Translate

Sabtu, 18 Juli 2026

Lahir Kembali

 

 

 

 

Yohanes

 

3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

 

Inilah jawaban Tuhan kita Yesus Kristus atas pertanyaan dari Nikodemus. Singkat, padat. Lalu penjelasan berikutnya sungguh bisa membingungkan.

 

Yohanes

 

3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

 

Tentang bagaimana agar kita dapat selamat Tuhan telah menjawabnya, kita harus lahir kembali dalam roh. Untuk hal ini mungkin kita sudah tahu ketika kita membaca Alkitab sampai pada Yohanes 3 ini. Namun pernahkan saudara berfikir, kapan dilahirkan secara roh ini terjadi? Apa tandanya kita sudah dilahirkan secara roh?

 

Kalau kelahiran kita secara daging jelas, bukankah kita setiap tahun juga merayakannya dengan apa yang dinamakan “Ulang Tahun”? Kumpul bareng-bareng dengan teman, tepuk tangan, nyanyi-nyanyi lalu potong kue sambil makan bareng. Tetapi tentang kelahiran kita yang kedua yaitu kelahiran secara roh ini kapan? Jangankan kita sendiri, orang tua kitapun tidak tahu kapan itu terjadi kalau ditanya.

 

Celakanya, Tuhan Yesus malah bilang kalau kita tidak dilahirkan kembali dalam roh, maka kita tidak dapat datang ke Kerajaan Allah. Buset dah! Seperti teka teki silang nih. Masalahnya ini tidak sesederhana teka teki silang karena ini berkaitan langsung dengan keselamatan kita.

 

Bagi saya pribadi karena ini berkaitan dengan keselamatan maka hal ini menjadi sangat penting untuk diketahui dengan pasti, sebab kalau ternyata kita belum lahir kembali secara roh, bukankah sudah seharusnya kita usahakan agar kelahiran ini dapat terjadi? Bagi saya ini sangat serius untuk disikapi, tidak tahu kalau saudara.

 

Dari perbincangan Nikodemus dengan Yesus saat itu, ada satu bagian yang cukup menarik yang mungkin juga akan kita tanyakan kalau kita berada pada posisi Nikodemus.

 

Yohanes

 

3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

 

Ha..ha… Jangan tertawa saudara, ini adalah pertanyaan yang dilontarkan karena bukan untuk mengejek, tetapi murni karena kebingungan bagi Nikodemus. Kalau ada orang mengatakan “Kamu harus dilahirkan kembali” sambil dalam mode senyum-senyum mungkin Nikodemus akan mengangapnya sebagai humor, tetapi kalau pernyataan itu dilontarkan dalam mode serius, maka tidaklah aneh apabila Nikodemus meresponnya dalam kebingungan yang serius juga seperti yang kita temui pada ayat di atas.

 

Ini serius saudara, dan Nikodemuspun meresponnya dengan serius, lalu bagaimana kita tidak meresponnya dengan serius pula?

 

Lalu sekarang bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui bahwa kita sudah dilahirkan kembali secara roh sehingga dapat memberikan ketenangan bagi batin kita?

 

Sebagian orang ada yang bilang bahwa kita harus lahir baru, tetapi saat ditanya apa buktinya kita sudah lahir baru mereka juga bingung. Mungkin ada yang berusaha menjawab itu terlihat dari kehidupan kita selanjutnya. Intinya kita akan tampil berbeda dari sebelumnya. Kalau dulu cuek mungkin tiba-tiba full senyum, kalau dulu sangat hemat mungkin tiba-tiba jadi royal. Kalau dulu malas baca Alkitab mungkin tiba-tiba Alkitab selalu muncul dalam tas tangannya.

 

Apa benar itulah tanda-tandanya saudara? Bagaimana kalau dalam waktu setahun kemudian semuanya kembali normal lagi? Yang full senyum kembali cuek, yang royal kembali hemat? Apakah ini artinya dia sudah mati kembali secara roh?

 

Saudara terkasih, kelahiran kembali secara roh memang harus dan wajib kita alami jikalau kita mau masuk dalam Kerajaan Allah. Tanpa kelahiran kembali ini mustahil bagi kita untuk ke sana. Dan tentang kelahiran kembali ini jelas sudah tertulis di Yohanes 3:6 yang membuat kita dilahirkan secara roh adalah Roh, bukan ibu dunia kita lagi.

 

Jadi pertanyaan Nikodemus tentang bagaimana mungkin kita masuk kembali ke dalam rahim ibu kita adalah pertanyaan yang sangat manusiawi sekali. Otak kita langsung otomatis kepikiran bahwa karena kita dilahirkan oleh ibu kita, maka kalau bicara kita harus lahir kembali berarti ibu kitalah yang akan mengulangi kelahiran kita itu. Kasihan ibu kita…..

 

Pada dasarnya Alkitab telah memberikan kita jawabannya sebagai berikut:

 

Titus

 

3:5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan kerena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

 

Dapat saudara lihat? Kelahiran kita kembali secara roh itu dilakukan oleh Roh Kudus sendiri, bukan oleh ibu kita, bukan oleh pendeta, bukan oleh siapapun di dunia ini tetapi oleh Roh Kudus itu sendiri. Kapan itu terjadi? Mengapa kita tidak merasakannya?

 

Pertama-tama, saudara harus tahu bahwa untuk dapat dilahirkan kembali, kita juga harus mengalami kematian lebih dahulu. Bukankah Yesus yang “lahir” kembali dalam tubuh kemuliaan-Nya juga harus mengalami kematian lebih dahulu di kayu salib? Dikatakan Dia yang sulung, Dialah contoh bagi kita.

 

Roma

 

8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

 

 

1 Korintus

 

15:20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

 

Saudara, tidak tahukah saudara bahwa saat kita dibaptis dalam nama Yesus (yang saya maksud baptisan yang dilakukan oleh Roh Kudus ya), kita telah dipersatukan dengan kematian Kristus, sebagaimana Yesus telah mati di kayu salib? Karena Yesus 2000 tahun yang lalu benar-benar mati di atas kayu salib, maka kita pun pada dasarnya ikut mati bersama Dia di dalam kematian-Nya itu, meskipun kita masih hidup secara jasmani.

 

Tanpa Tuhan Yesus, kita tidak akan bisa mengalami “kematian” ini, sehingga memungkinkan kita untuk terlahir kembali secara roh.

 

Roma

 

6:3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?

6:4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

 

Kelahiran baru adalah karya Roh Kudus, dan dalam kelahiran baru itu Roh Kudus menyatukan kita dengan Kristus. Kapan baptisan Roh ini terjadi? Kita tidak dapat memastikan waktunya dengan tepat. Karena itu karya Roh Kudus di dalam hati kita.

 

Kisah Para Rasul

 

10:44 Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.

10:47 “Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?”

 

Baptisan Roh terjadi oleh Roh Kudus sendiri baru kemudian Rasul Petrus membaptis mereka dengan air sebagai pernyataan iman.

 

Lalu bagaimana kita tahu bahwa Roh Kudus juga turun atas kita sementara kita tidak melihat tanda-tanda yang wah seperti yang terjadi pada Kornelius? Ini penting karena dengan inilah kita bisa yakin bahwa baptisan Roh yang memungkinkan kita terlahir kembali secara roh itu telah terjadi pada kita.

 

Ayat berikut menjawabnya:

 

1 Korintus

 

12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.

 

Jadi kalau saudara dapat mengaku dengan mulut saudara bahwa Yesus adalah Tuhan bagi saudara, dan dengan hati saudara percaya bahwa Dia telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh Allah, maka pengakuan itu menjadi tanda bahwa Roh Kudus ada di dalam hati saudara dan sedang bekerja di dalam diri saudara.

 

Sementara kita sekarang masih hidup secara jasmani, pada dasarnya kita telah mengalami kematian bersama Kristus, sebagaimana Kristus telah mati di kayu salib. Inilah kelahiran baru kita, yaitu kelahiran secara roh karena telah menerima Roh Kudus di dalam hati kita.

 

Dengan kehadiran Roh Kudus di dalam hati kita, berarti kita telah dipersatukan dengan kematian Yesus, namun kita sekarang masih hidup, dan hidup kita inilah yang dinamakan hidup baru dalam Yesus.

 

Galatia

 

2:19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;

2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

 

Sekarang saudara sendiri bisa tahu apakah saudara telah dilahirkan kembali secara roh atau belum. Tanyakan pada hati saudara sendiri, jangan bertanya kepada ibu saudara apalagi kepada pendeta saudara, mereka tidak bakalan tahu.

 

Saudara, jagalah keselamatan kita. Keselamatan kita ini diperoleh dengan darah Yesus yang tercurah, itu tidak murah, itu tidak ternilai harganya. Jangan sampai Roh Kudus akhirnya meninggalkan saudara karena lebih memilih murtad oleh dunia ini.

 

Akhir kata semoga sharing kali ini bisa memberkati kita semua. Silahkan saudara ambil yang dirasa perlu, abaikan yang menurut saudara tidak perlu.

 

Segala kemuliaan hanya bagi Yesus Kristus Tuhan dan Juru Selamat saya.

 

Ayat terakhir bagi kita:

 

1 Petrus

 

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

 

Amin. 

 

GBU

Kamis, 16 Juli 2026

Domba Liar vs Domba Kristus


Menjangkau domba liar tidak mudah. Tidak sedikit dari kita yang awal mulanya begitu menggebu-gebu lalu pada akhirnya mulai letih lesu bahkan ada yang “mati suri” dalam pelayanannya dikemudian hari. Memang tidak mudah saudara, karena untuk terpanggil dalam pelayanan pribadi dalam menjangkau domba liar ini sungguh diperlukan komitmen yang tidak kecil.

 

Pelayanan keluar begini tidak selalu akan berbuah manis, bahkan siapapun yang sudah berkomitmen demikian pada dasarnya juga sudah berkomitmen untuk tertolak, terhina, teraniaya bahkan terhilang dari bumi ini. Bukankah para Rasul sendiri telah membuktikan hal demikian?

 

Coba saudara renungkan, adakah diantara para Rasul yang matinya “normal” kecuali Rasul Yohanes? Bahkan Rasul Yohanespun sebelum dibuang ke pulau Patmos pernah akan dibunuh dengan cara dilempar ke minyak mendidih. Hanya karena keajaiban Tuhan saja yang membuat upaya itu pada akhirnya gagal.

 

Jadi saudara, jika saudara telah terpilih oleh Tuhan dalam pelayanan seperti ini, bersuka citalah. Karena segala derai air matamu tidak akan sia-sia. Saya pribadi angkat topi dengan para misionaris, sungguh! Saya sangat menghargai pelayanan kalian yang sangat luar biasa itu. Tuhan Yesus memberkati.

 

Sekarang kita masuk ke topik pokok yang ingin saya bahas di sini. Pelayanan dalam menjangkau domba liar sungguh adalah pelayanan yang mulia, namun ada juga pelayanan yang tidak kalah mulianya dengan itu yaitu pelayanan menjaga domba Kristus.

 

Bro, kita boleh sibuk dengan segala daya upaya dalam usaha menjangkau domba liar, tetapi tolong jangan lupakan domba Kristus yang sudah kita menangkan, baik domba itu dari hasil konversi ataupun dari kelahiran dalam keluarga kristen.

 

Jangan anggap sepeleh saudara, kesalahan yang sering pendeta lakukan tanpa sadar adalah menganggap semua anak-anak kristen otomatis sudah mengenal siapa Yesus karena orang tuanya sendiri adalah orang kristen. Apalagi anak kristen ini cukup aktif dalam sekolah minggu sejak kecil. Jadi orang-orang seperti inilah yang sering terabaikan dalam pendewasaan iman mereka.

 

Anggapan karena si A terlahir sebagai kristen otomatis dia sudah mengenal siapa Yesus, sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan si A sendiri. Lalu bagaimana tanggapan kita? Kalau reaksi kita malah terkaget-kaget saat mengetahui hal ini, itu justru akan menjadi kontra produktif bagi yang lain. Mereka justru akan menutup diri karena takut ikut terhakimi dengan sikap kita. Ini berbahaya bro.

 

Tidak sedikit anak kristen yang setelah dewasanya masih tidak mengerti bahkan untuk hal-hal yang paling dasar dalam kekristenan seperti ajaran rupa-rupa pembaptisan misalnya. Mereka hanya melakukan rutinitas seperti apa yang dicontohkan oleh orang tuanya selama ini. Tidak lebih. Makanya jangan heran kalau suatu saat mereka akan terhilang murtad pindah agama semata-mata karena pernikahan.

 

Kita terlalu sibuk dengan domba-domba liar tetapi lupa kalau domba sendiri sudah “lompat kandang” alias murtad. Di daerah-daerah masih banyak jemaat Kristus yang berfikiran semua agama sama saja, sama-sama mencari Tuhan…. Woow…lihat tuh gembala! Domba yang dititipkan kepadamu loh itu.

 

Contoh sudah banyak, bahkan diperkotaan ada contoh nyata yang dapat kita tonton setiap hari dari publik figur yang tadinya mengaku pengikut Yesus sekarang telah meninggalkan-Nya dengan berbagai alasan, silahkan saudara browsing sendiri, internet telah memberikan jawabannya.

 

Pertanyaannya, mengapa domba-domba ini bisa “lompat kandang”? Mereka tidak dipaksa dengan pilihan murtad atau mati loh saudara. Mereka “melompat” dengan kesadaran dan kerelaan mereka sendiri…. dan ini sudah sering terjadi disekitar kita. Jika banyak jemaat yang telah lama berada dalam lingkungan gereja tetapi masih belum memahami dasar iman Kristen dan mudah meninggalkan Kristus, maka gereja perlu mengevaluasi kembali kualitas pemuridan dan pendewasaan iman yang dilakukan.

 

Sebagai ilustrasi, bila ada banjir besar menerjang dan si A diberi pilihan untuk meraih pelampung atau emas 50 kg, apakah si A akan meraih emas 50 kg sementara dia mengerti gunanya pelampung? Sudah tentu tidak. Tetapi bila si A tidak mengerti gunanya pelampung jangan ditanya lagi, otomatis dia akan meraih emas 50 kg itu.

 

Begitu juga kita, tanpa pengenalan akan Yesus, kita akan sangat mudah meninggalkan-Nya demi hal-hal duniawi.

 

 

Matius

 

28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

 

Yang saya bold di atas, sering terlupakan dalam pelayanan pendeta. Yah, inilah yang sering terlupakan oleh gembala gereja karena mereka terlanjur beranggapan jika dari kecil sudah kristen, maka otomatis mengerti siapa Yesus…..

 

Woy bro, bangunlah. Seorang anak yang terlahir dalam keluarga kristen tidak otomatis dia mengerti siapa Yesus, bahkan ayah dan ibunya sendiri jangan-jangan juga belum mengerti siapa Yesus. Mereka butuh dilayani untuk mendewasakan iman mereka. Mereka butuh dilayani agar mereka dapat mengenal siapa Yesus sesungguhnya.

 

Kita jangan berharap mereka akan datang menemui pendeta lalu bertanya siapa Yesus. Tidak, mereka tidak akan melakukan itu karena mereka sendiri pada dasarnya tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya belum mengenal siapa Yesus.

 

Dapat anda bayangkan bro? orang yang tidak merasa mereka sakit apakah mereka akan pergi ke dokter lalu berkata “dokter, saya ingin berobat”?

 

Jadi dalam hal ini pendetalah yang harus proaktif, tanyakan pada mereka prinsip-prinsip dasar kekristenan itu apa, dari jawaban merekalah pendeta akan mengetahui sejauh mana pengenalan mereka akan Yesus.

 

Tuhan Yesus sendiri sudah memberikan amanat yang jelas seperti di atas, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka”. Maka sudah menjadi tugas para pendetalah yang harus menjadi pendidik-pendidik bagi Anak Allah ini. Jangan selalu sibuk dengan segala seremonial kegiatan gereja yang tidak ada hubungannya dengan pendewasaan iman jemaat dalam pelayananmu bro….

 

Mari kita fokus dalam memelihara domba Kristus sama seperti kita sibuk menjangkau domba liar. Mereka butuh pendewasaan iman dan ini sudah menjadi tugas pengembala. Jangan terlena dengan jumlah jemaat yang wah, gedung gereja yang wah, tetapi ternyata yang sungguh-sungguh mengenal Yesus malah cuma kita sendiri, semoga hal ini tidak terjadi ya bro? kalau ini terjadi, sebenarnya ini merupakan cermin dari kegagalan kita dalam pelayanan.

 

Sudah saatnya denominasi-denominasi yang ada untuk mengingatkan pendeta dibawah naungannya agar serius memperhatikan pendewasaan iman bagi jemaat yang dalam pengembalaan mereka. Berikan jemaat-jemaat itu makanan yang keras berlandaskan Alkitab, jangan selalu susu. Jemaat yang bertumbuh dewasa akan mengerti sendiri bahwa domba yang berada di dalam kandang akan aman.

 

Akhir kata, semoga kita sadar bahwa lahir dalam keluarga kristen tidak menjamin kita sudah mengenal Yesus Kristus dengan benar, tanyakanlah pada diri kita sendiri siapa itu Yesus bagi kita? Seberapa yakin kita selamat dalam Kristus? Kalau malam ini kita mati, apa kita benar-benar yakin akan ke sorga?

 

Tuhan Yesus memberkati.

GBU