Translate

Tampilkan postingan dengan label book 04. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book 04. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Agustus 2012

Santa Claus


Bulan Desember adalah bulan yang penuh suka cita. Terutama bagi anak-anak kristen dimana mereka merasa bahwa tidak lama lagi mereka semua akan merayakan natal bersama keluarga mereka. Perayaan ini sebenarnya memperingati kelahiran Yesus Kristus ke dunia ini. Namun begitu, sebenarnya masih banyak kontroversi tentang perayaan natal yang selama ini selalu dirayakan oleh umat kristen di seluruh dunia ini.

Beberapa sumber bahkan pernah membicarakan tentang perayaan natal ini sebagai bagian dari perayaan kaum pagan tempo dulu. Namun begitu, sekarang ini perayaan natal sudah bukan di tujuhkan pada perayaan kaum pagan lagi, tetapi sudah bergeser menjadi perayaan untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus. Meskipun menurut sumber-sumber tertentu, tentang kelahiran Yesus sendiri tidak ada bukti kuat terjadi di tanggal 25 Desember.

Bagi saya pribadi, sebenarnya boleh-boleh saja seseorang merayakan hari kelahiran Yesus di tanggal 25 Desember tersebut. Yang penting disini adalah bagaimana orang-orang yang merayakannya itu, melakukan semuanya demi kemuliaan Tuhan. Semua hari adalah ciptaan Tuhan, karena itu silahkan saja Saudara menggunakan hari mana saja yang menurut Saudara baik buat merayakan kelahiran Tuhan Yesus.

Jika lantas Saudara sekarang bilang, bagaimana bila saya merayakannya di tanggal 3 Maret sebagai hari kelahiran Yesus? Apakah boleh demikian? Menurut saya,.... silahkan saja. Yang penting semua itu Saudara lakukan dengan iman. Dan jangan ragu-ragu! Bila Saudara ragu-ragu dalam melakukannya,..... hal ini baru tidak benar. Sebab apapun yang Saudara lakukan dengan perasaan ragu, maka pada dasarnya Saudara melakukan itu tidak berdasarkan iman.

Roma  14
14:23 Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.
Baiklah Saudara, saya di sini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kapan pastinya kita sebaiknya merayakan natal. Karena bagi saya untuk membahas masalah ini diperlukan penelaahan lebih lanjut. Yang mau saya titik beratkan dalam pembahasan kita kali ini adalah tentang Santa Claus yang hampir dapat dipastikan akan selalu muncul dalam setiap perayaan-perayaan natal baik di rumah-rumah orang kristen, maupun di gedung-gedung gereja.

Apa itu sebenarnya Santa Claus dan apa efek yang dapat ditimbulkannya?

Apakah ini semacam mascot saja dalam perayaan natal? Atau memang ada hal tertentu di balik semua ini? Mungkinkah ini hanya dongeng, atau memang ada historisnya dalam sejarah kekristenan tempo dulu?

Apapun pendapat Saudara akan hal ini, satu hal yang pasti adalah,.... arti dari natal itu sendiri bagi anak-anak kita sudah mulai bergeser sekarang. Pernahkan Saudara sadari bahwa belakangan ini anak-anak kita lebih mendambakan kedatangan Santa Claus di hari natal dari pada memahami arti  natal itu sendiri?

Pada setiap rumah orang-orang kristen, hampir selalu saya jumpai hal-hal yang berbau Santa Claus. Entah itu gambarnya, sepatunya atau bahkan topinya...... hampir semua pernak-pernik natalpun sudah terkontaminasi oleh Santa Claus. Seolah-olah, pada bulan Desember itu adalah bulan demam Santa Claus saja. Para orang tua berlomba-lomba mempercantik pohon natalnya dengan berbagai hiasan Santa Claus. Mungkin, tanpa hiasan itu pohon natalnya dirasakan kurang menarik.

Lalu apakah semua ini salah Saudara?

Sebagian orang bilang, “Tidak ada yang salah koq dengan semuanya itu!”

Bukankah Santa Claus adalah tokoh yang baik? Tidak seperti nenek sihir, Santa Claus justru di cintai oleh anak-anak. Tokoh ini menggambarkan bagaimana baik hatinya dia, dalam merayakan natal bersama anak-anak. Dia akan dengan suka cita membagi-bagikan berbagai hadiah kepada setiap anak. Bukankah tokoh seperti ini sama sekali tidak ada contoh negatifnya?

Cukup banyak orang tua yang tidak mempermasalahkan tokoh satu ini. Bahkan mereka yang mendukung keberadaan tokoh ini sangat banyak, meskipun mereka menyadari bahwa tokoh ini sebenarnya lebih dekat kepada tokoh dongeng dari pada historis, namun mereka tidak perduli. Sebagai bentuk dukungan mereka, maka mereka tidak segan-segan berdandan seperti layaknya tokoh yang satu ini. Bedanya mereka tidak dapat memiliki rusa terbang tentu saja.....

Sekarang bagaimana kita harus menyikapi hal demikian? Apakah memang tokoh satu ini tidak berbahaya?

Saudara terkasih,..... sebaiknya kalau kita mau menilai sesuatu, janganlah kita terpengaruh dengan banyak atau sedikitnya dukungan pada kita. Penilaian yang objektif tidak mengikuti arus orang banyak. Tetapi penilaian yang subjektif justru sebaliknya.

Karena itu dalam hal ini saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjelaskan hal ini secara objektif. Namun pada akhirnya silahkan Saudara menentukan sikap Saudara sendiri. Apapun yang akan Saudara lakukan adalah sepenuhnya hak Saudara.

Menurut apa yang saya pahami, Santa Claus adalah tokoh yang sangat berbahaya bagi kehidupan kekristenan. Mengapa? Sebab tokoh ini selain memperlihatkan sisi “baiknya” dalam rupa kedermawanan dengan membagi-bagikan kado untuk setiap orang, ternyata tidak sedikit sisi gelapnya yang di sembunyikan dari banyak orang, atau mungkin lebih tepatnya yang tidak disadari oleh banyak orang.

Tokoh ini, banyak mengandung magic. Tidakkah Saudara sadari bahwa hampir dalam segala hal yang menyangkut tokoh ini selalu di balut dalam kemasan manis yang bernama magic?

Pada saat tokoh ini digambarkan sedang mengendari rusa terbang.... apa yang dapat kita katakan atas keberadaan rusa terbang ini? Bukankah segala hal ini identik dengan sapu terbang yang selalu di gambarkan pada nenek-nenek sihir? Dimanakah Saudara dapat menjumpai rusa yang dapat terbang?

Belum lagi bagaimana tokoh ini digambarkan sebagai tokoh yang hidup abadi. Saat eyang buyut kita masih kecil, diapun sudah mendapatkan gambaran tentang tokoh ini dalam rupa yang sama seperti yang kita lihat di masa kini. Yaitu kakek tua berjenggot putih. Kakek ini, biarpun tua, ternyata usianya jauh lebih panjang dari eyang buyut kita. Mengapa? Karena eyang buyut kita sudah meninggal ternyata tokoh satu ini masih aktif “mengantarkan” kado-kado sama seperti waktu eyang buyut kita masih anak-anak. (bukankah anak-anak menganggap tokoh ini benar-benar masih hidup? Minimal itulah gambaran yang diberikan orang tua pada anak-anaknya secara tidak langsung.) tokoh ini ternyata hidupnya abadi. Mau menyamai Tuhan mungkin yah?

Pada saat Santa Claus ini memasuki rumah orang-orang untuk mengirimkan kadonya pada malam hari, apakah tokoh satu ini memasuki rumah itu dengan mengetuk dan melalui pintu rumah yang bersangkutan? Tidak! Tokoh ini selalu di gambarkan memasuki rumah-rumah dengan melalui cerobong asap. Sekarang coba Saudara pikirkan dengan logika Saudara yang logis, mungkinkah tokoh yang digambarkan bertubuh tambun ini dapat melakukan itu semua? Jelas sekali itu adalah hal yang mustahil kalau tidak mau dikatakan sebagai hal yang ajaib. Bagaimana mungkin tokoh ini dapat melakukan itu semua kalau lagi-lagi tidak dibalut oleh magic.

Seorang pria dewasa yang kurus saja akan mengalami kesulitan untuk dapat memasuki sebuah cerobong asap, apalagi seseorang yang bertubuh tambun seperti yang selalu digambarkan pada tokoh Santa Claus. Belum lagi kalau digambarkan bahwa tokoh satu ini melakukan itu semua dalam waktu satu malam. Wah........

Dan yang paling berbahaya Saudara, hanya gara-gara tokoh yang satu ini, para orang tua dengan suka citanya melakukan kebohongan-kebohongan pada anak-anak mereka. Kalau Saudara peka, tidakkah Saudara sadari bahwa cukup banyak orang tua yang mengatakan di malam natal pada anak-anak mereka “cepat tidur, nanti malam Santa Claus akan datang membawakan kado buat kamu....”

Besoknya.... anak-anak memang mendapatkan kado yang mereka inginkan. Pertanyaan saya, pada saat anak-anak ini bertanya pada orang tuanya apa benar kado-kado ini diberikan oleh Santa Claus, apa kira-kira jawaban dari orang tuanya? “ bukan nak, itu kado dari kami.” ?

Jelas Saudara yang melakukan itu semua akan menjawab tidak. Saudara semua tentu akan berbohong!..... “ iya, itu dari Santa Claus!” dan segala macam kebohongan tambahan untuk menyakinkan pada anak Saudara bahwa itu memang dari Santa Claus, yang diberikan kepada anak-anak yang baik, yang patuh kepada orang tua dan sebagainya.

Bagaimana mungkin Saudara sebagai orang tua dapat begitu tega membohongi anak-anak Saudara sendiri yang adalah darah daging Saudara sendiri? Seandainya kebohongan itu terjadi karena anak kita bertanya pada orang lain, yang sama sekali tidak mengenal Tuhan, mungkin hal ini masih dapat kita terima. Namun ini sebaliknya, orang yang mengakui Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamatnya justru yang melakukan semua kebohongan ini pada anak-anaknya sendiri pula. Hal ini (kebohongan tentang Santa Claus), tidak dilakukan sekalipun pada orang-orang yang belum mengenal Tuhan.

Saudara, disadari ataupun tidak, Saudara telah membohongi seorang anak kecil yang pada dasarnya adalah milik Yesus karena diapun sama seperti Saudara, adalah pengikut Tuhan Yesus.

Ayat berikut mengatakan

Matius  18

18:6 "Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.

Saudara sebagai orang tua, yang telah melakukan itu semua, sebenarnya Saudara telah menggenapi ayat ini. Adalah lebih baik bila Saudara ikatkan pada batu kilangan dan di tenggelamkan ke lautan. Berhati-hatilah Saudara, jangan hanya karena ingin membuat anak Saudara gembira Saudara lalu dapat melakukan apa saja termasuk juga menyesatkan anak-anak Saudara sendiri.

Menyesatkan seorang anak kecil dihadapan Tuhan sungguh suatu kekejian. Saudara mungkin saja tidak menyadarinya bahwa Saudara telah melakukan semua kebohongan dan penyesatan itu. Tetapi baik oleh kesadaran ataupun oleh ketidak tahuan, pada akhirnya Saudara memang telah melakukan itu semua.

Hasil akhirnya jelas, anak Saudara yang tadinya mungkin tidak percaya ataupun ragu-ragu bahwa Santa Claus itu ada, jadi makin yakin akan keberadaan tokoh satu ini, dan besoknya, pada saat mereka berkumpul bersama teman-teman mereka, anak Saudara ini akan dengan bangganya bercerita sama teman-teman mereka bagaimana senangnya dia mendapatkan kado dari Santa Claus.

Kalaupun ada salah satu temannya yang bilang Santa Claus itu tidak ada, itu cuma bohong! Maka dapat Saudara lihat bagaimana dia akan berusaha mati-matian untuk menyakinkan temannya itu bahwa Santa Claus itu memang benar-benar ada. Buktinya dia mendapatkan kado dari “Santa Claus” yang adalah orang tuanya sendiri yang telah menipunya.

Sebagai orang tua, kita harus selektif. Janganlah membohongi siapapun, terlebih lagi anak kita sendiri yang kita kasihi.

Efesus  4

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

Kolose  3

3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,

Tidak ada dusta yang berasal dari Tuhan.

Kalau karena tokoh satu ini kita harus berdusta terhadap anak-anak kita, saya lebih memilih untuk menjelaskannya kepada anak-anak saya bahwa tokoh Santa Claus ini sebenarnya tidak ada. Itu cuma dongeng yang menyesatkan. Dan sebaiknya tokoh satu ini jangan lagi ada dalam ingatan ataupun hayalan anak-anak kita.

Mungkin saja ada orang tua yang mencoba membela diri dengan mengatakan itukan cuma sekedar dongeng. Jadi mengapa terlalu di permasalahkan? Sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan tentang dongeng itu sendiri. Namun efek yang dapat ditimbulkan dari “dongeng” semacam inilah yang menjadi fokus saya. Selama dongeng itu tidak mengandung “sisi gelap” yang dapat ditimbulkannya, itu boleh-boleh saja. Namun bila dongeng itu sudah mengandung pengajaran tentang (magic) sesuatu yang di larang dalam Alkitab, apakah kita masih mau tutup mata?

Tidak percaya? Lihat saja efek dari dongeng tentang Santa Claus ini? Bukankah orang tua jadi berbohong pada anak-anak mereka?

Lagian apa kata Alkitab tentang dongeng-dongeng?

I Timotius  1

1:3 Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain
1:4 ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman.

I Timotius  4

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

Rasul Paulus mengajarkan kepada kita untuk dapat menjauhi dongeng-dongeng. Apa sebabnya? Jelas ada sebab-sebab kuat yang dapat membuat kita harus menjauhi dongeng-dongeng tersebut. Sekarang saya bertanya kepada Saudara, dapatkah Saudara menemukan dongeng yang sama sekali bersih dari unsur-unsur magic? Hampir 100% dongeng-dongeng yang ada selalu mengandung unsur magic.

Karena itu Saudara, mulai dari sekarang janganlah lagi kita dengan penuh suka cita melakukan kebohongan-kebohongan kepada anak-anak kita. Termasuk juga tentang tokoh Santa Claus ini. Tokoh ini memang terlihat baik. Tapi itu kulitnya. Dibalik itu semua ternyata banyak unsur magic yang dapat menyesatkan kita. Saudara yang pernah kecil dan mengalami masa-masa kecil bersama Santa Claus tentu dapat mengerti bagaimana realnya anggapan seorang anak kecil atas tokoh yang satu ini.

Anggapan ini tidak datang sendirinya, tapi kitalah sebagai orang tua yang menanamkannya dengan segala kebohongan kita. Dan karena itu, berarti kita telah menyesatkan seorang anak kecil yang percaya pada Tuhan Yesus untuk juga mempercayai dongeng-dongeng orang tua yang sarat dengan unsur magic di dalamnya. Ini sama saja dengan mengatakan kepada mereka, cintailah magic, itu tidak jahat koq! Wahh.......?

Sebagai penutup, ada juga yang bertanya begini, “lalu bagaimana dengan pohon natal?”

Pohon natal, itu adalah hal yang berbeda dengan tokoh Santa Claus. Pada pohon natal tidak ada unsur magic yang terkandung di dalamnya. Itu hanya semata-mata hiasan di waktu natal saja. Tidak pernah ada cerita apapun yang berkaitan dengan magic pada pohon natal. Pernahkah Saudara mendengar cerita bahwa pohon natal tiba-tiba terbang di angkasa bersama rusa terbang? Atau mungkin pohon natal tiba-tiba berbuah kado-kado cantik? Atau mungkin juga pohon natal tiba-tiba membesar sendiri sampai puncaknya menyentuh langit?

Jelas semua cerita-cerita yang berbau magic tersebut tidak terdapat pada pohon natal. Berbeda dengan tokoh Santa Claus, pohon natal adalah tetap pohon natal biasa. Dia adalah pohon cemara biasa yang ditebang (sekarang banyak pohon natal plastik) dan dibawa masuk ke dalam rumah untuk dihiasi biar terlihat cantik dengan lampunya yang berkelap kelip. Sebagian orang meletakkan beberapa kado (jelas bukan dari Santa Claus) di bawahnya agar terlihat lebih mempercantik tampilan pohon natal ini. Hanya itu!

Dewasalah dalam imanmu!

Syallom......

Memahami Yesus yang manusia dan yang Tuhan.


Memahami Yesus adalah Tuhan memang tidak gampang. Banyak orang yang mengalami kesulitan untuk membedakan dua kodrat dari Yesus. Disatu sisi orang kristen menganggap Yesus adalah Tuhan, tetapi di sisi lain bagi orang yang belum percaya, bagaimana mungkin mereka dapat menganggap Yesus sebagai Tuhan jikalau mereka juga melihat Yesus membutuhkan makanan, minum dan tidur bila Dia lelah. Puncaknya... orang kristen sendiri juga mengakui bahwa Yesuspun pernah mati, walaupun tiga hari kemudian bangkit lagi dari antara orang mati. Layakkah Tuhan mati?

Beberapa ayat di bawah ini juga telah menjadi dilema bagi sebagian orang untuk memahami Yesus sebagai Tuhan.

Matius
24:3 ......... "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?"

24:36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."

Dari bacaan di atas bukankah jelas memberikan pengertian pada kita bahwa Yesus tidak mengetahui kapan terjadinya kiamat..?

Matius
27:46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Bagaimana pula dengan ayat ini? Dalam ayat ini jelas sekali kalau Yesus juga menyatakan sendiri bahwa Tuhan telah meninggalkanNya. Mungkinkah Yesus adalah Tuhan?

Masih banyak sebenarnya ayat-ayat yang dapat memberikan kita pengertian yang serupa seperti di atas.

Jadi kalau begini sebenarnya bagaimana dengan iman kristen? Apakah ini berarti iman orang kristen selama ini salah? Menganggap Yesus sebagai Tuhan ternyata sama sekali tidak Alkitabiah? Kafir donk orang kristen karena sudah mempertuhankan manusia Yesus?

Bukankah Yesus sendiri sudah memberikan indikasi kuat bahwa Dia bukanlah Tuhan melainkan orang biasa karena Dia tidak maha tahu dan kepada siapa pula Dia berteriak “Allah-Ku” kalau Dia sendiri adalah Allah itu?

Jadi kalau demikian, siapakah Yesus itu?

Yohanes
17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Injil Yohanes ini telah memberikan pukulan yang telak bagi iman orang kristen. Bukankah jelas dikatakan di sini bahwa Yesus tidak lebih dari sekedar utusan Tuhan? Sama seperti Tuhan telah mengutus nabi-nabiNya yang terdahulu demikian juga Tuhan telah mengutus Yesus. Lalu mengapa orang-orang kristen malah mempertuhankan seorang utusan Tuhan? Kafirlah orang yang mempertuhankan manusia, bukankah demikian?

Saya sangat setuju dengan pendapat ini. Memang bila kita mempertuhankan seseorang maupun benda misalkan batu, patung dan lainnya pada dasarnya kita telah menyembah berhala. Penyembahan berhala tidak terbatas pada patung saja. Semua benda yang karenanya kita beribadah dan menyembah, baik benda mati maupun benda hidup, pada dasarnya itulah penyembahan berhala.

Nah, dalam iman orang kristen sekarang ini.... mereka telah mempertuhankan Yesus Kristus. Bukankah ini sama saja dengan menyembah berhala? Yang seharusnya disembah itu adalah Tuhan yang mengutus Yesus, bukan Yesus yang diutus Tuhan! Apakah orang kristen diseluruh dunia ini gak melek semua? Masakkan tidak dapat melihat pengertian yang sangat sederhana ini?

Ayat-ayat yang dikemukakan di atas sebenarnya sudah sangat jelas. Tidak perlu lagi untuk ditafsirkan. Hanya orang yang sangat tidak berpengetahuan saja yang tidak dapat melihat arti dari ayat-ayat di atas. Seorang yang buta huruf, jika dia diajarkan membaca dan dia dengan suka cita menerima pengajaran itu, maka dia akan menjadi mahir membaca hanya dalam beberapa bulan saja. Artinya adalah, seseorang yang bodoh sekalipun, jika mau belajar, maka diapun dapat menjadi pintar.

Bagaimana dengan orang kristen? Apakah orang kristen itu bodoh ataukah pura-pura bodoh? Sehingga walaupun mereka dapat membaca, bahkan ada yang membaca Alkitab tiap hari lagi... namun masih juga mereka tidak dapat menangkap pengertian dari ayat-ayat di atas? Karena itu hai orang-orang kristen, atas dasar apa saudara semua masih juga mempertuhankan Yesus Kristus itu?

..........................

Sekarang bila pertanyaan serupa diberikan kepada saya 10 tahun yang lalu... sayapun tidak akan dapat menjelaskan siapakah Yesus itu. Tuhankah Dia? Atau cuma manusia biasa yang memiliki hikmat luar biasa karena dia adalah “utusan Tuhan?”

Mungkin untuk dapat mengenal Tuhan kita Yesus kristus saya rasa tidak akan tuntas dengan hanya membahasnya di sini. Namun demikian, setidaknya melalui logika kita yang terbatas ini, kita dapat berusaha untuk memahami Yesus dari sudut pandang kita manusia (meskipun apa yang dapat kita pahami ini tidak sampai sepersekian persennya). Setidaknya dengan pemahaman kita yang terbatas ini nanti, minimal kita dapat memberikan pemahaman yang sama kepada sesama rekan seiman yang membutuhkan.

Perlu saya tegaskan disini, saya tidak bertanggung jawab bagi orang yang belum percaya untuk mengubah sudut pandang mereka tentang Yesus. Silahkan anda memiliki pemahaman anda sendiri, itu adalah hak anda dan bukan menjadi tanggung jawab saya untuk membuat anda berubah pandangan, tetapi itu adalah tanggung jawab anda pribadi kepada Tuhan. Tugas kami orang-orang kristen cuma memberitakan dan mencoba menjelaskan, itu saja. Apapun keputusan yang anda ambil adalah resiko anda sendiri.  Apa yang kami ulas disini tidak lain hanyalah sharing bagi sesama rekan seiman.

Injil Yohanes mengatakan
1:1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Firman itu adalah Allah. Mungkin agak sulit untuk memahaminya, jadi akan saya ilustrasikan begini :
Bayangkan misalkan sebelum penciptaan alam semesta ini, antariksa dalam keadaan kosong. Tiba-tiba dari salah satu sudut (diumpamakan saja) terdengar suara “Jadilah bumi!”

Itulah Tuhan. Suara itu.... firman itu.... adalah Tuhan sendiri. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan firmanNya. Tanpa firmanNya itu tidak ada yang tercipta. Firman itu adalah Tuhan.

Kalau anda sedang berada dalam kelas, tiba-tiba dari luar kelas terdengar suara seseorang, anda dapat mengatakan bahwa yang berada diluar kelas itu adalah si A. Padahal anda sendiri tidak melihatnya (karena dibatasi tembok). Jadi suara itu identik dengan si A.

Mungkin saja nanti timbul pertanyaan, memang suara itu identik dengan si A, tapi si A bukan suara itu.

Pernyataan ini benar. Suara itu memang suara si A. Dimana ada suara itu (yang dimaksud tentu bukan rekaman) di sana pasti ada si A. Namun si A memang bukanlah suara itu. Jadi dalam hal ini, harus ada si A dulu baru ada suara itu. Itulah sebabnya si A bukan suara itu. Hal ini dapat kita terapkan, tetapi hanya kepada manusia. Tidak kepada Tuhan. Mengapa saya katakan demikian?

Perhatikan ayat di atas.

Yohanes
1:1. Pada mulanya adalah Firman;........

Saudara tahu, pada mulanya adalah Firman..... bukan pada mulanya adalah Allah....

Jadi jelas dalam hal ini bahwa Firman, bukanlah sesuatu yang ada kemudian setelah Allah ada. Firman dan Allah adalah satu. Tidak ada yang lebih dulu dan yang terbelakang. Berbeda dengan manusia yang keberadaannya harus ada lebih dulu.

Jadi sekarang kalau ada yang mengatakan bahwa : “tapi si A bukan suara itu.”, berbanding lurus dengan “tapi Allah bukan Firman itu” jelas... pernyataan demikian tidak dapat diterapkan pada Tuhan.

Inti dari ini semua adalah..... Firman itu adalah Allah. Titik! Bahkan Injil Yohanes 1:1 tersebut sebenarnya tidak memerlukan lagi penafsiran.

Yohanes
1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Firman yang adalah Allah itu sendiri, telah menjadi manusia.

“Tuhan menciptakan manusia dengan Firman.” dan “Firman telah menjadi manusia.” Ini adalah dua hal yang sangat berbeda. Yang satu, sesuatu di ciptakan oleh Firman dan yang lain Firman itu yang menjadi sesuatu (manusia).

Sampai disini sebenarnya sudah cukup bagi kita untuk mempercayai Yesus adalah Tuhan itu sendiri. Tapi dari beberapa ayat terdahulu, sepertinya Yesus sendiri yang mementahkan klaim orang kristen bahwa Dia adalah Tuhan itu sendiri. Bagaimana penjelasan untuk ini?

Baiklah kita bahas lebih lanjut.

Kebanyakan bagi orang yang belum percaya, apabila ada seorang kristen menyebutkan Tuhan Yesus, maka yang terkonsep dalam pikiran mereka adalah gambaran manusia Yesus dengan wajah timur tengahnya (israel) yang disembah oleh orang kristen. Mengapa konsep berfikir demikian otomatis terpaku dalam benak mereka? Ini tidak lain karena mereka tidak mampu melihat Yesus dalam kodrat Ilahinya.

Yesus yang manusia itu adalah benar manusia, sehingga dia butuh makan kalau lapar, butuh tidur kalau mengantuk dan bisa berdarah bahkan mati pada saat disalibkan dikayu salib. Itu semua, yang dapat terlihat oleh orang-orang yang hidup dijamannya adalah benar-benar manusia yang dilahirkan oleh manusia pula.

Perbedaan menyolok yang terjadi adalah dari sudut pandang antara orang kristen dan orang-orang non kristen. Bagi orang kristen, mereka mampu "melihat" Roh yang ada di dalam manusia Yesus itu. Itulah yang memampukan orang kristen memanggil Yesus sebagai Tuhan. Karena Roh Tuhan ada dan berkuasa dalam diri Yesus. Namun bagi orang non kristen, mereka hanya mampu melihat “tubuh” manusia Yesus saja (90% yang dilihat adalah manusianya). Jadi wajar saja jika mereka menyangka orang kristen menuhankan manusia.

Ketidak mampuan orang non kristen untuk membedakan Yesus sebagai Tuhan dan Yesus sebagai manusia ini jelas terlihat dari pemahaman mereka tentang ayat-ayat di atas. Mereka tidak mampu membedakan dua kodrat dalam diri Yesus. Kapan Yesus berbicara sebagai Tuhan dan kapan Yesus berbicara sebagai manusia.

Pada saat Yesus berbicara

Matius
24:3 ......... "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?"

24:36 Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."

Dan ayat-ayat identik lainnya, jelas Yesus sedang berbicara sebagai manusia. Tapi coba saudara bandingkan dengan kata-kata Yesus berikut ini :
Matius
9:2 Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."
9:3 Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah."

Mengapa ahli Taurat dapat berpendapat Yesus menghujat Allah? Ini lain tidak karena para ahli Taurat tahu bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengampuni dosa seseorang selain Allah sendiri. Dan Yesus telah mengatakan itu! Bahwa Dia telah mengampuni orang itu dari dosanya. Yesus secara tidak langsung sudah berkata “Akulah Tuhan yang berkuasa mengampuni dosa” (dikemudian hari, karena alasan ini jugalah para imam Yahudi bersikeras untuk menyalibkan Yesus).

Apakah ini cuma bisa-bisanya Yesus saja (berkata mengampuni dosa) supaya banyak orang yang kagum kepadaNya? Tidak! Yesus berkata demikian bukan dalam rangka mencari perhatian ataupun popularitas pribadi. Yesus berkata demikian karena Dia memang benar-benar Tuhan yang berkuasa untuk mengampuni dosa seseorang. Buktinya ?

Matius
9:6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
9:7 Dan orang itupun bangun lalu pulang.

Inilah bukti itu bahwa kesembuhan memang benar terjadi atas kuasa pengampunan dosa dari Tuhan Yesus. Apakah Yesus waktu menyembuhkan orang lumpuh itu berkata dalam nama Tuhan engkau sembuh? Tidak! Yesus dengan otoritasnya dalam mengampuni dosa, Dia menyembuhkan orang lumpuh itu dengan kuasa dari diriNya sendiri. Mengapa bisa? Karena Dia memang Tuhan! Tidak seperti para nabi sebelum Yesus, didalam melakukan sesuatu perkara selalu mengandalkan kekuatan dari Tuhan, namun Yesus mengandalkan diriNya sendiri.

Ayat Matius 9:1-7 di atas ini adalah contoh dimana Yesus berbicara sebagai Tuhan, penuh otoritas ke ilahianNya.

Yohanes
10:38 tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."

Ini merupakan satu lagi ayat dimana Yesus berbicara sebagai Tuhan. Artinya, Roh yang ada dalam diri Yesus sedang berbicara dalam hakekatNya sebagai Tuhan.

Jadi pada ayat-ayat pembuka makalah kita di atas tadi, sudah seharusnya kita tahu bahwa itulah kata-kata Yesus dalam kondisinya sebagai manusia, Dia yang adalah Tuhan memilih untuk merendahkan diriNya sendiri menjadi manusia dan taat sampai mati.

Mungkin sebagai ilustrasi dapat saya tampilkan disini :
(mengutip dari Hamran Ambrie)
Kita semua pastilah tahu siapa itu jend. Sudirman. Dia adalah seorang jenderal besar yang pernah ada dalam republik ini.

Tapi dalam ilustrasi ini saya mengunakan jenderal yang lain. Katakanlah jenderal Badu.
Misalkan suatu saat jend. Badu sedang berada dikantornya. Karena situasi sedang terjadi perang, maka jenderal kita ini memanggil para kopralnya. Katakanlah kopral A, B dan C.
Ketiga kopral ini datang menghadap sang jenderal. Perintah sang jenderal jelas. “kalian sekarang juga maju ke medan pertempuran! Kita sedang kekurangan kekuatan.”
Pertanyaan saya, jalan tidak ketiga kopral tadi atas perintah jenderal kita? Para kopral itu tahu bahwa maju ke medan pertempuran cuma ada dua kemungkinan, pulang hidup atau pulang tinggal nama!
100% jawabannya para kopral itu akan mematuhi perintah sang jenderal kita. Walaupun mereka tahu bahwa yang menjadi tarohannya adalah nyawa mereka.

Sekarang sang jenderal sudah pensiun, dia datang ke kantor yang sama, memanggil kopral yang sama, dan memberi perintah yang sama.
Pertanyaannya, jalankah ketiga kopral tersebut atas perintahnya? Tentu tidak!
Mengapa? Bukankah perintah yang sama juga keluar dari mulut orang yang sama?

Jawabannya cuma satu, dulu.... yang memerintah adalah JENDERAL dan sekarang yang memerintah adalah Pak BADU, bukan Jenderal lagi. Walaupun perintahnya keluar dari mulut orang yang sama dengan kalimat yang sama, namun kuasanya sudah berbeda. Dulu adalah kuasa Jenderal dan sekarang adalah kuasa manusia Badu.

Dapatkah sekarang kita membedakan kapan jenderal Badu berbicara sebagai Jenderal dan kapan dia berbicara sebagai manusia?

Anggaplah jenderal Badu belum pensiun. Terus dia pulang dari kantor dan minta isterinya untuk memasak sayur asam, sang isteri bisa saja menolaknya dengan alasan “kemaren sudah sayur asam, dua hari yang lalu juga sayur asam.... sekarang aku mau masak sayur lode saja.”
Mengapa sang isteri berani menolak? Karena yang bicara di rumah itu Pak Badu, meskipun dia masih berstatus jendral, tapi tidak menggunakan kuasa jenderal tersebut. Dirumah dia berbicara sebagai seorang suami dari bu Badu, kata-katanya adalah kata-kata seorang suami, tidak ada kata-kata seorang jendral disana.

Sekarang anggap saja jenderal Badu meninggal. Siapa sebenarnya yang meninggal? Jenderalkah? Atau Badukah?
Waktu Yesus disalib, siapakah yang mati dikayu salib? Yesus yang manusiakah? Atau Yesus yang Tuhan (Roh) kah?
Sudah tentu Yesus yang manusia. Lalu kemana yang Tuhannya itu?

I Petrus
3:18. Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,
3:19 dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,

Yesus yang adalah Tuhan (Roh) pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara (bukan penjara dunia). Yang mati adalah jasad manusia Yesus.

Jadi saudara, orang kristen dapat membedakan kapan Yesus berbicara sebagai manusia yang adalah hamba Tuhan semesta yang adalah “utusan” Tuhan semesta dan kapan Yesus berbicara sebagai Tuhan! Yaitu “kuasa Jenderal”.

Orang-orang non kristen paling sulit untuk membedakan hal ini. Saya tidak tahu mengapa? Apakah mereka memang tidak mau tahu atau memang sengaja memaksa diri menyangkalnya. Dan celakanya kalau mereka diberi penjelasan seperti ini, bahkan dilengkapi dengan ilustrasi segala, masih saja ada yang dengan sengaja memilih menutup pintu hatinya, mengapa tidak duduk sebentar, telaah dengan tenang? Itulah mengapa diawal penjelasan saya tadi saya katakan bahwa bukan menjadi tanggung jawab saya untuk membuat mereka dapat mengubah sudut pandangan mereka tentang Yesus. Biarlah itu menjadi tanggung jawab mereka sendiri.

Demikianlah sharing kita yang singkat ini. Semoga dapat menjadi berkat bagi kita semua.
Amin.

GBU.

Apakah kristen benar...?


Kalau ada yang bertanya mana agama yang benar, sebagai orang kristen, sudah tentu saya akan menjawab dengan tegas.... “Kristen donk.....”
Namun, apakah memang benar demikian...? setiap orang yang berbeda agama (secara naluriah) selalu akan menjawab hal yang sama (akan masuk sorga), dan kalau sudah begitu apa lantas semua agama itu benar? Jawaban mereka itu, semuanya didasarkan pada kitab suci mereka. Terlepas apakah itu memang benar-benar kitab suci dari Tuhan, tetapi itulah yang mereka percayai sebagai kitab mereka.

Seandainya mereka cuma menjawab hanya berdasarkan keyakinan (perasaan yakin) saja, hal ini akan mudah bagi kita untuk membantahnya.... tetapi ini semua tertulis dalam kitab yang mereka anggap suci, yang diwahyukan juga oleh “Tuhan” mereka.

Sekarang kalau kita mau jujur, pernahkah kita juga meragukan akan keselamatan dari ajaran dalam agama kita (kristen?). Saudara tidak perlu menjawabnya di sini tetapi jujurlah pada hati sendiri.... sebagian orang, ada yang menjawab pernah... (terlebih bila orang tersebut cukup rasional – tidak mau beriman buta begitu saja).

Memang tidak ada seorangpun yang memaksa kita untuk bertuhankan Yesus. Namun demikian, sudah pasti kitapun tidak mau seperti membeli kucing dalam karung bukan? Bukan berarti kita mengikuti Yesus dengan suka rela terus kita tidak perlu lagi untuk mempertanyakan hal-hal yang kita rasakan sangat mendasar. Ingat! Keselamatan kita dipertaruhkan dalam hal ini.

Bagi saya pribadi, seandainya tidak saya temui jaminan keselamatan dalam mengikuti Yesus, (agama kristen), sudah pasti akan saya tinggalkan agama ini dengan segera, masih ada agama lain yang jauh lebih “menyenangkan”. Namun karena saya dapat menemukan jaminan keselamatan yang sesungguhnyalah dalam kekristenan ini makanya saya tetap setia sebagai pengikut Yesus.

Sekarang, atas dasar apa kita dapat diyakinkan akan keselamatan ini? Kalau jawabannya cuma atas dasar iman saja.... saya rasa semua agama dunia ini memang menuntut hal yang demikian dan kalau itu yang menjadi dasarnya, saya rasa kita akan berjalan berputar-putar kembali ke titik awal lagi.

Bagaimana saya dapat beriman kalau saya masih meragukan akan keselamatan saya melalui jalan (agama X) ini? Dan kalau saya dipaksa untuk yakin akan keselamatan saya melalui jalan ini hanya bila saya dapat beriman dahulu.... artinya saya muter lagi ke pertanyaan semula.

Jadi menurut hemat saya, jika kita dituntut untuk beriman dulu baru kita dapat menyakini akan keselamatan kita melalui jalan ini (agama X), hal ini sama saja dengan memaksa kita untuk menyakini agama tersebut tanpa kita diberikan kesempatan sedikitpun untuk menilainya terlebih dahulu apakah agama ini benar-benar memberikan keselamatan atau hanya agama isapan jempol dimana para pengikutnya hanya dapat menyakini sesuatu yang dia sendiri, pada dasarnya tidak yakin. Dan kalau dia tidak yakin, maka dia dianggap belum memiliki iman yang cukup! Walah......

Kalau demikian standarnya, sayapun dapat menciptakan agama baru yang sesuai dengan apa yang saya inginkan... tinggal bilang saja siapa yang tidak percaya berarti imannya belum cukup... masih harus belajar lagi biar imannya cukup, standar cukupnya apa...? kalau sudah dapat meyakini bahwa agama yang saya buat adalah kebenaran.... gampangkan ?

Tidak sulit bagi saya untuk membuat pengikut saya fanatik dan merasa bahwa "agama" yang saya ciptakan itulah yang paling benar. Cukup dengan membuat mereka percaya buta, buat agar mereka beriman dahulu sebelum mengarang beberapa kebohongan. bukankah kita sering mendengar berbagai ajaran yang pengikutnya sendiri merasa itulah agama dari "Tuhan" yang benar seperti yang terjadi di Jepang misalkan (Aum Shinrikyo), bahkan di indonesia juga tidak sedikit. 
 
Kita percaya Yesus bukan berarti Tuhan ingin kita seperti robot begitu saja. Semuanya sudah terprogram dan buang semua sakwasangka. Tidak! Tuhan ingin kita dapat mempercayai dan mengenal-Nya dengan sepenuh hati dan dengan segala akal budi kita.

Matius
22:37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhan sangat ingin agar kita dapat mengenal-Nya bukan saja melalui iman, namun juga melalui akal budi (pikiran, logika) kita juga. Itulah kenapa Alkitab bebas diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia ini, hal ini lain tidak agar kita dapat memahami Tuhan yang benar itu.

Tuhan yang benar, tidak akan takut untuk dikenal oleh umat-Nya dengan akal budi, justru bila kita dapat mengenal Dia berdasarkan akal budi kita, bukankah itu malah dapat memperkuat iman kita terhadap-Nya? Meskipun harus kita sadari bahwa adalah suatu hal yang mustahil untuk dapat mengenal Tuhan dengan logika kita yang terbatas (sebab logika manusia tidak akan pernah dapat memahami Tuhan yang tidak terbatas), tapi satu-satunya cara bagi kita sekarang adalah dengan logika kita yang sederhana ini, setidaknya kita dapat menilai bahwa apakah benar agama yang kita ikuti ini murni dari Tuhan atau malah sebaliknya, hanya mengaku-ngaku dari Tuhan yang justru bukan dari Tuhan sama sekali.

Logika sederhana itu bagi saya adalah demikian, saya harus tahu lebih dahulu siapa yang menjadi pionir atas agama yang saya anut, kebetulan karena saya menganut ajaran agama kristen yang diajarkan oleh Yesus Kristus, maka sudah tentu saya harus tahu dahulu siapa Yesus ini dalam iman kristen.

Dalam kekristenan, Yesus mengajarkan segala sesuatunya kepada para murid dan juga masyarakat umum dijaman-Nya selama kurang lebih 3 tahunan. Dan melalui pengajaran-Nya itulah kita sekarang dipanggil dan dikenal oleh masyarakat sebagai orang-orang kristen (artinya pengikut kristus).

Didalam ajaran kristen, Yesus bukanlah malaikat..... apalagi manusia biasa..... tetapi didalam kekristenan..... Yesus adalah Allah sendiri..... Tuhan sendiri.... dan Tuhan, tidak dapat berbohong! (sampai saat ini saya belum menemukan klaim serupa dari ajaran lain bahwa pionirnya mengklaim dirinyalah Tuhan)

Jadi pada saat Yesus berkata

Yohanes
14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Maka kata-kata Yesus di atas adalah kebenaran.... tidak ada dusta atau kebohongan di dalamnya. Pada saat Yesus menjamin pengikutnya akan menerima hidup kekal di Sorga, maka kata-kata itu dapat seratus persen dipercaya kebenarannya. Mengapa demikian? Sebab Dia Tuhan dan Tuhan tidak dapat berdusta.

Itulah mengapa saya dapat menyakini kebenaran kristen, karena agama kristen tidak dibawa oleh seorang malaikat apalagi “penerima firman Tuhan”.... tetapi oleh Tuhan sendiri.

Yesus berbicara langsung kepada manusia, tanpa perantara lagi, baik malaikat apalagi “penerima firman Tuhan” sebab Dia sendirilah Tuhan. Dan sekali lagi, Tuhan tidak dapat berbohong.... jadi semua yang disampaikan Yesus kepada kita adalah kebenaran yang seratus persen dapat dipercaya kebenarannya itu.

Sekarang coba kita tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah ajaran kekristenan ini sudah kita pahami sampai pada titik ini? Bahwa ajaran kita diajarkan langsung oleh Tuhan kita tanpa perantara pihak ke-3? Bahwa karena Tuhan sendiri yang mengajarkan segala sesuatunya pada kita, maka semua ajaran-Nya itu layak dan sangat layak untuk dipercaya 100% oleh kita? Bahkan untuk itu juga, Tuhan sendiri sampai memberikan jaminan pada kita untuk dapat memperoleh segala sesuatu atas apa yang telah Dia janjikan pada kita.
 
2 Korintus 
1:22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.
 
2 Korintus 
5:5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.
 
Berhikmatlah saudara jika kita diharuskan untuk berhikmat. Jangan sampai karena ketidak beranian kita untuk memahami Tuhan dengan akal budi kita,..... malahan telah membuat kita jatuh dalam keragu-raguan bahkan dalam perangkap setan.

Informasi yang pernah saya dapat sebagai berikut, Galileo pernah berkata “kalau Tuhan tidak menginginkan kita menggunakan otak kita, mengapa Dia memberikan otak kepada kita?”

Ada banyak jalan menuju Roma tapi tidak buat ke Sorga. Jalan menuju Sorga cuma satu dan itu hanya jalan yang Tuhan sendiri (pemilik sorga) tunjukkan kepada kita, manusia.

Mari bertumbuh bersama dalam iman.

Syallom......

Makan Darah


Sebagai orang kristen, masih bolehkah kita makan darah?
Makanan ini memang enak. Saya sendiri pernah makan darah sewaktu belum menjadi kristen. Dalam kepercayaan saya yang dulu, tidak ada apapun yang dilarang buat dimakan. Saya masih ingat sewaktu kecil. Dulu ayam ras terbilang sangat jarang, apalagi ayam potong tanpa bulu yang dapat kita lihat sekarang ini di pasar-pasar tradisional.

Jadi kalau kita mau makan ayam, maka yang dimasak adalah ayam kampung. Ayam ini pun diolah sendiri dari mulai memotongnya sampai memasaknya. Biasanya sewaktu di potong, darah ayam ini akan di tampung untuk nantinya dimasak juga.

Masakan darah yang menjadi favorit saya dulu adalah darah yang di potong kotak-kotak kecil, dimasak bersama dengan daun kucai dan sedikit buah nanas. Wahh.... masakan itu enak sekali....

Nah, mengingat banyaknya orang-orang kristen sekarang ini bukan cuma hasil dari kelahiran saja,  namun cukup banyak yang merupakan hasil dari pilihan iman, maka sudah tentu memori-memori tentang enaknya makan darah tersebut masih tersimpan dalam kenangan mereka. Sekarang dengan telah menjadi kristen, apa yang sebaiknya kita lakukan? Apakah kita tetap makan darah sesuai dengan kebiasaan kita dulu? Bukankah segala sesuatunya telah di halalkan?

I Korintus

6:12. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

Ayat ini mengatakan bahwa segala sesuatunya adalah halal. Artinya kita tetap dapat makan darah donk?

Yah, memang ayat yang satu ini telah menjadi favoritnya para pemakan darah (vampir.... kali yah?). Sebab ayat ini sepertinya telah membela kepentingan mereka. Sebagai manusia, pandangan kita memang akan sangat positif sekali terhadap apapun yang kita rasakan dapat membela kepentingan kita. Lain halnya bila sebaliknya. Maka kita akan mencoba menelitinya dengan seteliti-telitinya, bukan dengan maksud yang jujur, tetapi moga-moga ada cela yang dapat membenarkan keinginan kita itu.

Ayat ini mengatakan segala sesuatu halal bagiku, namun, tidak semua yang halal bagiku itu berguna bagi kehidupanku. Kalau kita mau jujur, seharusnya kita tidak boleh mengartikannya dari sudut pandang dalam hal makanan saja. Tetapi justru kita harus melihat konteksnya, apa sebenarnya maksud dari ayat tersebut secara menyeluruh. Apakah benar ayat itu membicarakan tentang makanan?

Kita perhatikan ayat ini baik-baik.

I Korintus
6:11 Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.
6:12. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

6:13 Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.

Ayat 12 dan 13 ini Saudara, sama sekali tidak membicarakan topik yang sama. Justru ayat 12 ini sangat berkaitan erat dengan ayat ke 11.

Coba Saudara perhatikan baik-baik. Rasul paulus ingin mengatakan pada kita, bahwa dulunya kita semua hidup dalam perhambaan pada dunia ini meskipun kita tetap mencari selamat dengan berbagai cara. Namun setelah kita di benarkan melalui Tuhan Yesus atau kita telah di merdekakan oleh Tuhan Yesus dari kuk perhambaan itu, maka kita semua sekarang ini telah bebas... menjadi orang merdeka! Sehingga kita tidak lagi hidup dibawah kutuk hukum Taurat.

Dulu, sebelum kasih karunia turun atas kita, segala sesuatunya di atur dalam hukum Taurat. Apa yang harus kita lakukan, apa yang tidak boleh kita lakukan, apa yang dinyatakan halal, haram dan lain sebagainya. Semuanya itu harus dilaksanakan agar kita dapat selamat. Sekarang setelah kasih karunia itu turun atas kita, apapun yang kita perbuat menjadi halal bagi kita. Karena keselamatan kita tidak lagi bergantung pada perbuatan kita, tetapi semata-mata hanya karena kasih karunia Tuhan saja. Hanya saja, seperti rasul paulus katakan, walaupun segalanya itu halal, apa itu berguna bagi kita?

Mungkin akan timbul pertanyaan begini “kalau gitu kita bebas berbuat dosa donk.... kan semua itu jadi halal setelah kita di merdekakan oleh Tuhan Yesus?”............ kita akan sampai pada jawaban pertanyaan ini di akhir dari pembahasan kita di bawah ini. Sekarang saya akan fokuskan dulu tentang ayat di atas.

Pada ayat di atas, mungkin kita akan mengalami kesulitan dalam menangkap arti dari hubungan antara ayat 12 dan ayat 11. Untuk itu baiklah kita coba lihat apa kata Alkitab dalam bahasa indonesia sehari-hari.

I Korintus

6:11 Beberapa di antaramu dahulu berkelakuan seperti itu. Tetapi sekarang kalian dinyatakan bersih dari dosa. Kalian sudah menjadi milik Allah yang khusus. Kalian sudah berbaik kembali dengan Allah, karena kalian percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan karena kuasa Roh dari Allah kita.

6:12. Ada yang berkata bahwa setiap orang boleh melakukan segala sesuatu. Tetapi bagi saya tidak semuanya berguna. Jadi meskipun saya boleh melakukan apa saja, tetapi saya tidak mau membiarkan diri saya dikuasai oleh apa pun.

Inilah inti dari ayat ke 12 itu Saudara, rasul paulus walaupun dia merasa dapat melakukan apa saja, karena semua hal itu tidak lagi dapat mempengaruhi keselamatan yang dia peroleh melalui Yesus Kristus, dia memilih untuk tidak mau melakukan itu semua jikalau itu tidak berguna bagi dirinya. Apalagi bila hal itu dapat mendatangkan celaka.

Kalau boleh saya ilustrasikan, ini seperti seekor anjing yang selalu kita ikat, pada saat ikatan itu di lepas dia akan berlari kemanapun dia mau... tetapi tidak semua anjing harus melakukan hal itu. Bisa saja anjing itu memilih tetap diam di tempatnya dari pada harus mengungkapkan segala kegembiraannya itu dengan berlari tidak tentu arah.

Kita ini ibarat anjing yang terikat dengan berbagai aturan adat istiadat dan berbagai aturan agama yang pada dasarnya tidak menyelamatkan. Pada saat ikatan itu dilepaskan oleh Yesus, kita ditawari sebuah rumah mungil yang baru, tanpa ikatan rantai yang mengekang (inilah kuk yang ringan itu). Sekarang, kita bebas. Kalau kita menggunakan kebebasan kita ini untuk berlari kesana-kemari (bebas berbuat dosa karena merasa telah dibebaskan) tanpa perduli dengan tawaran “rumah mungil tanpa ikatan rantai yang mengekang itu”, maka hilanglah kesempatan kita untuk memiliki “rumah” yang nyaman itu. Walaupun kita telah dibebaskan, namun “rumah” – keselamatan –  itu tidak pernah kita miliki.

Inilah gambaran bagi orang yang merasa apabila dirinya telah menjadi kristen, dan semua dosanya telah di tebus, dia berfikir dapat bebas berbuat dosa dengan suka cita dan kesadaran tinggi. (dibawah ini akan kita bahas lebih detail)

Keselamatan kita melalui Yesus Kristus, telah memerdekakan kita dari segala aturan yang mengikat. Yang dulunya bagi kita itu adalah hal yang harus di hindari, sekarang ini telah menjadi hal yang halal bagi kita (apa yang dinyatakan halal disini, sudah tentu tidak bertentangan dengan apa yang Tuhan Yesus perintahkan pada kita. Termasuk melakukan aktifitas di hari sabat seperti yang Yesus contohkan pada Matius 12:10-13 – hal ini memang bertentangan dengan adat istiadat bangsa Yahudi namun tidak bertentangan dengan perintah Tuhan Yesus). Karena segala sesuatunya sekarang ini telah menjadi halal. Namun begitu, kita juga harus selektif. Apa yang telah dihalalkan bagi kita (hal ini disebabkan keselamatan kita bukan lagi bergantung dari perbuatan kita) apakah itu juga baik bagi kita?

Kalau Saudara selama ini dilarang memakan daging panggang berlemak yang lezat karena diperingatkan oleh dokter Saudara, dan setelah dokter Saudara mungkin mengijinkannya, itu bukan berarti Saudara kemudian akan memanfaatkan ijin itu untuk memakan daging panggang berlemak itu bukan? Kalau Saudara perduli dengan kesehatan Saudara, walaupun dokter telah menyatakan Saudara telah sembuh dan boleh kembali memakan daging panggang berlemak itu, saya rasa Saudara tetap tidak akan menyentuhnya. Mengapa? Bisa jadi Saudara akan beranggapan apakah hal demikian baik buat kesehatan Saudara? (yaitu bebas makan dan kemudian sakit lagi?)

Hal demikianlah yang ingin rasul paulus katakan dalam ayat tersebut. Sekarang bagi dia segala sesuatunya halal tapi ada batasan-batasan dari halal itu sendiri yang dia pandang, apakah setelah dihalalkan kita jadi bebas seperti anjing lepas atau kita harus selektif apa yang bermanfaat saja bagi kita? Tidak semua yang halal itu baik bagi kita. Barang itu baik dan halal bagi kita, tetapi bila kita salah mempergunakannya, maka itu menjadi hal yang merugikan kita sendiri.

Narkotika misalnya, bisa saja baik dan menjadi obat yang berguna bagi kita bila berada ditangan kedokteran dan ini halal, tetapi apakah obat ini juga baik bagi kita jika kita sembarangan mengkonsumsinya? Jadi walaupun itu halal, bukan berarti baik bagi tubuh kita.

Jadi Saudara, ayat diatas sebenarnya kurang tepat kalau Saudara terapkan sebagai ijin untuk makan darah. Justru banyak ayat-ayat di Alkitab yang melarang kita untuk makan darah. Jangan karena Saudara suka sekali makan darah  terus kemudian Saudara bilang “pokoknya saya yakin itu ijin untuk makan darah, titik!”

Silahkan saja! Bagi saya pribadi, tidak ada untung dan ruginya buat saya bila Saudara tetap makan darah. Namun tidak demikian bagi diri Saudara sendiri. Pada saat Saudara memutuskan untuk tetap memakan darah, maka segala konsekwensinya harus Saudara tanggung juga.

Jangan Saudara kira masalah larangan makan darah ini cuma ada pada perjanjian lama saja. Dalam perjanjian baru sendiri sangat jelas larangan ini. Dan lebih jelas lagi larangan itu ditujuhkan kepada siapa. Mari kita lihat.

Kisah Para Rasul  15

15:20 tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.

15:29 kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat."

Kisah Para Rasul  21

21:25 Tetapi mengenai bangsa-bangsa lain, yang telah menjadi percaya, sudah kami tuliskan keputusan-keputusan kami, yaitu mereka harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan."

Ayat ini, sangat jelas sekali di tujuhkan kepada kita orang-orang yang bukan bangsa Yahudi. Kita semua adalah bangsa-bangsa lain itu. Para rasul tidak membicarakan tentang bangsa-bangsa lain yang belum mengenal Yesus Kristus, tetapi kitalah yang mereka maksudkan. Dan jelas pula apa yang telah disampaikan para rasul, —bukan cuma rasul paulus saja— tentang apa saja yang harus kita jauhi. (pembahasan tentang makanan persembahan berhala dapat kita bahas pada sesi lain).

Jadi Saudara, kita tidak bisa berasumsi bahwa ayat di I Korintus 6:12 itu adalah pengesahan bagi orang-orang yang memang berkeinginan untuk makan darah. Ayat tersebut sama sekali tidak membicarakan tentang ijin makan darah. Justru ayat-ayat sebelumnya di Kisah Para Rasul jelas melarang kita untuk makan darah.

Firman Tuhan tidak bertentangan satu sama lain, pada saat para rasul mengatakan bahwa kita semua harusnya menjauhkan diri dari makan darah, maka masalah tersebut dianggap telah jelas dan tuntas. (hanya mereka yang memang mencoba mencari-cari cela agar ada ijin makan darah saja yang menganggap masalah ini masih dapat diperdebatkan – sampai-sampai harus “membajak” ayat I Korintus 6:12 segala). Itu adalah perintah final. Apa yang melatarbelakangi perintah rasul ini?

Ulangan 12

12:23 Tetapi jagalah baik-baik, supaya jangan engkau memakan darahnya, sebab darah ialah nyawa, maka janganlah engkau memakan nyawa bersama-sama dengan daging.
12:24 Janganlah engkau memakannya; engkau harus mencurahkannya ke bumi seperti air.
12:25 Janganlah engkau memakannya, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, apabila engkau melakukan apa yang benar di mata TUHAN.

Karena itu Saudara, pada saat muncul ayat I Korintus 6:12 janganlah Saudara beranggapan bahwa itu adalah legalitas buat Saudara untuk kembali makan darah. Ayat ini jangan lagi diartikan dalam hal makanan. Pengertian Saudara akan jelas pada saat Saudara membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia sehari-hari.

Karena ayat ini bukan lagi tentang makan darah, tetapi lebih menuju kebebasan rohani karena Kristus, ada baiknya kita bahas sedikit dibawah ini.
 
Tentang segala yang halal itu sendiri hendaknya kita tidak rancuh dalam memahaminya. Dengan hikmatNya, perintah Tuhan dapat kita mengerti, dan itu tidak berubah. Perintah itu akan tetap berlaku sampai selamanya. Kalau sekarang ini kita tidak lagi mengikuti semua tuntutan hukum taurat, itu bukan berarti perintah Tuhan sudah dibatalkan, tetapi itu semua semata-mata karena kita hidup di bawah kasih karunia keselamatan yang kita dapatkan dari Yesus Kristus.

Saudara, walaupun ayat di I Korintus 6:12 mengatakan segala sesuatunya halal bagi kita, ini bukan berarti perbuatan buruk yang menghasilkan dosapun bebas kita lakukan. Kita justru harus menghindari itu agar kita tidak terlepas dari status sebagai “hamba Yesus”. Sebab segala perbuatan buruk yang menghasilkan dosa, wajib kita hindari karena memang itu yang diperintahkan “tuan” kita. Jika kita tidak mau menghidarinya malahan kita hidup didalamnya, maka kita tidak lagi mematuhi perintah “tuan” kita. Dan untuk itu kita dapat dikatakan bukan lagi “hambaNya”. Jadi hamba siapa?

Yohanes

8:34 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.

Apakah sekarang Saudara masih dapat berfikir bahwa orang kristen itu enak, dapat berbuat dosa sesukanya karena semua dosa-dosa mereka telah ditebus oleh Tuhan Yesus?

Lakukanlah itu, (yang saya maksudkan disini adalah kalau kita melakukan semua itu – perbuatan dosa – dengan suka cita dan penuh kesadaran) maka bisa jadi Saudara akan lepas dari kasih karunia Yesus.

Dengan mengetahui bahwa ayat I Korintus 6:12 tersebut bukanlah legalitas buat makan darah, dan justru banyak ayat-ayat lain di perjanjian lama maupun perjanjian baru yang melarang kita untuk makan darah, apakah sekarang Saudara masih bersikukuh dengan keyakinan Saudara bahwa Saudara dapat bebas makan apa saja? Terutama makan darah?

Saya tidak dapat mengatakan bahwa dengan makan darah berarti keselamatan Saudara hilang, tidak. itu bukan ranah saya. Saya hanya mengingatkan Saudara bahwa dalam Perjanjian Barupun, larangan untuk makan darah masih eksis dan berlaku. Itu ditegaskan oleh para rasul, dan itu untuk kita orang-orang percaya yang bukan dari bangsa Yahudi.
 
Apapun respon Saudara dari ulasan kita di atas ini, itu adalah hak Saudara sendiri. Silahkan saja kalau Saudara tetap berkeinginan untuk makan darah. Tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya. Dalam kekristenan, tidak ada yang namanya keselamatan kolektif. Semuanya amat pribadi. Karena itu, apapun yang kita lakukan, haruslah bersumber dari kesadaran kita pribadi

Seperti kata saya di atas, saya tidak bermaksud untuk menjadi hakim bagi Saudara sehingga dapat menentukan apakah Saudara selamat atau tidak bila makan darah. Saya tidak mempunyai otoritas untuk mengatakan itu. Namun apa yang dapat saya pahami tentang hal makan darah, itu jugalah yang saya sharingkan pada Saudara di sini. Kalau menurut Saudara apa yang saya sampaikan di sini adalah salah, biarlah itu tetap menjadi keyakinan saya dan juga biarlah apa yang Saudara yakini tetap menjadi keyakinan Saudara pula.

Demikianlah akhir dari sharing kita ini Saudara, Tuhan Yesus memberkati.


Syallom.....