Menjangkau domba liar tidak mudah. Tidak sedikit dari kita yang awal mulanya begitu menggebu-gebu lalu pada akhirnya mulai letih lesu bahkan ada yang “mati suri” dalam pelayanannya dikemudian hari. Memang tidak mudah saudara, karena untuk terpanggil dalam pelayanan pribadi dalam menjangkau domba liar ini sungguh diperlukan komitmen yang tidak kecil.
Pelayanan keluar begini tidak selalu akan berbuah manis, bahkan siapapun yang sudah berkomitmen demikian pada dasarnya juga sudah berkomitmen untuk tertolak, terhina, teraniaya bahkan terhilang dari bumi ini. Bukankah para Rasul sendiri telah membuktikan hal demikian?
Coba saudara renungkan, adakah diantara para Rasul yang matinya “normal” kecuali Rasul Yohanes? Bahkan Rasul Yohanespun sebelum dibuang ke pulau Patmos pernah akan dibunuh dengan cara dilempar ke minyak mendidih. Hanya karena keajaiban Tuhan saja yang membuat upaya itu pada akhirnya gagal.
Jadi saudara, jika saudara telah terpilih oleh Tuhan dalam pelayanan seperti ini, bersuka citalah. Karena segala derai air matamu tidak akan sia-sia. Saya pribadi angkat topi dengan para misionaris, sungguh! Saya sangat menghargai pelayanan kalian yang sangat luar biasa itu. Tuhan Yesus memberkati.
Sekarang kita masuk ke topik pokok yang ingin saya bahas di sini. Pelayanan dalam menjangkau domba liar sungguh adalah pelayanan yang mulia, namun ada juga pelayanan yang tidak kalah mulianya dengan itu yaitu pelayanan menjaga domba Kristus.
Bro, kita boleh sibuk dengan segala daya upaya dalam usaha menjangkau domba liar, tetapi tolong jangan lupakan domba Kristus yang sudah kita menangkan, baik domba itu dari hasil konversi ataupun dari kelahiran dalam keluarga kristen.
Jangan anggap sepeleh saudara, kesalahan yang sering pendeta lakukan tanpa sadar adalah menganggap semua anak-anak kristen otomatis sudah mengenal siapa Yesus karena orang tuanya sendiri adalah orang kristen. Apalagi anak kristen ini cukup aktif dalam sekolah minggu sejak kecil. Jadi orang-orang seperti inilah yang sering terabaikan dalam pendewasaan iman mereka.
Anggapan karena si A terlahir sebagai kristen otomatis dia sudah mengenal siapa Yesus, sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan si A sendiri. Lalu bagaimana tanggapan kita? Kalau reaksi kita malah terkaget-kaget saat mengetahui hal ini, itu justru akan menjadi kontra produktif bagi yang lain. Mereka justru akan menutup diri karena takut ikut terhakimi dengan sikap kita. Ini berbahaya bro.
Tidak sedikit anak kristen yang setelah dewasanya masih tidak mengerti bahkan untuk hal-hal yang paling dasar dalam kekristenan seperti ajaran rupa-rupa pembaptisan misalnya. Mereka hanya melakukan rutinitas seperti apa yang dicontohkan oleh orang tuanya selama ini. Tidak lebih. Makanya jangan heran kalau suatu saat mereka akan terhilang murtad pindah agama semata-mata karena pernikahan.
Kita terlalu sibuk dengan domba-domba liar tetapi lupa kalau domba sendiri sudah “lompat kandang” alias murtad. Di daerah-daerah masih banyak jemaat Kristus yang berfikiran semua agama sama saja, sama-sama mencari Tuhan…. Woow…lihat tuh gembala! Domba yang dititipkan kepadamu loh itu.
Contoh sudah banyak, bahkan diperkotaan ada contoh nyata yang dapat kita tonton setiap hari dari publik figur yang tadinya mengaku pengikut Yesus sekarang telah meninggalkan-Nya dengan berbagai alasan, silahkan saudara browsing sendiri, internet telah memberikan jawabannya.
