Translate

Rabu, 19 November 2014

Denominasi !


Dalam kekristenan, kita mengenal begitu banyak denominasi. Saya rasa, untuk menyebutnya satu persatu kita bisa cukup repot dibuatnya.... tetapi secara garis besar kita lebih mengenalnya dengan protestan dan kharismatik, tentu, selain ini masih banyak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Tiap denominasi ini, di dalam usahanya untuk memuji dan menyembah Tuhan, tidak jarang mereka memiliki tata ibadah yang sangat berbeda antara yang satu dan lainnya. Bahkan perbedaannya terkadang sampai mendekati 100%. Jadi dapat saudara bayangkan bagaimana besarnya perbedaan dari masing-masing denominasi ini di dalam tata cara ibadahnya kepada Tuhan.

Karena perbedaan-perbedaan inilah saudara, terkadang antar denominasi mengalami benturan-benturan yang tidak sehat. Masing-masing pihak bisa saja mengklaim bahwa tata cara yang mereka lakukanlah yang terbaik. Meskipun tentang benturan-benturan ini secara terbuka memang belum pernah saya dengar.... namun tidak tertutup kemungkinan satu denominasi melecehkan denominasi lainnya hanya karena merasa cara yang mereka lakukan itu tidak benar.

Bahkan saya pernah mendengarnya langsung dari seorang “gembala” yang turut menghakimi bahwa denominasi yang berbahasa Roh itu adalah tidak benar. Sebabnya...? karena dia berada pada denominasi yang tidak menggunakan bahasa Roh dalam ibadah mereka.... pembicaraan ini... sudah barang tentu hanya di konsumsi kalangan mereka sendiri... tapi baik itu di expose ataupun tidak, kita tidak dapat memungkirinya bahwa perasaan untuk menganggap hanya denominasi sendirilah yang paling benar sudah merasuk ke hati orang-orang kristen pada umumnya....

Hal ini belum lagi kalau kita kaitkan pada pihak-pihak luar yang sama sekali tidak mengenal kekristenan.

Seorang teman yang bukan kristen... juga pernah mengungkapkan rasa herannya (meskipun setelah di pancing pembicaraannya). Dia mengatakan mengapa begitu banyaknya denominasi dalam kekristenan...? dari sekian banyaknya denominasi itu.... yang mana yang benar? Kalau melihat semua tata cara ibadahnya yang tidak sama, seharusnya tidak mungkin semua benar? Bagaimana mungkin ada yang menyembah Tuhan dengan hikmat dan ada yang menyembah Tuhan dengan ratapan dapat dikatakan kedua-duanya benar?

Nah, keadaan yang begini.... sangat membingungkan bagi dirinya.... terlebih lagi bagi satu jiwa baru yang akan bertobat. Jiwa baru yang akan bertobat ini sudah tentu akan mencari tahu dari satu gereja ke gereja yang lain.... dia akan berusaha mempelajari tentang kekristenan sebelum pada akhirnya dia harus memilih untuk menjadi bagian dari kekristenan itu....

Apabila dia berkunjung di gereja dengan denominasi A, dan  untuk minggu selanjutnya dia berkunjung ke gereja dengan denominasi B..... bukankah hal ini akan membuat dia bertanya-tanya dalam hati? Di sana menyembah Yesus dengan cara ini..... di sini menyembah Yesus dengan cara itu... dan seterusnya lagi bila dia memutuskan untuk berkunjung pada gereja-gereja selanjutnya... intinya, makin banyak gereja yang dia kunjungi, makin pusinglah dia..... dan celakanya.... bila buntut-buntutnya dia memutuskan untuk menunda dululah niatnya....

Saudara, mengapa begitu banyaknya denominasi gereja dalam kekristenan? Mungkinkah saudara pernah terpikirkan untuk menyatukan semua denominasi kekristenan ini, sehingga nantinya cuma ada satu kekristenan yang menggunakan satu tata cara ibadah saja? Maksudnya baik! Yaitu agar ada keseragaman sehingga kebingungan-kebingungan yang terjadi dapat di tiadakan? Bukankah gereja katolik sama sekali tidak memiliki banyak denominasi seperti pada gereja-gereja protestan?

Kalau saudara pernah memikirkan hal itu,.... maka jawabannya sebenarnya sudah ada wadah yang menampung aspirasi seperti ini..... yaitu wadah yang di sebut dengan ouikumene, wadah ini, merupakan wadah pemersatu dari begitu banyaknya kekristenan di dunia... termasuk juga gereja katolik di dalamnya.... namun, tetap saja denominasi tadi tidak dapat sepenuhnya di tanggalkan.

Tetap saja, tiap orang yang ikut dalam ouikumene itu saling menganggap denominasi yang mereka wakili dalam ouikumene itu tetaplah denominasi yang lebih baik dari semua denominasi yang lain.... tetap saja tiap orang saling mengasihani orang yang lain denominasinya.... bukan karena kasih! Namun karena menganggap temannya ini, telah tersesat dalam denominasi yang dia ikuti....

Jadi begitu banyak orang yang saling mengasihani satu sama lain.... hanya semata-mata karena dia berangapan bahwa orang yang di kasihani itu telah tersesat dalam denominasinya... sama seperti orang yang menganut baptisan selam mengasihani orang yang menganut baptisan percik.

Sebenarnya apa yang terjadi saudara? Mengapa begitu banyaknya denominasi dalam kekristenan? Apa memang benar hanya ada satu denominasi saja yang benar dan yang lainnya sesat? Atau sebaliknya,..... semua denominasi itu benar di mata Tuhan walaupun cara mereka melaksanakan ibadah sangat berbeda? Hal ini, kalau tidak dapat kita jelaskan, sudah tentu akan menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang baru akan mengenal kekristenan... dan bukan mereka saja..... bahkan bagi orang-orang yang sudah kristen sejak lahirnyapun tidak sedikit yang bingung dengan kondisi seperti ini.

Sekarang, untuk mengulas tentang masalah di atas, ada baiknya kita kembali dulu ke gigi netral. Jangan dulu ada yang beranggapan bahwa denominasi dialah yang paling benar. Buang dulu semua baju denominasi yang selama ini kita kenakan.... yaitu kefanatikan yang tanpa dasar itu. Tanggalkan semua itu dan melangkahlah keluar dari lingkaran denominasi yang kita ikuti selama ini.

Sekarang.... saudara semua bukan lagi orang pantekosta, bukan lagi orang bethel, bukan lagi orang methodis, bukan lagi orang protestan, dan bukan lagi orang denominasi manapun! Saudara sekarang ini adalah orang KRISTEN ! Gereja saudara adalah GEREJA KRISTUS.

Aturan denominasi.... adalah aturan yang dibuat oleh manusia. Termasuk didalamnya adalah aturan bagaimana tata cara ibadah dalam denominasi-denominasi itu. Ada denominasi yang beribadah dengan cara memuji-muji Tuhan dalam porsi yang besar.... itu juga di buat oleh manusia.... yaitu orang-orang yang dulunya adalah pionir dari denominasi itu.... begitu juga dengan denominasi lainnya.... pionir mereka semua adalah yang merancang tata cara ibadah dalam denominasi yang mereka dirikan. Sudah tentu, semua rancangan itu mengacu pada Alkitab.... tapi seperti juga kita lihat sekarang, hampir 100% tata cara ibadah mereka itu tidak ada yang sama dari satu denominasi dengan denominasi lainnya. Mengapa demikian? Karena memang sudut pandang mereka semua berbeda.

Jadi bagaimana sebaiknya kita?

Saudara, saya tidak mengajak saudara meninggalkan aturan denominasi saudara, tetapi tidak baik bagi saudara, kalau sekiranya saudara mengikuti aturan itu tanpa dasar dan menganggapnya lebih unggul dari aturan yang ada dalam denominasi lainnya. Sehingga secara tidak langsung, saudara telah menghakimi tata cara ibadah dalam denominasi lain sebagai hal yang tidak benar. Saudara telah melakukan penghakiman dalam hal ini!

Kalau saudara belum mengetahui dasar dari aturan itu, maka disinilah kita akan mengulasnya berdasarkan Alkitabiah. Sehingga pandangan kita pada denominasi lain untuk selanjutnya, tidak lagi hanya di lihat dari sudut pandang yang lama, yang hanya menganggap denominasi kitalah yang paling benar!

Tuhan Yesus sendiri telah memberikan pengertian akan kekristenan. Dalam InjilNya di katakan :

Lukas

7:41 "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.
7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"
7:43 Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."

Perumpamaan ini, Tuhan sendiri yang mengatakannya pada kita. Dengan kita dapat memahami perumpamaan ini, maka kitapun akan mendapatkan gambaran yang jelas akan kedudukan denominasi-denominasi yang saat ini bertebaran dalam tubuh kekristenan....

Tuhan Yesus mengatakan bahwa, orang yang merasa lebih besar hutangnya..... akan mengucapkan lebih dalam berterima kasih. Hal ini sama seperti bila saudara membutuhkan pertolongan,.... bila pertolongan itu sungguh-sungguh sangat penting dan berarti bagi saudara,...  maka saudara tentu akan lebih menghargai pertolongan yang di dapat.

Lalu apa hubungannya dengan banyaknya denominasi dalam kekristenan sekarang ini? Bukankah perumpamaan itu tentang penghapusan hutang dan bagaimana mereka berterima kasih pada orang yang telah menghapuskan hutang-hutang mereka?

Benar! Perumpamaan itu tentang hutang yang dihapuskan.... dan bagaimana cara mereka berterima kasih.

Dan kebetulan pula....... hal ini adalah gambaran dari kondisi kita sebagai manusia!

Sebagai ilustrasi,.... saya berikan contoh.

Misalkan saudara adalah seorang yang sangat kaya raya. Kekayaan saudara tidak dapat terhitung lagi jumlahnya..... bahkan, jumlah perusahaan yang saudara miliki sendiripun saudara sudah lupa berapa pastinya.

Suatu hari, tiga orang teman saudara datang menghadap. Mereka mengatakan kepada saudara bahwa mereka benar-benar membutuhkan pertolongan dari saudara. Si A membutuhkan pinjaman dari saudara sebesar Rp. 100 miliar, si B membutuhkan pinjaman sebesar Rp. 10 miliar, dan si C, teman saudara ini juga membutuhkan pinjaman Rp. 50 juta.

Singkat cerita, semua pinjaman mereka saudara setujui dan saudara berikan dengan perjanjian bahwa semua pinjaman itu harus dikembalikan 1 tahun kemudian.

Hari yang di nantikanpun telah tiba. 1 tahun telah berlalu dan semua sahabat saudara yang saudara pinjamkan uang itu, sekarang ini telah berada di hadapan saudara. Mereka semua, bertiga sudah duduk di hadapan saudara. Dari penampilan mereka, sebenarnya saudara telah dapat menduga apa yang telah terjadi.

Si A datang menghadap dan bersimpuh di hadapan saudara sambil berkata, memohon belas kasihan dari saudara.... si A mengatakan bahwa bisnis yang telah dirintisnya habis tertipu rekan kerjanya. Semua harta miliknya telah di sita dan masih kurang untuk membayar semua hutang-hutang usahanya. Yang tersisa saat ini hanyalah baju di badan. Dengan lirihnya dia berkata bahwa dia beserta isteri dan anak-anaknya.... bersedia untuk mengabdi dan bekerja seumur hidup mereka untuk membayar hutangnya pada saudara.

Si B demikian juga.... dia merasa hutangnya itu tidak mungkin dapat terbayarkan meskipun dia bekerja seumur hidupnya. Karena itu, dengan wajah memelas dia mengatakan hal yang kurang lebih sama maknanya pada saudara.

Demikian juga dengan si C, dia mengatakan bahwa uang lima puluh juta itu sungguh sulit dapat dibayarnya saat ini..... karena itu dia juga menawarkan dirinya untuk bekerja pada saudara meskipun tidak di gaji semata-mata agar hutang sebesar itu dapat lunas.......

Sekarang..... saudara termenung..... mereka bertiga adalah sahabat saudara sejak kecil. Mereka bertiga... teman sepermainan saudara yang paling setia. Sekarang.... mereka bertiga juga yang bersimpuh dihadapan saudara mengharapkan belas kasihan dari saudara. Pada dasarnya saudara adalah orang yang baik hati. Lalu bagaimana mungkin saudara dapat bersikap kejam pada mereka?

Karena itu, saudarapun mengatakan pada mereka bahwa surat hutang mereka yang saudara pegang.... saudara robek. Dengan ini hutang mereka semua dinyatakan lunas! Mereka tidak perlu mengabdikan diri layaknya hamba sahaya pada saudara. Mereka tetaplah menjadi orang bebas.

Mereka berterima kasih atas ini semua? Jelas!

Lalu bagaimana cara mereka berterima kasih?

Si A, mungkin bila bertemu saudara di jalan.... dia akan berusaha menyeberang jalan itu dan menyalami saudara, mencium-cium tangan saudara sambil tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Si B, bila berjumpa saudara di jalan bisa jadi melakukan hal yang sama, yaitu berusaha untuk menghampiri saudara sambil menyalami saudara. Bisa jadi meskipun tidak sedramatisir seperti si A, si B juga menyampaikan ucapan terima kasihnya pada saudara.

Lalu bagaimana dengan si C? Jelas dia juga berterima kasih pada saudara..... tapi bila berjumpa saudara di jalan, bisa jadi si C hanya berusaha melambaikan tangannya dari seberang jalan sambil berteriak..... terima kasih yah.....!

Lalu reaksi saudara? Apakah saudara akan marah dan menarik kerah baju si C dan mengatakan padanya..... kalau mau berterima kasih pada saya harus seperti si A. Cium-cium tangan saya bila perlu cium-cium kaki saya! Begitu?

Sudah tentu tidak bukan? Saudara tidak akan mempermasalahkan bagaimana cara mereka berterima kasih pada saudara. Saudara tidak akan menyalahkan si C dengan cara berterima kasihnya.... begitu juga saudara tidak akan menyalahkan si A karena saudara di buat jengah dengan cara berterima kasihnya. Bagi saudara..... bagaimanapun cara mereka berterima kasih.... itu sudah cukup. Sebab pada dasarnya saudara mengasihi mereka semua.

Sekarang, kita sebagai orang kristen.

Dulu, kita adalah orang-orang yang berhutang dosa..... hutang ini, harus kita tebus dengan harga yang sangat mahal sekali.... yaitu dengan kematian kekal kita. Bagaimanapun kita berusaha untuk membayar hutang ini..... tetap saja kita tidak akan sanggup! Kalau begitu.... apa harapan kita?.... sama sekali tidak ada! Kecuali kematian.... tidak ada yang dapat membayar hutang kita!

Sekarang Yesus datang.... Dia dengan darah yang tercurah,..... menawarkan diri untuk membayar semua hutang dosa kita itu. Kematian yang harus kita tanggung sudah diambil alih olehNya. Dia yang benar,..... harus mati demi menebus semua hutang dosa kita.

Adakah kita bersyukur atas ini semua? Adakah rasa terima kasih kita untuk ini semua?

Jelas harusnya ada! Dan bagaimana cara kita berterima kasih itu? Adakah seperti si A? Atau seperti si C?

Itu semua tidak masalah di hadapan Tuhan. Kita bisa saja berterima kasih seperti si A (mungkin kita pararelkanlah dengan aliran kharismatik) atau bisa saja kita berterima kasih seperti si B (bisa jadi pararelnya lebih mendekati aliran protestan) atau bisa juga seperti si C, (saya kurang tau pararelnya ke denominasi mana lagi nih...)

Intinya disini..... semua denominasi itu tidak ada yang salah, selama mereka memuliakan, memuji dan mengagungkan Tuhan Yesus! Tata caranya boleh berbeda-beda.... ada yang dengan tangisan, ada yang dengan puji-pujian...ada juga yang selalu mengandalkan dengan berhikmat. Namun inti dari itu semua adalah untuk mengucapkan terima kasih.

Mengapa demikian? Karena inti ibadah kristen memang adalah dalam rangka mengucapkan terima kasih!

Atas apa?

Atas keselamatan yang telah kita peroleh dari penebusan Tuhan Yesus! Setiap orang yang percaya Yesus, dia telah berpindah dari kematian ke kehidupan

Yohanes

5:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.

Demikianlah kita!

Setiap yang percaya pada Yesus, dia sudah di jamin masuk kedalam sorga. Jaminan ini pasti. Sepasti dengan kebangkitan Yesus bagi kita. Karena itulah kita layak untuk mengucapkan terima kasih kita.

Semua ibadah yang kita lakukan itu, bukanlah dalam rangka mencari pahala agar kita bisa masuk sorga..... bukan!......... tetapi semua itu adalah dalam rangka mengucapkan terima kasih kita karena kita sudah diselamatkan.

Ibadah kita berbeda dengan ibadah umat agama lain. Ibadah kita di lakukan karena ucapan syukur kita.... keselamatan yang sudah kita peroleh dalam anugerah Yesus.... patut kita syukuri... karena itulah kita beribadah untuk memuliakan namaNya. Ibadah kita.... adalah bentuk pernyataan ucapan syukur! Bukan usaha untuk mendapat tiket ke sorga!

Karena itu, saudara bebas untuk mengucapkan syukur saudara dengan cara saudara. Tidak ada yang salah dalam mengucapkan rasa syukur kita.... saudara dapat menggunakan cara yang menurut saudara cocok dengan kepribadian saudara..... andai kata saudara menyukai dengan cara yang berurai air mata, lakukanlah itu! Demikian juga bila saudara lebih menyukai untuk mengucapkan syukur saudara ini melalui berbagai puji-pujian yang meriah, maka lakukanlah itu! Tidak ada yang salah.

Demikianlah sharing kita kali ini.

YBU.

Rabu, 12 Desember 2012

Kemanakah Kasihmu?


Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau hidup jauh dari kasih.
Saat seseorang jatuh dalam persoalan, dia membutuhkan kasih orang lain untuk saling berbagi dan meringankan bebannya. Interaksi dari sesama kita yang dilandasi kasih akan jauh lebih indah bagi yang bersangkutan.

Baik yang memberi kasih maupun yang menerima kasih, pada dasarnya memiliki rasa kepuasannya sendiri. Tidakkah pernah saudara rasakan bagaimana damainya hati ini saat kita menyadari telah berhasil membantu seseorang dari kesulitannya? Jika jawaban saudara tidak dan ingin merasakannya, maka cobalah saudara sesekali membantu orang-orang miskin dengan hati yang tulus. Cukup saudara saja dan Tuhan yang tahu, maka akan saudara rasakan bagaimana damainya hati saudara setelah saudara melakukan perbuatan kasih itu.

Nah, bincang-bincang kita tentang kasih ini, akan membawa kita dalam melihat kasih yang bagaimana yang sebenarnya dari kita sebagai umat Yesus terhadap sesama, dan kasih yang bagaimana yang sesungguhnya dari orang-orang dunia terhadap sesamanya pula.

Tuhan kita Yesus Kristus menghendaki kita saling mengasihi satu terhadap yang lain.

Matius

19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Yohanes

15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang kasih lainnya yang Tuhan ajarkan kepada kita. Kasih yang Tuhan inginkan dari kita ini tidak terbatas hanya pada sanak saudara dan orang-orang dekat kita saja, tidak juga terbatas pada para sahabat dan orang-orang yang baik kepada kita saja... tidak saudara.

Tetapi Tuhan Yesus juga mengajarkan kepada kita untuk mengasihi orang-orang yang jahat kepada kita. Orang-orang yang senantiasa mencari kesempatan untuk melampiaskan kebenciannya kepada kita. Orang-orang yang selalu mencari permasalahan dan sangat ingin membunuh kita. Orang-orang yang menganggap kita ini musuhnya dan harus dibasmi dengan segera. Yah! Tuhan kita Yesus Kristus mengajarkan kita untuk mengasihi mereka juga.

Matius

5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Sekarang karena sudah jelas apa yang Tuhan inginkan dari kita dalam menebarkan kasih, maka menjadi bagian kitalah untuk melaksanakannya. Meskipun hal itu sepertinya tidak masuk di akal manusia kita yang penuh dengan ego dan rasa balas dendam.

Tetapi yang sering terjadi dalam jemaat Tuhan apa? Adakah mereka melakukan hal seperti yang Tuhan mau dalam diri mereka?

Coba dengan jujur saudara tanyakan dalam diri masing-masing, masih seringkah kita bergosip tentang saudara kita yang seiman? Masihkah kita bocor mulut di mana-mana alias menceritakan hal-hal yang tidak perlu tentang orang lain kepada orang lain? Tidakkah saudara berfikir sebelum mulut saudara terucap kata-kata?

Dalam komunitas gereja, ternyata tidak sedikit orang-orang yang masih hobby bergosip dan bermulut bocor kemana-mana. Mengapa hal demikian masih saja terjadi dalam diri kita saudara? Kemanakah kasih yang Tuhan ingin kita terapkan dalam kehidupan kita itu? Mengapa tidak sekalipun mereka yang berbuat demikian menempatkan diri mereka sebagai objek yang dibicarakan?

Terkadang, orang-orang yang sempat tertarik untuk menjadi pengikut Kristus tersandung dengan tingkah pola dari pengikut Kristus itu sendiri. Berapa banyak orang-orang yang tadinya tidak mengenal kekristenan, kemudian setelah menjadi kristen dan melihat tingkah laku orang-orang “gereja” akhirnya mulai kecil hati dengan kekristenannya?

Kita tidak bisa menyalahkan mereka karena tersandung dengan “kasih” orang-orang “kristen” ini. Saat mereka menjadi kecewa karena tidak melihat perbedaan antara orang-orang duniawi dengan orang-orang “kristen” ini, saat itu juga bisa membuat mereka menjadi tawar hati dengan kekristenannya.

Bagi orang yang baru tertarik dengan kekristenan, dia akan memandang bagaimana damainya orang-orang kristen ini. Bagaimana tercerminnya kasih di antara mereka. Bagaimana baiknya mereka yang telah diselamatkan. Dan berbagai bagaimana-bagaimana yang lainnya, yang dapat mencerminkan kehidupan damai sejahtera dalam kekristenan.

Tetapi setelah mereka menjadi bagian dari kekristenan itu sendiri, barulah rasa terkejut, kaget, kecewa menyergap mereka dengan segera. Saat mereka berkumpul dengan kaum ibu “gereja”, mereka terkejut! Saat mereka berkumpul dengan kaum bapak di gereja, mereka kaget! Ternyata gosip dan pergunjingan tidak jauh-jauh dari mereka juga. Bahkan tidak sedikit yang bocor mulut kemana-mana memberitakan masalah orang lain.

Saudara, saatnya sekarang ini bagi kita untuk menyadari apa yang seharusnya tidak kita lakukan lagi. Kalau selama ini kitalah orang yang bocor mulut itu, kitalah sumber gosip itu, bertobatlah. Sebab itu telah mendukakan Tuhan kita.

Kita yang memang hobby berbicara, bukankah sebaiknya kita mulai saat ini membicarakan hal-hal yang lebih bermanfaat saja? Kita yang memang ingin menjadi sumber perhatian, bukankah bisa kita salurkan dengan hal-hal yang lebih baik? Jangan ingin menjadi sumber perhatian dengan cara bergosip. Ada banyak cara lain yang lebih baik, saudara dapat saja menjadi sumber perhatian kalau saudara menjadi pembicara dalam seminar, atau dalam diskusi, atau dalam keluarga dan komunitas yang lebih kecil lagi. Jadilah pembicara rohani bagi mereka, maka saudara akan menjadi sumber perhatian. Ini jauh lebih baik.

Sharing ini, semoga dapat menyadarkan kita semua dari kehidupan yang jauh dari kasih Tuhan. Mulailah sejak sekarang untuk stop bergosip, stop menjadi ember bocor, dan stop dari kehidupan yang jauh dari kasih terhadap sesama.

Salam kasih.
GBU

-------------------------------------------------
Amsal

20:19. Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut

Selasa, 20 November 2012

Trinitas


Ketuhanan Yesus Kristus

Yesaya
9:6 (9-5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

(Gelar ini, hanya dimilik oleh Tuhan. Namun lihatlah, itu adalah gelar yang disematkan pada seorang anak. Ini nubuatan untuk kedatangan Yesus.)


Yohanes
1:1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

(Firman yang adalah Allah, telah menjadi manusia. Ok-lah kalau masih ragu siapa manusia yang dimaksud. Nah ciri-ciri manusia “jelmaan” Tuhan sudah tentu dapat melakukan apa yang Tuhan dapat lakukan. Hal ini juga dinyatakan Yesus di ayat 14 di bawah ini)

Yohanes
14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

(apa pekerjaan-pekerjaan Yesus yang seperti pekerjaan Tuhan, yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan saja dan tidak dapat dilakukan siapapun juga? Cukup banyak, salah satunya adalah menghidupkan orang mati)

Yohanes
11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"
11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

(Hanya Tuhan saja yang dapat menghidupkan orang mati. Dan hanya Tuhan saja yang memilik kehidupan dalam diriNya sendiri. Siapapun mahluk hidup, tidak bisa memiliki kehidupan atas kehendaknya sendiri, semua hanya bergantung pada kemurahan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki seseorang mati, maka matilah orang itu. Tetapi Yesus, memiliki kehidupannya sendiri sama seperti Tuhan.)

Yohanes
5:21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.

5:26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.

(Penghakiman akhir jaman, hanya dapat dilakukan oleh Tuhan saja. Karena Dialah hakim yang seadil-adilnya... tetapi ternyata penghakiman itu akan dilakukan oleh Yesus. Hal ini karena memang Dialah Tuhan itu.)

2 Timotius
4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Yohanes
5:22 Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,

(Bahkan, Yesus sendiri juga mengaku kalau Dia dan Bapa adalah satu. Yaitu sama-sama Tuhan yang maha esa)

Yohanes
8:28 Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku.

10:30 Aku dan Bapa adalah satu."

14:9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

(Sebagai ilustrasi, jika saudara memiliki toko A dan juga memiliki toko B, bila ada orang yang bertanya, “Siapa pemilik toko A ini?” kepada saudara. Maka saat saudara menjawab “Bila sekarang anda melihat pemilik toko B ini, maka berarti anda sedang melihat pemilik toko A juga.”

Apa artinya disini saudara? Artinya pemiliki toko A dan toko B jelas 1 orang.

Begitu juga bila saudara menjawab “Pemilik toko A dan toko B adalah satu.”

Bukankah ini pernyataan yang cukup jelas dan mudah dimengerti?)

(Apakah pengakuan ini tersirat dengan jelas? Benar, sangat jelas sekali... hal ini disadari oleh orang-orang Yahudi sampai-sampai Yahudi begitu marahnya sehingga ingin membunuh Yesus. Mereka beranggapan Yesus telah menghujat Tuhan.)

Yohanes
5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

(Perhatikan ayat wahyu di bawah ini, terutama apa ayat ke 18. Siapakah yang pernah mati dan sekarang hidup lagi? Hanya Yesus seorang. Dan Dialah yang awal.... dan yang akhir... tidak ada satu oknumpun yang menjadi awal dari seluruhnya dan menjadi akhir dari semuanya kecuali Tuhan sendiri.)

Wahyu
1:13 Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.
1:17 Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
1:18 dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.

(Jadi berdasarkan ayat-ayat di atas, dapat kita simpulkan Yesus, adalah Tuhan sendiri. Yaitu Firman yang telah menjadi manusia, memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Tuhan saja, dan sekaligus pengakuan Yesus sendiri kalau Dia adalah Tuhan itu sendiri.)



NB :    Untuk mengenal ketuhanan Yesus baca juga buku sharing ke 04 dengan judul “Memahami Yesus Yang Manusia Dan Yang Tuhan”

http://sharingkristiani.blogspot.com/2012/08/memahami-yesus-yang-manusia-dan-yang.html


----------------------------------------------------------------------



Ketuhanan Roh Kudus


Matius
1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

(Dapat kita lihat di ayat 20 ini, bahwa malaikat berbeda dengan Roh Kudus. Jadi dalam hal ini, Roh Kudus satu pribadi yang berbeda dari malaikat. Saat kita berbicara tentang Roh Kudus, kita harus fokus pada satu Roh tertentu. Sekarang siapakah Roh Kudus ini?, benarkah Roh Kudus ini adalah Roh Tuhan?)

(ayat di bawah ini menjelaskan bahwa setiap orang percaya, akan memperoleh Roh Kudus dan Roh Kudus ini akan berdiam dalam diri mereka. Ingat, pada diri orang percaya, akan berdiam Roh Kudus. Tidak pernah dikatakan lagi ada Roh lain yang akan mendiami diri orang percaya selain hanya Roh Kudus saja.)

1 Korintus
6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

Kisah Para Rasul
8:17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.

10:47 "Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?"

(Nah, sekarang kalau ada pembicaraan tentang Roh yang berdiam dalam diri orang percaya, maka itu tentu mengacuh pada Roh Kudus.... di bawah ini ada ayat yang cukup menarik)

Matius
10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.
10:20 Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

(Dapat kita lihat di sini? Jelas dikatakan Roh Bapamu yang ada di dalam kamu, yaitu dalam diri orang percaya, yang akan berkata-kata. Yang harus kita perhatikan adalah... dalam diri orang percaya, selain roh manusianya, hanya ada satu Roh lain yaitu Roh Kudus..... sekarang dikatakan bahwa “Roh Bapamu” yang akan berkata-kata dalam diri orang percaya. Jelas yang dimaksud dengan Roh Bapamu ini adalah Roh Kudus itu sendiri.)

(sekarang kita tambah lagi dengan ayat berikut ini: )

Galatia
4:6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"

(di galatia ini juga dikatakan bahwa Roh Anak-Nya, yang juga di dalam hati kita akan membuat kita berseru ya Abba, ya Bapa.... siapakah Anak yang dimaksud oleh Tuhan di atas? Jelas Yesus Kristus... dan Roh Anak ini... juga ada di hati atau dalam diri orang percaya... sedangkan Roh dalam diri orang percaya adalah Roh Kudus.... maka jelas Roh Anak ini, yaitu Firman yang kita kenal dengan Yesus Kristus.... juga adalah Roh Kudus...)

Yohanes
15:26. Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

(Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang dari Bapa. Bapa adalah Roh, dan Roh yang keluar dari Bapa adalah Roh Bapa sendiri. Karena itu setiap orang percaya akan dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Meskipun malaikat juga kudus, tapi malaikat tidak setara dengan Roh Kudus, karena itu orang percaya tidak pernah di baptis dalam nama malaikat. Jadi Roh Kudus melebihi dari kekudusan malaikat, dan memiliki kesetaraan dengan kekudusan Bapa dan Anak, kesetaraan Roh Kudus dengan Bapa dan Anak karena memang Roh Kudus adalah Roh Tuhan sendiri.)

Matius
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

1 Yohanes
5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

(Sebagai ilustrasi, misalkan saudara pemilik toko dan memiliki beberapa karyawan. Jika saya atau orang lain menyuruh salah seorang karyawan saudara untuk meminjam sesuatu dari toko sebelah dengan mengatasnamakan saudara, apa yang saudara lakukan? Sudah tentu saudara akan menyangkal pada toko sebelah bahwa karyawan itu meminjam atas nama saudara. Bukankah begitu?)

2 Petrus
1:21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

(Tetapi dalam ayat 2 Petrus ini dikatakan, bahwa nubuat diucapkan oleh manusia karena dorongan dari Roh Kudus... dan nubuat itu mengatasnamakan Tuhan. Satu-satunya yang memungkinkan dalam hal ini adalah Roh Kudus yang mendorong orang-orang bernubuat mengatasnamakan Tuhan adalah Tuhan itu sendiri.... sebab kalau Roh Kudus bukan Tuhan, maka sama seperti ilustrasi di atas. Tetapi karena Roh Kudus adalah Tuhan sendiri, maka saat seseorang bernubuat mengatasnamakan Tuhan menjadi tidak masalah karena mereka bernubuat atas doroang dari Tuhan sendiri (Roh Kudus) dengan mengatasnamakan Tuhan sendiri juga.

Ini sama seperti saudara sendiri yang memerintahkan karyawan saudara untuk meminjam sesuatu dari toko tetangga dan kalau di konfirmasi oleh toko tetangga, maka saudara tentu mengakuinya sebab memang saudara sendiri yang menyuruh karyawan tadi.)

Shallom.
Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus.

Amin.

Kamis, 01 November 2012

Pendewasaan Iman


Ibrani

5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

-------------------------------------

Pernah saya mengalami sendiri dalam satu gereja telah diadakan suatu pembaptisan atas diri seorang bapak yang sudah cukup berusia. Dia telah menyatakan dirinya sebagai pengikut Kristus, dan karena itu dia telah menyerahkan dirinya untuk dibaptis. Terus terang, saya tidak mengetahui latar belakangnya mengapa dia sampai bersedia menjadi pengikut Kristus. Boleh jadi hal ini karena pengaruh dari isterinya yang memang telah menjadi pengikut Kristus sejak lama.

Sebagaimana kita ketahui bersama, sudah tentu sebelum yang bersangkutan diijinkan untuk memperoleh baptisan, dia juga telah mengalami pengenalan akan kekristenan. Dia juga harus belajar ini dan itu tentang kekristenan, dan segala hal yang dirasakan perlu lainnya.

Saat pembaptisan selesai, tentu sebagaimana umumnya maka jemaat dalam gereja akan diundang untuk berdiri menyambut dia sebagai bagian dari anggota jemaat yang baru. Ada suka cita tentunya di antara jemaat. Ada rasa syukur kepada Tuhan karena seorang lagi anak manusia telah diselamatkan.

Selesai itu,.... selesailah sudah!

Jemaat pulang. Dan hari-hari terus berlalu seperti biasanya. Minggupun berganti minggu. Dan bulanpun berlalu dengan cepatnya.

Tanpa terasa satu tahunpun berlalu pula....

Dan tiba-tiba, terdengarlah berita LUAR BIASA!

Si A, yang tempo hari sudah dibaptis, sekarang telah murtad! Dia telah kembali pada kepercayaannya yang lama. Dengar-dengar, dia murtad karena telah beberapa bulan ini dia telah menerima bantuan sekarung beras setiap bulannya dari tetangga yang beragama sama seperti agamanya yang lama.

Wah, pendeta mulai sibuk. Dibentuklah tim kecil terdiri dari beberapa orang. Mereka bermaksud untuk mengunjungi yang bersangkutan dengan tujuan ingin “menarik” dia kembali kepada Kristus.

Apa yang terjadi saudara? Saat tim kecil ini berkunjung ke rumah yang bersangkutan, tetangganya ini datang menghadang dengan pesan yang cukup jelas. Kurang lebih begini :

“Jangan pernah sekalipun menginjili lagi si A!, sebab dia sudah beragama X. kalau kalian berani coba-coba, rasakan sendiri akibatnya!”

Alkisah, kembalilah tim kecil ini dengan kecil hati pula. Saat kembalinya tim kecil ini ke gereja, saat itu juga bubarlah tim kecil ini. Tamat.

Hari-hari berikutnya saat jemaat mempertanyakan mengapa hal demikian bisa terjadi, maka jawabannya tentu sudah dapat saudara duga.

“si A tidak kuat iman, dia terlalu materialistis, masak cuma di sogok sekarung beras tiap bulan dia kembali murtad? Orang yang kuat iman tidak mungkin murtad!”
“itu salah dia sendiri, dia lebih memilih duniawi, tidak tahan cobaan, orang yang kuat iman tidak mungkin murtad!”

Dan seribu satu jawaban lainnya yang mengandung satu inti yang identik, yaitu salah si A sendiri. Titik.

----------------------------------

Sungguh menyedihkan sekali kalau keadaan ini terjadi dalam gereja dimana saudara berjemaat. Saat si A bertobat, ada suka cita bukan saja di gereja namun juga di sorga. Bukankah itu yang Alkitab katakan? Dan sekarang? Saat dia murtad....???

Kita memang tidak bisa mengetahui latar belakang seseorang bertobat itu apa. Apakah dia punya motivasi tersembunyi atau tidak, itu memang di luar kuasa kita. Bisa saja seseorang itu “bertobat” hanya dengan maksud untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Bisa saja.

Namun demikian, karena kita tidak bisa mengetahui dengan pasti motivasi sesungguhnya dari mereka yang bertobat, maka kitapun tidak berhak untuk berpendapat seseorang itu bertobat dengan motivasi tidak jujur. Sebab kita memang tidak bisa mengetahuinya bukan?

Yang paling logis bagi kita adalah tetap menganggap mereka bertobat dengan tulus. Itu saja.

Mengapa saya perlu menegaskan akan hal ini? Karena tidak sedikit orang yang akan membela dirinya dari rasa ikut bertanggung jawab atas kemurtadan seseorang seperti di atas, dengan beralasan bahwa yang bersangkutan memang tidak bertobat sungguh-sungguh dulunya. Cuma mencari keuntungan pribadi dalam jemaat, dan kalau keuntungan pribadi itu tidak didapatkannya lagi, maka dia akan otomatis murtad. Itu yang sering dilontarkan mereka yang mau lepas dari rasa tanggung jawabnya atas keadaan ini.

Saudara, jangan pernah sekalipun kita sampai mengatakan hal yang demikian. Sebab kalau sekiranya si A itu memang tidak memiliki motivasi jelek dalam pertobatannya dulu, maka otomatis kita sudah menjadi seorang penfitnah. Kita telah menfitnah dia untuk hal yang tidak dia lakukan.

Dengan kemurtadan dia saja kita sudah seharusnya merasa ikut bersalah, lalu masihkah kita akan menambahkan kesalahan kita dengan ikut menfitnahnya pula?

Kesalahan yang ditimpakan pada orang yang murtad, dengan mengatakan bahwa dia tidak kuat iman, adalah seperti melemparkan kotoran pada muka kita sendiri. Mengapa demikian?

Dalam kasus si A yang kembali murtad di atas, sebenarnya kesalahan bukan pada si A sendiri. Tetapi sesungguhnyalah, kesalahan itu ada pada gembalanya, plus seluruh majelis dan jemaat di gereja itu.

Apa korelasinya sampai bisa begitu?

Begini, seandainya saja, gembala atau pendeta pada gereja di mana si A berjemaat (anggap saja gereja Q) ini ditawari untuk menduduki suatu jabatan penting seperti jadi gubernur misalkan, terus diberikan sebuah rumah mewah, diberikan beberapa gadis muda dan cantik-cantik sebagai isteri, lalu ditambah lagi dengan sebuah perusahaan besar sebagai milik pribadi.... dan segala fasilitas lainnya yang cukup mengiurkan hanya dengan satu syarat, MURTAD dan HUJATLAH YESUS!

Kira-kira.... mau tidak pendeta ini murtad dan menghujat Yesus?

Seorang yang benar-benar mengenal siapa Yesus itu sesungguhnya, bagaimana tanpa Yesus dia dipastikan bakalan ke neraka dan mengalami kematian kekal, sudah pasti akan dengan tegas menjawab “TIDAK !”

Benar, jawaban itu pasti dan tanpa kompromi lagi. Pendeta di gereja Q itu pasti tidak akan pernah bisa murtad dan menghujat Yesus hanya demi semua kenikmatan duniawi itu. Tidak akan pernah!

Bagaimana dengan saudara? He..he... intermezo sedikit.

Lalu sekarang kembali ke si A tadi. Kalau pendeta di gereja Q itu tidak akan pernah bisa murtad demi jabatan gubernur, rumah mewah, beberapa isteri yang muda dan cantik-cantik serta perusahaan besar milik pribadi, lalu mengapa si A ini bisa dengan entengnya murtad hanya demi sekarung beras setiap bulannya?

Coba kita pikirkan dengan nalar yang sehat!

Bagaimana mungkin si A, dengan entengnya bisa murtad hanya demi sekarung beras, sementara pendeta itu tidak mungkin murtad dengan tawaran kekayaan yang seabrek-abrek banyaknya?

Apa jawabannya saudara?

Jawabannya jelas karena si A ini, tidak mengenal siapa Yesus sesungguhnya. Itu saja!

Kalau si A juga mengenal siapa Yesus itu sesungguhnya sama seperti apa yang dikenal oleh pendeta gereja Q itu, mustahil dia mau murtad. Jangankan hanya demi sekarung beras, demi seluruh dunia inipun dia tidak akan pernah mau murtad dan menyangkal Yesus.

Lalu sekarang salah siapa kalau si A sampai tidak bisa mengenali siapa Yesus itu sesungguhnya? Mengapa saat si A menjadi bagian dari jemaat gereja Q, pendeta dan majelis sekaligus jemaat di gereja itu tidak ikut merasa terbebani untuk mendewasakan iman si A?

Mengapa setelah si A murtad dan bukan bagian dari jemaat lagi, baru pendeta dan seluruh jemaat dalam tim kecil itu sibuk berusaha untuk menjangkaunya kembali? Mengapa? Bukankah saat dia bagian dari jemaat banyak peluang waktu untuk mendewasakan iman dia? Pendeta sibuk? Kalau begitu jangan sibuk kalau ada yang murtad! Tunggu saja saat dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan.

Tugas pendewasaan iman jemaat, pertama-tama adalah menjadi tugas pendeta. Pendetalah yang menjadi gembala jemaat. Karena itu tugas utama pendetalah untuk mendewasakan iman jemaatnya.

Majelis dan jemaat di gereja itu baru bisa ikut berperan untuk mendewasakan iman sesama jemaat kalau iman mereka sendiri sudah dewasa. Disinilah diperlukan pemuridan itu. Kalau pemuridan ini bisa berjalan dengan baik, maka otomatis tugas pendewasaan iman di antara jemaat (terutama jemaat baru) akan lebih ringan bagi pendetanya. Sebab tugas itu tidak diemban sendirian oleh pendeta yang bersangkutan.

Jadi dalam hal murtadnya si A, pertama-tama yang harus dipersalahkan adalah pendeta di mana si A berjemaat. Terlebih lagi sebelum si A dibaptis dia telah terlebih dahulu mendapatkan “pendidikan” oleh pendeta di gereja yang bersangkutan.

Saya tidak tahu jenis pendidikan seperti apa yang telah diberikan sehingga, bahkan setelah di baptispun, ternyata si A masih belum mengenal siapa Yesus, dan bagaimana perlunya dia akan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya.

Kalau melihat bagaimana dengan mudahnya si A murtad, maka sudah dapat dipastikan bahwa pendidikan yang telah di peroleh sebelum pembaptisannya itu telah gagal total.

Karena itu saudara, janganlah pernah kita menganggap sepeleh pendewasaan iman ini.

Seseorang yang mengikuti Yesus tapi tidak mengenal siapa Yesus itu sendiri, dia sama seperti telur di ujung tanduk. Setiap saat, dia akan dengan mudahnya menyangkal Yesus. Keselamatannya berada dalam bahaya. Dan bukan keselamatannya sendiri saja, bahkan keselamatan seisi rumahnya.

Itulah mengapa kita sering melihat bagaimana dengan mudahnya seorang ayah atau ibu memberikan ijin anaknya untuk memeluk agama lain hanya demi menikah dengan orang yang tidak seiman.

Dalam pandangan mereka, agama manapun baik. Sebab semua agama mencari Tuhan. Jadi baik agama ini maupun agama itu sama baiknya. Yang penting tidak berbuat jahat. Itu saja.

Yohanes

14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Klaim Yesus jelas, hanya Dia saja yang membawa hidup. Tanpa Dia, kita tidak akan sampai ke tempat Bapa. Karena itu menjadi PR kita semua untuk saling mendewasakan iman sesama. Semoga sedikit ulasan kita ini dapat menjadi berkat bagi yang membutuhkan.

YBU.