Translate

Tampilkan postingan dengan label book 06. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book 06. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

Pendewasaan Iman


Ibrani

5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

-------------------------------------

Pernah saya mengalami sendiri dalam satu gereja telah diadakan suatu pembaptisan atas diri seorang bapak yang sudah cukup berusia. Dia telah menyatakan dirinya sebagai pengikut Kristus, dan karena itu dia telah menyerahkan dirinya untuk dibaptis. Terus terang, saya tidak mengetahui latar belakangnya mengapa dia sampai bersedia menjadi pengikut Kristus. Boleh jadi hal ini karena pengaruh dari isterinya yang memang telah menjadi pengikut Kristus sejak lama.

Sebagaimana kita ketahui bersama, sudah tentu sebelum yang bersangkutan diijinkan untuk memperoleh baptisan, dia juga telah mengalami pengenalan akan kekristenan. Dia juga harus belajar ini dan itu tentang kekristenan, dan segala hal yang dirasakan perlu lainnya.

Saat pembaptisan selesai, tentu sebagaimana umumnya maka jemaat dalam gereja akan diundang untuk berdiri menyambut dia sebagai bagian dari anggota jemaat yang baru. Ada suka cita tentunya di antara jemaat. Ada rasa syukur kepada Tuhan karena seorang lagi anak manusia telah diselamatkan.

Selesai itu,.... selesailah sudah!

Jemaat pulang. Dan hari-hari terus berlalu seperti biasanya. Minggupun berganti minggu. Dan bulanpun berlalu dengan cepatnya.

Tanpa terasa satu tahunpun berlalu pula....

Dan tiba-tiba, terdengarlah berita LUAR BIASA!

Si A, yang tempo hari sudah dibaptis, sekarang telah murtad! Dia telah kembali pada kepercayaannya yang lama. Dengar-dengar, dia murtad karena telah beberapa bulan ini dia telah menerima bantuan sekarung beras setiap bulannya dari tetangga yang beragama sama seperti agamanya yang lama.

Wah, pendeta mulai sibuk. Dibentuklah tim kecil terdiri dari beberapa orang. Mereka bermaksud untuk mengunjungi yang bersangkutan dengan tujuan ingin “menarik” dia kembali kepada Kristus.

Apa yang terjadi saudara? Saat tim kecil ini berkunjung ke rumah yang bersangkutan, tetangganya ini datang menghadang dengan pesan yang cukup jelas. Kurang lebih begini :

“Jangan pernah sekalipun menginjili lagi si A!, sebab dia sudah beragama X. kalau kalian berani coba-coba, rasakan sendiri akibatnya!”

Alkisah, kembalilah tim kecil ini dengan kecil hati pula. Saat kembalinya tim kecil ini ke gereja, saat itu juga bubarlah tim kecil ini. Tamat.

Hari-hari berikutnya saat jemaat mempertanyakan mengapa hal demikian bisa terjadi, maka jawabannya tentu sudah dapat saudara duga.

“si A tidak kuat iman, dia terlalu materialistis, masak cuma di sogok sekarung beras tiap bulan dia kembali murtad? Orang yang kuat iman tidak mungkin murtad!”
“itu salah dia sendiri, dia lebih memilih duniawi, tidak tahan cobaan, orang yang kuat iman tidak mungkin murtad!”

Dan seribu satu jawaban lainnya yang mengandung satu inti yang identik, yaitu salah si A sendiri. Titik.

----------------------------------

Sungguh menyedihkan sekali kalau keadaan ini terjadi dalam gereja dimana saudara berjemaat. Saat si A bertobat, ada suka cita bukan saja di gereja namun juga di sorga. Bukankah itu yang Alkitab katakan? Dan sekarang? Saat dia murtad....???

Kita memang tidak bisa mengetahui latar belakang seseorang bertobat itu apa. Apakah dia punya motivasi tersembunyi atau tidak, itu memang di luar kuasa kita. Bisa saja seseorang itu “bertobat” hanya dengan maksud untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Bisa saja.

Namun demikian, karena kita tidak bisa mengetahui dengan pasti motivasi sesungguhnya dari mereka yang bertobat, maka kitapun tidak berhak untuk berpendapat seseorang itu bertobat dengan motivasi tidak jujur. Sebab kita memang tidak bisa mengetahuinya bukan?

Yang paling logis bagi kita adalah tetap menganggap mereka bertobat dengan tulus. Itu saja.

Mengapa saya perlu menegaskan akan hal ini? Karena tidak sedikit orang yang akan membela dirinya dari rasa ikut bertanggung jawab atas kemurtadan seseorang seperti di atas, dengan beralasan bahwa yang bersangkutan memang tidak bertobat sungguh-sungguh dulunya. Cuma mencari keuntungan pribadi dalam jemaat, dan kalau keuntungan pribadi itu tidak didapatkannya lagi, maka dia akan otomatis murtad. Itu yang sering dilontarkan mereka yang mau lepas dari rasa tanggung jawabnya atas keadaan ini.

Saudara, jangan pernah sekalipun kita sampai mengatakan hal yang demikian. Sebab kalau sekiranya si A itu memang tidak memiliki motivasi jelek dalam pertobatannya dulu, maka otomatis kita sudah menjadi seorang penfitnah. Kita telah menfitnah dia untuk hal yang tidak dia lakukan.

Dengan kemurtadan dia saja kita sudah seharusnya merasa ikut bersalah, lalu masihkah kita akan menambahkan kesalahan kita dengan ikut menfitnahnya pula?

Kesalahan yang ditimpakan pada orang yang murtad, dengan mengatakan bahwa dia tidak kuat iman, adalah seperti melemparkan kotoran pada muka kita sendiri. Mengapa demikian?

Dalam kasus si A yang kembali murtad di atas, sebenarnya kesalahan bukan pada si A sendiri. Tetapi sesungguhnyalah, kesalahan itu ada pada gembalanya, plus seluruh majelis dan jemaat di gereja itu.

Apa korelasinya sampai bisa begitu?

Begini, seandainya saja, gembala atau pendeta pada gereja di mana si A berjemaat (anggap saja gereja Q) ini ditawari untuk menduduki suatu jabatan penting seperti jadi gubernur misalkan, terus diberikan sebuah rumah mewah, diberikan beberapa gadis muda dan cantik-cantik sebagai isteri, lalu ditambah lagi dengan sebuah perusahaan besar sebagai milik pribadi.... dan segala fasilitas lainnya yang cukup mengiurkan hanya dengan satu syarat, MURTAD dan HUJATLAH YESUS!

Kira-kira.... mau tidak pendeta ini murtad dan menghujat Yesus?

Seorang yang benar-benar mengenal siapa Yesus itu sesungguhnya, bagaimana tanpa Yesus dia dipastikan bakalan ke neraka dan mengalami kematian kekal, sudah pasti akan dengan tegas menjawab “TIDAK !”

Benar, jawaban itu pasti dan tanpa kompromi lagi. Pendeta di gereja Q itu pasti tidak akan pernah bisa murtad dan menghujat Yesus hanya demi semua kenikmatan duniawi itu. Tidak akan pernah!

Bagaimana dengan saudara? He..he... intermezo sedikit.

Lalu sekarang kembali ke si A tadi. Kalau pendeta di gereja Q itu tidak akan pernah bisa murtad demi jabatan gubernur, rumah mewah, beberapa isteri yang muda dan cantik-cantik serta perusahaan besar milik pribadi, lalu mengapa si A ini bisa dengan entengnya murtad hanya demi sekarung beras setiap bulannya?

Coba kita pikirkan dengan nalar yang sehat!

Bagaimana mungkin si A, dengan entengnya bisa murtad hanya demi sekarung beras, sementara pendeta itu tidak mungkin murtad dengan tawaran kekayaan yang seabrek-abrek banyaknya?

Apa jawabannya saudara?

Jawabannya jelas karena si A ini, tidak mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Itu saja!

Kalau si A juga mengenal siapa Yesus itu sesungguhnya sama seperti apa yang dikenal oleh pendeta gereja Q itu, mustahil dia mau murtad. Jangankan hanya demi sekarung beras, demi seluruh dunia inipun dia tidak akan pernah mau murtad dan menyangkal Yesus.

Lalu sekarang salah siapa kalau si A sampai tidak bisa mengenali siapa Yesus itu sesungguhnya? Mengapa saat si A menjadi bagian dari jemaat gereja Q, pendeta dan majelis sekaligus jemaat di gereja itu tidak ikut merasa terbebani untuk mendewasakan iman si A?

Mengapa setelah si A murtad dan bukan bagian dari jemaat lagi, baru pendeta dan seluruh jemaat dalam tim kecil itu sibuk berusaha untuk menjangkaunya kembali? Mengapa? Bukankah saat dia bagian dari jemaat banyak peluang waktu untuk mendewasakan iman dia? Pendeta sibuk? Kalau begitu jangan sibuk kalau ada yang murtad! Tunggu saja saat dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan.

Tugas pendewasaan iman jemaat, pertama-tama adalah menjadi tugas pendeta. Pendetalah yang menjadi gembala jemaat. Karena itu tugas utama pendetalah untuk mendewasakan iman jemaatnya.

Majelis dan jemaat di gereja itu baru bisa ikut berperan untuk mendewasakan iman sesama jemaat kalau iman mereka sendiri sudah dewasa. Disinilah diperlukan pemuridan itu. Kalau pemuridan ini bisa berjalan dengan baik, maka otomatis tugas pendewasaan iman di antara jemaat (terutama jemaat baru) akan lebih ringan bagi pendetanya. Sebab tugas itu tidak diemban sendirian oleh pendeta yang bersangkutan.

Jadi dalam hal murtadnya si A, pertama-tama yang harus dipersalahkan adalah pendeta di mana si A berjemaat. Terlebih lagi sebelum si A dibaptis dia telah terlebih dahulu mendapatkan “pendidikan” oleh pendeta di gereja yang bersangkutan.

Saya tidak tahu jenis pendidikan seperti apa yang telah diberikan sehingga, bahkan setelah di baptispun, ternyata si A masih belum mengenal siapa Yesus, dan bagaimana perlunya dia akan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya.

Kalau melihat bagaimana dengan mudahnya si A murtad, maka sudah dapat dipastikan bahwa pendidikan yang telah di peroleh sebelum pembaptisannya itu telah gagal total.

Karena itu saudara, janganlah pernah kita menganggap sepeleh pendewasaan iman ini.

Seseorang yang mengikuti Yesus tapi tidak mengenal siapa Yesus itu sendiri, dia sama seperti telur di ujung tanduk. Setiap saat, dia akan dengan mudahnya menyangkal Yesus. Keselamatannya berada dalam bahaya. Dan bukan keselamatannya sendiri saja, bahkan keselamatan seisi rumahnya.

Itulah mengapa kita sering melihat bagaimana dengan mudahnya seorang ayah atau ibu memberikan ijin anaknya untuk memeluk agama lain hanya demi menikah dengan orang yang tidak seiman.

Dalam pandangan mereka, agama manapun baik. Sebab semua agama mencari Tuhan. Jadi baik agama ini maupun agama itu sama baiknya. Yang penting tidak berbuat jahat. Itu saja.

Yohanes

14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Klaim Yesus jelas, hanya Dia saja yang membawa hidup. Tanpa Dia, kita tidak akan sampai ke tempat Bapa. Karena itu menjadi PR kita semua untuk saling mendewasakan iman sesama. Semoga sedikit ulasan kita ini dapat menjadi berkat bagi yang membutuhkan.

YBU.

Selasa, 30 Oktober 2012

Inikah “Hamba Tuhan”?


Dalam beribadah setiap minggu di gereja, sudah tentu kita akan berusaha untuk mengikuti semua tata cara yang ada dalam gereja dimana kita berjemaat. Dari mulai cara ibadah diawali, sampai dengan cara ibadah itu diakhiri. Semua ada tata caranya dan kita juga maklum bahwa semua tata cara itu telah di atur oleh denominasi dimana kita berjemaat.

Namun demikian, terkadang tata cara dalam beribadah ini tidak jarang mengalami penambahan di sana sini oleh pendeta ataupun majelis dalam gereja yang bersangkutan. Artinya, aturan tata cara yang telah ditetapkan oleh denominasi, ternyata masih mengalami tambal sulam oleh pihak-pihak dalam gereja lokal, baik itu inisiatif dari pendetanya ataupun oleh majelisnya.

Sebenarnya mereka tidak bermaksud jelek, mungkin saja tambal sulam tersebut dimaksudkan agar jalannya ibadah dapat lebih hikmat lagi, ataupun lebih teratur, lebih manis dan lain sebagainya. Intinya, mereka berusaha sebisa mungkin memberikan nilai yang lebih hikmat bagi jemaatnya.

Namun demikian, terkadang ada hal-hal yang dirasa tidak perlu ikut pula ditambahkan dalam tata cara tersebut, sehingga kesan yang ditimbulkan bukan lagi hikmat, malahan dapat memberikan kesan jelek bagi pendeta yang bersangkutan dari jemaatnya sendiri.

Ada satu gereja lokal yang saya ketahui memulai ibadahnya sama seperti seorang hakim memulai persidangan di ruang pengadilan. Dimana saat pendetanya memasuki ruangan gereja, maka semua jemaatnya diminta untuk berdiri menyambutnya. Wah... pendeta ini cuma kurang toga saja saya rasa.

Ibadah di gereja ini dimulai dengan jemaat duduk ditempatnya, dan sesaat sebelum pendeta masuk, semua jemaat di minta untuk berdiri, saat itulah pendeta masuk diikuti oleh beberapa majelisnya. Pendeta berjalan dimuka dan kemudian naik ke mimbar. Majelis kemudian duduk dibagian muka.

Ada yang jelek? Sepintas selalu tidak!

Lalu mengapa dipermasalahkan?

Nah, disinilah letak pembahasan kita saudara. Saya tidak mengetahui secara pasti apa motivasi dari tata cara itu diadakan, tetapi yang dirasakan oleh sebagian dari jemaat adalah.... apakah pendeta kita ini gila hormat? Sehingga dia merasa perlu mendapatkan penghormatan seperti itu?

Saat jemaat diminta untuk berdiri.... maka mau tidak mau, kesan yang didapat dalam jemaat adalah, jemaat diminta untuk menghormati pendeta sewaktu pendeta tersebut memasuki ruangan. Adakah alasan lain selain ini? Jelas tidak! Sebab kesan ini sudah terpeta dengan jelas dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik itu dalam ruang pengadilan, maupun dalam acara-acara kenegaraan tertentu dimana pejabat penting selalu disambut dengan mengundang hadirin untuk berdiri sebagai penghormatan.

Jadi saat jemaat diminta untuk berdiri dalam gereja saat pendeta memasuki ruangan, mau tidak mau, gambaran penghormatan untuk seorang penguasa dengan jelas tergambar dalam tata cara ini. Pendeta jadi seolah-olah seperti seorang yang sangat dihormati sekali. Tiba-tiba saja gambaran seorang pendeta yang adalah bagaikan gembala bagi jemaatnya berubah seketika itu juga. Pendeta jadi seperti menuntut rasa hormat dari jemaatnya.

Saudara terkasih, mungkin saja ada diantara pendeta yang demikian bertanya, salahkah jika mereka menuntut untuk dihormati?

Menurut saya,... jelas ini pertanyaan yang aneh luar biasa. Mengapa demikian? Penghormatan tidak datang dari cara demikian. Setiap kita juga menghormati orang tua kita dan tidak dengan cara demikian kita menghormati mereka.

Pendeta bukanlah penguasa. Pendeta adalah gembala bagi jemaatnya. Pengembalaan yang adalah tugas pendeta ini, baru bisa berjalan dengan baik kalau dilakukan dengan kasih, bukan dengan rasa segan ataupun hormat seperti menghormati seorang penguasa.

Bagaimana mungkin seorang jemaat yang memiliki rasa hormat berlebihan terhadap gembalanya dapat dengan enjoy membawa permasalahan pribadinya untuk disharingkan dengan pendetanya itu? Yang ada justru rasa segan dalam diri jemaat tersebut untuk membicarakannya. Dan hubungan yang demikian bukanlah hubungan yang sehat antara seorang pendeta dengan jemaatnya.

Satu hal yang seharusnya para pendeta sadari adalah,.... siapakah selama ini yang selalu menuntut untuk dipanggil dengan sebutan “Hamba Tuhan” ?

Bukankah predikat Hamba Tuhan ini selalu digembar gemborkan oleh para pendeta ini untuk menggelarkan diri mereka sendiri?

Saya pernah bertanya tentang hal ini, kalau pendeta adalah Hamba Tuhan, lalu siapakah jemaat itu? Hamba siapakah jemaat itu? Bukankah hanya ada dua perhambaan saja di dunia ini? Kalau bukan hamba Tuhan, yah otomatis hamba setan donk?....  Saudara tahu apa jawabannya?

Ternyata saudara,... jemaat mendapat gelarnya sendiri yang luar biasa sekali. Tahu apa gelarnya itu? Gelar yang disematkan pada jemaat adalah “Anak Allah”.

Jadi sebagian pendeta memberikan pengertian bahwa jemaat itu, adalah Anak Allah. Dan mereka para pendeta itu adalah Hamba Tuhan. Wah, klop donk.... jemaat adalah Anak-anak Allah dan pendeta sebagai Hamba Tuhan.

Senangkah jemaat mendapatkan gelarnya yang sedemikian hebat itu? Jelas donk, mana ada jemaat yang menolak gelar sebagai Anak Allah. Sebab gelar ini memang sangat Alkitabiah sekali. Bukankah memang demikian yang kita dapatkan dalam Alkitab?

Roma 

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Sekarang saudara, kalau benar penilaian dari para pendeta itu bahwa kita adalah Anak-anak Allah dan mereka adalah Hamba Tuhan, lalu mengapa mereka masih juga menuntut agar jemaat - yang adalah anak-anak Allah - menghormati mereka yang cuma seorang hamba? Bahkan menuntut penghormatan dengan cara berdiri menyambut mereka dalam gereja?

Seorang anak, sudah tentu lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan seorang hamba. Bagaimana mungkin seorang hamba menuntut anak dari majikannya untuk menghormati mereka seperti menghormati seorang penguasa?

Apa tidak terbalik saudara? Bukankah seorang hambalah yang harus menghormati seorang anak majikannya?

Siapakah yang ngotot mengelarkan diri mereka sebagai Hamba Tuhan selama ini? Bukankah para pendeta? Tahukah saudara bahwa hamba itu adalah pelayan? Seorang hamba sama artinya dengan seorang pelayan.

Tahukah saudara tugas seorang pendeta, yang adalah hamba Tuhan, yang adalah pelayan Tuhan di dunia ini? Bukankah tugasnya melayani anak-anak Allah? Melayani secara jasmani? Sudah tentu bukan!... tetapi jelas melayani secara rohani dari anak-anak Allah. Tetapi apapun itu, tugas seorang pendeta adalah melayani. Titik.

Sekarang, setelah mengetahui tugas dan peranan masing-masing, masihkah seorang pendeta menuntut penghormatan dari jemaatnya secara berlebihan?

Saudara, tidak selayaknya seorang pendeta menuntut penghormatan dari jemaatnya. Sebab dengan melakukan itu, dia tidak lagi berperan sebagai Hamba Tuhan. Tanpa menuntut penghormatanpun, pada dasarnya semua jemaat juga telah menghormati dan mencintai pendetanya. Karena itu janganlah ditambah-tambahkan dengan tata cara yang justru, dapat menjadi batu sandungan bagi jemaatnya sendiri.

Mungkin saja nanti ada yang bilang jemaat di minta untuk berdiri saat itu bukan dalam rangka penghormatan pada pendeta, tetapi kepada Tuhan.

Oklah, kalau itu alasannya,....

Tetapi apakah kehadiran Tuhan hanya ada dalam ibadah mingguan itu saja? Bukankah kehadiran Tuhan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Lalu mengapa hanya pada ibadah mingguan itu saja kehadiran Tuhan harus kita hormati dengan berdiri? Apakah kehadiran Tuhan disanapun sama seperti kehadiran pendetanya? Jadi ceritanya saat pendeta masuk maka Tuhan baru masuk juga? Dari mana pendetanya tahu akan hal itu? Pendetanya bisa lihat Tuhan gitu? Wah...wah....

Saudara, janganlah kita mencari-cari alasan yang nantinya malah memberikan efek domino. Jelas-jelas alasan-alasan demikian sama sekali tidak masuk di akal. Justru dengan memberikan penghormatan dengan cara berdiri sewaktu pendeta masuk, disadari ataupun tidak, malah lebih memberikan penghormatan itu kepada pendetanya dan bukan kepada Tuhan.

Tuhan itu kasih, dan Dia lebih suka kita mengasihiNya. Tuhan tidak butuh penghormatan ala pejabat. Tuhan ingin kita anak-anakNya dapat mengasihNya dengan segenap hati kita. Bukan dengan segenap rasa segan kita.

Jangan pernah pendeta melakukan itu semua karena mencontoh seorang hakim yang memasuki ruang sidang. Seorang hakim memasuki ruang sidang dalam rangka menegakkan wibawa hukum. Seorang pendeta memasuki ruang gereja dalam rangka melayani. Jelas missi kedua profesi ini berbeda sekali. Jadi jangan diperlakukan sama!

Seorang pelayan yang baik, tidak pernah menuntut penghormatan dari siapapun. Dan apa kata Tuhan Yesus tentang siapa yang terbesar dalam kerajaan sorga?

Lukas

22:26 Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.

Demikianlah saudara, terutama mereka yang bertugas melayani, janganlah saudara menuntut hormat dan penghormatan. Biarlah lakukan apa yang menjadi tugas dan kewajiban saudara, maka segala hormat dan penghormatan akan saudara dapatkan dengan sendirinya.

Semoga sharing ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. Saudara dapat menolak apa yang saudara anggap tidak benar.

Tuhan Yesus memberkati.
Amin.


NB : Klarifikasi telah didapat dan telah ada perubahan. Tulisan ini tetap di buat sebagai pengingat bagi kita untuk mawas diri dari hal-hal yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya. 

Rabu, 12 September 2012

Selamat Karena Terpilih?


Efesus

1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Yohanes

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Mengacu kepada dua ayat di atas, umat kristen banyak yang berpendapat bahwa keselamatan manusia ternyata telah di tentukan oleh Tuhan sendiri. Yaitu Tuhan telah memilih siapa-siapa saja yang ingin Dia selamatkan dan siapa-siapa saja yang ingin Dia lempar ke neraka.

Pengertian yang didapat sering menempatkan Tuhan sebagai pihak yang aktif dalam hal “memilih” orang-orang yang akan diselamatkan dan juga sebagai pihak yang aktif untuk “tidak memilih” pihak-pihak yang akan binasa.

Jadi dapat diartikan bahwa Tuhanlah yang memutuskan untuk “memilih” si A untuk diselamatkan ataupun “tidak memilih” si B, supaya mati binasa di neraka.

Apa benar demikian saudara?

Apa benar bahwa Tuhan sendirilah yang berperan sebagai sutradara dari kehidupan manusia ciptaanNya? Yang dengan sekehendak hatiNya Dia mempermainkan kehidupan umat ciptaanNya sendiri dengan memilih siapa yang Dia suka untuk diselamatkan dan melemparkan ke neraka siapa saja yang Dia tidak suka. (karena tidak dipilih olehNya?)

Andaikata ada orang seperti itu di dunia ini, yang berbuat demikian terhadap sesamanya, apa nama yang tepat untuk perbuatan orang semacam itu? Si maha adilkah? Atau si maha kuduskah? Bukankah perbuatan seperti itu adalah perbuatan orang yang semena-mena? Orang yang sangat berkuasanya sampai tidak tahu lagi mana perbuatan yang baik dan mana yang jahat sehingga bisa berbuat sesuka hatinya saja? Ini perbuatan semena-mena! Dan semua orang tahu itu.

Perbuatan semena-mena begini jelas bukanlah perbuatan yang terpuji, apalagi perbuatan yang disukai oleh Tuhan. Lalu jika perbuatan yang tidak terpuji ini adalah perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhan, apa mungkin Tuhan sendiri juga berkarakter semena-mena seperti itu?

Sangat tidak masuk di akal  jika perbuatan itu di benci Tuhan namun ternyata Tuhan sendiri yang berkarakter seperti itu.


Amsal

3:30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu.

Ayub

9:17 Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan tidak semena-mena,

Matius

7:12. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.


Tuhan sendiri tidak suka bersikap semena-mena. Bahkan inti dari keseluruhan hukum Taurat menentang perbuatan yang semena-mena. Sekarang jikalau Tuhan memang tidak suka dengan perbuatan semena-mena ini, jelas tidak mungkin Tuhan sendiri melakukan perbuatan yang semena-mena.

Pada dasarnya, soal pilih memilih seperti ayat di atas tidak bisa kita artikan seperti tersurat begitu saja. Ada banyak arti yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut. Sebab seperti uraian kita tadi, sekiranya arti dari ayat tersebut sama persis seperti yang tersurat, maka jelas Tuhan telah berlaku semena-mena.

Karena baik orang yang terpilih untuk diselamatkan maupun orang yang tidak terpilih dan harus binasa di neraka, pada dasarnya adalah sama-sama orang berdosa yang butuh keselamatan. Mereka dan juga kita semua adalah orang-orang berdosa. Dan sekiranya kita diselamatkan Tuhan (karena terpilih), bukankah mereka juga "berhak" (lebih karena keadilan Tuhan) untuk di selamatkan sama seperti kita karena kita dan mereka sama-sama manusia berdosa?

Atas dasar apa Tuhan mau memilih menyelamatkan kita dan menolak memilih untuk menyelamatkan mereka?

Tuhan tidak adil donk kalau berbuat begitu?

Kalau Tuhan adil dan memang Tuhan itu maha adil, maka jelas keselamatan itu diberikan secara universal kepada semua manusia. Bukan dengan cara Tuhan pilih memilih “orang-orang istimewa” yang akan diselamatkan. Tetapi keselamatan itu di tawarkan kepada semua manusia, dan siapa saja yang berkenan menyambutNyalah yang memperoleh keselamatan itu.

Markus 

10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."

Yohanes

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Setiap kita, mendapat kesempatan yang sama untuk menerima uluran tangan Tuhan ini. Jika kita menolak uluran tangan Tuhan ini, maka saat penghakiman tiba tidak ada alasan bagi kita untuk mempersalahkan siapapun termasuk Tuhan karena kita tidak selamat. Sebab keselamatan itu tergantung respon kita atas anugerah yang Tuhan curahkan bagi manusia.

Keselamatan itu memang hanya anugerah dari Tuhan yang diberikan melalui Yesus Kristus kepada kita. Ini mutlak! Tanpa anugerah dari Tuhan Yesus, mustahil kita dapat memiliki keselamatan. Namun begitu, biarpun Tuhan Yesus telah menganugerahkan keselamatan itu kepada kita semua, tidak semua dari kita akan memperoleh keselamatan itu. Mengapa???

Karena anugerah keselamatan yang Tuhan telah berikan kepada umat manusia ini.... membutuhkan respon dari kita untuk menerima atau menolaknya.

Tidak ada paksaan dari Tuhan bagi kita untuk diselamatkan. Saat kita memilih untuk menolaknya, maka Tuhan tidak pernah memaksanya (dengan cara terpilih), begitu juga saat kita memilih untuk menerimanya, Tuhanpun tidak akan menolak kita.

Yohanes 

6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

Tuhan Yesus tidak akan pernah menolak orang yang mau datang kepadaNya. Sebab memang Tuhan tidak menginginkan kematian orang fasik. Tetapi lebih menginginkan pertobatan mereka sehingga merekapun dapat memperoleh keselamatan.

Yehezkiel

33:11 Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

Sekarang bagaimana mungkin Tuhan yang tidak berkenan terhadap kematian orang fasik bisa dengan teganya “tidak memilih” seseorang untuk diselamatkan?

Bukankah dengan “tidak memilih” seseorang ini telah menyebabkan seseorang ini akan berakhir di neraka?

Sekarang saudara, setelah kita bisa mengerti bahwa Tuhan tidak mungkin pilih kasih terhadap kita. Apa kira-kira pengertian dari ayat pembuka di atas? Kalau pengertian secara tersurat jelas tidak mungkin. Sebab bertentangan dengan keadilan Tuhan sendiri. Karena itu sudah tentu ada pengertian lain yang berbeda.

Bagi saya saudara, Tuhan itu maha tahu. Dia mengetahui siapa kita, bahkan apakah kita dilahirkan atau tidak di dunia ini Diapun tahu. Apa saja yang kita perbuat, baik masa lalu kita, masa sekarang dan masa depan kita. Tuhan juga tahu bagaimana kita nantinya akan mati, dengan cara apa kita mati, dan apa yang kita perbuat sewaktu kita mati. Bahkan persis sampai hari, jam, menit dan detiknya.

Ini semua adalah karena kemaha tahuan Tuhan. Tidak ada yang tersembunyi tentang kita di mata Tuhan. Dan karena itu, Tuhan juga tahu bagaimana respon kita terhadap anugerah keselamatan yang ditawarkan Tuhan Yesus kepada kita.

Karena kemaha tahuan Tuhan ini, apakah aneh sekiranya Dia berkata si A terpilih untuk diselamatkan (karena Dia tahu bahwa si A, di akhir hidupnya akan menerima Yesus) sementara si B tidak terpilih di selamatkan (karena Dia tahu bahwa si B, sampai akhir hayatnya tidak sudi menerima uluran tangan Yesus)

“terpilihnya” si A bukan karena Tuhan pilih kasih!
“tidak terpilihnya” si B bukan juga karena Tuhan tega dan suka si B ke neraka!

Si A dan si B sama-sama mendapatkan kesempatan untuk diselamatkan yang sama (keadilan Tuhan) tetapi karena respon si A dan si B berbeda, itulah yang menentukan akhir hidup mereka berdua.

Itulah mengapa Tuhan Yesus memberikan amanat agung kepada kita untuk menginjili setiap orang dan membaptis mereka.

Matius

28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.

Tuhan ingin semua bangsa yang telah diberikan anugerah keselamatan ini dapat merespon uluran tangan Tuhan dan diselamatkan.

Kalau Tuhan menyelamatkan manusia dengan cara memilih-milih “orang yang istimewa” untuk apa Tuhan memberikan amanat yang agung ini?

Toh semua orang yang telah dipilih Tuhan pasti selamat!

Apa mungkin orang yang telah dipilih Tuhan bisa tidak selamat? Salah pilih donk Tuhan? Jelas tidak kan? Jadi kalau mengacuh pada keselamatan yang karena Tuhan pilih-pilih, maka orang yang sudah terpilih pasti selamat.

Dan karena pasti selamat jadi buat apa di injili lagi? Bukankah hal ini seperti kurang kerjaan saja? Apa saudara pikir Tuhan tidak sanggup menjamah sendiri “anak kesayangan-Nya” (orang terpilih) itu sendiri?

Jadi saudara, keselamatan itu diberikan secara adil pada kita semua dan respon kitalah yang menentukan kita diselamatkan atau tidak pada akhirnya.

Demikianlah sharing kita ini. Semoga apa yang kita pahami dapat bertumbuh senantiasa. Apabila saudara memiliki pemahaman yang berbeda, silahkan saudara mengimani pemahaman saudara itu. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan kita harus sependapat. Biarlah iman kita bertumbuh sesuai dengan kerohanian kita masing-masing.

Bapa adalah Allah yang baik. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita, Yesus Kristus.

Amin.

Rabu, 29 Agustus 2012

Malaikat Jatuh


Melanjutkan pembahasan kita tentang pohon pengetahuan dan rahasia pembaptisan mengenai bagaimana dosa kita dapat ditebus, maka saat ini kita akan memasuki ulasan tentang mengapa kita manusia, saat jatuh dalam dosa masih memperoleh kesempatan untuk diselamatkan sementara malaikat yang jatuh dalam dosa, tidak memiliki kesempatan tersebut?

Pertanyaan ini ada saja yang memunculkannya entah dengan maksud apa? Mungkin hanya sekedar ingin tahu, ataupun sekedar iseng. Namun yang jelas, saat pertanyaan ini sepertinya tidak terjawab maka disadari ataupun tidak, dapat memberikan kesan seolah-olah Tuhan jadi pilih kasih dan tidak adil terhadap mahluk ciptaanNya sendiri.

Saat seseorang sudah masuk pada tahap ini,... hati-hati saudara, sebab imanmu terhadap Tuhan bisa dipertaruhkan!

Sebelum kita membicarakan lebih jauh mengapa malaikat yang jatuh sepertinya tidak mendapatkan kesempatan kedua itu, maka terlebih dahulu kita pahami tentang apa itu dosa dan bagaimana dosa dapat ditebus.

Saya disini tidak membahas apa definisi dari dosa itu sendiri. Tetapi penekanan saya lebih pada dosa yang sudah kita pahami bersama, dan bagaimana dosa tersebut harus dibayar oleh kita masing-masing. Dalam Alkitab dikatakan demikian :

Roma

6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Dosa, - tanpa mengenal besar ataupun kecil -, hanya dapat dilunasi dengan kematian. Tanpa kematian, dosa tidak akan pernah lunas. Saat seseorang ingin melunasi semua dosa-dosanya, maka orang tersebut harus mati lebih dulu, dan setelah itu barulah dosa-dosanya menjadi lunas.

Roma

6:7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.

Jadi menurut Alkitab, siapapun dia yang ingin membayar dosanya, maka dia harus mati. Kematian ini adalah kematian di dalam dosa. Dan tiap orang yang mati di dalam dosa, maka sudah tentu orang ini bukanlah orang yang diselamatkan. Kita semua telah paham kemana orang yang mati dalam keadaan tidak selamat ini berada.

Tuhan menciptakan manusia dan setelahnya menempatkan mereka di taman firdaus. Di sana Tuhan telah mencukupkan segalanya. Dia telah memberikan aturanNya, termasuk juga proteksi yang dibutuhkan manusia. (mohon baca kumpulan sharing buku ke V pada judul “Pohon Pengetahuan”)

Manusia mengenal dosa pertama kalinya dari Adam, dimana karena bujukan iblis, maka Hawa telah menjadi perantara bagi masuknya dosa dalam sejarah umat manusia. Dan sesuai dengan konsekwensinya, maka sejak itu jugalah manusia bisa mati.

Tentang kematian ini sendiri saudara, sebenarnya ada satu rahasia besar yang tersembunyi di sana.

Kejadian

2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Dalam versi inggrisnya sebagai berikut :

Kejadian

2:17 But of the tree of the knowledge of good and evil, thou shalt not eat of it: for in the day that thou eatest thereof thou shalt surely die.

Kata “die” disini juga dipergunakan juga untuk menggambarkan terhadap kematian secara fisik.

Matius 

26:35 Peter said unto him, Though I should die with thee, yet will I not deny thee. Likewise also said all the disciples.

Dalam kitab kejadian ini, jelas sekali dikatakan pada saat memakan buah itu, maka pada saat itu juga manusia bisa mati secara jasmani. Terbukti setelah manusia di usir dari taman itu, Adam kemudian dapat mati. Tentang kematiannya secara rohani itu tidak perlu dibahas sebab segala sesuatu yang melanggar perintah Tuhan jelas menghasilkan dosa, dan dosa membuat kita terlepas dari Tuhan. Hal ini juga berlaku pada malaikat. Saat melakukan perbuatan yang menghasilkan dosa, maka terlepaslah kita dari Tuhan.

Kejadian

5:5 Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati.

Awal mulanya Adam tidak diciptakan untuk mati, tetapi endingnya dia mengalami kematian.

Tentang hukuman mati saat makan buah pengetahuan ini saudara, memang sepertinya terlalu “kejam”. Coba kita bayangkan, ada larangan seperti ini, “Jangan makan buah ini – padahal tidak beracun – , saat kau makan maka kau harus mati.”

Mengapa hukuman yang diberikan sepertinya sangat maksimal sekali, yaitu kematian. Padahal kan cuma makan buah saja? Toh buahnya juga tidak beracun yang bisa membuat kita mati?

Saudara, kematian karena memakan buah pengetahuan ini, ternyata memiliki satu rahasia besar. Sebab dengan kematian itulah maka kita bisa diselamatkan. Nanti kita akan sampai ke ujung pembahasan ini.

Kejatuhan manusia bersifat jasmani. Saat Adam makan buah pengetahuan itu, yang dilakukan secara jasmani, maka saat itu juga penghukuman jasmanipun diterima, yaitu dari hidup kekal secara jasmani menjadi hidup fana secara jasmani pula. Yaitu bisa mengalami kematian. Dosa memakan buah pengetahuan ini, telah dilakukan secara jasmani dan telah menghasilkan akibat secara jasmani juga.

Sekarang karena manusia sudah terpisah dari Tuhan karena dosa, manusia juga mengalami kematian secara jasmani pula karena hal di atas. Jadi penghukuman kita jelas, yaitu terpisah dari Tuhan secara rohani dan dapat mengalami kematian secara jasmani.

Nah, mengacu pada keterangan di atas, sebenarnya dibalik kematian kita secara jasmani ini ada satu rahasia besar bagi penyelamatan. Seandainya kita tidak mengalami kematian secara jasmani dan hanya terpisah saja secara rohani dari Tuhan, maka sudah tentu kita tidak mungkin dapat diselamatkan.

Tetapi disinilah letak “keberuntungan” kita, kalau boleh saya katakan demikian, bahwa saat Adam melakukan pelanggaran secara jasmani, yaitu memakan buah pengetahuan, yang dapat berakibat pada kematian secara jasmani, secara berbarengan kita juga telah memiliki pintu keselamatan yang nantinya akan menyelamatkan kita saat Yesus menggenapinya.

Saudara, seperti ulasan kita pada (buku sharing ke VI pada judul “Bagaimana Dosa Kita Ditebus?”) bahwa di sana dikatakan karena pembaptisan dalam nama Yesus, membuat kita telah mati sama seperti Yesus mati.

Roma

6:3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?
6:4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Meskipun sekarang ini kita masih hidup, pada dasarnya kita telah mengalami kematian sama seperti Yesus telah mati.

Dan menurut firman Tuhan di kitab

Roma

6:7 Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.

Maka secara tidak langsung kita telah melunasi hutang dosa ini. Yaitu kita telah membayar hutang dosa dengan “kematian” kita yang dimungkinkan di dalam Yesus Kristus. Inilah letak rahasia keselamatan kita. Yaitu kita dapat membayar hutang dosa kita dikarenakan kita dimungkinkan oleh Tuhan Yesus Kristus untuk membayarnya dengan “kematian” kita di dalam namaNya.

Siapa yang telah mati untuk membayar dosanya, dia telah lepas dari kuasa dosa. Dan Tuhan telah menetapkan bahwa manusia hanya mati satu kali saja. Tidak lebih.

Ibrani 

9:27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,

Tetapi di dalam Yesus, kita telah mengalami kematian satu kali itu, yaitu saat kita dibaptis di dalam namaNya.

Kalau saat ini kita masih hidup, itu karena kita hidup dalam Yesus.

Roma

6:11 Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

6:15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!

Galatia

2:19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;
2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Jadi saudara, kita manusia meskipun telah jatuh dalam dosa, masih memungkinkan untuk diselamatkan karena Adam, yang telah melakukan perbuatan dosa itu, telah menyebabkan kita dapat mati secara jasmani. Dan kematian secara jasmani ini memungkinkan kita untuk diselamatkan dengan cara mengalami “kematian” secara jasmani itu untuk melunasi dosa melalui baptisan kita di dalam nama Yesus, yang adalah Tuhan dan Juru Selamat kita. (perlu diingat kalau kita bicara baptisan, jangan diartikan dengan baptisan selam ataupun percik, bukan itu yang saya maksudkan. Untuk memahami baptisan yang saya maksudkan ini saudara dapat membaca buku sharing ke V dengan judul “Baptis!”)

Tanpa Yesus Kristus yang adalah pintu keselamatan, kita tidak mungkin bisa mengalami “kematian” yang merupakan satu-satunya cara melunasi dosa.

Nah, kembali kepertanyaan awal yang mungkin secara iseng dipertanyakan, mengapa malaikat yang berbuat dosa sepertinya tidak ada pengampunan?

Saudara, apabila saudara telah memahami ulasan kita di atas, sebenarnya pertanyaan ini sendiri telah terjawab dengan sendirinya. Tetapi saya akan coba untuk merangkumkannya sebaik mungkin.

Malaikat jelas berbeda dengan manusia. Malaikat adalah mahluk roh. Bukan mahluk jasmani seperti manusia. Saat malaikat melakukan dosa, malaikat melakukannya dengan kehendak dan kesadarannya sendiri.

Manusia pertama, melakukan dosa karena pengaruh luar (bujuk rayu iblis – malaikat jatuh), bukan dari dalam dirinya sendiri. Namun demikian karena telah melakukan hal yang melawan perintah Tuhan, maka akibat yang ditimbulkannyapun sama seperti yang dilakukan oleh malaikat jatuh. Yaitu hidup terpisah dari Tuhan.

Akan tetapi yang paling menentukan di sini adalah, saat malaikat melakukan perbuat dosa, perbuatan dosa yang dilakukan itu adalah bersifat rohani, yaitu ingin menyamai Tuhan.

Perbuatan dosa Adam, adalah perbuatan dosa jasmani, yaitu memakan buah pengetahuan. Sehingga efek dari hal ini maka manusiapun akan mati secara jasmani.

Malaikat jatuh, tetap tidak akan mati, karena dia roh adanya dan perbuatan dosanyapun bersifat rohani yaitu terpisah dari Tuhan.

Manusia juga begitu, dosanya membuat dia terpisah dari Tuhan, namun manusia bisa mati secara jasmani.

Kematian manusia secara jasmani ini, memungkinkan manusia dapat diselamatkan karena dosa, baru lunas setelah yang berbuat dosa mengalami kematian, sesuai roma di atas.
Karena manusia memungkinkan mengalami “kematian” di dalam Yesus Kristus, makanya manusia memiliki pengharapan untuk dapat diselamatkan.

Sementara malaikat yang berdosa, karena tidak memungkinkan mengalami kematian, maka keterpisahannya dari Tuhan, tidak memiliki jalan kematian untuk melunasi dosanya. Sebab dosa yang diperbuatnya sendiri bersifat rohani yaitu ingin menyamai Tuhan. Dosa manusia bersifat jasmani karena makan buah pengetahuan yang memungkinkan manusia mengalami kematian.

Semoga sharing yang sederhana ini dapat membantu kita yang mengalami pergumulan seperti di atas, memahami apa yang seharusnya. Saya seperti juga saudara, hanyalah berusaha memahami hal yang terjadi. Sudah tentu untuk kebenaran yang sesungguhnya hanya akan kita dapatkan dari Tuhan Yesus sendiri. Apabila saudara memiliki pemahaman yang lebih membangun, saya mohon hendaknya saudara mau berbagi sehingga kita dapat saling menguatkan. Semoga Tuhan berkenan memberikan kita pemahaman yang sebenarnya.

Segala kemuliaan hanya bagi Bapa di Sorga, amin.