Pertanyaannya, mengapa domba-domba ini bisa “lompat kandang”? Mereka tidak dipaksa dengan pilihan murtad atau mati loh saudara. Mereka “melompat” dengan kesadaran dan kerelaan mereka sendiri…. dan ini sudah sering terjadi disekitar kita. Jika banyak jemaat yang telah lama berada dalam lingkungan gereja tetapi masih belum memahami dasar iman Kristen dan mudah meninggalkan Kristus, maka gereja perlu mengevaluasi kembali kualitas pemuridan dan pendewasaan iman yang dilakukan.
Sebagai ilustrasi, bila ada banjir besar menerjang dan si A diberi pilihan untuk meraih pelampung atau emas 50 kg, apakah si A akan meraih emas 50 kg sementara dia mengerti gunanya pelampung? Sudah tentu tidak. Tetapi bila si A tidak mengerti gunanya pelampung jangan ditanya lagi, otomatis dia akan meraih emas 10 kg itu.
Begitu juga kita, tanpa pengenalan akan Yesus, kita akan sangat mudah meninggalkan-Nya demi hal-hal duniawi.
Matius
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Yang saya bold di atas, sering terlupakan dalam pelayanan pendeta. Yah, inilah yang sering terlupakan oleh gembala gereja karena mereka terlanjur beranggapan jika dari kecil sudah kristen, maka otomatis mengerti siapa Yesus…..
Woy bro, bangunlah. Seorang anak yang terlahir dalam keluarga kristen tidak otomatis dia mengerti siapa Yesus, bahkan ayah dan ibunya sendiri jangan-jangan juga belum mengerti siapa Yesus. Mereka butuh dilayani untuk mendewasakan iman mereka. Mereka butuh dilayani agar mereka dapat mengenal siapa Yesus sesungguhnya.
Kita jangan berharap mereka akan datang menemui pendeta lalu bertanya siapa Yesus. Tidak, mereka tidak akan melakukan itu karena mereka sendiri pada dasarnya tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya belum mengenal siapa Yesus.
Dapat anda bayangkan bro? orang yang tidak merasa mereka sakit apakah mereka akan pergi ke dokter lalu berkata “dokter, saya ingin berobat”?
Jadi dalam hal ini pendetalah yang harus proaktif, tanyakan pada mereka prinsip-prinsip dasar kekristenan itu apa, dari jawaban merekalah pendeta akan mengetahui sejauh mana pengenalan mereka akan Yesus.
Tuhan Yesus sendiri sudah memberikan amanat yang jelas seperti di atas, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka”. Maka sudah menjadi tugas para pendetalah yang harus menjadi pendidik-pendidik bagi Anak Allah ini. Jangan selalu sibuk dengan segala seremonial kegiatan gereja yang tidak ada hubungannya dengan pendewasaan iman jemaat dalam pelayananmu bro….
Mari kita fokus dalam memelihara domba Kristus sama seperti kita sibuk menjangkau domba liar. Mereka butuh pendewasaan iman dan ini sudah menjadi tugas pengembala. Jangan terlena dengan jumlah jemaat yang wah, gedung gereja yang wah, tetapi ternyata yang sungguh-sungguh mengenal Yesus malah cuma kita sendiri, semoga hal ini tidak terjadi ya bro? kalau ini terjadi, sebenarnya ini merupakan cermin dari kegagalan kita dalam pelayanan.
Sudah saatnya denominasi-denominasi yang ada untuk mengingatkan pendeta dibawah naungannya agar serius memperhatikan pendewasaan iman bagi jemaat yang dalam pengembalaan mereka. Berikan jemaat-jemaat itu makanan yang keras berlandaskan Alkitab, jangan selalu susu. Jemaat yang bertumbuh dewasa akan mengerti sendiri bahwa domba yang berada di dalam kandang akan aman.
Akhir kata, semoga kita sadar bahwa lahir dalam keluarga kristen tidak menjamin kita sudah mengenal Yesus Kristus dengan benar, tanyakanlah pada diri kita sendiri siapa itu Yesus bagi kita? Seberapa yakin kita selamat dalam Kristus? Kalau malam ini kita mati, apa kita benar-benar yakin akan ke sorga?
Tuhan Yesus memberkati.
GBU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar