Semasa di SLTA dulu, dalam kumpul-kumpul bersama teman, saya pernah mendengar sebuah cerita yang disampaikan sebagai lelucon antarteman. Ceritanya ringan, tetapi cukup menyentil.
Alkisah ada seorang nenek yang tinggal di desa dataran rendah. Suatu ketika, terjadi banjir yang cukup besar, bahkan mungkin yang terbesar dalam sepuluh tahun terakhir. Curah hujan yang tinggi, ditambah banjir kiriman dari daerah yang lebih tinggi, membuat ketinggian air dengan cepat bertambah.
Ketika air sudah mencapai pinggang orang dewasa, sejumlah penduduk desa mulai berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dengan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Saat melewati rumah si nenek, beberapa orang berusaha mengajaknya untuk ikut mengungsi. Namun si nenek menjawab, “Kalian mengungsi saja lebih dahulu. Saya percaya Tuhan pasti akan menolong saya.” Akhirnya rombongan penduduk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan si nenek.
Air terus naik, Ketika ketinggian air sudah mencapai sekitar dua meter, si nenek naik ke loteng rumah. Saat itu ada penduduk yang memiliki perahu menghampiri rumah si nenek dan berseru agar si nenek ikut bersama mereka naik perahu untuk mengungsi, tetapi sama seperti yang pertama, si nenek kembali menyilahkan mereka mengungsi lebih dahulu karena dia percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dia, Tuhan pasti akan menolongnya.
Sekarang air kembali naik dan mencapai loteng. Nenek akhirnya dengan bantuan tangga naik ke atap rumah dan duduk di bumbungan. Disana dia terus berdoa dan berharap Tuhan pasti akan menolongnya. Setelah menunggu setengah jam akhirnya team SAR dari pemerintah sampai juga ke desa tersebut dan segera membantu evakuasi warga desa untuk mengungsi, dengan perahu karet akhirnya ada satu anggota team SAR yang sampai ke rumah si nenek dan berseru agar nenek ikut mereka untuk diantar sampai ke posko keselamatan. Tetapi lagi-lagi si nenek berseru agar team SAR menolong penduduk yang lain lebih dahulu sebab dia yakin dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan pertolonganNya nanti. Akhirnya dengan berat hati team SAR itu harus bergerak ke rumah penduduk lain untuk segera mengevakuasi sisa-sisa penduduk yang masih bertahan di rumah mereka.
Singkat cerita, banjir akhirnya menenggelamkan seluruh desa, tidak ada satupun rumah yang masih terlihat. Semua rumah telah terendam banjir termasuk rumah si nenek. Lalu gimana nasib si nenek? Jelas….. dia telah meninggal tertelan banjir tersebut.
Cerita kemudian berlanjut di alam sana, si nenek akhirnya bertemu dengan Tuhan dan mengajukan komplain. Nenek bertanya mengapa Tuhan tidak juga memberikan pertolongan pada dia, padahal dia sudah dengan sungguh-sungguh dalam iman berdoa dan percaya Tuhan akan menolongnya. Lalu mengapa dia malah dibiarkan tanpa pertolongan hingga maut menjemputnya.
Tahu apa jawaban Tuhan? Tuhan menjawab bahwa Dia telah berusaha menolong si nenek sampai tiga kali berturut-turut, tapi si nenek sendiri yang menolaknya. Pertama Tuhan kirimkan serombongan penduduk untuk membantu evakuasi si nenek tetapi ditolak, kedua Tuhan juga kirimkan penduduk dengan perahu dan ditolak lagi, terakhir saat air sudah mencapai atap rumah, Tuhan sekali lagi mengirimkan team SAR untuk menolong si nenek dan lagi-lagi ditolak. Jadi siapa yang salah?
Bro, ini memang hanya sekedar cerita isapan jempol. Tetapi ada pesan yang bisa kita ambil dari cerita ini, yaitu jangan pernah mendikte Tuhan bagaimana cara Dia merespon doa kita dan bagaimana cara Dia akan mengulurkan tanganNya dalam memberikan pertolongan kepada kita.
Sering kali tanpa kita sadari, kita sudah berlaku sama seperti si nenek di dalam cerita. Tanpa sadar kita sering berharap bahwa Tuhan akan memberikan pertolonganNya kepada kita dengan cara-caraNya yang WAH dan AJAIB seperti dalam Matius 14:29. Tanpa sadar, kita sering berharap asalkan kita percaya saja, maka Tuhan pasti akan menyelesaikan segala perkara kita. Dan celakanya, kita sendiri yang sering berekspektasi terlalu tinggi bagaimana caranya Dia akan menyelamatkan kita dengan cara-cara yang ajaib.
Kita sering membatasi sendiri bagaimana cara Tuhan bekerja, dengan hanya bermodalkan apa yang dikatakan sebagai “iman”, kita tanpa sadar sudah merasa menjadi “orang penting” yang bila berdoa, maka dalam bayangan kita Tuhan akan memberikan pertolonganNya secara supranatural, seperti tiba-tiba besoknya sembuh sendiri, dst, dst.
Kita lupa bahwa Tuhan tidak anti cara-cara duniawi, Dia juga sering menggunakan cara-cara duniawi untuk menjangkau kita.
Kisah Para Rasul
9:17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”
Bukankah ini menarik?
Tuhan memang menjumpai Saulus dengan cara yang luar biasa di perjalanan menuju Damsyik. Tetapi ketika tiba waktunya Saulus menerima kembali penglihatannya, Tuhan menggunakan seorang manusia bernama Ananias. Tuhan bisa saja melakukan semuanya secara langsung. Tetapi Tuhan memilih memakai tangan Ananias.
Bila ini terjadi pada si nenek dalam cerita apa kira-kira yang akan dikatakannya?
Saudara terkasih, apakah kita juga tidak akan bersikap sama seperti si nenek?
Mungkin saja kita pernah mengalami sakit, katakanlah batuk misalkan, lalu ada tetangga yang mengetahui dan menawarkan obat batuk kepada kita. Tetapi karena kita merasa “beriman”, maka kita tolak bantuan itu sambil berkata dalam hati, asal saya berdoa saja dengan iman, maka batuk saya pasti akan sembuh.
Bro, berdoa seperti itu tidak salah, tetapi akan menjadi lain jika anda sudah mendikte cara datangnya pertolongan Tuhan.
Dari mana saudara tahu bahwa tawaran obat dari tetangga itu bukan cara Tuhan untuk menolong saudara? Karena pertolongan itu bukan dari saudara seiman? Tidak tahukah saudara cerita tentang si Rahab orang Kanaan di Yeriko yang menyelamatkan orang Israel?
Kita tidak bisa dan tidak mungkin membatasi bagaimana cara Tuhan menjangkau kita. Dengan iman kita meletakkan pengharapan kita pada pertolongan Tuhan, tetapi saat pertolongan itu tiba, janganlah kita menolaknya hanya semata-mata pertolongan itu datangnya tidak dengan cara-cara yang ajaib. Beberapa kejadian memang bisa melibatkan supranatural seperti yang terjadi pada tiga orang sahabat Daniel.
Daniel
3:28 Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.
Namun Tuhan juga tidak menolak menggunakan cara-cara manusiawi untuk menyelamatkan kita seperti pada Kisah Para Rasul di atas dan tidak hanya itu, masih banyak ayat-ayat lain di Roma, Filipi maupun Ibrani yang menceritakan hal senada.
Saudara terkasih, jangan pernah mendikte Tuhan tentang bagaimana Dia harus menolong kita.
Kita boleh berdoa dengan iman. Kita boleh berharap akan pertolongan Tuhan. Kita bahkan boleh memohon agar Tuhan melakukan mukjizat. Tetapi jangan sampai iman membuat kita menutup mata terhadap pertolongan yang Tuhan hadirkan melalui cara-cara yang sederhana dan manusiawi.
Tuhan dapat menolong melalui sesuatu yang supranatural, tetapi Tuhan juga dapat menolong melalui tangan manusia, melalui seorang dokter, melalui obat, melalui keluarga, melalui sahabat, melalui pekerjaan, bahkan melalui orang yang sama sekali tidak kita duga.
Karena itu, ketika kita berdoa, jangan hanya meminta Tuhan menolong kita. Mintalah juga kepada-Nya hati yang peka untuk mengenali pertolongan ketika pertolongan itu datang.
Jangan sampai kita seperti si nenek dalam cerita tadi: menunggu Tuhan datang dengan cara yang spektakuler, sementara pertolongan-Nya sudah datang tiga kali dan semuanya kita tolak karena tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Iman bukanlah kemampuan untuk memaksa Tuhan bekerja sesuai dengan keinginan kita. Iman adalah mempercayakan diri kepada Tuhan, sambil tetap membuka mata terhadap cara apa pun yang Dia pakai untuk menolong kita.
Jika kita sakit, berdoalah. Tetapi jangan takut berobat. Jika kita mengalami kesulitan, berdoalah. Tetapi jangan menolak bantuan orang lain. Jika Tuhan menyediakan jalan keluar melalui manusia, jangan merasa bahwa pertolongan itu menjadi kurang ilahi hanya karena datang melalui tangan manusia.
Kita tidak pernah tahu melalui jalan mana Tuhan akan bekerja. Tugas kita bukan menentukan caranya. Tugas kita adalah percaya, berdoa, peka, dan bersedia menerima pertolongan yang Tuhan sediakan. Jangan membatasi Tuhan hanya pada cara yang menurut kita “ajaib”. Sebab terkadang, mukjizat Tuhan justru datang dengan wajah yang sangat biasa.
Ada satu ayat yang harus kita perhatikan disini.
2 Korintus
12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Jadi saudara, jika apa yang kita doakan ternyata dijawab lain oleh Tuhan, jangan berkecil hati. Ada rencana Tuhan yang tidak terselami oleh kita disana.
Akhir kata, silahkan saudara renungkan dan ambil yang dirasa perlu, satu hal yang pasti, jangan pernah membatasi cara Tuhan bekerja. Kita hanya bisa berdoa dan beriman saja, selebihnya serahkan pada Tuhan. Apapun pertolongan yang datang pada kita, selama itu bukan berasal dari kuasa gelap seperti perdukunan dan sejenisnya, terimalah dalam iman.
Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus. Mohon ampunan Bapa untuk cerita ilustrasi di atas.
GBU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar