoga engkau menjadi kaya raya, menjadi bahagia, mengalami damai sejahtera?”. O..ho..ho, ini doa berkat bung! Bukan “doa kutuk”.

Yeremia  29

29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Kutuk, dimana-mana mendatangkan celaka. Karena itulah karakteristik dari kutuk itu sendiri. Dan sesuatu yang mendatangkan celaka itu bukanlah berasal dari Tuhan yang benar. Mengapa demikian? Karena memang rancangan Tuhan untuk kita bukanlah rancangan yang mendatangkan celaka. Apakah ini hanya berlaku bagi orang Kristen saja? Tidak! Ini berlaku umum.

Mungkin saja ada sebagian orang yang bingung akan mengatakan, “bukankah janji rancangan damai sejahtera seperti di atas tertulis dalam Alkitab? Kitab sucinya orang Kristen? Artinya cuma buat orang Kristen donk…?”. Kesimpulan demikian menurut saya tidaklah tepat. Mengapa?

Pertama, Alkitab bukanlah diperuntukkan bagi orang Kristen saja, tetapi bagi semua orang berdosa. Kita dan juga mereka! Kumpulan kita orang-orang yang telah percaya karena pemberitaan Injil inilah baru kemudian disebut Kristen. Jadi Alkitab, yang di dalamnya tercakup janji Tuhan di atas, adalah untuk kita semua orang-orang berdosa yang mau menerima kabar baik itu, yaitu Injil dan mau menerima rancangannya.

Kedua, Tuhan sama sekali tidak berkenan terhadap kematian orang-orang berdosa. Selama seseorang hidup sebagai orang berdosa, selama itu juga Tuhan tidak menginginkan kematiannya. Memang kematian di sini dapat diartikan dalam dua pengertian, yaitu secara fisik/jasmani dan rohani. Namun kalau Tuhan saja tidak berkenan terhadap kematian manusia secara rohani, sudah tentu juga Tuhan tidak berkenan terhadap kematian manusia secara fisik pada saat orang tersebut masih hidup di dalam dosanya. Sebab Tuhan yang benar adalah Tuhan yang menginginkan pertobatannya dan bukan kematiannya.

Seperti ada tertulis :

Yehezkiel  18

18:32 Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!"

Yehezkiel  33

33:11 Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

Saudara terkasih, kutuk bukanlah sesuatu yang baik. Tidak ada satu kebaikanpun yang dapat dihasilkan dari kutuk seorang manusia. Karena setiap kutuk yang dilontarkan oleh setiap manusia, akan dilaksanakan dengan suka cita oleh kuasa-kuasa kegelapan, bukan oleh Tuhan yang benar.

Karena itu sudah seharusnya dapat kita mengerti bahwa jika ada seseorang yang karena satu dan lain hal telah mengutuki orang lain demi tuhannya dan kutuk itu terkabul, hal ini justru telah membuktikan sendiri bahwa tuhan yang mereka sembah tersebut, tuhan yang telah mengabulkan “doa kutuk” mereka tersebut, bukanlah Tuhan yang benar.

Saya tidak mengatakan Tuhan yang benar tidak kuasa mendatangkan kutuk. Segala sesuatu mampu Tuhan lakukan termasuk berkat dan kutuk. Namun seperti ulasan kita di atas tadi, Tuhan yang benar tidak berkenan terhadap kematian orang fasik, dan rancangannya bagi setiap kita adalah damai sejahtera. Artinya sekali lagi, Tuhan yang benar tidak mungkin mendatangkan kutuk kepada seseorang hanya dikarenakan permintaan dari seseorang yang juga sama jahat dan berdosanya, terlebih lagi bila kutuk itu sampai mendatangkan maut dan menyebabkan tertutupnya pintu pertobatan bagi orang yang terkena kutuk tadi untuk bertobat dari hidupnya yang jahat. Sebab Tuhan itu adil! Penuh kasih.

Kita sebagai orang percaya tidak perlu takut akan kutuk-kutuk yang dilontarkan oleh orang-orang yang belum mengenal Kristus kepada kita. Darah Yesus Kristus Tuhan kita melindungi kita dari semuanya itu. Sebab ada janji Tuhan yang melindungi kita dari setiap kutuk, tenung dan mantera yang jahat, yang pada dasarnya sama, dirancang oleh si jahat. Seperti tertulis dalam ayat-ayat berikut :


Bilangan 23

23:23 sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. ...

Galatia  3

3:7 Jadi hendaklah kalian menyadari bahwa orang yang benar-benar keturunan Abraham adalah orang yang percaya kepada Allah.

3:29 Kalau kalian milik Kristus, maka kalian adalah keturunan Abraham. Dan kalian akan menerima apa yang dijanjikan Allah.

Jadi kalau kita ini adalah milik Kristus, maka kita inilah Israel rohani dalam Tuhan. Dan sebagai orang percaya, kita tidak boleh mengutuki seseorang karena hal apapun.

Yakobus  3

3:10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, Saudara-Saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

Roma  12

12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

Nah, Saudara terkasih, janganlah bimbang dengan imanmu. Tuhan yang benar tidak mungkin mengabulkan kutuk dari orang yang juga berdosa terhadap sesamanya.
Mungkin saja Saudara banyak mendengar dari orang-orang disekitar Saudara yang telah memberikan kesaksian tentang kutuk yang sukses, dan kemudian membangga-banggakan tuhan yang mereka sembah sebagai Tuhan yang benar karena telah mengabulkan “doa” mereka yang jahat. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada sesuatu yang jahat yang berasal dari Tuhan.


Semoga sharing kita ini bermanfaat.

Syallom…